Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Amatir
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk duduk disamping Ibu Dion, kemudian Emma mulai memutar kembali otaknya. Apa yang sebenarnya terjadi? Jelas-jelas dia melihat banyak bekas luka dan lebam biru di perut Dion. Dia juga bisa melihat bekas lilitan tali di tangan anak itu. Tapi dimana talinya?
"Sebentar..." gumam Emma tiba-tiba, sehingga menarik perhatian Levi untuk menengoknya yang duduk terapit olehnya dan Ibu Dion.
"Ck, mengapa aku begitu bodoh," celetuknya langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia berlari mencari kedua polisi tersebut tanpa menghiraukan Levi yang sedang memanggilnya tanpa nama.
Di sudut Kantin, Emma akhirnya melihat kedua polisi sedang asyik mengobrol dan menyeruput kopinya.
"Slurp....ah, nikmatnya kopi hitam," salah satu polisi yang tampak lebih tua, duduk menikmati kopi dengan wajah berserinya.
"Sudah jelas itu kasus bunuh diri, kita tak perlu bersusah payah hari ini," celetuknya.
"Tapi ndan, cewek tadi gimana? Nanti kalau dia buat masalah gimana coba?" kata polisi yang lebih muda.
"Santai saja, orang jelas banget kok. Banyak saksi yang mengatakan anak itu bunuh diri. Dia mau melakukan apapun, hasilnya akan tetap sama."
Kedua manggut-manggut tanpa terlihat terbebani dengan kondisi keluarga korban.
"Haish.... Mereka keterlaluan!" umpat Emma yang langsung meninggalkan pemandangan yang tidak mengenakkan itu.
Emma yang awalnya ingin membantu kedua polisi tersebut untuk menyidik TKP, mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk menyelidikinya sendiri.
"Percuma ngomong sama mereka. Bahkan mereka lebih lambat dari Tejo," gerutunya sambil berlari cepat menuju halte bis.
"Ck, seharusnya tadi aku bawa mobil saja kesini."
Kecerobohannya lagi-lagi membuatnya mengeluh. Tubuhnya selalu saja bergerak lebih cepat dari otaknya. Alasan itu juga yang membuatnya membutuhkan rekan seperti Tejo yang lebih teliti, meskipun pekerjaannya lelet.
"Setidaknya karena kecerobohanku, aku jadi tahu kondisi badan Dion," hiburnya pada diri sendiri setelah duduk di kursi bis.
"Hah! Ck!"
Kesabarannya yang setipis tisu dibagi empat itu membuatnya tak bisa diam. Dia berulang kali menghentakkan ujung kakinya, tangannya meremas lutut, dan beberapa kali ia bangun dari tempat duduknya.
"Pak, bisa tolong lebih cepat?" tanyanya kepada Pak Sopir yang sedang khidmat mengendarai bis.
"Maaf neng, ini sudah yang paling cepat. Banyak orang yang mau naik bis ini," jawab Pak Sopir. "Kalau mau lebih cepat, mending naik ojol saja neng," tambahnya.
"Benar juga!" pikir Emma.
...****************...
Sesampainya di SMA X, dengan sigap Emma menghampiri TKP.
Disana terlihat polisi lain sedang menandai TKP dan memasang Police Line. Namun fokus Emma bukan tempat dimana Dion jatuh. Tapi gedung 4 lantai itu.
Ia melangkah mantap menyusuri tangga. Memang situasi saat itu masih ramai, tapi entah mengapa semua orang tidak benar-benar memperhatikan Emma yang memakai baju kemeja gombrong dan celana jins berlalu di depan mereka.
Itu membuat Emma semakin leluasa untuk menelusuri dan mencari bukti di sekitar gedung 4 lantai itu.
Emma memakai peralatan penyidiknya yang selalu ia bawa kemana-mana, seperti sarung tangan latex dan alas sepatu agar tak merusak TKP. Ia juga mencari dimana gerangan tali yang mengikat tangan Dion. Tapi tali tersebut tidak ada dimanapun.
"Ck, ini sulit sekali," gumamnya.
Meskipun begitu, Emma tidak menyerah begitu saja. Dengan berbekal perlatan seadanya, ia mengumpulkan sidik jari yang ada di besi pagar atap gedung tersebut. Dia juga memfoto semua jejak yang tertinggal disana. Dia melihat banyak sekali jejak yang tertinggal. Itu membuatnya kembali menghela nafas.
Memang menyidik TKP di tempat umum itu sangat menyusahkan. Selain karena banyaknya orang yang pastinya berlalu lalang, tidak adanya data base untuk anak di bawah umur juga menjadi kendala.
"CCTV! Tentu, CCTV."
Tanpa pikir panjang, ia berkeliling mencari CCTV yang ada hingga ia menemukannya. Tapi jangkauannya sangat jauh dari tempat Dion menjatuhkan dirinya.
"Apapun itu, yang penting aku harus mengumpulkannya.."
Emma berlari kembali ke ruang Kepala Sekolah untuk meminta rekaman CCTV tersebut. Dengan mengandalkan akting payahnya, ia berlagak sebagai penyidik yang sedang bertugas.
Hampir saja Emma mendapatkan apa yang ia inginkan. Akan tetapi Pak Kepala Sekolah tiba-tiba menerima panggilan dari entah siapa.
"Halo, iya... Iya... Baiklah," kata Kepala Sekolah mengiyakan apapun si penelpon katakan.
"Maaf, saya mendapatkan telpon dari Polsek. Katanya saya harus mengusir siapapun orang yang mengaku menjadi penyidik dan ciri-cirinya persis seperti anda," katanya tegas.
"Tapi pak, saya..." Emma ingin mengelak.
"Sekali lagi maaf ya Bu, saya tidak bisa memberikan yang anda inginkan."
Dengan langkah kesalnya, Emma keluar dari ruang Kepala Sekolah. Ia berjalan gontai menyusuri jalan kecil menuju gerbang depan sekolah, yang kini sudah tampak lenggang karena semua siswa diminta untuk segera pulang. Warga sekitar juga tak lagi mengerubungi TKP yang sudah dipasang garis polisi tersebut.
'Cuma inikah yang aku dapatkan? Haaah....' batinnya merayap merongrong rasa percaya dirinya.
Dia terdiam sebentar....
"Tidak.... Aku nggak boleh nyerah begitu saja."
Emma kembali ke TKP atap gedung untuk sekali lagi mencari petunjuk.
"Apapun itu, aku harus menemukannya," bisiknya dengan semua kerutan di dahinya.
Lalu...
"Bukankah ini..." perhatiannya terpusat pada bekas goresan yang ada di pinggir pagar besi.
Dengan cepat Emma memfoto bekas goresan tersebut. Ada dua goresan hitam yang melingkar namun tidak terlalu jelas. "Ini terlihat seperti goresan bekas lilitan tali," batinnya kembali memunculkan kepercayaan bahwa Dion bukanlah korban bunuh diri.
Namun, ditengah aktivitas penyelidikannya, tiba-tiba sakit berat menyerang kepala Emma.
"Aaakh."
Emma merasa kepalanya berdengung hebat dan lantai yang dipijaknya seperti terombang-ambing.
"Ahh...Kurasa aku harus pulang," ucapnya sambil menekan kepalanya yang masih berdengung.
...****************...
Setelah melalui semua kesusah payahnya dalam menyelidiki kasus yang baru saja ia saksikan sendiri, akhirnya Emma bisa melonggarkan kakinya di kamar nyamannya.
Di kamar setengah terang yang hanya mengandalkan satu lampu LED kecil itu, Emma menjejer semua foto yang telah ia print. Ia memasang kertas hitam besar di temboknya dan menempelkan foto-foto tersebut.
"Ini jelas bukan bunuh diri biasa. Semua lukanya tak masuk akal kalau dikatakan sebagai luka Karena jatuh dari gedung."
"Tapi pertanyaannya, semua luka itu ia dapatkan darimana? Sekolah? Rumah? Huft..."
"Seharusnya aku menanyai teman korban. bukannya malah berlarian kesana-kemari tak jelas seperti seorang amatir." Protesnya pada diri sendiri.
"Visum, hasil visum... Ah seharusnya aku menunggu lebih lama."
"Ck.. apa yang aku lakukan?" Emma menjatuhkan dirinya ke kasurnya.
"Aku bukan polisi yang bertugas. Ini juga bukan wilayahku. Berhenti ikut campur Emma, biarkan mereka bekerja. Kamu tinggal percayakan saja," ucapnya pada dirinya sendiri.
Setelah hampir setengah jam ia merelaksasikan badannya di atas kasur, Emma bangun untuk mengambil segelas air. Namun entah mengapa, kelapanya mendadak pusing. Semua tampak berputar dan ia mengeluarkan darah di hidungnya. "Apa ini? Ck... Kurasa aku kelelahan."
Baru saja ia hendak melangkahkan kakinya lagi, namun badannya terhuyung lemas dan jatuh.
Brakkkk!!!