Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
"Lo emang istri gue, Tapi jangan pernah lupa kalo gue nikahin Lo hanya untuk Maura!" Dilan menatap pada Ana yang juga menatap malas ke arahnya.
"It's okee, Gue tidak akan pernah lupa. dan loe juga harus ingat kalo gue juga mau nikah sama lo juga karna terpaksa!" balas Ana tak kalah pedas.
Berawal dari pernikahan kontrak yang saling menguntungkan, Dilan dan Ana membangun rumah tangga tanpa dasar cinta. Dilan yang ingin memberikan sosok ibu untuk Maura, begitu juga dengan Ana terpaksa menerima tawaran Dilan karna butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya. kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? temani author melanjutkan kisah ini yuk
Update rutin setiap hari Rabu dan jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dari seseorang
Dilan berdiri di depan jendela kantornya yang menjulang tinggi, menatap kemacetan Jakarta yang tampak seperti barisan semut dari lantai 30. Di tangannya, selembar foto buram hasil jepretan jarak jauh yang dibawa Edward baru saja diletakkan di atas meja.
Foto seorang anak laki-laki bernama Arka.
Anak itu memiliki garis rahang yang tegas dan cara berdiri yang sangat mirip dengan Dilan. Namun, yang membuat jantung Dilan seakan berhenti berdetak bukanlah kemiripan fisik itu, melainkan tas sekolah yang digendong Arka.
"Edward," suara Dilan parau. "Perhatikan gantungan kunci di tas anak itu."
Edward mendekat, menyipitkan mata ke arah foto. "Itu... boneka rajutan berbentuk matahari, Tuan?"
"Itu buatan tangan Maura," bisik Dilan, tangannya gemetar. "Maura memberikan gantungan kunci serupa kepada 'teman rahasia' yang sering ia ceritakan di taman sekolah sebulan yang lalu. Dia memanggilnya Kakak A"
Dilan menyadari bahwa Monica tidak hanya menyembunyikan keberadaan anak itu, tetapi dia telah memantau mereka sejak lama. Monica mungkin telah mengatur agar Arka berada di lingkaran yang sama dengan Maura tanpa ada yang menyadarinya.
Sore itu, Dilan tidak bisa menahan diri. Ia meminta Edward mengantarnya ke sebuah taman kota di pinggiran Jakarta, tempat Arka sering bermain setelah pulang sekolah.
Dilan duduk di bangku taman, menyembunyikan wajahnya di balik koran. Di sana, ia melihatnya. Arka sedang duduk di ayunan, tertawa lepas bersama seorang wanita sederhana yang tampak sangat menyayanginya, ibu angkatnya.
Tiba-tiba, sebuah bola plastik menggelinding ke arah kaki Dilan.
Arka berlari menghampiri. Ia berhenti tepat di depan Dilan, menatapnya dengan mata yang persis menyerupai mata Dilan saat masih kecil.
"Om, boleh minta bolanya?" tanya Arka sopan.
Dilan membeku. Lidahnya kelu. Ia mengambil bola itu dan menyerahkannya dengan tangan yang dingin. "Ini... namamu Arka, kan?"
Anak itu mengangguk ceria. "Kok Om tahu? Om temannya Ayah?"
Dilan baru saja akan menjawab ketika ponselnya bergetar hebat di saku jasnya. Pesan teks dari nomor yang seharusnya sudah mati. Nomor Monica.
Dilan tersentak. Bagaimana mungkin? Monica sudah meninggal.
Ia membuka pesan itu dengan napas menderu.
"Kematian hanyalah cara untuk memastikan rahasia ini abadi, Dilan. Jika kau menyentuh Arka atau mencoba mengambilnya, pengacaraku akan mengirimkan seluruh bukti perselingkuhan kita dan tes DNA Arka ke email Hana... secara otomatis setiap tanggal ulang tahun pernikahan kalian. Selamat bermain dengan rasa bersalahmu."
Dilan menoleh ke sekeliling dengan liar. Siapa yang mengirim ini? Apakah pengacara itu? Ataukah Monica memiliki kaki tangan yang lebih setia dari yang ia duga?
Malamnya, suasana di rumah terasa menyesakkan. Hana sedang membacakan dongeng untuk Maura dan Jendra di kamar sebelah. Suara tawa mereka yang jernih biasanya menjadi obat bagi Dilan, namun kini suara itu terasa seperti pisau yang mengiris nuraninya.
Dilan masuk ke ruang kerjanya dan menemukan sebuah amplop cokelat besar sudah ada di atas mejanya. Padahal, ia yakin ruangan itu terkunci.
Di dalamnya bukan hanya data medis, melainkan sebuah buku harian Monica.
Dilan membuka halaman terakhir yang ditulis dengan tinta yang masih tampak baru, kemungkinan ditulis sesaat sebelum Monica ditangkap.
"Dilan, Arka bukan hanya sekadar anak. Dia adalah 'bom' yang kupasang di jantung keluargamu. Kau pikir aku menculiknya untuk menyakitinya? Tidak. Aku menculiknya agar kau menyelamatkannya dan merasa menjadi pahlawan. Tapi rahasia sesungguhnya bukan tentang siapa ayahnya... tapi tentang apa yang ada di dalam darah Arka."
Dilan mengerutkan kening. Ia membalik halaman dan menemukan sebuah dokumen laboratorium lain yang terselip. Hasil tes genetik Arka.
Mata Dilan membelalak saat membaca diagnosa medis di sana. Sebuah penyakit degeneratif langka yang membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari saudara kandung yang cocok secara genetik untuk bisa bertahan hidup lebih dari usia sepuluh tahun.
sSatu-satunya saudara kandung yang Arka miliki adalah Maura.
Dilan jatuh terduduk. Pilihan itu kini berubah menjadi horor yang nyata
Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbuka. Hana berdiri di sana dengan wajah pucat, memegang ponsel Dilan yang tadi tertinggal di ruang tamu.
"Dilan..." suara Hana bergetar. "Ada pesan masuk dari pengacara Monica. Dia bilang... dia lupa mengirimkan satu lampiran rekaman suara Monica sebelum dia mengakhiri hidupnya. Dan aku... aku tidak sengaja mendengarnya."
Dilan terpaku. Dunia seolah runtuh. Rahasia itu tidak lagi berada di tangannya
Hening yang mencekam menyelimuti ruangan. Suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman martil di kepala Dilan. Hana berdiri mematung, ponsel di tangannya masih menyala, menampilkan durasi rekaman suara yang baru saja berakhir.
"Hana... aku bisa jelaskan," suara Dilan pecah, nyaris tak terdengar.
Hana melangkah mundur, matanya berkaca-kaca, memancarkan perpaduan antara kemarahan murni dan rasa sakit yang menghancurkan. "Jelaskan apa, Dilan? Bahwa selama tujuh tahun ini, setiap kali kau menatap Maura, kau juga menyembunyikan fakta bahwa ada anak lain di luar sana? Anak dari wanita yang hampir membunuh putri kita?"
"Aku baru mengetahuinya kemarin! Demi Tuhan, Hana, aku tidak tahu tentang Arka sampai pengacara itu menelpon!" Dilan mencoba mendekat, namun Hana mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Dilan tetap di tempat.
"Lihat akibat dari perselingkuhan mu itu, Dilan," suara Hana meninggi, tercekik tangis. "Dan sekarang... anak itu butuh Maura? Monica ingin kita menumbalkan kesehatan Maura untuk memperbaiki kesalahan masa lalumu?"
Sebelum Dilan sempat menjawab, ponsel di atas meja kembali bergetar. Bukan pesan teks, melainkan sebuah panggilan video dari nomor tak dikenal.
Dilan ragu, namun Hana menyambar ponsel itu dan menekan tombol accept.
Layar menampilkan sebuah ruangan remang-remang. Seorang pria dengan masker hitam duduk di kursi, membelakangi kamera. Di latar belakang, terlihat sebuah layar monitor besar yang menampilkan rekaman CCTV real-time... kamar tidur Maura.
Dilan dan Hana tersentak. Mereka melihat Maura yang sedang tertidur lelap di layar itu.
"Siapa kau?!" teriak Dilan ke arah ponsel.
Suara di seberang telah diubah oleh distorsi digital. "Kematian Monica hanyalah pembuka tirai, Tuan Dilan Adiwangsa. Monica adalah pion yang tidak stabil, tapi rencananya sangat jenius. Arka harus hidup. Dan Maura adalah kuncinya."
"Apa maumu? Uang?" Dilan mencoba bernegosiasi, jantungnya berdegup kencang karena ketakutan melihat privasi anaknya ditembus.
"Bukan uang. Kesetiaan. Di laci bawah brankasmu, ada sebuah kontrak pengalihan aset atas nama yayasan yang dikelola Monica. Tanda tangani itu, serahkan Arka kepada tim medis yang kami tunjuk, dan biarkan Maura menjalani donor secara sukarela. Jika tidak... bukan hanya rahasia ini yang terbongkar, tapi Maura tidak akan pernah bangun lagi besok pagi."
Panggilan terputus.
Dilan langsung berlari ke kamar Maura, diikuti Hana. Mereka mendapati Maura masih bernapas dengan tenang, namun di atas bantalnya terdapat sebuah suntikan kecil berisi cairan bening yang tidak ada di sana sebelumnya. Seseorang telah masuk ke rumah mereka yang dijaga ketat.
Hana jatuh terduduk di lantai, memeluk lututnya. "Kita tidak punya pilihan, Dilan. Mereka ada di dalam rumah kita."
Dilan mengepalkan tinju. Ia menyadari satu hal. Monica tidak bergerak sendiri. Pengacara bernama Agung, atau bahkan Edward salah satu dari mereka mungkin berkhianat. Atau mungkin, ada sosok lain yang lebih besar di atas Monica yang menginginkan aset perusahaan Adiwangsa melalui Arka.
Dilan mengambil suntikan itu dengan hati-hati dan menyerahkannya kepada Edward yang baru saja tiba di depan pintu dengan wajah panik.
"Edward, bawa cairan ini ke lab rahasia. Sekarang! Dan perketat pengamanan," perintah Dilan. Namun, saat menatap mata Edward, Dilan merasakan keraguan. Dapatkah ia mempercayai siapa pun sekarang?
Dua jam kemudian, sambil menunggu hasil lab, Dilan memeriksa dokumen "Yayasan" yang disebutkan si penelepon. alangkah terkejutnya ia saat menemukan bahwa yayasan itu bukan milik Monica.
Pemilik sebenarnya adalah ayah kandung Hana, yang selama ini mereka kira telah meninggal sepuluh tahun lalu di luar negeri.
Hana terduduk lemas. Potongan teka-teki ini semakin gelap. Mengapa ayahnya terlibat? Mengapa Monica bekerja sama dengan laki-laki yang seharusnya sudah tidak ada?
Hana menghampiri Dilan, wajahnya kini terlihat dingin dan tegas. Kesedihannya telah berganti menjadi insting seorang ibu yang ingin melindungi anaknya.
"Dilan," ucap Hana datar. "Aku akan menyelamatkan Maura. Dan aku akan menyelamatkan anak itu, Arka, karena dia tidak berdosa. Tapi setelah semua ini selesai... jangan pernah berharap kau bisa melihat kami lagi."
Dilan menatap Hana dengan tatapan hancur. Ia menyadari bahwa kemenangan Monica yang sesungguhnya bukanlah kematiannya, melainkan kehancuran total jiwa Dilan, hidup dalam rasa bersalah, kehilangan keluarga, dan menjadi budak dari rahasia yang ia ciptakan sendiri.
Tapi Hana tidak merasakan itu, hatinya kerap terluka karena cintanya yang tanpa sadar tumbuh untuk Dilan, sang suami kontrak yang hanya menganggapnya hanya orang asing.
Apakan Hana akan mempertahankan cintanya atau memilih pergi...