"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26 —Di Balik Bayangan Puncak Kejayaan
Bulan demi bulan berlalu dengan begitu cepat melintasi roda kehidupan yang terus berputar. Berkat bantuan Lilian dan petunjuk teknologi canggih yang disempurnakan lewat arahan Sistem, perusahaan yang didirikan Damian—Aetheria Tech—kini telah berdiri kokoh dan megah. Perusahaan itu bertransformasi menjadi salah satu raksasa teknologi energi paling diperhitungkan dan disegani di industri global. Kerja keras, keringat, dan perjuangan panjang yang mereka lalu bersama akhirnya membuahkan hasil yang sangat manis.
Bukan hanya soal bisnis, keadilan pun akhirnya tegak. Gavin resmi ditetapkan sebagai tersangka dan dijebloskan ke penjara atas kasus percobaan pembunuhan terhadap Kara. Kebenaran yang terbongkar mutlak itu membuat Arthur dan Eleanor diliputi penyesalan mendalam seumur hidup mereka.
Beruntung, Kara akhirnya terbangun dari komanya dan kini dalam masa pemulihan. Demi sang adik, Damian mau sedikit membuka diri dan memperbaiki hubungannya dengan kedua orang tuanya, meskipun benteng jarak di antara mereka tidak akan pernah benar-benar hilang.
Kini, Damian dan Lilian telah berpindah ke sebuah mansion megah dan asri di kawasan elite—mansion yang dibeli murni dari hasil keringat dan kerja keras Damian sendiri.
Di dalam kamar utama mansion yang luas, Lilian tersenyum manis memandangi layar ponselnya. Ia baru saja mengirimkan sebuah pesan singkat untuk kekasihnya yang sedang berada di kantor.
"Jangan lupa malam ini, kamu janji loh. Yang," tulis Lilian, mengingatkan janji makan malam romantis mereka nanti malam.
Tidak sampai satu menit, sebuah balasan voice note dari Damian masuk. Lilian menekan tombol play, dan suara berat nan lembut milik Damian bergema hangat.
"Iyaa, aku janji gak akan lupa, Sayang. Selesai bekerja, nanti sore aku jemput," ucap Damian dalam rekaman suara itu dengan nada begitu manja dan penuh kasih sayang.
Lilian terkekeh pelan, dadanya meletupkan rasa hangat. Ia mengusap layar ponselnya, merasa sangat bersyukur bisa membawa tokoh favoritnya meraih kebahagiaan dan puncak kejayaan seperti sekarang.
Namun... Lilian tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik senyuman dan janji manis pria itu.
Di saat yang bersamaan, di sebuah ruang rapat eksklusif restoran mewah pusat kota.
Damian duduk di kursi utama, memegang cangkir kopinya. Di sampingnya, Clara duduk begitu dekat, mengenakan gaun elegan dengan senyuman manis yang terus mengembang.
Ponsel Damian di atas meja baru saja meredup setelah ia mengirimkan voice note balasan untuk Lilian.
"Siapa? Lilian lagi?" tanya Clara dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut dan perhatian.
Damian menaruh ponselnya tanpa menjawab pertanyaan Clara, namun raut wajahnya tidak lagi sedingin dulu saat menatap wanita itu. Sejak kejadian lelang jam saku Neneknya malam itu, benteng pertahanan Damian terhadap Clara pelan-pelan terkikis.
"Damian, proposal investasi dari perusahaan Papa yang kemarin aku kasih udah kamu, baca?" tanya Clara lagi seraya memajukan duduknya, mengusap pelan lengan jas Damian. "Aku cuma mau bantu menyambungkan bisnis kita lagi... kayak dulu."
Damian menatap lengan jasnya yang diusap Clara. Ada keraguan di matanya, namun bayangan penyesalan Clara dan jam saku peninggalan Neneknya membuat Damian tidak langsung menepis tangan Clara seperti biasanya.
"Akan aku pertimbangkan," jawab Damian singkat.
Clara tersenyum miring di dalam hati, matanya berkilat penuh kemenangan. Ia tahu betul, perlahan tapi pasti, ia mulai berhasil menembus celah di hati Damian—tepat di belakang punggung Lilian yang tidak tahu apa-apa.
Tanpa pernah Damian sadari sedikit pun, saat pria itu berpaling muka dan sedikit lengah, Clara dengan sangat santai mengeklik aplikasi kamera di ponselnya. Sambil mengukir senyum tipis, Clara mengambil foto kebersamaan mereka berdua secara diam-diam. Dari sudut pengambilan gambar yang diatur sedemikian rupa oleh Clara, posisi duduk mereka berdua terlihat begitu intim, sangat dekat, dan tampak seperti sepasang kekasih yang sedang memadu kasih.
Dengan seringai licik Penuh kemenangan di bibirnya, Clara tanpa ragu langsung mengirimkan file foto kebersamaan mereka itu ke nomor kontak milik Lilian. Entah dari mana dia tahu.
Denting!
Ponsel Lilian yang tergeletak di atas meja rias bergetar singkat menandakan ada pesan gambar baru yang masuk. Lilian berjalan mendekat, mengambil ponselnya, lalu membuka pesan dari nomor asing tak dikenal tersebut.
Langkah napas Lilian mendadak terhenti seketika. Matanya membelalak tak percaya saat menyaksikan foto Damian sedang duduk berdampingan begitu intim dengan Clara di dalam sebuah restoran mewah. Dada Lilian mendadak terasa amat sesak, panas, dan seperti diikat oleh tali tambang yang sangat kencang hingga membuatnya sulit untuk bernapas.
Namun, Lilian menarik napas panjang dan dalam, berusaha keras untuk menguasai gejolak emosi di dalam dadanya.
"Enggak... Damian tadi udah bilang kalau dia lagi ada pertemuan bisnis penting. Mungkin Clara cuma sengaja mau provokasi dan hancurkan pikiran gue," batin Lilian berusaha menenangkan hatinya sendiri.
Lagipula, beberapa hari yang lalu Damian memang sempat memberi tahu Lilian secara jujur bahwa Aetheria Tech berencana menjalin kerja sama proyek dengan Vonce Group—perusahaan raksasa milik ayah Clara. Lilian sadar betul akan posisi serta batasannya. Ia tidak pernah dan tidak akan pernah sudi melarang perusahaan Aetheria Tech untuk menjalin kerja sama dengan pihak mana pun, demi menjaga kemajuan serta kejayaan bisnis yang telah dibangun Damian dengan susah payah.
Ting!
Cahaya keperakan yang mengkilap merekah pelan di udara kosong, disusul munculnya sosok peri mini sistem yang terbang melayang tepat di depan wajah Lilian dengan raut muka gemas setengah mati.
"Host! Harusnya kamu tetap ikut bekerja jadi sekretaris pribadinya Damian di kantor! Kan kalau kamu ikut mendampingi dia terus, dia gak bakal gampang didekati sama si ulat bulu licik itu!" cerocos si peri mini sambil bersedekap dada dengan wajah cemberut.
Lilian menyunggingkan senyuman tipis, menggelengkan kepalanya pelan untuk menenangkan si peri. "Tapi, Damian sendiri yang minta aku buat gak usah kerja lagi, Sistem. Dia bilang dia lebih senang dan tenang kalau melihat aku nungguin dia pulang di rumah."
"Haduh! Terserah kamu deh, Host! Aku cuma mau bilangin ya, jangan sampai kamu menyesal setengah mati di kemudian hari nanti!" seru si peri dengan nada gemas dan penuh peringatan.
Sebelum Lilian sempat membalas ucapan tersebut, si peri mini langsung menghilang memudar bagai asap tipis di udara, meninggalkan Lilian seorang diri di dalam keheningan kamar yang sunyi.
Lilian terdiam cukup lama, berdiri terpaku merenungi setiap kata peringatan dari sistemnya. Jemari tangannya meremas pelan ponsel genggam yang masih menyalakan gambar foto kemesraan Damian dan Clara.
"Aku gak akan pernah menyesal..." gumam Lilian pelan pada sudut ruangan yang hampa. "Aku percaya penuh pada Damian."
Lilian menghembuskan napas panjang, mencoba tersenyum penuh keyakinan. Ia memilih untuk menaruh rasa percaya sepenuhnya pada Damian—lagipula, bukankah Damian adalah tokoh utama pria sempurna yang ia ciptakan sendiri dengan penuh kasih? Pria yang memiliki hati tulus, penuh integritas, baik, dan sama sekali bukan seorang pengkhianat.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav