Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.
Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.
Mengapa Azam memilih dirinya?
Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?
Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — Keputusan Dila
Pagi datang terlalu cepat bagi Dila.
Semalaman ia hampir tidak terpejam. Setiap kali kelopak matanya mulai berat, bayangan map hitam dari Azam kembali muncul — angka dua puluh juta per bulan, durasi enam bulan, dan satu klausul tentang hubungan pribadi yang membuat dadanya sesak.
Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi ketika ia masih duduk di dapur. Secangkir teh di hadapannya sudah dingin, permukaannya membentuk lapisan tipis. Uapnya sudah lama hilang.
Di seberangnya, Fadil sarapan dengan sepiring nasi dan telur dadar yang dibagi dua. Gerakannya pelan.
"Kamu melamun terus sejak tadi," ujar Fadil tanpa mengangkat wajah.
Dila tersentak. "Tidak apa-apa, Mas."
Fadil menatapnya. Mata istrinya sembab, wajahnya pucat.
"Kamu kelihatan seperti orang yang baru dapat kabar buruk."
Dila memaksakan senyum. "Cuma kurang tidur."
Fadil meletakkan sendoknya. Hening beberapa detik sebelum ia berkata pelan, "Dila..."
"Hmm?"
"Kalau keadaan kita makin sulit begini, kamu tidak perlu merasa harus menanggung semuanya sendirian."
Tangan Dila yang memegang cangkir berhenti.
"Kenapa Mas bicara begitu?"
"Karena aku suamimu."
Kalimat itu diucapkan dengan suara rendah, hampir seperti pengakuan dosa.
"Aku tahu beberapa bulan terakhir aku gagal memenuhi tanggung jawabku secara materi. Tapi jangan sampai kamu memikul semuanya di pundakmu sendiri."
Rasa bersalah menghantam Dila begitu keras hingga ia harus menunduk.
Ia ingin jujur. Tentang Azam. Tentang map hitam itu. Tentang tawaran dua puluh juta yang bisa melunasi semua tagihan mereka dalam semalam.
"Mas..." suaranya bergetar.
"Ya?"
"Kalau... kalau aku mendapat tawaran pekerjaan dengan penghasilan besar, menurut Mas bagaimana?"
Fadil mengernyit. "Pekerjaan apa?"
"Itu... aku belum tahu detailnya."
"Belum tahu?"
"Maksudku, ada seseorang yang menawariku pekerjaan. Aku masih mempertimbangkannya."
"Orangnya siapa?"
Dila ragu sejenak sebelum menjawab, "Namanya Azam."
Ekspresi Fadil langsung berubah.
"Laki-laki?"
Dila mengangguk.
"Dia menawarkan pekerjaan padamu?"
"Iya."
"Pekerjaan apa, Dila?"
Dapur kecil itu tiba-tiba terasa begitu senyap. Hanya suara jam dinding yang terdengar.
"Aku... belum tahu pastinya," jawab Dila akhirnya, setengah berbisik.
Fadil menghela napas panjang, mencoba menahan nada curiganya. "Dila, kalau kamu sendiri tidak nyaman dengan tawarannya, jangan diambil. Kita cari cara lain. Ya?"
Kalimat sederhana itu justru membuat sesak di dada Dila semakin menjadi. Karena Fadil tidak tahu, cara lain itu hampir tidak ada. Dan tawaran yang membuatnya tidak nyaman itulah yang justru bisa menyelamatkan mereka — atau justru menghancurkan rumah tangga mereka dari dalam.
Siang harinya Dila memaksakan diri pergi ke pasar.
Ia membelanjakan sisa uang yang ada untuk kebutuhan paling mendasar: beras, minyak, dan telur. Saat hendak pulang, sebuah suara memanggilnya dari antara kerumunan.
"Dila!"
Ia menoleh. Seorang perempuan seusianya dengan kerudung cokelat melambaikan tangan.
"Wulan?"
Wulan adalah tetangga dan satu-satunya teman dekat Dila di kompleks itu. Ia menghampiri dengan kantong belanjaan di tangan.
"Belanja sendirian?"
"Iya."
Wulan mengamati wajah Dila lekat-lekat. "Kamu kenapa? Dari tadi mukamu kusut begitu."
Dila tertawa kecil, canggung. "Kelihatan sekali, ya?"
"Banget. Ada masalah uang lagi?"
Dila tidak menjawab. Diamnya sudah menjadi jawaban.
Wulan menghela napas. "Fadil belum dapat panggilan kerja juga?"
Dila menggeleng pelan. "Belum."
"Andai aku ada lebih, sudah kubantu. Kamu tahu itu kan?"
"Aku tahu. Kamu juga punya keluarga, Lan. Jangan dipikirkan."
Mereka berjalan beriringan keluar dari pasar. Tiba-tiba Wulan seperti teringat sesuatu.
"Eh, kamu dulu pernah bilang mau cari kerja jadi admin, kan?"
"Iya."
"Aku ada kenalan, namanya Bagas. Dia punya usaha distributor kecil, lagi cari admin pembukuan. Gajinya lumayan untuk ukuran usaha kecil. Mau aku tanyakan?"
Mata Dila berbinar untuk pertama kalinya hari itu.
"Benarkah? Boleh, Lan. Tolong tanyakan, ya."
Untuk sesaat, harapan itu kembali menyala. Mungkin ia tidak perlu menemui Azam lagi. Mungkin masih ada pintu lain yang lebih wajar.
Namun harapan itu runtuh begitu ia sampai di depan rumah.
Seorang pria paruh baya dengan topi lusuh berdiri di depan pintu kontrakan mereka. Dila langsung mengenalinya.
Pak Jatmiko, pemilik warung tempat mereka biasa berutang.
"Dila," sapa pria itu dengan nada yang dibuat sehalus mungkin.
Dila menelan ludah. "Iya, Pak?"
"Bapak cuma mau mengingatkan. Catatan utang kalian sudah hampir tiga juta. Sudah tiga bulan belum ada cicilan."
"Saya tahu, Pak. Saya usahakan minggu ini ada yang bisa saya bayar."
"Kapan pastinya, Nduk? Bapak juga harus putar modal. Warung kecil begini kalau banyak bon jadi berat."
Dila menunduk, tangannya meremas kantong plastik belanjaan hingga berderak.
"Saya mengerti, Pak. Beri saya waktu sampai minggu depan."
Pak Jatmiko mengangguk berat. "Minggu depan ya, Dila. Kalau belum ada, maaf, Bapak tidak bisa kasih bon lagi."
Setelah pria itu pergi, Dila berdiri mematung di depan pintu yang catnya sudah mengelupas. Tiga juta. Itu belum termasuk listrik yang sudah menunggak dua bulan dan kontrakan yang jatuh tempo lima hari lagi.
Tangannya gemetar saat merogoh ponsel dari dalam tas.
Nama Azam masih ada di daftar chat paling atas.
Belum sempat ia mengetik, sebuah pesan baru masuk.
Azam: Sudah mengambil keputusan?
Dila mengetik, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, menghapus lagi.
Jari-jarinya dingin.
Dila: Kalau saya menerima pekerjaan itu, apa sebenarnya yang harus saya lakukan?
Tidak sampai satu menit, balasan masuk.
Azam: Temui saya malam ini. Saya akan jelaskan semuanya, tanpa ada yang ditutupi.
Dila memejamkan mata. Ia tahu ia sedang melangkah ke tepi jurang yang tidak ia kenali dalamnya.
Tapi mungkin, inilah satu-satunya pintu yang masih terbuka untuknya.
Malam itu, Dila kembali menemui Azam.
Tempatnya berbeda. Bukan restoran mewah yang ramai seperti kemarin, melainkan sebuah restoran privat yang jauh lebih tenang di lantai atas sebuah gedung perkantoran. Lampu temaram, tidak banyak pengunjung.
Azam sudah menunggu. Dengan kemeja navy yang rapi, ia terlihat sama tenangnya seperti kemarin.
"Kamu datang," ujarnya pelan.
Dila duduk di hadapannya, tidak menyentuh air yang disodorkan pelayan.
"Saya ingin penjelasan lengkap. Tidak ada yang ditutupi," tegas Dila, suaranya ia usahakan stabil.
Azam mengangguk. "Tentu. Itu memang tujuan pertemuan malam ini."
Ia tidak melakukan gerakan apa pun yang membuat Dila tidak nyaman. Justru ia mengeluarkan dokumen baru dari dalam tas kerjanya — lebih tipis dari map hitam kemarin.
"Pertama, saya ingin kamu paham satu hal. Tidak ada paksaan dalam kontrak ini. Nol."
"Apa maksudnya?"
"Jika di tengah jalan kamu merasa tidak sanggup, kamu boleh berhenti. Kapan pun. Tanpa denda, tanpa ganti rugi, tanpa konsekuensi hukum."
Dila terkejut. "Lalu kenapa Bapak menawarkan uang sebanyak itu?"
"Karena yang saya cari bukan sekadar pendamping. Saya butuh seseorang yang bisa saya percaya sepenuhnya. Dan kepercayaan itu mahal."
"Dan kenapa harus saya? Dari sekian banyak perempuan di kota ini?"
Tatapan Azam berubah. Sorot tajamnya melembut, menjadi sesuatu yang lebih rumit — seperti campuran rasa bersalah dan penyesalan yang lama.
"Karena saya sudah mencari kamu cukup lama, Dila."
Dila mengerutkan kening. "Mencari saya?"
Azam tidak menjawab. Ia membuka map dan mengeluarkan sebuah foto yang sudah agak pudar warnanya, lalu mendorongnya perlahan ke arah Dila.
Dila mengambil foto itu. Detik berikutnya, napasnya tercekat.
Itu adalah foto dirinya. Saat masih berusia belasan tahun, berfoto di depan sebuah rumah kayu dengan seorang perempuan paruh baya yang ia kenali sebagai ibunya.
"Dari... dari mana Anda dapat foto ini?" Suara Dila bergetar.
Azam menatapnya lurus.
"Sebelum menawarkan pekerjaan ini, saya sudah mengetahui banyak hal tentang hidupmu. Termasuk tentang siapa ibumu yang sebenarnya."
Dila berdiri spontan, kursinya berderit.
"Siapa sebenarnya Anda?" tanyanya, antara takut dan marah.
Azam tetap tenang.
"Pertanyaan itu seharusnya kamu tanyakan sejak awal, Dila. Bukan soal pekerjaannya, tapi soal kenapa aku memilihmu."
Untuk pertama kalinya, Dila menyadari tawaran ini bukan sekadar tentang uang.
Ada sesuatu dari masa lalunya — sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak pernah tahu — yang menghubungkan dirinya dengan pria asing di hadapannya.
Azam berkata pelan, hampir berbisik,
"Kalau kamu ingin tahu alasan sebenarnya kenapa aku menemukanmu, tanda tangani kontraknya."
Dila menatap dokumen di atas meja. Tangannya perlahan bergerak meraih pulpen.
Tepat pada saat itu, ponselnya berdering keras memecah keheningan.
Di layar, tertera nama: Fadil.
Dila membeku. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa sakit.
Azam memandang ponsel itu, lalu menatap Dila.
"Angkat."
Dila menatap layar yang terus berdering. Di satu sisi ada suaminya, rumahnya, kehidupannya yang selama ini ia kenal.
Di sisi lain ada sebuah kontrak, dua puluh juta, dan sebuah rahasia masa lalu yang siap mengubah segalanya.
Malam itu, Dila harus memilih...