Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Alat Tekan Untuk Arjuna
Arjuna tidak bergerak dari jendela. Matanya merah membara menatap tiga Dragonoid Wyvern yang melayang di luar dengan Dyah Ayu tergantung di cengkeraman tangan terbesar di antara mereka.
Panel hologram di depan wajahnya bergetar sangat pelan menampilkan satu baris teks tanpa suara.
[Ancaman terdeteksi di belakang inang. Jarak: 3 meter]
Arjuna tidak berbalik.
"Manusia sampah!" hardik Dragonoid Wyvern pertama, suaranya meledak membelah udara malam, "Kenapa kau diam? Apakah otakmu sama lemahnya dengan ranahmu?"
Dragonoid kedua menarik rambut Dyah Ayu lebih keras, membuat gadis itu menjerit tertahan.
"Lihat gadis sampah ini menangis!" ejek Dragonoid kedua, tawanya meledak penuh kenikmatan yang mengerikan. "Ras manusia memang hanya bisa menangis, dan mati. Tidak ada gunanya hidup di Benua Sangakama."
"Aku sudah bosan menunggu," geram Dragonoid ketiga, aura Spirit Awakening Realm: Golden Star memancar brutal dari tubuhnya. "Lempar saja gadis ini sekarang! Biarkan manusia busuk itu menyaksikan ras sampahnya hancur di bawah."
Dari belakang, suara langkah yang hampir tidak terdengar berhenti tepat dua meter di belakang Arjuna.
"Kau lebih tenang dari yang aku bayangkan," ucap suara itu, rendah dan berbahaya seperti geraman binatang yang menahan diri. "Tapi ketenangan tidak akan menyelamatkanmu malam ini, manusia."
Anggota Phantom itu berdiri dengan tubuh yang memancarkan aura predator sejati. Sisik hitam legam bercampur dengan kulit manusia di sekujur tubuhnya, dan mata kuning emas dengan pupil vertikal yang memantulkan cahaya malam seperti macan yang siap menerkam.
"Phantom sudah menerima kontrak untuk membunuhmu," lanjut ras Warbeast dari sub ras Panthera, suaranya mengandung senyuman yang tidak terlihat tapi terasa. "Satu juta koin emas dari Komandan Wiryo. Harga yang sangat murah untuk kepala manusia sampah sepertimu."
"Murah?" timpal Dragonoid Wyvern pertama dari luar jendela, tawanya bergema. "Bahkan satu koin emas pun terlalu mahal untuk kepala ras paling hina di benua ini."
Kekerasan verbal dari dua arah bertumpuk di udara malam itu seperti badai yang tidak punya mata.
Arjuna berdiri di tengah semuanya. Hanya diam, dan tenang. Matanya bergerak sangat pelan dari Dragonoid Wyvern di depan ke bayangan Panthera di belakang, lalu kembali lagi.
Kalkulasi terus berputar tanpa henti di balik ketenangan yang mengerikan itu.
Panthera bergerak pertama. Tubuhnya melesat dari bayangan dengan kecepatan yang melampaui antisipasi.
Cakar hitam legamnya merobek udara menuju punggung Arjuna dengan presisi pembunuh bayaran yang sudah ratusan kali mengeksekusi target.
Arjuna mengaktifkan skill-nya, “Devil Phantom Raijin!”
Domain 20 meter terbentuk seketika, dan tubuhnya menghilang dari posisi semula seperti bayangan yang ditiup angin.
Cakar Panthera membelah udara kosong.
"Apa?!" desis Panthera, pupil vertikalnya memindai seluruh ruangan dengan kecepatan insting predator. "Dia menghilang?"
"Di sini!" ucap Arjuna dari sisi kanan ruangan, suaranya datar seperti tidak ada yang terjadi.
Tiga Dragonoid Wyvern di luar jendela tidak menyia-nyiakan momen itu, sayap membran mereka mengembang penuh, dan serangan energi Spirit Awakening Realm: Golden Star memancar dari tangan mereka ke arah Arjuna sekaligus.
"Habisi dia!" seru Dragonoid pertama, energi abu-abu kebiruan meledak seperti badai yang membelah langit malam. “Wyvern Fist!”
Arjuna tidak menghindari sepenuhnya.
Dia membiarkan sebagian serangan pukulan itu menghantam tubuhnya dengan kalkulasi yang sudah selesai sejak tiga detik sebelumnya.
Artefak Amuk Marugul memancarkan cahaya keemasan. Kemudian memantulkan 50% kerusakan kembali ke tiga Dragonoid sekaligus.
Dragonoid kedua terpental ke belakang dengan luka yang jauh lebih parah dari serangan yang baru saja dia lepaskan. Tubuhnya menghantam udara malam dengan teriakan yang tidak sempat ditahan.
"Apa yang terjadi?!" jerit Dragonoid ketiga, tubuhnya terhuyung di udara. "Seranganku berbalik?!"
Crimson Lifesteal bekerja bersamaan, 20% energi vital dari setiap serangan yang diterima mengalir masuk ke dalam tubuh Arjuna. Menutup luka-luka kecil yang baru saja terbentuk dengan kecepatan yang membuat musuh-musuhnya tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Dia menyerap kerusakan," geram Panthera, pupil vertikalnya menyipit dengan analisis yang cepat. "Artefak pemantul, dan penyerapan vital sekaligus."
"Menarik," ejek Dragonoid pertama, aura Spirit Awakening Realm: Golden Star berkobar lebih brutal. "Tapi artefak itu punya batas. Terus serang sampai batasnya habis!"
Panthera, dan tiga Dragonoid bergerak serentak dari dua arah yang berlawanan. Serangan mereka tidak terkoordinasi, tapi volumenya cukup untuk menutupi kelemahan itu.
Cakar Panthera dari kanan, tendangan energi Dragonoid dari kiri, pukulan mekanis dari depan, dan gelombang energi dari atas.
Arjuna bergerak di dalam domain, menggunakan lompatan instan untuk menghindari titik-titik paling fatal sambil membiarkan serangan yang lebih lemah menghantam artefaknya.
Akan tetapi di tengah kekacauan itu, Dyah Ayu masih tergantung di cengkeraman Dragonoid terbesar di luar jendela.
"Jangan lupakan gadis sampah ini!" seru Dragonoid terbesar, cengkeramannya semakin keras hingga Dyah Ayu menjerit kesakitan. "Satu langkah salah, dan aku lepaskan dia dari sini!"
Arjuna berhenti bergerak.
Matanya beralih ke Dyah Ayu yang tergantung di udara dengan wajah yang semakin pucat. Bibirnya bergetar menahan jerit yang ingin keluar. “Ja-jangan pe-pedulikan a-aku!”
Panthera melihat momen itu sebagai kesempatan. Tubuhnya melesat dengan kecepatan penuh menuju Arjuna dari belakang.
"Lengah kau, manusia! Darkness Claw!" geram Panthera, cakarnya terangkat dengan seluruh tenaga Spirit Awakening Realm: Golden Star yang terkumpul di ujungnya.
Arjuna tidak berbalik.
Dia menggunakan lompatan instan ke arah yang tidak ada seorangpun dari mereka untuk mengantisipasi, muncul tepat di sisi luar jendela, sejajar dengan Dragonoid terbesar yang memegang Dyah Ayu.
Tangannya menyambar pergelangan tangan Dragonoid itu dengan kecepatan domain.
Venom Fang Poison mengalir masuk ke dalam tubuh Dragonoid terbesar melalui sentuhan itu. Racun fatal merayap ke seluruh meridiannya dalam hitungan detik.
"A-apa ini?!" jerit Dragonoid terbesar, cengkeramannya melemas seketika, karena meridian tangannya terbakar dari dalam.
Dyah Ayu jatuh.
Arjuna menangkapnya dengan tangan kiri. Tubuh gadis itu ringan seperti tidak punya bobot di dalam cengkeraman Gold Magna Cyborg Armor yang melapisi lengannya.
"Tutup matamu!" pinta Arjuna, suaranya tenang seperti seseorang yang sedang berbicara tentang cuaca.
Dyah Ayu tidak bertanya, dan tidak memprotes. Hanya menutup kedua matanya dengan jari-jari yang gemetar.
Panthera, dan dua Dragonoid Wyvern yang masih berdiri menyerang serentak dari segala arah. Energi mereka bergabung menciptakan gelombang yang cukup untuk meratakan seluruh lantai tujuh hotel itu.
"Mati kau manusia!" hardik mereka bersamaan.
Arjuna mengangkat Abyssal Fang dengan tangan kanan. Satu tebasan tunggal yang mengandung ketenangan absolut.
"Ultra Phantom Slash."
Tidak ada teriakan.
Tidak ada ledakan yang dramatis.
Hanya satu kilatan merah gelap yang membelah seluruh domain dalam sepersekian detik. Ratusan ribu tebasan yang tidak kasat mata menyapu seluruh ruangan dan langit malam di luar jendela sekaligus.
Lalu keheningan jatuh sangat lama seperti di luar ruang dan waktu.
Panthera, dan dua Dragonoid Wyvern yang masih berdiri jatuh secara bersamaan. Tubuh mereka terpotong dalam luka-luka yang terlalu banyak untuk dihitung dengan darah memancar sebelum mereka sempat memahami apa yang baru saja terjadi.
Panel hologram berkedip.
[Ultra Phantom Slash digunakan]
[Energi Ether terkuras: 95%]
[Kemajuan Misi Sapta Dewanata: 3/7]
Arjuna berdiri di tengah kehancuran lantai tujuh hotel itu. Tubuhnya hampir kehabisan energi, tapi posturnya tidak berubah satu derajat pun.
Dyah Ayu membuka matanya perlahan. Kemudian memandang pemandangan di sekitarnya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Su-sudah selesai?" bisik Dyah Ayu, suaranya nyaris tidak terdengar.
Arjuna tidak menjawab, matanya sudah menatap ke arah lain untuk memindai kegelapan malam di luar jendela yang sudah tidak berkaca itu.
Energi Ether terkuras 95% membuat aura Spirit Awakening Realm: Morning Star miliknya nyaris tidak terasa dari luar.
Seperti lilin yang hampir padam.
Dari antara puing-puing, dan darah yang berserakan, dua sosok bangkit.
Panthera, dan Dragonoid Wyvern pertama berdiri dengan tubuh yang penuh luka. Nadas mereka terputus-putus, tapi mata mereka menyala dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari kemarahan.
Keduanya menyentuh tanah serentak.
"Art Transformation Triwikrama: Wyvern Dragon!" seru Dragonoid pertama.
"Art Transformation Triwikrama: Black Demon Panther!" geram Panthera.
Cahaya abu-abu kebiruan dan hitam legam meledak bersamaan. Kemudian membutakan seluruh langit malam di atas kota perbatasan Prefektur Draconis.
Ketika cahaya itu padam, dua raksasa berdiri di hadapan Arjuna.
Panel hologram berkedip.
[Peringatan: Target mencapai Spirit Awakening Realm: Crimson Star sementara selama 5 menit]
Arjuna menatap keduanya, energi Ether miliknya masih terkuras 95%.