JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semuanya baru.
Aku terbangun di kamar dengan nuansa asing, kutatap sekitar dan kemudian tersadar. Ah, ini kamarku yang baru rupanya. Aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi, ya buat apalagi kalau bukan untuk membersihkan diri, kebiasaan yang dilakukan semua orang di pagi hari, kecuali orang yang jorok. Selesai mandi dan berpakaian, aku keluar kamar dan berjalan dengan langkah pelan ke arah ruang makan. Masih sedikit buta arah karena bagaimanapun ini merupakan lingkungan baru bagiku. Untungnya seorang pelayan perempuan menghampiri diriku yang terlihat kebingungan.
"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?" katanya sopan dalam bahasa Inggris yang sangat fasih.
"Sarapan!" jawabku seadanya, bikannya sombong atau apa. Namun, kakakku juga selalu berbicara sedikit pada orang lain, kecuali keluarganya dan juga sahabatnya. Ya, aku tentunya harus mengikuti sikap kakakku saat ini.
Pelayan tadi tersenyum dan mengangguk paham, dia mengatakan beberapa kata sebelum berjalan lebih dulu. Aku mengikutinya sambil berpikir, lebih baik dia menjadi guru bahasa Inggris saja, kata-katanya sangat fasih dan enak didengar, kenapa dia harus berakhir jadi pelayan di rumah kami ya. Tak berapa lama, kami berdua sampai di meja makan, pelayan tadi langsung pergi setelah mengantarkan diriku.
"Pagi sayang!" sapa Ibuku dengan senyum manis, matanya yang seperti malaikat, sedang menyinari kasih itu menatapku dengan sangat teduh. Kuyakini itu tatapan penuh cinta untuk Rian saudaraku dan bukan diriku yang asli.
"Pagi juga, mom!" balasku sok ceria, padahal aku malas menanggapinya.
"Mana daddy?" tanyaku pura-pura perhatian.
"Ah, daddy mu pagi-pagi sekali sudah pergi, katanya ada yang harus dia selesaikan secepatnya," jawab Desita, tangannya sibuk mengisi piring anaknya yang kosong dengan berbagai menu sarapan yang sudah disediakan.
"Ada lagi yang kamu mau makan, sayang? Kalau iya, bilang saja," kata Desita penuh perhatian.
"Ini sudah cukup, mom, bahkan terlalu banyak untuk Rian," balas Rian mulai memakan sarapannya.
Keduanya terlibat percakapan hangat selama sarapan bersama, hal yang tak pernah terjadi sekalipun pada Adriana yang selama ini diasingkan dari keluarganya sendiri. Sekarang dia bisa bercengkrama bersama, tapi sayangnya, gadis itu tak merasakan kesan apapun. Tak ada perasaan senang, puas, atau bersyukur. Adriana hanya melakukan semua yang dia bisa untuk memerankan akting keluarga sempurna.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Setengah bulan telah berlalu, Adriana mulai dipanggilkan guru pembimbing. Itu keputusan Desita yang ingin mengetahui sampai mana anak itu bisa menangkap pelajaran. Anak mereka Rian sangat pintar dulu, jadi Desita tak bisa membiarkan Adriana bersekolah sebelum dia yakin anak itu bisa seperti Rian. Tak usah terlalu pintar, setengah dari anak mereka pun tak masalah. Desita telah menyiapkan alasan yang tepat jika hal itu terjadi. Alasannya apalagi selain Rian yang tak fokus belajar karena masalah yang menimpa keluarga mereka.
Tak seperti yang dikira Desita, Adriana malah mendapat banyak pujian dari para guru yang dipanggilnya ke rumah. Semua mengatakan anaknya adalah keajaiban, nilai A+ terlalu mudah diraih anak itu. Desita tersenyum lebar, merasa bangga karena Rian mereka kembali membanggakan seperti dulu. Bukankah semua berjalan sesuai keinginannya, tentu saja dia harus merasa senang.
Di sela-sela waktu istirahat tanpa pelajaran, Adriana menyempatkan diri mengecek ponselnya. Dia masih bertukar pesan dengan 'Si Bodoh' tanpa tahu siapa sebenarnya nama teman kakaknya itu. Adriana juga tak bisa asal bertanya dan membuat orang itu curiga. Sudah beberapa kali teman bertukar pesannya itu curiga karena Adriana tak mau menerima panggilan video darinya, tapi Adriana selalu memiliki sejuta alasan untuk menolak dan berakhir saling bertukar pesan saja. Alasan yang digunakan Adriana pun beragam, mulai dari sibuk, banyak tugas menumpuk, lelah setelah berpikir seharian, masih bersedih, dan masih banyak alasan-alasan lain yang digunakan Adriana. Anehnya, teman kakaknya itu menerima tanpa protes, mungkin itu alasan sang kakak menamai dia dengan si bodoh di kontak penyimpanan nomor telepon.
Kebiasaan lain Ana juga masih sama, dia suka menatap keluar jendela untuk waktu yang lama. Dia juga suka menantang angin malam dari balkon kamarnya, badannya seperti membeku saat dia kembali ke tempat tidur, tapi Adriana malah nampak bahagia setelah melakukannya.
Di saat-saat tertentu, Adriana sering memimpikan sang kakak yang datang untuk melihat dirinya dari kejauhan. Tepat ketika gadis itu akan mendekat, kakaknya malah menjauh dan semakin jauh dari dirinya. Adriana terus mengejar dan berhenti sambil melihat lurus ke depan, di depannya terlihat dua orang anak yang sangat dikenalinya. Satunya menangis sambil berteriak minta tolong, satunya lagi memeluk anak yang menangis dengan napas putus-putus. Di dada anak laki-laki itu mengalir darah yang terlihat sangat nyata dan menyakitkan. Setiap mimpi itu terjadi, Adriana akan berakhir dengan keringat membanjiri tubuhnya ketika dia terbangun, napasnya sesak dan tangannya mencengkeram kuat bajunya sendiri. Gadis kecil itu menangis dalam diam setiap dirinya memimpikan hal yang sama, mimpi bagaimana kakaknya meninggal menggantikan dirinya. Mimpi buruk yang tak mungkin akan hilang.
Seperti malam-malam sebelumnya, saat sudah terbangun setelah bermimpi buruk, gadis kecil itu tak akan mampu memejamkan mata kembali. Di saat dia butuh teman untuk mengobrol, layar ponsel Adriana berkedip mengeluarkan cahaya. Rupanya 'Si Bodoh' mengirimi dirinya pesan singkat, menanyakan apakah dirinya sudah tidur atau belum.
'Sudah, tapi baru saja terbangun!' balas Adriana mengetik pesan.
'Mimpi buruk lagi?' begitu balasan dari si bodoh.
'Jadilah peramal! Tebakanmu selalu tepat,' balas Adriana lagi, dia tersenyum kecil saat mengirim pesan tersebut.
'Akan gue pikirin, tapi gue gak yakin bokap gue setuju!' Adriana tertawa kecil membaca balasan dari si bodoh, perasaannya mulai membaik sekarang.
'Semoga berhasil dan semoga beruntung!' pesan balasan pun dikirim Adriana.
'Lo juga, jangan terlalu sering mimpi buruk. Gue gak punya banyak pulsa buat hibur lo terus, gue kan masih kecil, belum bisa cari duit sendiri!' lagi-lagi Adriana terkekeh kecil membaca pesan dari kawan kakaknya itu.
'Okey, diusahakan!'
Keduanya bertukar pesan sepanjang waktu, hingga salah satunya berhenti membalas. Adriana merasa bersyukur masih memiliki seseorang yang mau menemaninya meski hanya lewat kata-kata saja. Setidaknya itu lebih membuatnya tenang.
"Kuharap suatu hari aku bisa tahu siapa nama kamu, 'Si Bodoh'! Dan semoga kita bisa berpapasan meski hanya sekali!" ucap Adriana dengan tulus.
Di belahan dunia lain, dalam jarak yang sangat jauh, seorang anak laki-laki tampan seusia Adrian menatap ponsel yang ada di tangannya. "Semoga lo baik-baik saja kawan! Dan semoga lo gak terlalu mikirin adik yang lo sayang itu!" harapnya sambil memejamkan mata.
"Rafael, waktunya sarapan sayang!" pria kecil itu membuka matanya, senyum manis tersungging sesaat sebelum menghilang.
"Sebentar, mam!" balas anak itu dengan cepat.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝