NovelToon NovelToon
DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TELEPON YANG TAK PERNAH PUTUS

"Jadi sekarang kamu mengancam orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan kami, Pak Wiryo?"

Sinta bertanya dengan suara lebih keras dari yang diperlukan. Terlalu keras untuk ruangan sepetak itu. Tangannya tetap di saku jaket, jempolnya menekan layar ponsel yang kini tersambung ke nomor Tari. Ia hanya berharap sahabatnya sudah mengangkat dan mendengarkan.

Pak Wiryo menyipitkan mata. Bekas luka di rahangnya bergerak ketika ia tersenyum miring. "Mbak ini cerdas. Saya suka."

"Saya cuma heran." Sinta berjalan pelan menyamping, menjaga jarak dari lelaki itu, berhenti di dekat rak paku. "Bu Retno yang menggaji Bapak tiga puluh tahun untuk urusan tanah keluarga Wiryawan. Tapi pagi ini Bapak datang atas perintah Pak Hendra Santosa. Bapak ini sebenarnya kerja untuk siapa?"

Senyum itu menghilang.

Damar menoleh bingung dari balik meja kasir. "Sin, apa maksudmu? Pak Wiryo itu orang Ibu."

"Dulu, Mas. Sebelum Pak Hendra membayarnya lebih mahal."

"Jangan sembarangan bicara, Mbak." Suara Pak Wiryo merendah, serak dan berbahaya. Ia melangkah satu langkah, lantai kayu berderit di bawah sepatunya yang berat. "Siapa yang bilang begitu?"

"Seorang montir yang bengkelnya Bapak bakar bulan lalu."

"Itu korsleting."

"Tiga hari setelah Bapak datang berdiri di depannya sambil bertanya soal ibunya di kampung." Sinta menatapnya lurus. "Kalau saya hafal kalimatnya, Pak, apa menurut Bapak saya bohong?"

Rahang Pak Wiryo mengencang. Udara di toko itu mendadak terasa pengap. Sinta merasakan keringat dingin menuruni punggungnya, tapi ia memaksa dagunya tetap terangkat. Ia tahu satu hal yang pernah ia pelajari dari tujuh tahun di rumah Bu Retno: orang yang berkuasa lewat rasa takut tidak tahan jika rahasianya diumumkan dengan suara keras.

"Bu Retno tahu Bapak bekerja untuk Pak Hendra?" lanjutnya lantang, mengarahkan setiap kata ke arah saku jaketnya seolah ke pengeras suara. "Dia tahu Bapak yang membakar bengkel pacar Melia? Dia tahu Bapak yang menyuruh dua orang mendobrak pintu paviliun saya semalam?"

"Mbak, diam."

"Dia tahu bahwa perjalanan Jumat itu sebenarnya jebakan untuk anak kandungnya sendiri?"

"DIAM!"

Bentakan itu menggelegar. Damar tersentak, tapi Sinta tidak bergerak. Ia justru tersenyum tipis, senyum lelah perempuan yang sudah terlalu sering digertak.

"Kenapa, Pak? Takut Bu Retno dengar?"

Pak Wiryo menyambar lengan Sinta dengan tangan sebesar sarung tinju. Cengkeramannya begitu kuat hingga tulang pergelangan Sinta terasa hendak patah. Ia menyeretnya mendekat, dan bau rokok bercampur keringat tua menampar wajahnya.

"Saya sudah berusaha sopan," desisnya. "Tapi perempuan yang terlalu banyak bicara itu biasanya cepat..."

Sebuah botol cat melayang dari samping dan menghantam bahu Pak Wiryo.

Tidak keras, tapi cukup mengejutkan. Pak Wiryo menoleh. Damar berdiri di sana, napasnya memburu, tangan masih terangkat setelah melempar, dada naik turun seperti orang yang baru berlari sepuluh kilometer. Wajahnya pucat pasi, tapi matanya, untuk pertama kali dalam tujuh tahun, tidak lari.

"Lepaskan istriku."

Pak Wiryo mengerjap, lalu tertawa pendek. "Mas Damar, jangan bercanda."

"Aku tidak bercanda."

"Anak mami macam Mas ini mau melawan saya?"

"Aku mungkin anak mami." Suara Damar bergetar, tapi tidak mundur. "Tapi dia istriku. Dan ini tokoku."

Sinta menatap punggung suaminya yang kini berdiri di antara dirinya dan lelaki besar itu. Punggung yang selama ini selalu menunduk. Punggung yang selama ini bersembunyi. Dadanya bergolak oleh perasaan campur aduk, marah, miris, dan sedikit sekali, hampir tak terasa, haru yang segera ia tekan kuat-kuat.

*Jangan tersentuh, Sinta. Belum.*

Pak Wiryo melepaskan lengan Sinta dan melangkah ke arah Damar, bahunya turun seperti banteng yang siap menyeruduk. Tangannya merogoh pinggang, dan dari balik jaketnya terlihat kilat logam, bukan pisau, tapi sesuatu yang lebih pendek dan berat.

"Saya tidak mau main kasar dengan keluarga majikan lama," ucapnya dingin. "Tapi kalau Mas yang memaksa..."

*Brak! Brak! Brak!*

Dari luar, seseorang menggedor pintu toko dengan keras. Suara itu begitu mendadak hingga ketiganya tersentak. Disusul teriakan melengking yang sangat dikenal.

"WIRYO! BUKA PINTUNYA!"

Wajah Pak Wiryo berubah pucat seketika.

"WIRYO! AKU TAHU KAMU DI DALAM! BUKA, ATAU AKU PANGGIL POLISI!"

Bu Retno.

Sinta nyaris menahan napas. Ia melirik jam di dinding toko. Baru empat puluh menit sejak ia meninggalkan Tari. Tari pasti mendengar semuanya dari telepon yang terhubung, lalu langsung menyeret Bu Retno dari salon dengan satu kalimat yang cukup membuat perempuan itu berlari: *Pak Wiryo menyerang Damar di toko.*

"WIRYO!" gedoran makin keras. "BUKA! ANAKKU DI DALAM!"

Pak Wiryo memandang pintu, lalu Sinta, lalu Damar, dan untuk pertama kalinya, ada kebingungan di wajahnya. Ia memasukkan kembali benda di pinggangnya dengan gerakan cepat.

"Kamu atur ini?" bisiknya pada Sinta.

"Saya cuma bertanya, Pak." Sinta menyentuh pergelangan tangannya yang lebam dan tersenyum tipis. "Siapa yang sebenarnya Bapak layani."

Gedoran berhenti. Terdengar suara perempuan lain, lebih pelan tapi tajam, dari balik pintu. Suara itu tidak asing: Tari.

"Bu Retno, sebentar. Dengar dulu ini." Jeda singkat, lalu suara ponsel diputar. Dari celah pintu, terdengar jelas, dengan kualitas rekaman yang bening, suara Pak Wiryo tadi:

*"…saya sudah berusaha sopan. Tapi perempuan yang terlalu banyak bicara itu biasanya cepat…"*

Kemudian suara Sinta sendiri, jernih: *"Bu Retno tahu Bapak bekerja untuk Pak Hendra?"*

Hening.

Sinta menatap Pak Wiryo. Lelaki itu berdiri membeku di tengah ruangan, wajah lebarnya berubah warna seperti kulit yang ditarik. Mulutnya bergerak, tapi tak ada suara.

"Wiryo," suara Bu Retno terdengar kembali dari balik pintu, kini jauh lebih rendah, jauh lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya daripada teriakan tadi. "Buka pintunya. Sekarang."

Pak Wiryo menelan ludah. Kunci toko ada di tangannya. Ia menatap pintu, menatap Damar, menatap Sinta, lalu kembali ke pintu. Ada perhitungan cepat di matanya, perhitungan orang yang sedang menyadari bahwa ia terjepit di antara dua majikan yang sama-sama berbahaya.

"Buka saja, Pak," bisik Sinta. "Atau Bapak mau menjelaskan sendiri kenapa Bapak mengunci anak Bu Retno di dalam toko?"

"Kamu perempuan licik."

"Saya perempuan yang dipaksa belajar."

Tangan Pak Wiryo gemetar tipis ketika memutar kunci. Pintu terbuka, dan sinar matahari pagi menyerbu masuk, menerangi sosok Bu Retno yang berdiri di ambang dengan sanggul setengah jadi dan kebaya yang kusut, napasnya terengah, matanya merah. Di belakangnya Tari berdiri dengan ponsel di tangan dan ekspresi puas yang ia sembunyikan baik-baik.

Dan di belakang mereka berdua, di trotoar seberang, sedan hitam itu masih terparkir. Pintunya terbuka. Seorang lelaki berkacamata keluar dengan langkah tenang, merapikan jasnya, seperti orang yang baru dipanggil ke rapat penting.

Pak Hendra.

"Retno," sapanya dengan senyum ramah yang sama sekali tidak sampai ke matanya. "Kenapa semua ribut-ribut? Saya baru mau menjemput Damar untuk berobat."

Bu Retno tidak menoleh padanya. Ia berjalan lurus ke arah Pak Wiryo, berdiri tepat di hadapannya, wajah mereka hanya sejengkal. Tangan kanannya terangkat, dan semua orang bersiap mendengar tamparan.

Tapi yang keluar justru bisikan.

"Tiga puluh tahun, Wiryo. Tiga puluh tahun aku memberimu makan."

"Bu, saya bisa jelaskan..."

"Aku tidak butuh dijelaskan." Bu Retno menurunkan tangannya perlahan dan menoleh, bukan pada Sinta, bukan pada Damar, tapi pada Pak Hendra yang berdiri di ambang pintu dengan senyum membeku di wajah. "Aku cuma butuh jawaban dari satu orang."

Ia melangkah pelan menghampiri sahabat lamanya itu, dan ketika ia berbicara, suaranya tenang dan dingin seperti es yang retak.

"Hendra, kenapa anak buahku sekarang menjawab padamu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!