Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: MALAM PERTAMA SETELAH KEMATIAN KELVIN TAN DAN TEST PACK 2 GARIS
Penthouse 50 Miliar itu masih berantakan.
Darah Kelvin Tan masih ada di lantai marmer putih, sudah mengering menjadi noda hitam. Polisi baru saja pergi 1 jam lalu setelah olah TKP. Mayat Kelvin Tan sudah dibawa ke rumah sakit. Akhir dari musuh yang terobsesi padaku selama 20 bab.
Aku, Sinta, duduk di sofa kulit Italia yang harganya 800 juta, masih memakai gaun pesta yang robek di bagian bahu karena diculik Kelvin Tan di mall kemarin. Gaunku penuh darah, bukan darahku, tapi darah Kelvin Tan yang muncrat saat suamiku, CEO Rogue Arga Mahendra, memukul kepalanya dengan botol wine Cristal seharga 45 juta.
Arga berdiri di depan jendela kaca besar penthouse lantai 88, melihat Jakarta di bawah yang penuh lampu. Punggungnya lebar, kemeja putihnya juga penuh darah. Tangannya masih mengepal, buku-buku jarinya berdarah.
Sejak polisi pergi, dia belum bicara satu kata pun padaku.
"Arga..." suaraku serak. Aku takut.
Dia tidak menoleh.
Aku tahu dia marah. Marah karena aku hamil. Bab 19 kemarin aku baru tahu aku hamil 6 minggu, hasil dari malam pertama kami setelah dijual ayahku Rp 500 juta itu. Aku belum sempat kasih tahu Arga, tapi Kelvin Tan sudah berteriak di mall kemarin, "KAU HAMIL ANAK ARGA! AKU TIDAK AKAN BIARKAN ANAK ITU LAHIR!"
Dan Arga mendengar semuanya.
"Kenapa kamu tidak bilang?" Akhirnya Arga bicara, suaranya berat, parau, suara CEO yang biasa memecat 100 karyawan tanpa kedip, tapi sekarang gemetar.
Aku menunduk. "Aku... aku baru tahu kemarin, Mas... waktu di Puskesmas... aku mau kasih tahu malam ini... tapi..."
"Kelvin Tan tahu duluan sebelum aku?" Arga berbalik. Matanya merah. Bukan merah marah, merah menahan tangis. CEO Rogue yang ditakuti 1 Jakarta, yang musuh keluargaku, yang membeli aku Rp 500 juta dari ayahku yang bangkrut, sekarang terlihat seperti anak kecil yang takut kehilangan.
Dia berjalan ke arahku, lututnya jatuh ke lantai di depanku, kepalanya ditaruh di pangkuanku, di atas perutku yang masih rata.
"Sinta... maafkan aku... aku hampir kehilangan kalian berdua... di mall tadi... kalau aku telat 5 menit saja..."
Aku mengelus rambutnya yang berantakan, rambut CEO yang biasanya klimis rapi. "Mas... kita selamat... bayi kita selamat..."
Arga mengangkat kepalanya, tangannya yang berdarah menyentuh perutku dengan sangat pelan, seperti takut perutku pecah.
"Benar kamu hamil? Benar ada anakku di sini?" Dia tidak percaya.
Aku mengangguk, air mataku jatuh. "6 minggu, Mas... dokter bilang detak jantungnya sudah ada..."
Arga langsung berdiri, menggendongku ala bridal style, membawaku ke kamar mandi utama penthouse yang kamar mandinya saja lebih besar dari rumah kontrakan ayahku dulu.
Dia buka lemari, di sana ada 10 test pack berbagai merek yang ternyata sudah dia beli sejak minggu lalu. Aku kaget.
"Kamu sudah curiga?" tanyaku.
"Aku lihat kamu muntah 3 hari berturut-turut, kamu ngidam mangga muda jam 2 pagi, dan kamu nangis lihat iklan susu bayi... aku bukan CEO bodoh, Sinta..." dia membuka satu test pack, "Tapi aku mau lihat sendiri. Dua garis dari kamu."
Aku pipis di test pack itu, tanganku gemetar. Arga menunggu di luar, mondar-mandir seperti orang gila. 1 menit terasa seperti 1 tahun.
Saat garis kedua muncul, sangat jelas, merah terang, 2 garis, aku menjerit pelan.
"Mas! Dua garis!"
Pintu kamar mandi didobrak. Arga masuk, melihat test pack itu, dan untuk pertama kalinya dalam 20 bab, sejak aku dijual ayahku Rp 500 juta, sejak dia menikahi aku karena dendam pada keluargaku, sejak dia jadi rogue yang dingin, Arga Mahendra menangis.
Tangisan CEO. Tidak ada suara, hanya air mata yang jatuh deras di pipi yang biasanya keras itu. Dia memelukku, memeluk perutku, menciumi perutku yang masih rata itu berkali-kali.
"Terima kasih, Sinta... terima kasih sudah kasih aku keluarga... Ayahku dulu bilang keluarga Mahendra tidak akan punya penerus karena aku rogue, karena aku musuh semua orang... tapi sekarang... kamu kasih aku anak..."
Aku memeluk kepalanya. "Anak kita, Mas... bukan anakmu saja... anak kita..."
Malam itu, di penthouse 50 Miliar yang masih bau darah Kelvin Tan, kami tidak tidur.
Arga memanggil dokter pribadi paling mahal di Jakarta jam 2 pagi, dokter kandungan perempuan yang datang dengan alat USG portable seharga 2 Miliar. Dokter itu USG perutku di atas ranjang king size kami.
Di layar USG, terlihat titik kecil berkedip-kedip.
"Detak jantungnya, Bu Sinta, Pak Arga. 6 minggu 2 hari, sehat, kuat..."
Arga merekam layar USG itu dengan HP nya, dengan tangan yang masih gemetar. CEO yang punya 17 perusahaan, yang perang saham 2 Triliun vs Tan Group di Bab 16, yang tidak pernah gemetar tanda tangan kontrak 500 Miliar, sekarang gemetar merekam detak jantung bayi sebesar kacang kedelai.
Setelah dokter pergi, Arga mematikan semua lampu penthouse. Hanya lampu Jakarta dari jendela yang masuk.
Dia berbaring di sampingku, tangannya tidak pernah lepas dari perutku. Dia bicara pada perutku.
"Halo, nak... ini Papa... Papa Arga... Papa yang dulu jahat, yang beli Mama kamu 500 juta... tapi Papa janji, mulai detik ini, Papa tidak akan jadi rogue lagi... Papa akan jadi Papa yang baik... Papa sudah bunuh orang jahat yang mau sakiti kamu dan Mama tadi... Kelvin Tan sudah tidak ada... tidak ada lagi yang akan sakiti kalian..."
Aku menangis lagi. Hormon bumil ditambah haru.
"Mas, kalau anaknya perempuan gimana?"
"Kalau perempuan, cantik seperti kamu, tapi galak seperti Papa biar tidak ada cowok yang berani jual beli dia..." Arga mengelus perutku, "Kalau laki-laki, kita didik jadi CEO yang lebih baik dari Papa... yang tidak perlu beli istri 500 juta untuk dapat cinta..."
Aku pukul pelan dadanya. "Mas masih ingat 500 juta itu..."
"Bagaimana aku bisa lupa... 500 juta itu harga paling murah yang pernah aku bayar untuk dapat harta paling mahal seumur hidupku..." Dia mencium keningku. "Dulu ayahmu jual kamu karena hutang, sekarang aku mau beli seluruh hutang ayahmu, biar dia tidak pernah jual kamu lagi..."
Aku kaget. "Maksudnya?"
Arga mengambil iPad di nakas, membuka laporan keuangan. "Hutang ayahmu masih 3,2 Miliar di bank. Aku sudah lunasi tadi sore, sebelum kejadian di mall. Sertifikat rumah ayahmu sudah aku tebus. Besok pagi, ayahmu akan datang ke sini, bukan sebagai penjual, tapi sebagai kakek dari anakku..."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Laki-laki yang awalnya menikahi aku karena dendam, karena ayahku dulu yang buat keluarga Mahendra bangkrut 20 tahun lalu, sekarang melunasi hutang ayahku tanpa aku minta.
"Kenapa Mas lakukan itu?" tanyaku pelan.
"Karena kamu hamil, Sinta. Aku tidak mau anakku lahir dengan kakek yang masih punya hutang dan berpikir menjual cucunya lagi nanti..." Arga menatap mataku dalam, "Dan karena aku mencintaimu, Sinta. Bukan karena 500 juta lagi. Tapi karena kamu satu-satunya orang yang berani tampar aku di Bab 3, yang berani lawan aku di Bab 10, dan yang mau tetap di sampingku bahkan setelah tahu aku rogue musuh keluargamu..."
Malam itu, di penthouse 50 Miliar yang tadi pagi jadi tempat pertarungan berdarah, kami berdua tertidur sambil memeluk perut kecilku.
Di luar, Jakarta masih bising. Tapi di dalam penthouse ini, untuk pertama kalinya, tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi Kelvin Tan, tidak ada lagi jual beli 500 juta.
Yang ada hanya detak jantung ketiga, detak jantung bayi kami, yang berkedip di rekaman USG di HP Arga yang masih menyala di atas nakas.
Dan besok, perang baru akan dimulai. Perang melawan keluarga Tan Group yang pasti akan balas dendam atas kematian Kelvin Tan. Perang saham 2 Triliun Bab 16 belum selesai.
Tapi malam ini, kami menang. Kami punya 2 garis.