NovelToon NovelToon
Married By Arrangement, Love By Fate

Married By Arrangement, Love By Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

Tidak update harian!!

Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.

Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.

Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.

mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.

Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percakapan tentang cinta.

Zalina pulang ke apartemen saat sore harinya. Ia segera mandi lalu berganti pakaian dengan pakaian asal yang ia ambil dari lemari pakaian. Ia tampak mengantuk sekali.

Zalina merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk, membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam buaian mimpi indahnya.

*

*

Zalina tersentak ketika mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia perlahan membuka mata dan bangun dari tidurnya yang entah sudah berapa lama. Langit di luar bahkan sudah tampak gelap sepenuhnya.

Ia menguap, merasakan sisa-sisa kantuk yang masih menggantung di pelupuk matanya. Tubuhnya terasa begitu nyaman setelah beristirahat. Membuatnya tidak ingin meninggalkan ranjang.

Tok...tok...tok...

Zalina mengernyit. Dengan malas, ia turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah pintu kamarnya.

Begitu pintu terbuka, sosok Kaiden berdiri di sana dengan wajah tenangnya seperti biasa.

Pria itu masih mengenakan kemeja hitam dengan beberapa kancing bagian atas dibiarkan terbuka. Wajahnya tampak sedikit lelah. Sepertinya ia baru saja pulang dari kantor.

"Kau sudah pulang?" tanyanya sembari mengucek mata. "Aku ketiduran."

Kaiden tidak langsung menjawab, ia hanya memperhatikan wanita itu beberapa detik sebelum akhirnya tiba-tiba memalingkan wajah ke arah lain.

Pria itu seketika menelan ludahnya pelan, tanpa Zalina sadari.

Ia berdeham pelan, lalu berkata. "Aku sudah membelikan makan malam untukmu. Keluar dan makanlah."

Pria itu lalu pergi dan langsung masuk ke dalam kamar.

Zalina tampak heran melihatnya. "Ada apa dengannya?"

Ia lalu memegang rambutnya. "Apa rambutku berantakan?" gumamnya, lalu berbalik dan melihat ke arah cermin.

Zalina berdiri di depan cermin, memperhatikan pantulan dirinya dengan seksama. Awalnya ia hanya ingin memastikan rambutnya memang berantakan.

Namun beberapa detik kemudian, matanya justru turun memperhatikan pakaian tidur yang ia kenakan.

Ia mengenakan piyama satin berwarna merah dengan potongan yang cukup pendek dan bagian atas yang terbuka di bagian leher. Tadi, ia sama sekali tidak menyadarinya karena sudah sangat mengantuk.

Mata Zalina seketika melebar.

"Astaga..."

Barulah ia paham alasan Kaiden tiba-tiba memalingkan wajahnya. Pantas saja ia terlihat aneh.

Zalina buru-buru mengambil outer piyamanya dan memakainya untuk menutupi bagian yang terbuka. Ia menarik napas panjang dengan wajah yang memerah. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya, ampun. Memalukan sekali."

Sementara itu, di dalam kamar, Kaiden berdiri membelakangi pintu. Tangannya masih berada di dalam saku, sementara wajahnya terlihat jauh lebih tegang dari pada biasanya.

Kaiden tampak mengusap wajahnya, berusaha menghilangkan bayangan Zalina beberapa saat lalu dari dalam pikirannya.

Ada hawa panas yang tiba-tiba muncul dari dalam tubuhnya. Kaiden menghembuskan napas panjang, merasa dirinya semakin sulit untuk bersikap tenang.

Ia lalu membuka kancing kemejanya yang terasa semakin menganggu, kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.

Ia membuka keran dan membasuh wajah dengan air dingin. "Kenapa aku jadi seperti ini?" gumamnya pelan.

Ia mengusap wajahnya sekali lagi, berusaha mengusir bayangan Zalina yang terus mengusik pikirannya.

Kaiden menghela napas berat.

"Dia istriku." bisiknya seolah sedang mengingatkan dirinya sendiri. "Aku harus bisa mengendalikan diri."

Di luar kamar mandi, Zalina sama sekali tidak mengetahui, pergulatan batin yang terjadi dalam diri suaminya. Ia hanya duduk di meja makan, menatap dua porsi makanan yang sudah disiapkan oleh Kaiden.

Ia tampak tersenyum kecil. "Ternyata dia perhatian juga."

🥀🥀🥀

Di sela-sela makan malam mereka yang hening dan canggung, Zalina seketika melirik ke arah Kaiden yang tampak makan dengan tenang seperti biasa.

Hal itu sedikit mengganggunya. Apakah kejadian tadi tidak berpengaruh apa-apa baginya? Atau... apa dia tidak tertarik melihat tubuhnya yang mungkin terlalu kurus dan... agak rata?

"Hmm... Kau punya kekasih sebelumnya?"

Pertanyaan itu tiba-tiba saja mengalir dari mulut Zalina dan membuat Kaiden menghentikan gerakannya seketika. Namun, hanya untuk sesaat, ia kembali melanjutkan makannya dengan tenang.

"Tidak pernah." jawabnya singkat dan datar.

Kaiden mengambil gelas di samping tangannya, meneguk sedikit air sebelum kembali meletakkannya di atas meja.

Zalina masih menatapnya, seolah jawaban singkat itu malah menimbulkan banyak pertanyaan di dalam kepalanya.

"Benarkah?" tanyanya, tidak percaya begitu saja.

Kaiden mengangkat sebelah alis. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa." Zalina mengaduk makanan di hadapannya. "Aku hanya merasa aneh. Pria sepertimu... tidak mungkin tidak punya kekasih?"

"Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu."

"Sesibuk itu?"

"Ya."

Jawaban Kaiden terdengar begitu datar hingga Zalina terdiam beberapa detik.

Ia lalu tersenyum kecil. "Apa kau tipe pria yang sulit jatuh cinta?"

Gerakan tangan Kaiden kembali terhenti. Kali ini ia tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan terangkat, bertemu dengan tatapan Zalina yang tampak penasaran.

"Jatuh cinta?" ulangnya pelan.

Zalina mengangguk. "Bukankah semua orang pernah mengalaminya?"

Kaiden menyandarkan punggungnya ke kursi. Ada senyum tipis di sudut bibirnya, tetapi entah kenapa senyum itu justru membuat wajahnya terlihat semakin dingin.

"Tidak semua orang."

Zalina mengernyit. "Apa kau tidak percaya pada cinta?"

"Aku percaya."

"Kalau begitu?"

"Aku hanya tidak percaya bahwa cinta cukup untuk membuat dua orang bertahan bersama."

Ucapan itu membuat Zalina terdiam. Untuk sesaat, suasana kembali terasa hening.

Ia tidak tahu kenapa jawaban sederhana itu terasa begitu berat.

"Ya, memang tidak semua pernikahan bisa bertahan karena cinta. Bahkan, yang katanya saling mencintai juga tetap berpisah pada akhirnya." ucapan itu mulai terdengar berat.

Ia tampak menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.

"Seperti apa yang terjadi pada ayah dan ibuku. Mereka menikah karena saling mencintai, namun pada akhirnya mereka tetap tidak bisa mempertahankan pernikahan itu."

Kaiden terdiam mendengar ucapan Zalina. Ia hanya menatapnya dalam diam.

"Kenapa?" tanya Kaiden kemudian.

Zalina mengangkat bahunya sedikit. "Karena terkadang cinta saja memang tidak cukup."

Jawaban itu membuat Kaiden kembali diam. "Masalah ekonomi, perbedaan prinsip, campur tangan keluarga... banyak hal yang bisa menghancurkan sebuah hubungan." Zalina menatap piring di hadapannya. "Dan ketika dua orang sudah terlalu lelah untuk memperjuangkannya, cinta sebesar apa pun mungkin tidak akan berarti."

"Kau menyalahkan mereka?"

"Tidak." Zalina menggeleng pelan.

"Dulu aku mungkin sempat marah pada Ibu. Aku pikir kalau Ibu benar-benar mencintai Ayah, ia seharusnya bisa bertahan."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi, setelah sekian lama, aku sadar... cinta itu bukan tentang bisa bertahan atau tidak, tapi tentang bagaimana seseorang bisa menghargai dirinya sendiri, bahkan ketika harus melepaskan orang yang ia cintai."

Zalina tersenyum tipis, meski sorot matanya terlihat berkabut.

"Terkadang, melepaskan bukan berarti cintanya sudah hilang. Bisa jadi, justru karena terlalu mencintai, seseorang memilih untuk berhenti berjuang ketika perjuangan itu hanya membuat kedua belah pihak semakin terluka."

Kaiden terdiam. Tatapannya tidak lagi tertuju pada makanan di hadapannya, namun pada Zalina.

"Apa kau tahu, sebelum perpisahan itu terjadi, mereka selalu bertengkar."

Zalina menatap kosong ke arah piring di hadapannya. Jemarinya perlahan meremas serbet yang ada di atas meja.

"Hampir setiap hari. Dulu, aku sering menutup telinga di kamar karena tidak tahan mendengar teriakan ibu pada ayah."

Ia tertawa kecil yang terdengar getir. "Kadang aku berharap mereka berhenti bertengkar dan kembali seperti dulu. Seperti ketika pabrik ayah masih berdiri tegak dan berada di masa jayanya." ia menghela napas sejenak, seolah berat untuk melanjutkan perkataannya. "Mereka saling mencintai, tapi semakin lama... cinta itu seperti tidak cukup lagi untuk membuat mereka saling memahami."

Ia mengangkat wajahnya, menatap Kaiden.

"Mereka bertengkar hanya untuk membuktikan siapa yang paling benar."

Kaiden masih diam mendengarkan.

"Aku tidak ingin mengalami hal yang sama."

Suara Zalina semakin pelan, hingga akhirnya menyisakan keheningan yang panjang di antara keduanya.

🥀🥀🥀

1
Xlyzy
dia terlalu serius jadi ga denger saat di panggil
Xlyzy
Malu nya ketahuan lagi stalking di depan orang nya langsung
Cimol krispy
kalau memang itu satu satunya jalan, dicoba aja dulu Zal
Cimol krispy
dengar penjelasan ayahmu dulu Zalina.
Mingyu gf😘
lailahaillah 1 m😭😭
Mingyu gf😘
Ayahmu berhutang zal, dan bakal jatuh tampo 2 hari lagi😭
ginevra
yahh nggak ada adegan malam pertama donk. padahal nungguin banget nih 🤭🤭
ginevra
yakin? nanti juga lama2 kalian saling jatuh cinta. kalau si kai normal loh ya
Filan
lho... ortumu normal lho... hubungan mereka harmonis. kamu bukan dari keluarga broken. Padahal biasanya anak lihat ortunya.
-Thiea-: dia punya pandangan sendiri sepertinya.😅
total 1 replies
Filan
ga usah mengendalikan diri kalau sama istri 😌
Filan
syukurlah kalau dia normal 😅
Three Flowers
terasa berat karena itu dialami sendiri oleh keluarganya
Three Flowers
berarti Kaiden ada nafsu juga pada wanita, ya?
Miu.Nuha
ibumu backgraundny udh tajir Zal, jadi diajak susah gk mau kan, hiks... kepekaan hatinya kurang itu...
Miu.Nuha
malah makin penasaran ya Diandra
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...
Ali
ga sopan nih anak, cabein aja bu itu bibir anaknya
Myz Pena
ini seperti menukar diri dengan sesuatu yang berharga.. kalau di dunia nyata bisa saja beruntung kalau menemukan orang yang tepat dan bisa saling mencintai.. 🤧
Myz Pena
wkwkwkwm pura pura lupa 🤣🤣🤣
Xlyzy
udah biar kan aja kaiden cari cuan
Xlyzy
bilang aja sekarang mau sarapan pagi karna ada istri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!