Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Rekening Gendut Direktur Keuangan
"Buka akses server utama keuangan divisi lo sekarang juga, Frans. Jangan buang waktu gue."
Suara gebrakan meja terdengar sangat keras. Riana melempar sebuah kartu identitas berbahan logam emas padat tepat ke atas meja kaca milik Direktur Keuangan Aegis Corp. Kartu itu berdenting nyaring, menampilkan ukiran nama Riana dengan jabatan baru yang mengkilap: Direktur Kepatuhan.
Frans, pria paruh baya dengan rambut klimis dan setelan jas biru dongker itu, nyaris melompat dari kursi kulitnya. Wajahnya yang tadinya angkuh berubah tegang melihat kartu emas tersebut.
"Lo gila, Riana?! HRD rendahan tidak punya wewenang buat periksa brankas digital keuangan pusat!" bantah Frans dengan suara tinggi, berusaha menutupi kegugupannya. Dia sengaja tidak melihat ke arah kartu emas itu. "Gue ini Direktur Keuangan! Cuma bos besar yang boleh minta laporan keuangan sama gue!"
"Baca tulisan di kartu itu baik-baik, Frans," perintah Riana sangat dingin. Tangannya bertumpu di atas meja, menatap lurus menembus mata Frans. "Bos besar sendiri yang memberikan kartu ini ke gue. Sekarang gue punya wewenang mutlak buat membekukan seluruh aset divisi lo kalau lo menolak diaudit."
Frans menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai merembes keluar dari pori-pori pelipisnya. Reputasi Riana yang baru saja menghancurkan Boni dan Gideon dalam waktu singkat sudah menyebar ke seluruh penjuru gedung. Perempuan berkacamata tebal di depannya ini bukan lagi staf HRD culun, melainkan anjing pelacak paling ganas milik sang CEO.
"O-oke. Silakan periksa," ucap Frans dengan suara sedikit bergetar. Dia mengetikkan kata sandi di komputernya, membuka kunci brankas data keuangan divisi. "Tapi gue jamin lo tidak akan menemukan kesalahan apapun. Pembukuan gue sangat rapi."
Riana tersenyum miring. Dia memutar layar monitor itu ke arahnya, lalu menarik keyboard ke dekatnya. Jari-jarinya menari sangat cepat di atas tuts keyboard. Angka-angka miliaran rupiah mengalir deras di layar monitor. Riana membaca deretan laporan arus kas itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Matanya bergerak memindai setiap transaksi layaknya mesin pencari otomatis.
"Sangat rapi kata lo?" Riana mendengus meremehkan. Dia menekan satu tombol keras-keras hingga sebuah dokumen berkedip merah di layar. "Aliran dana proyek Pelabuhan Mutiara Hitam. Anggaran keluar dari kas utama sebesar lima puluh miliar rupiah. Tapi vendor material bangunan cuma menerima transfer tiga puluh miliar. Ke mana sisa dua puluh miliarnya menguap, Frans?"
Wajah Frans langsung memucat pasi seperti mayat. Dia buru-buru menarik kerah kemejanya yang mendadak terasa mencekik leher.
"I-itu... itu masuk ke biaya penyusutan alat berat dan biaya administrasi pihak ketiga!" kilah Frans gelagapan, matanya bergerak liar tidak berani menatap Riana. "Semua proyek besar pasti punya biaya siluman untuk pelicin lapangan."
"Biaya penyusutan yang langsung ditransfer ke rekening pribadi bernomor luar negeri di Kepulauan Swarna?" skakmat Riana tanpa ampun. Dia membuka jendela baru di layar, menampilkan bukti transfer ke sebuah rekening anonim. "Dan kebetulan sekali, nama pemilik rekening luar negeri itu sama persis dengan nama istri siri lo yang sekarang asyik belanja tas mewah di benua seberang."
Kaki Frans lemas seketika. Tubuhnya merosot jatuh terduduk kembali ke kursinya. Napasnya memburu cepat. Uang dua puluh miliar itu memang dia curi langsung dari kas pribadi Bramantyo. Dia mengira trik mutasi bank luar negerinya tidak akan pernah bisa dilacak oleh siapa pun.
"Lo... lo jangan asal bicara!" teriak Frans putus asa.
"Gue bicara pakai data mutlak," potong Riana menekan tombol kunci sentral di tablet kerjanya. "Mulai detik ini, seluruh akses rekening Divisi Keuangan resmi gue bekukan. Gue kasih lo waktu persis dua jam untuk menulis surat pengakuan dosa. Lewat dari dua jam, gue cetak bukti penggelapan uang ini dan gue serahkan langsung ke meja bos besar. Lo tahu sendiri apa hukuman buat orang yang berani mencuri uang Bramantyo."
Riana berbalik badan, melangkah keluar dari ruangan Direktur Keuangan dengan punggung tegak dan ketukan sepatu yang sangat konstan. Tidak ada kompromi. Tidak ada belas kasihan.
Sepeninggal Riana, Frans langsung menggebrak mejanya dengan frustasi. Ruangan itu terasa berputar. Kalau Bramantyo melihat bukti transfer itu, bukan cuma jabatannya yang hilang. Algojo bos besar pasti akan memotong jari tangannya satu per satu sebelum melemparkan tubuhnya ke mesin penggiling daging di basement.
Frans tidak punya pilihan lain. Dia harus menyingkirkan sumber masalahnya sebelum waktu dua jam itu habis. Dia harus membungkam mulut HRD sialan itu selamanya malam ini juga, mumpung bukti fisiknya belum sampai ke tangan bos besar.
Dengan tangan gemetar hebat, Frans mencabut ponsel pribadinya yang aman dari penyadapan kantor. Dia menekan sebuah nomor panggilan cepat ke jaringan dunia bawah tanah.
"Halo, Bos Frans? Ada proyek bersih-bersih buat kami?" sapa suara parau dari ujung telepon.
"Gue kirim foto seorang perempuan culun berkacamata tebal ke ponsel lo sekarang juga," perintah Frans dengan gigi gemeretak menahan amarah dan ketakutan. "Cegat dia pas dia pulang kerja malam ini. Jangan pakai senjata api, jangan bikin keributan besar. Tusuk jantungnya, ambil tas kerjanya, lalu buang mayatnya ke sungai. Gue bayar lo tiga kali lipat di muka!"
"Siap laksanakan, Bos. Target akan hilang tanpa jejak."
Sambungan diputus. Frans mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Dia menatap pintu ruangannya dengan tatapan membunuh. Cewek birokrasi itu terlalu ikut campur, dan harga dari keingintahuan itu adalah nyawa.
Rintik hujan mulai turun membasahi aspal gang sempit di kawasan apartemen pinggiran kota. Udara terasa sangat dingin dan lembab. Suara deru kendaraan di jalan raya utama terdengar sayup-sayup, terhalang oleh deretan tembok tinggi bangunan tua di sisi kiri dan kanan gang tersebut.
Riana berjalan santai dengan langkah teratur. Sebuah payung lipat berwarna hitam menaungi tubuhnya dari gerimis. Satu tangannya memegang erat tali tas jinjing kulit tempat dia menyimpan tablet kerjanya. Perempuan itu sedang dalam perjalanan menuju minimarket dua puluh empat jam yang terletak di ujung gang untuk membeli stok makanan instan.
Lampu neon dari papan nama minimarket itu sudah berkedip-kedip rusak di kejauhan, memancarkan cahaya redup yang memantul di genangan air hujan.
Namun, langkah Riana perlahan melambat, lalu berhenti total tepat di pertengahan gang yang paling minim penerangan.
Insting pembunuh Riana yang luar biasa peka langsung mengirimkan sinyal tanda bahaya tingkat tinggi ke sistem saraf otaknya. Suara gesekan sol sepatu bot kasar di atas aspal basah terdengar mendekat. Bukan cuma dari satu arah.
Tiga orang pria berbadan kekar muncul dari balik bayangan kegelapan.
Satu pria bertato naga memblokir jalan Riana di depan, berdiri tepat di bawah lampu jalan yang remang-remang. Dua pria lainnya muncul dari celah gang kecil di belakang punggung Riana, menutup rapat jalur mundur perempuan itu. Mereka mengenakan jaket kulit hitam kumal dan topi yang ditarik rendah menutupi dahi.
Tidak ada kata sapaan atau ancaman perampokan standar. Pria bertato di depan Riana langsung memutar pergelangan tangannya.
Klak. Klak. Klak.
Suara logam bergesekan terdengar sangat jelas membelah suara rintik hujan. Ketiga preman jalanan itu secara serentak mencabut pisau lipat taktis dari saku jaket mereka. Bilah pisau tajam itu berkilat mengerikan tertimpa cahaya lampu neon jalanan. Mereka mengarahkan ujung pisau itu lurus ke arah tubuh Riana, bersiap menerkam mangsanya secara bersamaan di bawah guyuran hujan.
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪