NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ajakan ke pesta

Setelah selesai diobati, Fadil dan Yudi pamit duluan. Kini hanya tersisa Ana dan Adrian di ruangan.

“Aku akan mengantarmu pulang,” ucap Adrian yang duduk di samping Ana.

“Nggak usah,” tolak Ana.

Adrian tetap memaksa agar Ana menerima tawarannya. Karena tidak ingin berlama-lama di vila Adrian, Ana pun akhirnya setuju.

Di dalam mobil, Adrian duduk berdampingan dengan Ana, sementara Luki mengemudi di depan dalam keheningan. Suasana di dalam kabin rasanya sedikit canggung. Ana hanya membuang wajah, menatap ke luar jendela. Sementara itu, Adrian sejak tadi sengaja memperhatikannya terus dengan senyuman misterius yang sulit diartikan.

“Akhir pekan ini ada pesta. Kamu wajib datang,” kata Adrian mendadak memecah kesunyian.

Ana meliriknya malas. “Memangnya kenapa?”

“Kalau kamu gak datang, pestanya nggak bakal dimulai.”

“Alasan macam apa itu? Maksa banget.”

“Alasan yang logis.” Adrian menyandarkan punggungnya ke jok mobil dengan santai. “Kakekmu juga bakal datang ke sana.”

Mendengar kata itu, Ana langsung menoleh cepat. “Kakek?”

Adrian mengangguk cepat. “Bukankah beliau sekarang tinggal di panti jompo?”

“Tento saja. Tapi kok kamu bisa tahu?”

“Aku yang mengundangnya langsung.” Adrian sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Ana, lalu berbisik pelan. “Nanti bakal ada sesuatu yang sangat penting buat diumumkan.”

Ana menyipitkan matanya, menatap Adrian penuh curiga. “Aku pikirkan dulu.”

“Jangan kelamaan mikir. Kalau kelamaan, aku anggap kamu setuju.”

“Aku belum bilang iya, ya!” ketus Ana.

Tidak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan gerbang kediaman Pramudia. Tanpa membuang waktu, Ana segera membuka pintu dan turun sebelum Adrian sempat mengeluarkan gombalan atau kalimat menyebalkan lainnya.

Di dekat gerbang, ternyata Adit sudah berjalan bolak-balik dengan wajah cemas. Begitu melihat sosok Ana muncul, raut wajahnya itu seketika berubah lega.

“Kakak akhirnya pulang juga!”

Ana menatap adiknya heran. “Kamu nungguin aku?”

“A-aku… anu, tadi aku lihat Kakak naik mobil pria yang nggak dikenal. Terus Kakak pergi lama banget baru pulang. Makanya aku…” Adit terbata-bata, berusaha mencari alasan.

Ana tertawa kecil melihat tingkah adiknya. “Jadi, kamu khawatir sama aku?”

“Bukan begitu, Kak! Geer banget sih!” elak Adit dengan wajah merona. “Sudahlah. Yuk masuk.”

Adit segera membuntuti langkah Ana dari belakang. Baru berjalan beberapa langkah, dia memanggil Ana lagi. “Kak Ana.”

“Ada apa lagi?” Ana menoleh.

“Soal rumor miring tentang Kakak di sekolah itu… semuanya sudah aku beresin kok. Aku sudah klarifikasi ke anak-anak. Mereka nggak bakal berani ngomong sembarangan lagi tentang Kakak.”

Ana langsung menghentikan langkahnya, membalikkan badan dan menatap Adit dalam-dalam. “Kenapa kamu sampai repot-repot bantuin aku?”

Adit langsung memalingkan wajahnya ke samping tanpa menatap mata Ana. “Kakak kan kakakku sendiri. Kalau rumor jelek tentang Kakak tersebar ke mana-mana, reputasiku di sekolah juga ikut kena dampaknya. Pokoknya… aku lakuin ini bukan karena ingin bantuin Kakak, ya!”

Ana tersenyum tipis. Dia paham betul dengan sifat adiknya yang tsundere. “Oke. Kalau gitu aku nggak perlu bilang terima kasih, kan?”

Ana kembali berjalan meninggalkan Adit yang masih mematung. Adit hanya bisa tersenyum simpul melihat punggung kakaknya, sebelum akhirnya ikut menyusul masuk ke dalam rumah.

Di ruang makan, Dewi dan Jesika sedang asyik menyantap makanan mereka. Seorang pelayan rumah yang menyadari kedatangan Ana langsung buru-buru berdiri.

“Nona Ana sudah pulang. Mari saya siapkan makanan untuk Anda.”

Ana mengangguk sopan, lalu mengambil posisi duduk di samping Adit. Kebetulan saat pelayan menyajikan makanan hangat di depan Ana, Dewi mendadak meletakkan sendoknya dengan gerakan anggun yang dibuat-buat.

“Oh iya. Akhir pekan ini bakal ada pesta makan malam besar. Hampir semua orang penting di ibu kota bakal hadir di sana. Ayah kalian juga sengaja pulang dari luar kota buat menghadiri pesta itu,” ujar Dewi, membuka obrolan. “Kalian berdua harus bersiap dengan baik. Pakai baju terbaik kalian, jangan sampai bikin malu nama keluarga.”

Pandangan Dewi kemudian menatap tajam ke arah Ana yang sedang sibuk mengunyah makanan. “Ana, sepertinya pesta kali ini kamu gak usah ikut datang deh. Setiap kali kamu ikut ke acara formal, kamu selalu saja bertingkah aneh dan membuat keluarga kita jadi bahan tertawaan orang-orang.”

Ana tetap melanjutkan makannya dengan tenang, tidak memedulikan perkataan Dewi. “Sayangnya aku nggak bisa absen dari pesta itu.”

Dewi mengernyitkan dahi. “Kenapa nggak bisa?”

“Karena tanpa aku, pesta makan malam itu nggak bakal pernah dimulai.”

Detik itu juga, tawa Dewi dan Jesika langsung pecah di ruang makan. Mereka menganggap ucapan Ana sebagai lelucon paling konyol abad ini.

“Ana, Ana… jangan terlalu tinggi deh kalau mimpi. Jangan sok merasa dirimu itu penting,” cibir Dewi sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Pesta ini tuh levelnya beda, dihadiri banyak konglomerat dan pejabat. Keluarga Pramudia aja nggak ada apa-apanya dibanding mereka, apalagi bocah kayak kamu yang bahkan nggak pantas buat angkat bicara di sana.”

Jesika tersenyum tipis, ada tatapan licik di matanya. “Ma, biarin aja Ana datang. Aku justru penasaran pengin lihat seberapa penting sih posisi dia di pesta nanti.”

Ana mengabaikan sindiran itu. Ia malah mengangkat tangannya ke arah dapur. “Bi, tolong tambahin nasi satu porsi lagi ya.”

Jesika menatap Ana dengan sorot mata yang penuh dengan kepuasan. Ia memajukan tubuhnya sedikit ke meja, lalu berbisik pelan. “Aku udah sempat nanya-nanya ke Aksa Aditama. Dia bilang… dia bakal membatalkan pertunangan kalian secara sepihak di depan umum pas pesta nanti.”

Gerakan mengunyah Ana sempat terhenti sedetik, tapi dia sama sekali tidak sudi menoleh ke arah Jesika.

“Jadi, siap-siap aja ya. Nanti kamu bakal dipermalukan habis-habisan di depan semua orang,” ancam Jesika sambil tersenyum, merasa dirinya sudah menang.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
SRIANA
bagus ceritanya, semangat KK.
Syifaa
👍
Syifaa
🙏
Syifaa
👍
imran
Lanjut lagi
yuyusss: 🙏🙏😍😍😍😍
total 1 replies
imran
Makin penasaran
imran
Gregetnya
yuyusss: 😍baguss banget lanjut
total 1 replies
Syifaa
Jangan lupa like
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!