Vika gadis ceria dan sedikit tomboy jatuh cinta pada Ihsan yang merupakan teman kecilnya.
Vika terpaksa harus memendam rasa sukanya pada Ihsan karena ada begitu banyak hal yang membuat mereka tak bisa bersama.
Penasaran ....
yuk simak kisah lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Maelani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
SELAMAT MEMBACA
Setelah asik memancing ikan yang didapat pun mereka gunakan untuk makan malam.
Sire itu Ujang datang untuk mengajak Vika melihatnya tanding Voly melawan kampung sebelah.
Vika yang memang sudah siap langsung berangkat saat Ujang datang untuk menjemputnya.
Setelah pamit pada nenek dan juga mamanya Vika pun langsung pergi dengan menggunakan sepeda yang biasa mereka naiki.
Ikhsan yang melihat Vika pergi dengan Ikhsan langsung menghampiri mamanya di lantai bawah.
"Mah ... mereka mau kemana?" tanya Ikhsan.
"Katanya sih Vika mau nemenin Ujang tanding Voly dikampung sebelah" jawab Mama Iren.
"Kenapa gak ngajak sih" ucap Ikhsan kesal.
Mama Iren dan mama Iksan hanya tersenyum melihat Ikhsan yang kesal atau lebih tepatnya cemburu melihat Iksan dengan Ujang.
"Apa bagusnya sih si Ujang, mana enak kemana-mana cuma naik sepeda begitu" ucapnya lagi dan berhasil membuat mama Iren dan mamanya tersenyum.
"Justru romantis San, naik sepeda berdua, sore- sore lagi" ucap Mamanya yang malah memanas-manasi anaknya.
Mama Iren dan Mamanya Ikhsan sebentarnya sudah tau jika Iksan saat ini sedang jatuh cinta pada Vika.
Mereka pun setuju jika memang keduanya berpacaran namun mereka tidak mau memaksa jika salah satu tidak mau.
Sementara itu dikalangan Voly Ujang nampak begitu bersemangat selain ada Vika yang terus memberi nya semangat ia pun ingin membuktikan kepada teman-temannya jika sampai saat ini ia belum berubah,ia masih Ujang yang dapat dibanggakan oleh teman-teman dan juga kampungnya.
Wajah Ujang yang lumayan bersih dan badan yang yang berbentuk membuatnya lumayan disukai banyak gadis baik itu dikampungnya sendiri ataupun di kampung sebelah.
Pertandingan pun selesai dan dimenangkan oleh Ujang dan kawan-kawannya.
Untuk merayakan kemenangan tim voly kampungnya mereka pun mengadakan makan bakso bersama di kedai bakso yang ada di kampung itu.
Setelah mengantar Vika pulang Ujang pun langsung pamit pulang sekalian minta ijin lagi pada Mama Iren untuk nanti malam keluar lagi bersama Vika untuk makan bakso bersama.
Mama Iren pun tersenyum dan mengijinkan mereka pergi.
Iksan yang mendengar langsung marah-marah karena ia tidak punya banyak kesempatan untuk bersama Vika.
Setelah Ujang pulang ia pun langsung menghampiri Vika di kamarnya.
"Vik..." panggilnya dari depan pintu.
Hwmmm
jawab Vika malas.
"Loe kok gitu sih,ada tamu malah ditinggal terus" ucap Iksan.
"Gak apa-apa, emang udah kebiasaan gw disini begitu, kalo malem minggu ya kumpul sama temen-temen" jawab Vika acuh
"Ya tapi kak sekarang lagi ada tamu, lagi juga kan loe janji mau kaluar bareng kita" ucap Ikhsan.
"Oh iya, maaf ya gw lupa San, tapi kan Ulang boleh ikut kan kata loe" ucap Vika mengingatkan Iksan.
"Ya kalau bisa sih gak usah ikut, cuma ganggu aja" ucap Ikhsan
Vika yang mendengar ucap Iksan langsung merasa kesal.
"Gw juga gak minta kok loe ajak jalan-jalan, mending gw sama Ujang lebih seru" ucap Vika kesal.
"Maaf bukan maksud gw, ya udah lah kalo loe mau ajak Ujang juga gak apa-apa yang penting kita keluar" ucap Iksan pasrah.
Malam itu setelah Isya mereka pun pergi, karena merasa tidak enak karena Vika pergi bersama keluarganya Ujang pun tidak ikut.
Hati Iksan bersorak kegirangan saat mendengar Ujang tidak bisa ikut.
"Vik, loe duduk depan dong masa loe barengan sama ibu-ibu" pinta Iksan
"Gak lah, cowo sama cowok jadi Pian aja yang didepan" tolak Vika
Lagi-lagi Iksan harus bersabar dengan penolakan Vika.
"Sial susah banget sih ni cewe gw deketin, tapi liat aja pasti gw bisa bikin loe jadi suka lagi sama gw Vik" batin Ikhsan sambil melihat wajah manis Vika melalui spion yang ada di bagian tengah mobil.
Mereka pun jalan-jalan menuju pusat kota dan juga tidak lupa mampir ke Cibaduyut.
Walaupun sudah malam namun tempat itu tetap saja ramai.
Saat mereka semua sibuk membeli sepatu tapi tidak dengan Vika, ia asik duduk sambil menikmati satu bungkus sale pisang kering yang tadi sempat bisa beli saat di tempat pusat oleh-oleh.
"Loe gak beli sendal atau sepatu Vik?" tanya Iksan yang ikut duduk disebelah Vika.
"Gak, sepatu gw masih banyak, loe aja yang beli" jawab Vika sambil terus memakan cemilannya.
"Loe ngemil terus gak takut gendut lagi Vik? tanya Iksan.
Vika pun langsung berhenti mengunyah makanan yang ada dalam mulutnya , lalu menatap Iksan.
Iya pun memasang senyum kuda kearah Ikhsan.
"Gw gak takut gendut, kalo emang orang itu suka sama gw ya dia harus terima gw apa adanya dan kebetulan Ujang bisa terima gw apa adanya" jawab Vika yang berhasil bisa mengendalikan emosinya saat Iksan berkata demikian.
Iksan begitu merasa bersalah saat tanpa sadar ia sudah menyinggung Vika dengan ucapannya.
"Maaf Vik, bukan maksudnya gw ..."
"Gak usah minta maaf, gw udah biasa denger omongan loe yang kaya gitu" ucap Vika berusaha menahan rasa kesalnya.
Beruntung saat itu juga Ujang menelponnya, Vika pun langsung menggeser ikon hijau di ponselnya.
"Hallo Assalamualaikum Aa" ucap Vika dengan nada dibuat seromantis mungkin.
Iksan merasa begitu kesal saat Vika berbicara begitu lembut dengan Ujang.
Ia pun langsung masuk kedalam mobil dan membunyikan klaksonnya beberapa kali.
Mama Iren dan juga mamanya Ikshan yang telah selesai berbelanja langsung naik ke mobil sedang kan Pian sibuk membawa barang belanjaan kedua ibu-ibu itu.
Setelah masukannya kedalam bagasi mobil Vika pun mengajak Pian untuk membeli makanan sebentar sebelum masuk kedalam mobil.
Setelah selesai membeli cilok ia pun langsung naik.
"Loe belum kenyang Vik makannya?" tanya Ikhsan
"Belum, kenapa? loe mau jajanin gw" tanya Vika kesal
"Kalau loe masih laper ayo kita cari tukang bakso yang masih buka mau gak?" tanya Ikhsan.
Dengan semangat kedua ibu-ibu itu pun menjawab setuju.
Setelah sempai makan mereka pun langsung pulang.
Begitu tiba di rumah Vika langsung masuk dan mengunci pintu kamarnya.
Sebenarnya ia tersinggung dengan perkataan Iksan tadi, namun ia ingat dengan kata-kata nenek Dilla jika memang orang itu mencintainya sudah pasti orang itu mau menerima segala kekuranpdpdakkaka.
"Apa gendut itu jelek y?" batin Vika yang langsung berdiri didepan kaca dan melihat pantulan dirinya.
Ia pun mencoba menenangkan dirinya dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur.
Namun sial tiba-tiba saja kenangan pahit waktu sekolah kembali hadir dalam ingatannya.
Kata-kata Ikshan yang bilang jika ia jangan pernah berharap Iksan akan menyukainya dirinya.
Rany dan teman-temannya yang selalu memanggil dirinya kulkas dua pintu, hati Vika tiba-tiba merasa sakit kembali, padahal susah payah ia berusaha melupakan semua kenangan pahit itu.
"Gw sebel San sama loe, loe jahat" batin Vika dan tanpa terasa air matanya kembali mengalir.