Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona alexa yang baru
Malam semakin larut. Suasana di dalam kamar megah itu kian terasa sunyi dan dingin.
Setelah insiden pencekikan yang mengerikan di koridor tadi siang, Alexa memilih untuk mengurung diri sepenuhnya di dalam kamar. Ia mengunci pintu rapat-rapat, enggan menampakkan batang hidungnya sedikit pun. Bagi Alexa, berada di dalam ruangan ini jauh lebih aman daripada berkeliaran dan secara tidak sengaja berpapasan lagi dengan Raiden.
"Oke, alur cerita gila ini harus bisa aku lawan," gumam Alexa sembari memeluk kedua lututnya di atas kasur king-size yang empuk. "Selama aku diam di kamar, nggak bikin ulah, dan menghindari berinteraksi sama Raiden atau siapa pun, alur novel ini nggak bakal berjalan sesuai draf Kak Elena. Aku cuma perlu main aman!"
Namun, takdir dalam novel seolah tak membiarkan Alexa bernapas lega begitu saja.
TOK! TOK! TOK!
Ketukan pelan di pintu ganda kamarnya memecah keheningan. Alexa seketika menegakkan tubuhnya, bergumam threw rasa waswas.
"Nyonya... maaf mengganggu," suara pelayan paruh baya dari balik pintu terdengar ragu-ragu. "Apakah Nyonya sudah siap? Bukankah Nyonya memiliki jadwal menghadiri acara malam ini bersama teman-teman Nyonya?"
Dahi Alexa berkerut rapat. "Jadwal? Acara apa?"
"Acara pesta malam yang diadakan oleh Nyonya Muda Jasmine, Nyonya," jawab pelayan itu dari luar. "Mobil dan pengawal sudah disiapkan di bawah sejak tadi. Apakah Nyonya tidak jadi pergi? B-bukan kah... Nyonya Jasmine adalah sahabat terbaik Nyonya?"
Jasmine?!
Mata Alexa seketika membelalak lebar. Potongan memori dari novel yang dibacanya langsung melintas cepat di dalam kepalanya.
Jasmine! Dalam cerita buatan kakaknya, wanita bernama Jasmine itu adalah sosok ular berkepala dua. Tokoh Alexa yang asli menganggap Jasmine sebagai sahabat sejati, tempat curhat, dan sosok yang paling dipercaya. Padahal, di balik senyum manisnya, Jasmine adalah orang yang paling membenci Alexa. Di setiap pesta atau perkumpulan kelas atas, Jasmine selalu memanipulasi Alexa, menghasutnya agar bertingkah arogan, lalu menjelek-jelekan serta menyebarkan rumor busuk tentang Alexa di belakangnya untuk menjatuhkan reputasinya.
Bahkan, sebagian besar tingkah laku gila tokoh Alexa yang memicu kemarahan Raiden adalah hasil bisikan dan racun dari Jasmine!
"Pesta si ular itu..." bisik Alexa, menggerakkan jarinya di dagu.
Awalnya Alexa hendak menolak dan menyuruh pelayan itu pergi. Namun, pemikiran lain mendadak terlintas di kepalanya. Jika ia terus bersembunyi di kamar, ia tidak akan pernah tahu pergerakan orang-orang di sekitarnya. Lagi pula, jika Jasmine berniat menjebaknya malam ini, Alexa yang sekarang—yang sudah tahu seluruh isi draf novel—tidak akan biarkan wanita itu menang dengan mudah.
"Katakan pada pengemudi, tunggu sepuluh menit lagi," seru Alexa dari dalam kamar, suaranya terdengar tegas. "Aku akan datang."
"B-baik, Nyonya!" sahut pelayan itu, lega karena tidak mendapat semprotan amarah.
Alexa segera bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi raksasa yang dilapisi marmer putih mengkilap. Ia membersihkan dirinya dengan cepat di bawah pancuran air hangat, membiarkan rasa lelah dan tegang di tubuhnya menguap perlahan.
Setelah selesai, Alexa berdiri di depan cermin rias yang sangat besar. Di atas meja rias berlapis emas itu, bertumpuk berbagai jenis kosmetik mahal dengan warna-warna yang sangat tebal dan mencolok—gaya riasan favorit tokoh Alexa yang asli yang selalu memakai makeup tebal, lipstik merah menyala, dan pakaian serba mencolok untuk memamerkan kekayaannya.
"Pantas saja Raiden dan orang-orang di cerita ini memandang cewek ini aneh," gumam Alexa sambil menatap tumpukan foundation tebal dan eyeshadow mencolok itu dengan gelengan kepala. "Dandanannya menor banget, malah kelihatan kekanak-kanakan dan haus perhatian."
Alexa memutuskan untuk membuang semua riasan tebal itu. Ia mengambil pembersih wajah dan menyapu bersih sisa-sisa kosmetik di wajahnya.
Saat wajah polosnya terpapar di depan cermin, Alexa tertegun sejenak.
Karakter Alexa pada dasarnya memiliki visual yang sangat luar biasa indah—sesuatu yang baru terungkap jelas ketika lepas dari sapuan makeup tebal. Kulit wajahnya putih bersih dan halus bagaikan porselen tanpa cela. Hidungnya kecil menjulang manis, bibir alaminya berwarna merah muda kemerahan bagaikan kelopak bunga mawar segar, dan sepasang matanya yang bulat berwarna cokelat jernih tampak berkilau sangat cantik alami.
"Gila... mukanya cantik banget kalau polos begini," puji Alexa pada dirinya sendiri tanpa sadar.
Ia hanya mengoleskan sedikit lip balm tipis pada bibirnya dan merapikan alisnya yang sudah terbentuk indah tanpa perlu lukisan pensil alis tebal. Rambut hitam panjangnya yang halus dibiarkan terurai bebas melintasi bahunya, memberikan kesan yang sangat anggun, segar, dan elegan tanpa perlu polesan berlebihan.
Untuk pakaian, Alexa menolak gaun-gaun penuh manik-manik mencolok yang tergantung di lemarinya. Ia memilih sebuah dress satin polos berwarna hitam elegan dengan potongan simpel yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna.
Alexa menatap pantulan dirinya di cermin sekali lagi. Senyum tipis, penuh keyakinan terbit di wajah bahagianya yang mempesona.
"Baiklah, Jasmine..." bisik Alexa pelan, matanya berkilat dingin. "Ayo kita lihat, seberapa hebat racunmu malam ini saat berhadapan sama aku yang sudah baca seluruh jalan ceritamu!"
Alexa melangkah keluar dari kamar rias dengan gaun satin hitam yang jatuh sempurna membungkus tubuh rampingnya. Langkah kakinya yang tenang dan anggun terdengar ritmis, mengetuk lantai marmer koridor yang dingin. Tidak ada lagi gaya berjalan arogan yang dibuat-buat seperti biasanya; kini, setiap gerakannya memancarkan aura keanggunan yang alami, tenang, dan berkelas.
Di lantai dasar, beberapa pelayan wanita dan pria yang sedang bertugas mendadak menghentikan aktivitas mereka begitu mendengar suara langkah kaki dari arah tangga utama. Mereka secara refleks menundukkan kepala, bersiap menerima makian atau tatapan sinis yang biasa dilemparkan oleh Nyonya Muda mereka setiap kali hendak pergi ke luar rumah.
Namun, detik demi detik berlalu tanpa ada suara teriakan atau bentakan.
Salah satu pelayan wanita paruh baya secara perlahan memberanikan diri untuk mengintip, mengangkat pandangannya sedikit demi sedikit. Dalam hitungan detik, napas pelayan itu tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, mematung sepenuhnya di tempat.
Pelayan-pelayan lainnya yang menyadari perubahan reaksi rekan mereka ikut memberanikan diri menoleh ke arah tangga—dan seketika itu pula, suasana di hall utama mansion yang raksasa itu mendadak menjadi hening total.
Di atas tangga melingkar, berdiri sosok Alexa yang tampak sangat berbeda.
Tanpa sapuan riasan tebal, eyeliner tajam yang menakutkan, atau polesan lipstik merah menyala yang biasa dipakainya, wajah asli Alexa terpapar dengan begitu sempurna di bawah pendar cahaya lampu kristal keemasan. Kulitnya yang seputih porselen tampak sangat halus dan bercahaya alami, kontras dengan gaun hitam polos yang membalut tubuhnya. Matanya yang bulat jernih menatap lurus dengan binar yang tenang, tidak ada lagi kilat kesombongan yang menjengkelkan.
"I-itu... beneran Nyonya Alexa?" bisik seorang pelayan muda di barisan belakang dengan suara bergetar tak percaya.
"Astaga... beliau cantik sekali," bisik pelayan lainnya yang berada di sebelah kanan, hampir tak terdengar. "Kenapa selama ini Nyonya selalu menyembunyikan wajah aslinya di balik makeup tebal itu?"
Para pelayan yang biasanya menatap Alexa dengan rasa takut dan benci, kini dipenuhi oleh rasa kagum yang tak mampu mereka sembunyikan. Keindahan visual Alexa yang sesungguhnya bagaikan seorang putri bangsawan sejati dari dongeng klasik—murni, anggun, namun memancarkan daya pikat yang teramat sangat mahal.
Alexa yang menyadari puluhan pasang mata menatapnya tanpa berkedip hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman halus yang justru membuat para pelayan makin terpana dan makin salah tingkah.
"Aku berangkat dulu," ucap Alexa pelan dengan suara yang lembut, melemparkan anggukan kecil ke arah para pelayan sebelum melangkah melewati mereka menuju pintu keluar utama.
Para pelayan menunduk serentak, kali ini bukan karena takut akan hukuman, melainkan karena rasa hormat dan kekaguman yang mendadak muncul secara tidak sadar di dalam dada mereka.
Begitu melangkah keluar dari pintu raksasa kediaman Alteir, angin malam yang dingin menyapa kulit Alexa yang halus. Di pelataran jalan berbatu yang luas, sebuah mobil sedan Maybach berwarna hitam mengkilap sudah terparkir rapi dengan mesin yang menyala halus.
Seorang sopir pribadi berjas hitam rapi berdiri menanti di samping pintu penumpang yang sudah terbuka. Sopir itu sudah siap mental untuk menerima omelan jika dirinya dianggap terlalu lambat atau dianggap tidak becus melayani.
Namun, ketika sosok Alexa mendekat ke arah mobil, sopir paruh baya itu membeku kaku di tempatnya. Tangan sang sopir yang memegang gagang pintu seketika menegang. Matanya menatap Alexa dengan raut wajah terkejut yang sangat jelas.
Sopir yang sudah bekerja bertahun-tahun di kediaman itu seolah tidak mengenali sosok wanita anggun yang berdiri di hadapannya. Rambut hitam panjang Alexa yang terurai melambai pelan ditiup angin malam, melengkapi keindahan parasnya yang tanpa cela. Tidak ada aura angkuh yang membuat riasannya terlihat mengerikan seperti biasanya; yang ada hanyalah pesona memikat yang sanggup menghentikan napas siapa pun yang melihatnya.
"S-selamat malam, Nyonya..." panggil sang sopir dengan suara yang tergagap, refleks membungkukkan badannya lebih dalam dari biasanya sebagai bentuk rasa hormat yang mendalam.
"Selamat malam. Terima kasih sudah menunggu," sahut Alexa ramah, memberikan senyuman manis yang begitu tulus sebelum menundukkan tubuhnya dan masuk ke dalam kursi penumpang belakang.
SRET.
Pintu mobil mewah itu ditutup dengan lembut. Sang sopir berdiri di luar selama beberapa detik, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berdebar kencang akibat rasa kagum yang luar biasa pada perubahan Nyonya Mudanya. Dengan buru-buru, sopir itu mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma kayu cendana yang mahal, Alexa merebahkan punggungnya pada sandaran kursi kulit yang sangat empuk. Ia menatap ke luar jendela, memperhatikan bayangan pohon-pohon dan lampu kota yang melintas cepat di tengah kegelapan malam.
Mobil mewah itu melaju membelah jalanan dengan sangat mulus, membawa Alexa menuju ke dalam perangkap pesta yang sudah disiapkan oleh sahabat palsunya.
Alexa menyandarkan dagunya di telapak tangan, mengusap bibirnya yang hanya terpoles lip balm tipis, lalu terkekeh pelan dengan kilat mata yang penuh tekat.
"Mari kita lihat..." gumam Alexa menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. "...reaksi si ular Jasmine saat melihat 'sahabat bodohnya' ini datang dengan cara yang tidak pernah dia duga."
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄
Raiden bikin Alexa hamil
tunjukkan kehebatan mu Raiden
siap siap besok kita liat perkedel human😱