NovelToon NovelToon
Anne Dan Anna

Anne Dan Anna

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Contest / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:271.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: tompealla kriweall

Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.

Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.

Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.

Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab XI

Masa remaja masa indah

Masa yang selalu ceria

Banyak cerita

penuh dengan warna

Kadang suka

kadang galau datang mendera

Rasa yang seperti cuaca

Datang dan pergi cepat berganti

*****

Suasana lapangan basket di sekolah terlihat sepi. Hanya anak-anak yang sedang latihan saja terlihat sudah beberapa yang datang dan sudah berganti pakaian juga. Bukan tanpa sebab, hari ini hari libur jadi memang tidak ada siswa siswi yang masuk.

"Kok tumben pak Bangun ngajakin latihan hari libur sih. Gak asyik banget!" gerutu Alan begitu sampai di lapangan basket tersebut. Dia baru datang dan belum menganti pakaian basketnya.

"Mungkin karena waktu sudah dekat turnamen" jawab Doni. Kakak tingkat Alan yang baru juga datang tapi sudah menganti pakaiannya.

"Sengangnya pak Bangun kali." Ada juga yang menimpali dengan jawaban lainya.

Alan hanya mengangguk-angguk mendengar semua jawaban teman-temannya tersebut.

"Mana Larry?' tanya Alan. Dia belum melihat Larry sedari datang tadi.

Diedarkannya pandangan mencari sosok Larry. Tapi sepertinya memang tidak ada dan bisa jadi belum datang orangnya.

"Belum datang kayaknya" jawab Doni lagi dengan ikut mengedarkan pandangannya juga kesegala arah.

"Kamu kasi kabar ke dia kan semalam?" tanya Doni setelah beberapa saat terdiam. Mereka masih menunggu yang lain untuk memulai latihan karena masih ada yang sedang menganti pakainya dan juga menunggu pak Bangun yang belum datang.

"Sudah kok. Semalam sudah aku wa dia." Alan menjawab pertanyaan dari Doni. Senior tingkatnya.

"Tapi gak tahu juga sih. Semalam tidak di jawab juga kok wa aku." Alan kembali berkata, meneruskan jawabannya yang tadi.

Alan ingat jika semalam sudah memberitahu Larry dengan jadwal latihan di hari libur ini. Dia juga menawari Larry untuk dijemput Alan jika tidak ada yang bisa mengantarkannya hari ini.

#Bro, besok latihan. Pak Bangun kasi tahu tadi lewat group chat WhatsApp.# Begitu Alan semalam mengabari Larry.

#No kamu aku masukan ke group boleh?# Ijin Alan karena pesannya belum juga di baca apalagi di balas oleh Larry. Entah sedang kemana si Larry hingga mengabaikan pesan darinya.

Alan pun tidak jadi memasukkan no Larry ke dalam group wa basket karena belum menjawab pertanyaan dan ijinnya juga.

"Ya sudah, aku ganti baju dulu!" kata Alan berpamitan. Dia melangkah ke arah kamar ganti yang sudah terlihat sepi.

Waktu latihan segera di mulai. Anak-anak yang lain sudah datang. Begitu juga dengan pak Bangun. Beliau sudah bersiap dan masuk ke tengah lapangan.

Dari arah samping lapangan tampak Larry berjalan dengan tenang memasuki lapangan basket dengan memakai pakaian basketnya tanpa menggantinya terlebih dahulu. Berarti dia memakinya sedari rumah tadi.

Pak Bangun menoleh kearah pandangan anak-anak yang lainya. Dia menarik nafas dalam melihat Larry yang terlambat.

"Buruan Larry, kamu sudah terlambat!" Pak Bangun berteriak memberikan peringatan agar Larry berlari atau setidaknya berjalan dengan cepat.

Tapi Larry masih saja berjalan dengan tenang tanpa menghiraukan ucapan pak Bangun yang setengah berteriak tadi.

Pak Bangun terdengar menarik nafas panjang. Beliau mengeleng melihat tingkah anak didiknya yang terlihat datar tersebut. Ingin dia menghukumnya tapi dia kembali berpikir jika emosi anak-anak kadang memang tidak stabil dan bisa berakibat pembangkangan nantinya.

Tentu pak Bangun tidak mau itu terjadi. Dia harus extra sabar menghadapi anak-anak seperti Larry. Wajahnya yang terlihat datar tidak menggambarkan bagaimana kemauannya tapi itulah yang membuat seseorang tidak bisa ditebak secara umum.

Akhirnya Larry bergabung dengan barisan anak-anak yang lainnya. Pak Bangun juga memberikan penjelasan dari adanya latihan pagi ini.

"Latihan pagi ini untuk meningkatan kualitas yang lebih agar pertandingan besok bisa lebih maksimal." Pak Bangun menjeda penjelasannya.

"Setelah latihan ini, Bapak ingin mencari kapten tim agar bisa terorganisir dan ada yang memimpin. Hanya sebagai latihan saja bukan gaya-gayaan!" Pak Bangun kembali menjelaskan dan menekankan diakhir kalimatnya yang tersirat.

Setelah selesai memberikan penjelasan yang dirasa cukup, pak Bangun meminta semuanya untuk berdoa terlebih dahulu baru kemudian melakukan pemanasan sebelum memulai latihan.

Pemanasan dilakukan seperti biasanya. Lari keliling memutari lapangan beberapa kali, melakukan gerakan-gerakan dasar dan seterusnya. Baru kemudian latihan dimulai dengan di bagi menjadi dua tim secara acak.

setelah lebih dari dua jam latihan, pak Bangun memberiakan aba-aba untuk selesainya waktu latihan. Dia sudah bisa menilai siapa-siapa saja yang bisa menjadi tim inti dan siapa-siapa yang akan menjadi cadangannya.

"Intinya ini bukan menyisihkan teman tim, semua bagus dan punya kemampuan untuk bermain. Bapak harap kalian bisa menerima keputusan yang akan bapak ambil dengan bersikap dewasa tanpa berpikir yang lain." Pak Bangun memberikan ulasan lengkap dengan alasan dan juga menasehati anak-anak didiknya agar sportif.

"Jangan berpikir jika kalian tidak masuk tim inti berarti permainan kalian jelek. Jangan juga yang tim inti berpikir jika kalian paling bagus. Di sini semua bagus!" Pak Bangun menekan semua kata demi kata yang dia ucapkan.

"Karena terbatasnya jumlah tim jadi bapak mengambil keputusan ini. Tapi semua tetap harus berlatih seperti biasanya karena bisa jadi waktunya tiba kalianlah yang akan bertanding nantinya." Begitulah pak Bangun memberikan nasehat agar tidak ada kecemburuan sosial antar anak-anak didiknya di luar lapangan nanti.

"Bapak harap kalian semua bisa menerima keputusan bapak dan tetap terus semangat" kata pak Bangun mengakhiri latihan setelah berdoa sebagai penutup.

*****

Alan yang sudah bersiap untuk pulang dengan motor sportnya mendekati Larry yang masih diam duduk seorang diri di teras pos Security yang berada di samping gerbang sekolah.

"Belum di jemput?" tanya Alan setelah turun dari motornya.

Larry yang sedari tadi menekuni hapenya mendongak menatap Alan yang sudah berada di depannya. Dia tersenyum samar menangapi sapaan Alan.

"Mau ikut bareng?" Alan menawari Larry yang kembali menatap ke layar hapenya.

"Aku tidak langsung pulang, tapi mau ke sanggar latihan. Ada Anne di sana" kata Alan lagi karena Larry belum menjawab tawaran darinya.

"Sanggar apa?" tanya Larry pura-pura tidak tahu. Padahal dia sudah pernah mendengar perkataan Alan dan Anne saat itu. Sanggar yang di maksud adalah sanggar olahraga bela diri.

"Sanggar karate. Kebetulan Anne ada latihan juga di sana sejak SD. Salah satu pelatihannya adalah suami dari ibu pantinya" kata Alan menerangkan.

Larry memicingkan matanya mendengar perkataan Alan barusan. Dia ingat jika ibu panti yang di maksud Alan adalah ibu Ayu Kumala. Wanita masa lalu om Tio.

"Kamu kenal Anne sudah lama?" tanya Larry menyelidik. Dia ingin tahu lebih banyak lagi tentang semuanya dengan keterangan-keterangan yang di dapat secara tidak langsung seperti sekarang ini.

"Belum, aku masuk sanggar itu baru setahun yang lalu. Sebelum ini aku ada di sanggar yang lain" jawab Alan menjelaskan.

Larry hanya diam dan tidak lagi bertanya apa-apa. Alan menarik nafas panjang menyadari jika Larry belum menjawab tawaran darinya tadi.

"Gimana ikut?" tanya Alan sekali lagi. Mengajak Alan untuk dia antar pulang.

"Ok, aku ikut kamu ke sanggar!" Jawab Larry kemudian berdiri.

"Ok siap!" kata Alan dengan mengacungkan jempol tangan kirinya menangapi jawaban Larry atas ajakannya.

Tidak lama, motor sport Alan membelah jalanan Bintaro menuju ke arah Pondok Aren, dimana sanggar latihannya berada.

***Baca Lelaki Berkacamata 🤗🙏✌️

1
Luciana Dwiningyad
lha kok sampe sekarang ga berlanjut, judul sama ceritanya ga nyambung
Dyah Oktina
lah... dgantung thor... kpn lanjut ceritannya..
Dyah Oktina
eh...iya... thor kla larry sdh curiga siapa adeknya knp ngak tes DNA aja.. dari pd penasaran & kelamaan kasihan mama yolanda
Dyah Oktina
yg pop tadi bukannya larry ya kok pop end nya jd alan ya thor???
TK
Kamu kapan ini Aku tulis lagi 🙊
triana 13
semangat kak
triana 13
lanjut
triana 13
like
triana 13
lanjut
triana 13
like
Restviani
lanjut
Restviani
maaf, baru bisa datang lagi
Restviani
gintani datang lagi yaaa...
lanjut...
Reo Ruari Onsiwasi
mampir lagi
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
done
🐾Ocheng🐾
hai, ocheng datang bawa Like👍semangat 💪
🐾Ocheng🐾
hadir bawa Like👍
👑Meylani Putri Putti
nyicil
👑Meylani Putri Putti
like selalu
👑Meylani Putri Putti
hadir kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!