Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai membalas
Pukul lima lewat dua puluh, Raina berdiri di depan gedung dengan ponsel di tangan, membuka aplikasi ojek online yang menampilkan keterangan yang tidak ingin ia baca:
"Tidak ada mitra driver tersedia di area Anda. Coba lagi beberapa saat."
Ia coba lagi.
"Tidak ada mitra driver tersedia."
Ia coba sekali lagi, kali ini menggeser radius pencariannya lebih jauh.
"Menunggu konfirmasi driver..."
Tiga menit. Lima menit. Tujuh menit.
Pesanan otomatis dibatalkan.
Raina menyimpan ponselnya dan menatap jalan di depan gedung yang sudah mulai macet, arus pulang kantor, motor dan mobil yang bergerak seperti cairan kental di antara trotoar. Di seberang jalan, halte bus sudah penuh orang berdiri.
Ia menghitung di kepalanya: angkot pertama, angkot kedua, jalan kaki sepuluh menit. Dengan kondisi jalan seperti ini, mungkin sampai rumah pukul tujuh.
Kakinya sudah bicara sejak tadi... punggungnya lebih keras lagi.
"Belum dapat ojek?"
Raina menoleh.
Hadi berdiri dua meter darinya dengan motor matiknya, helm sudah di tangan, kunci di jari yang lain.
"Aplikasinya tidak dapat driver," jawab Raina.
"Aku antar." tawar Hadi. Entah hanya kebetulan atau mungkin memang sengaja menunggu.
"Tidak usah, Mas Hadi. Aku bisa..." Raina menolak secara halus.
"Angkot dua kali terus jalan kaki." Hadi menyodorkan helm cadangannya... entah dari mana ia punya helm cadangan yang ada di jok motornya. "Kakimu sudah jalan berapa kilometer hari ini?"
Raina membuka mulutnya.
"Jangan jawab 'tidak apa-apa'," potong Hadi. Sepertinya pria itu tahu apa yang akan Raina ucapakan.
Raina menutup mulutnya. Karena tebakan suami tetangganya itu benar.
Kemudian mengambil helm itu. Menerima tawaran Hadi mungkin tidak ada salahnya. Daripada ia terus menunggu sedangkan tubuhnya sudah sangat lelah.
Diperjalanan tidak ada percakapan yang terjadi. Mereka sama-sama diam, larut dalam pikirannya masing-masing. Sampai....
"Belok kiri dulu," kata Raina dari balik helmnya ketika motor melewati perempatan. "Mampir warung sebentar. Aku belum belanja bahan masakan."
"Warung Bu Eti?" sahut Hadi, menurunkan gas motornya menjadi lebih pelan.
"Iya."
Hadi membelok tanpa banyak tanya. Di warung Bu Eti yang ada di balik blok... Raina turun, memilih beberapa bahan dengan cepat... bawang, tomat, tempe, dua ikat kangkung, setengah kilo ayam potong. Hadi menunggu di luar dengan motor, menolak ketika Raina menawarkan ia ikut masuk.
Saat Raina membayar dan keluar dengan kantong plastik, Hadi sudah mengambilnya sebelum Raina sempat menaruhnya di pangkuan.
"Biar aku pegang." kata Hadi, meletakkan di pengait motornya.
Kemudian Raina naik ke motor dan mereka melanjutkan perjalanan
---
Sampai di Griya Asri, halaman rumah nomor 14 masih gelap... motor Robby belum ada di carport.
Raina turun, menerima kantong belanjaannya dari Hadi. "Terima kasih. Sudah mau mampir."
"Tidak usah." Hadi mematikan mesin. "Masuk dulu, sudah sore."
Raina berjalan ke pintu, membukanya, kemudian berhenti di ambang pintu dan menoleh. "Mas Hadi sudah makan malam?"
"Belum. Mau beli nanti."
Raina menatapnya sebentar. "Tunggu sebentar."
"Untuk apa?" tanya Hadi bingung.
Tapi Raina sudah masuk ke dalam dan ia mendorong motornya sendiri menuju ke rumahnya.
Empat puluh menit kemudian, Raina keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit lembap dan baju rumahan yang sudah diganti. Di dapur, kompor yang sudah mati ada ayam bumbu kecap sudah di piring, tumis kangkung sudah di mangkuk, nasi sudah dicetak di dua wadah terpisah.
Dua porsi.
Satu untuk dirinya.
Satu ia taruh dalam rantang yang ia ambil dari lemari paling bawah.
Ia menyeberang jalan.
---
Lampu teras rumah nomor 9 menyala, tapi suasananya sepi... tidak ada suara dari dalam. Hadi duduk di kursi teras dengan ponsel di tangan, baru saja akan memesan sesuatu dari aplikasi.
Ia mendongak ketika mendengar langkah.
"Ini." Raina menyodorkan rantang. "Ayam bumbu kecap sama tumis kangkung. Masih panas."
Hadi menatap rantang itu. Kemudian menatap Raina. "Kamu masak untuk aku?"
"Toh masak dua porsi sama saja beratnya." Raina berkata santai, dengan senyum kecil yang terbit di wajahnya. "Lagipula tidak mungkin aku biarkan ada tetangga yang kelaparan."
"Aku tidak kelaparan..." bantah Hadi, tapi kemudian perutnya malah berkhianat.
"Tapi mau pesan ojek makanan." ejek Raina.
"Itu berbeda."
"Sama saja hasilnya." Raina mengangsurkan rantang itu lebih dekat. "Ambil."
Hadi mengambilnya. Pelan, seperti seseorang yang tidak terlalu terbiasa menerima sesuatu dari orang lain tanpa pertimbangan panjang. "Terima kasih."
"Besok juga aku antarkan." lanjut Raina, mencari cela maju dari momen ini.
Hadi mendongak. "Tidak usah..."
" Tapi Monica tidak pernah masak, kan?" tebaknya lagi, yaalng tentu saja benar. Karena satu perumahan ini juga tahu, dibalik kecantikan Monica... wanita itu tidak pernah memasak.
Hadi diam.
"Aku tahu," kata Raina. "Bukan karena aku mengintai. Tapi bau masakan dari rumah orang itu terdengar... maksudku, tercium sampai ke sini. Dan dari rumah nomor 9, sudah lama tidak ada."
Hadi menatap rantang di tangannya.
"Aku tidak mau merepotkan..." sahutnya penuh pertimbangan antar mau menerima atau tidak.
"Kamu tidak merepotkan." Raina berkata dengan nada yang tidak meninggalkan banyak ruang untuk debat. "Aku masak setiap hari. Dua porsi sama sekali tidak lebih susah dari satu porsi. Dan kamu sudah lebih dari cukup baik hari ini."
Hadi menatapnya... perempuan yang berdiri di depannya dengan tangan kosong dan ekspresi yang terlalu tenang untuk seseorang yang hari ini bekerja mengepel lantai, menangis di bahu orang asing, dan sekarang malah mengantarkan makan malam ke rumah tetangga.
"Baik," katanya akhirnya. "Tapi dengan syarat."
"Syarat apa?"
"Kamu makan di sini juga." Ia menunjuk ke kursi teras di sebelahnya. "Kamu juga belum makan malam, kan?"
Raina membuka mulutnya untuk menolak.
"Jangan bilang 'tidak apa-apa'," kata Hadi lagi.
Raina menghembuskan napas. "Kamu hafal satu kalimat itu saja."
"Karena satu kalimat itu sering sekali tidak benar."
Raina masuk sebentar ke rumahnya, mengambil piringnya sendiri, dan kembali ke teras rumah nomor 9. Mereka duduk berdampingan di dua kursi teras... Hadi membuka rantang, Raina menata piringnya sendiri, dan makan malam itu dimulai dengan cara yang tidak direncanakan oleh siapapun.
"Masakan kamu enak," kata Hadi setelah suapan ketiga.
"Ayam bumbu kecap tidak terlalu susah." sahut Raina setelah kunyahannya sudah tertelan.
"Bukan soal susah atau tidak." Hadi menelan suapannya. "Sudah lama aku tidak makan masakan rumah."
Raina menatap piringnya sendiri. "Monica memang tidak suka masak dari dulu?"
"Dulu suka." Hadi mengambil nasi lagi. "Atau mungkin aku yang tidak tahu dia tidak suka dari awal."
"Orang bisa berubah."
"Ada yang berubah karena tumbuh. Ada yang berubah karena menemukan sesuatu yang lain." Hadi berkata datar, tidak pahit...hanya datar, seperti seseorang yang sudah cukup jauh dari rasa sakitnya untuk bisa menyebut namanya tanpa suaranya pecah.
Raina tidak menjawab. Ia mengerti betul apa yang ia maksud.
---
Deru suara mesin motor itu terdengar sebelum terlihat.
Raina mendongak duluan... refleks, karena suara motor Robby sudah terlalu hafal di telinganya meski sekarang ia tidak yakin itu hal yang akan ia tunggu-tunggu setiap hari. Motor berhenti di depan rumah nomor 14 di seberang, dan dari balik punggung Robby yang turun duluan...
Monica.
Tangannya masih di bahu Robby ketika keduanya turun... natural, tanpa pikir panjang, tangan yang sudah terbiasa ada di sana. Tapi dua detik kemudian Monica mendongak ke arah teras rumahnya sendiri dan melihat dua orang yang sedang duduk di sana, dan tangan itu turun.
Cepat.
Robby juga melihat. Dan sesuatu di wajahnya berubah... rahangnya mengencang dengan cara yang Raina kenal.
Monica menghampiri teras rumahnya sendiri dengan langkah yang tidak lambat. "Lagi apa ini?"
Hadi meletakkan sendoknya dengan tenang, menyelesaikan kunyahannya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Makan malam."
"Dengan dia?" Monica menunjuk ke arah Raina... bukan dengan telunjuk, tapi dengan dagu, dengan cara yang tidak repot-repot menyembunyikan maknanya.
"Dengan Mbak Raina, iya." Hadi mengangkat bahu. "Ada masalah?"
"Ada masalah?" Monica menaikkan satu alisnya. "Kamu makan di luar sama perempuan lain dan tanya ada masalah?"
"Mon." Hadi menatap istrinya... tenang, tidak defensif, tidak meminta maaf. "Kamu tadi baru turun dari motor sambil tangan di bahu orang. Suaminya Mbak Raina. Kalau itu tidak jadi masalah, masa kita makan di teras rumah sendiri sambil lihat jalanan harus jadi masalah?"
Monica membuka mulutnya.
Menutupnya kembali.
Sesuatu bergerak di wajahnya... kombinasi dari terkejut dan marah dan sesuatu yang lebih dalam yang tidak ia izinkan keluar... sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Raina meletakkan piringnya yang sudah hampir habis. "Aku masuk dulu, Mas Hadi. Sudah selesai."
Hadi mengangguk dan tersenyum. "Hati-hati."
"Rantangnya besok aku ambil." Raina berdiri, mengambil piring kosongnya, dan berjalan menyeberang tanpa menoleh ke Monica atau ke Robby yang berdiri di depan rumah nomor 14 dengan ekspresi yang sedang menyusun sesuatu.
Raina belum sampai ke pintu ketika pergelangan tangannya dipegang.
Ia berhenti. Menunduk ke tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian mendongak ke Robby yang berdiri di belakangnya.
"Kamu kenapa makan sama dia?" Suara Robby rendah... bukan berbisik, tapi sengaja tidak keras. Nada yang dipakai untuk pertengkaran yang tidak ingin didengar tetangga.
Raina menatapnya dengan ekspresi yang tidak terlalu banyak isinya. "Kenapa memangnya?"
"Itu laki-laki lain, Rain." seru Robby, gurat kecemburuan terlihat jelas dari wajahnya.
"Tetangga." kata Raina menjelaskan.
"Tetap saja..."
"Rob." Raina menarik pergelangan tangannya pelan tapi cukup jelas. "Kamu tadi pulang berboncengan sama perempuan lain dan tangannya di bahumu. Aku makan di teras sama tetangga." Ia memiringkan kepalanya sedikit. "Mana yang lebih perlu dipermasalahkan?"
Robby diam.
Bukan diam yang sedang memikirkan jawaban... diam yang tidak punya jawaban.
Raina melanjutkan langkahnya ke pintu. Membukanya, masuk, meletakkan piring di dapur. Kemudian berhenti di depan wastafel, memunggungi Robby yang baru saja masuk ke dapur di belakangnya.
"Oh iya," katanya ringan, nada yang dipakai untuk mengingat sesuatu yang hampir terlupa. "Mulai hari ini aku tidak selalu sempat masak. Kalau mau makan malam, mungkin perlu cari solusi sendiri."
"Apa maksudnya?" suara Robby terdengar dari belakang.
"Maksudnya aku kerja sekarang, Rob. Pulang sore, kadang mungkin lebih lama. Tidak bisa selalu masak tiga kali sehari seperti sebelumnya." Raina membuka keran, mencuci piringnya. "Simpel."
"Rain..." Robby terlihat keberatan. Karena jujur saja ia sudah terlanjur nyaman dan menyukai masakan Raina yang pas di lidahnya.
Air mengalir. Piring digosok. Lalu dibilas.
Raina meletakkan piring di rak pengering, mengeringkan tangannya, dan berjalan ke lorong kamar.
Di belakangnya, Robby berdiri di dapur dengan ekspresi seseorang yang baru saja membuka mulut untuk berkata sesuatu... tapi Raina sudah membelok ke lorong, dan suara langkahnya menuju kamar tidak menyisakan ruang untuk kalimat apapun yang ingin ia keluarkan.
Robby menatap dapur yang kosong.
Kompor dingin. Tidak ada aroma masakan. Piring bersih di rak pengering...cuma satu.
Ia menarik kursi dan duduk sendirian di meja makan yang dulu selalu tersedia berbagai macam masakan yang menggugah selera. Tapi kini... yang ada hanya meja kosong yang bahkan kecap dibotol saja sudah habis.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang