NovelToon NovelToon
Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa Modern
Popularitas:419.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Daffo Azhar

Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.

Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.

Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10

Hampir seharian ini Nisa dan Seno muter-muter ke semua sudut kota Bandung mencari alamat Gita. Sudah puluhan kali Seno mengeluh capek, tapi pria itu masih saja sabar. Seno menghentikan mobilnya di depan gang sempit karena tidak bisa masuk ke dalam. “Lo yakin gang ini?” tanya Seno sambil mematikan mesin mobil.

“Dari tulisannya sih bener. Yuk kita keluar.” Nisa keluar dari mobil disusul Seno. Mereka berjalan ke dalam gang yang padat penduduk dan sedikit kumuh itu. Gadis itu tidak yakin kalau Gita tinggal di lingkungan ini.

Nisa melihat lagi alamat yang diberikan Viko di ponselnya, ini sangat susah karena alamatnya tidak ada nomornya, cuma RT RW-nya saja. Hampir setengah jam mereka keliling gang, tapi rumah Gita masih tidak ketemu juga.

Nisa hampir saja frustasi dan kembali ke mobil, kalau saja Gita tidak tiba-tiba muncul di hadapannya. Nisa tersentak ketika melihat sosok sahabatnya itu keluar dari sebuah warung kecil sambil menggendong balita.

Beberapa detik Nisa dan Gita berdiri mematung, memastikan diri bahwa yang dilihatnya benar-benar orang yang mereka kenal.

Nisa melihat Gita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perempuan itu memakai kolor dan kaus oblong, tampangnya sangat kusut, dan terlihat tua dari usianya. Apakah yang dilihatnya adalah Gita? Seorang wanita cantik dan modis saat di sekolah dulu? Tapi kenapa sekarang seperti ini?

Gita tertegun melihat Nisa, ia hampir tidak percaya kalau sahabat yang sangat ia rindukan sekarang tengah berdiri tepat di depannya.

Lihatlah Nisa kini, ia menjelma seperti seorang model. Begitulah apa yang ada di pikiran Gita. Wajahnya mulus seperti porselen, kulitnya putih terawat dan segar seperti baru keluar dari spa. Lihatlah juga kuku-kukunya yang dihiasi dengan nail art, tubuhnya yang tinggi semampai walau hanya dibalut dengan celana jeans dan kemeja, Nisa tetap terlihat cantik.

Seno keheranan melihat dua wanita yang berdiri berhadapan itu hanya diam sambil saling menatap. Seno menggamit tangan Nisa.

Gadis itu mengerjap, lalu bersuara, “Gita?” katanya memastikan diri.

Gita tersenyum kaku. “Kamu Danisa, kan?” tanyanya. Nisa mengangguk sambil berusaha meluncurkan senyum.

“Kamu ke sini__”

“Aku ke sini untuk bertemu sama kamu,” sela Nisa. Gita mengerjap, jelas sekali ia terlihat gugup dan tidak percaya diri berhadapan dengan Nisa.

“Oh, ayo kita ke rumah,” ujar Gita. Nisa dan Seno berjalan mengikuti Gita. Mereka tiba di sebuah rumah kecil yang sedari tadi sudah mereka lalui beberapa kali.

“Ayo masuk,” ucap Gita sambil menurunkan anaknya yang tadi di gendongan. Nisa dan Seno masuk dengan enggan. Lihatlah, di ruang tamu itu tidak ada kursi atau pun hiasan-hiasan yang biasa ada di sebuah ruang tamu. Di ruangan itu hanya ada sebuah karpet tipis dengan berbagai mainan anak yang berhamburan di seluruh sudut ruangan.

“Duduklah. Maaf, di sini memang selalu berantakan,” ujar Gita.

Nisa menelan ludah getir. Melihat keadaan Gita seperti ini, membuat dendam dan kebenciannya menguap begitu saja. Apalagi melihat anak Gita yang terlihat kurus, Nisa kasihan dan miris melihat sahabatnya jadi seperti ini.

Gita kebelakang mengambil air untuk Nisa dan Seno. Selang beberapa menit dia sudah kembali bersama dua gelas air putih lalu duduk di depan Nisa dan Seno.

“Aku enggak nyangka kamu ke sini, Nis. Yah ... seperti inilah keadaanku sekarang," sahut Gita sambil melihat sekeliling ruangan.

“Kamu dapat alamatku dari Viko?” tanyanya.

“Iya,” jawab Nisa. Nisa bingung mau ngomong apa, mendadak ia lupa tujuannya datang ke sana.

Gita melirik ke arah Seno. “Ini suami kamu?” tanya Gita. Nisa dan Seno mendelik bersamaan. “Bukan,” jawab Nisa dan Seno kompak. Sudah dua orang yang menganggap mereka suami istri, dan Seno merasa senang.

“Dia sahabatku, Senopati,” sahut Nisa.

“Oooh. Kamu masih single?”

“Iya,” jawab Nisa. Gita manggut-manggut sambil tersenyum, “Baguslah ...,” cetus Gita. Nisa terhenyak. “Maksud kamu?” Gita tersenyum penuh arti pada Nisa lalu ia berkata, “Karena kamu ditakdirkan hanya untuk Viko, Nis. Kalian ditakdirkan memiliki satu sama lain. Aku akan sangat bersyukur kalau kalian kembali bersama. Cuma kamu wanita yang ada di hati Viko selama ini. Viko tidak pernah menghianatimu, Nis. Soal kejadian itu aku yang salah. Aku yang sudah menghancurkan kalian berdua. Dulu aku sangat terobsesi pada Viko, cinta sudah membuatku gelap mata, hingga aku kehilangan teman sebaik kamu. Maafin aku, Nis.” Gita terlihat menahan tangis, tapi ia tetap berusaha mengeluarkan senyum.

Nisa tidak tahu harus bilang apa sekarang. Jujur saja ia belum bisa memaafkan Gita setelah apa yang ia lalui selama sebelas tahun ini. Tapi hatinya merasa iba melihat keadaan Gita seperti ini.

Melihat Nisa bergeming setelah dirinya minta maaf, Gita pun meraih tangan Nisa. “Aku tahu, Nis, apa yang aku lakukan itu sangat kejam, tapi aku mohon maafin aku. Aku benar-benar merasa bersalah sama kamu dan Viko, melihat kamu tertabrak mobil, dan Viko yang depresi hebat, aku benar-benar sangat menyesal dan ingin mati. Selama ini aku coba ngehubungi kamu, tapi tidak berhasil, keluargamu juga kompak menutupi keberadaan kamu dariku dan Viko.” Kali ini Gita menangis sesenggukan. Gadis kecil di samping Gita terlihat hawatir melihat ibunya menangis.

“Mama …,” sahut anaknya Gita dengan muka cemas. Nisa terenyak mendengar suara kecil yang keluar dari mulut mungil anaknya Gita.

“Anakmu cantik, Ta. Adik kecil, nama kamu siapa?” Nisa bertanya sambil mencondongkan wajahnya pada anak Gita. Gadis kecik itu tidak menjawab, ia malah menatap Nisa dengan tatapan polos. Gita menoleh pada anaknya, lalu memeluknya.

 

“Dia memang seperti ini kalau sama orang yang baru kenal. Sulit diajak bicara, tapi kalau sudah dekat dia cerewet. Namanya Annisa,” sahut Gita, Nisa terenyak lagi. “Aku sengaja memberinya nama yang mirip dengan nama kamu Nis, karena aku__aku kangen sama kamu.”

Seno menelan ludah, ini beneran seperti drama, pikirnya.

Nisa menunduk sambil menelan ludah. Kemudian ia mengangkat wajahnya lagi. “Berapa tahun, Ta?” tanya Nisa mengabaikan ucapan Gita. Ia tidak bisa menanggapi ucapan Gita yang ternyata merindukannya. Menurutnya itu terdengar aneh, orang yang ia benci selama sebelas tahun ini ternyata merindukannya, sampai-sampai ia menamai anaknya mirip dengan nama dirinya.

“Dua setengah tahun. Aku punya dua anak, yang paling besar laki-laki namanya Prima, bulan depan ulang tahun yang ke 6.”

“Oh, kamu hebat udah punya dua anak dan mengurus mereka sendiri, Ta. Di mana Prima sekarang?” tanya Nisa sambil melongokan kepalanya ke kanan, kiri dan belakang.

“Dia tidak ada, ikut dengan ayahnya ke toko. Kami punya kios pakaian kecil-kecilan di pasar.”

Sebenarnya Nisa ingin bertanya lebih banyak lagi tentang Gita, tapi segan. Bagaimana ia bisa seperti ini? Padahal yang Nisa tahu Gita berasal dari keluarga berada.

“Kamu pasti heran sama keadaanku sekarang.” Nampaknya Gita tahu apa yang ada di pikiran Nisa. “Setelah bapakku meninggal, semuanya berubah. Usaha keluargaku bangkrut, dan ibu jadi sakit-sakitan. Semua aset habis dijual untuk biaya berobat ibuku. Aku masih beruntung karena bisa menyelesaikan kuliah, adikku malah tidak kuliah sama sekali. Tiga tahun lalu ibuku meninggal. Rumah yang di Sukabumi dijual, hasilnya dibagi-bagi untuk kakakku, aku dan adikku. Lalu aku hijrah ke Bandung.”

“Kenapa kamu tidak bekerja? Kamu kan kuliah,” kata Nisa.

“Maunya sih begitu, Nis, lalu anak-anakku sama siapa kalau aku kerja? Biar suamiku aja yang kerja.”

“Suamimu orang sini?”

“Iya, dia temen kuliahku. Sebenarnya suamiku dulu kerja di perusahaan asuransi, tapi berhenti. Katanya gajinya tidak cukup buat menghidupi kami, apalagi dulu anak sulung kami sakit-sakitan, jadi dia lebih memilih dagang, karena pendapatannya lebih lumayan.”

“Kalau boleh tahu suamimu kuliah jurusan apa?” Tiba-tiba Seno menyambar. Nisa dan Gita menoleh bersamaan pada Seno.

“Ekonomi,” jawab Gita. Seno menggigit bibir, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Kebetulan di kantor saya sedang membuka lowongan untuk staff keuangan, kalau berminat suamimu bisa ngelamar ke kantor saya. Dan saya bisa pastikan gajinya lebih besar dibanding dengan perusahaan asuransi,” kata Seno. Gita tersenyum cerah.

“Benarkah? Baiklah nanti saya sampaikan pada suamiku. Kalau boleh tahu kantormu perusahaan apa?”

“Biro iklan,” jawab Seno, kemudian mengambil dompet dan menyodorkan kartu namanya pada Gita.

“Ta, suamimu beruntung tuh, ditawari kerja langsung oleh CEO-nya,” sahut Nisa. Suasana canggung di sana sedikit mencair, sekarang Gita dan Nisa mulai tersenyum bersama.

“Nis, aku sering berpikir kalau keadaanku sekarang adalah karma dari perbuatanku ke kamu dan Viko.”

Nisa terperangah. “Kamu jangan ngomong gitu, Ta.”

“Beneran Nis, kalau kamu mau maafin aku, aku harap mulai sekarang kehidupanku jadi lebih baik.” Nisa menelan saliva dengan susah payah. Nisa menekankan pada dirinya sendiri untuk bisa melupakan masalah ini dan bisa memaafkan Gita dan Viko.

Sejenak Nisa memejamkan matanya dengan kuat, lalu melirik pada Seno. Seno mengangguk. Pria itu tahu betul apa yang ada di hati Nisa, jadi ia memberi Nisa keyakinan untuk bisa memaafkan Gita.

Saat Nisa menatap Seno, sesak di hatinya sedikit mencair dan dendam yang ia pendam selama sebelas tahun ini sedikit-demi sedikit lenyap dari hatinya.

Pandangan Nisa beralih pada Gita, lalu seulas senyum berusaha ia terbitkan. “Iya, aku maafin kamu, Ta. Jadilah ibu yang baik buat anak-anakmu. Dan jadilah istri yang selalu mencintai suamimu.”

Gita mengangguk perlahan, Nisa melihat mata Gita berkaca lagi. “Terima kasih, Nis, sebelas tahun aku menunggu momen ini. Selama ini aku sangat menderita, setiap malam aku insomnia dan tidak pernah sekali pun aku menikmati hidupku. Aku harap malam ini aku bisa tidur nyenyak," katanya.

Nisa terenyak lagi, pantas saja mata panda Gita sangat jelas terlihat, ternyata dia insomnia. Nisa tersenyum berharap bisa menenangkan Gita.

“Mulai sekarang hiduplah dengan baik, Ta,” kata Nisa.

“Iya, Nis. Makasih ya."

🌸🌸🌸

Tiba-tiba Seno menepikan mobilnya di tepi jalan. Lalu ia melirik arlojinya. Masih jam tiga siang.

“Mumpung di Bandung nih, kita jalan-jalan dulu, yuk, belanja-belanja?” kata Seno. Nisa mengerjap mendengar suara Seno, sejak pulang dari rumah Gita dan masuk ke mobil Nisa melamun. Banyak hal yang ia pikirkan, banyak hal yang ia sesali. Tidak sebentar waktu yang sudah terbuang dengan percuma hanya untuk meratapi masalah yang sebenarnya sangat sepele. Jika saja Nisa membuka komunikasi dan segera menyelesaikannya mungkin mereka bertiga tidak akan menderita. Tapi ... apakah waktu yang sudah terbuang itu bisa ia genggam lagi?

“Belanja?” Nisa menggigit bibir. “Oke deh. Sekalian aku mau ketemu seseorang dulu.” Seno mengernyit.

“Siapa?”

“Nanti lo juga tahu,” kata Nisa sambil senyum-senyum.

🌸🌸🌸

Di sinilah mereka sekarang duduk bertiga di sebuah café. Seno melipatkan tangan di dada, ia bête, ternyata seseorang itu adalah si berondong Yuda. Tadinya ia tidak mengerti kenapa anak ini bisa ada di Bandung, ternyata anak itu dipindah tugaskan ke Bandung.

“Gimana kabarmu, Bos?” tanya Yuda.

“Baik. Gimana, kamu betah di sini?” tanya Nisa. Sebelum menjawab, Yuda melirik Seno sebentar, lalu menjawab, “Enggak Bos, karena jauh darimu.”

Seno membuang napas sebal. Di hadapan Yuda Seno masih tenggelam ke dalam perannya sebagai calon suami Nisa.

“Maaf ya, tapi aku enggak bisa bohong,” sahut Yuda pada Seno. Nisa tersenyum geli melihat tingkah kedua cowok di depannya.

“Oh iya, Bos, ada perlu apa ke Bandung? Apa sengaja buat nemuin aku?”

“Bukan. Kami ke sini ada urusan.” Seno langsung menyambar.

“Oh.” Yuda menunduk rada bête.

“Hei, cepat habiskan makananmu!" seru Seno pada Nisa.

“Baiklah. Cerewet!” kata Nisa sambil memonyongkan bibirnya. Yuda menelan ludah iri melihat keakraban pasangan itu. Sebelum berpisah Yuda meminta berfoto sama Nisa. Awalnya Seno tidak memberi izin, tapi ia berpikir lagi, bukankah ia dan Nisa hanya sandiwara. Sahabatnya juga terlihat menginginkan berfoto sama Yuda, akhirnya dengan berat hati Seno mengiyakan.

🌸🌸🌸

Sudah tersohor ke seantero negeri, kalau kota Bandung adalah surganya wisata belanja dan kuliner. Mumpung ada di kota ini Seno dan Nisa tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka keliling-keliling dari distro satu ke distro yang lain. Sudah dua kantong belanjaan yang mereka bawa, tapi rasanya belum puas saja.

“Mas, Mbak. Ini ada koleksi baru di butik kami, silahkan lihat-lihat.” Pelayan itu menunjukan koleksi baju couple.

“Pasti ini sangat cocok buat kalian berdua. Kalian sangat serasi.”

Astaga, apakah pelayan itu juga mengira kami sebagai pasangan? pikir Seno. Nisa dan Seno langsung kikuk dibuatnya. Seno melirik Nisa dengan gugup. “Hei, kita dikira pasangan lagi sama orang,” bisik Seno.

Nisa meluncurkan senyum ramah ke pelayan itu, “Tidak mbak, terima kasih,” katanya.

“Ayo kita pergi,” bisik Nisa. Gadis itu ngeloyor duluan keluar. Saat Nisa sudah di luar, Seno menyuruh pelayan itu untuk membungkus satu baju couple untuknya.

“Lo beli?” tanya Nisa ketika Seno sudah di hadapannya menenteng satu tas berlogo distro itu.

“Iya.”

“Baju couple?”

“Bukan. Ayo cabut,” kata Seno sambil membuka pintu mobil. Nisa tidak boleh tahu ia membeli baju couple.

🌸🌸🌸

Senopati

1
Sherly Nafik
kalau ceritanya makk daffoo jann gak pernah gagal tp paling gk bisa move on dari hapdag
Mion Ming
baru kali ini baca novel seru abis, bikin nyesek sampe aku dikira tetangga lagi brantem ma paksu karena tiba2 keluar rumah dengan mata bengkak gitu😭
Efvi Ulyaniek
jgn"Andi yg kepo dg mengabaikan lwt hp..calon pebinor nih
Efvi Ulyaniek
waduh knp ga jujur sihbaang seeno....bs runyam nih...
Efvi Ulyaniek
Andi ada rasa sama U nis ga peka"
Efvi Ulyaniek
wkwkwkkwkw...apes no..Seno...harus puasa seminggu 😀😀😀
Efvi Ulyaniek
mbok ya ga usah nikah ko Viko..buat anak orang jd janda aja 😀😀maksa lho KD penghalang cinta Nisa sama Seno aja..ujung"nya meninggong
Efvi Ulyaniek
Viko egois sdh tau si Nisa suka Seno msh aja mau dinikahi
Daffo Azhar
hai, apa kabar pembaca Senopati, masih ada kah yang stay?
tyas: ga bisa di buka ya?
total 2 replies
Rena
keren banget
sumpah
lanjutt thorr
Dewi Suherman
tengkyuuu thor
Dewi Suherman
tak ada persahabatan antara ce dan co, pasti ujung2nya ada cemburuuuuuu. pasti jadi cinta
Yetty widya
critanya ngegantung thor.. blm selesai
Daffodil Koltim
bru baca,siap2 marathon,,,,
augst
maaf ini penulisnya msh sehat kan ya?...crtnya bgs2 tp g ad yg slesai dn itu udh lma bgt?
augst
keren
augst
sran asih tor dr bbrpa nvelnya ni kok upny lma knapa sbnrnya bgus crtanya bg pmbca ngsih hdiah vite akan smkn malas klo upnya ad lama bgt
augst
beh
augst
egois g sih viko...
augst
yg parut disalahkan smua ini adalah gita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!