NovelToon NovelToon
Putri Quraisy Dari Masa Depan

Putri Quraisy Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: MOEROUL

Maya Farida, mahasiswi Al-Azhar yang terobsesi pada sejarah Islam dan sains, meninggal dalam kecelakaan tragis tepat di hari kelulusannya di Kairo.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun kembali sebagai bayi perempuan bangsawan Quraisy di Mekah abad ke-6 puluhan tahun sebelum kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW.
Di dunia yang belum mengenal Islam, Maya harus hidup sebagai Qatilah binti Naufal, putri dari keluarga elit Bani Asad yang berkuasa. Dengan pengetahuan modern yang tak seharusnya ada di zaman itu, ia perlahan mengubah kehidupan di sekitarnya melalui logika, sains, dan kecerdasannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

BAB 10

Aleksandria bukanlah sekadar pelabuhan; kota itu adalah lambang keserakahan dunia yang disatukan oleh lautan.

Setelah berhari-hari menembus lautan pasir yang sunyi, mataku akhirnya dihadapkan pada pemandangan yang membuat napasku tertahan. Ratusan tiang kapal berjejer membelah pelabuhan raksasa. Kuli-kuli Mesir berkulit legam memanggul gandum, para bangsawan Romawi Timur berlalu-lalang dengan tandu sutra, dan pedagang-pedagang dari berbagai penjuru Afrika hingga Yunani berteriak menawarkan barang dagangan mereka.

Di sinilah urat nadi dunia berdetak, tempat manusia dan emas bertukar tempat tanpa peduli pada asal-usul maupun dosa.

Di tengah keriuhan yang memusingkan itulah, aku dipajang.

Panggung pelelangan itu terbuat dari pualam putih yang dingin. Aku berdiri di sana, menatap lautan wajah serakah yang berkerumun di bawah kakiku. Saat kain penutupku dibuka, suara gumaman kagum dan bisik-bisik langsung memenuhi udara.

Pedagang yang membawaku mulai meneriakkan harga pembuka. Lima puluh keping emas.

Seorang saudagar Arab mengangkat tangan. Seorang bangsawan Yunani menimpali. Para penawar mulai memanggilku, membujukku dalam berbagai bahasa agar aku bereaksi, menangis, atau setidaknya memohon layaknya anak kecil yang ketakutan. Namun, aku tetap diam. Aku mengunci raut wajahku menjadi sedatar batu pualam yang kuinjak. Aku bertahan dengan hanya diam.

Namun ironisnya, strategi bertahanku justru menjadi bumerang. Kebisuanku di atas panggung itu dianggap sebagai bukti keangkuhan darah biru. Harga terus meroket gila-gilaan karena ego para pembeli yang saling menjatuhkan. Seratus keping emas. Seratus lima puluh. Ratusan mata menatapku seolah aku adalah pusaka mitologi yang hidup. Konflik di dadaku berkecamuk; Diam yang ku anggap untuk melindungi diri kini justru mengikatku lebih kuat pada rantai perbudakan ini.

Palu akhirnya diketuk pada angka yang membuat seluruh pasar menahan napas. Dua ratus dua puluh keping emas.

Aku dimenangkan oleh seorang pria berwajah keras dengan baju zirah baja. Ia adalah kepala pengawal yang diutus secara khusus oleh Tuan Besar bernama Lothar, seorang penguasa dari wilayah Austrasia di benua Eropa.

Maka, perjalananku pun kembali berlanjut. Berbulan-bulan waktu berlalu, mengikis sisa-sisa masa laluku.

Kami menaiki sebuah kapal dagang besar, membelah Laut Tengah yang bergelombang selama berminggu-minggu. Kami sempat singgah di beberapa pelabuhan asing yang namanya tidak kuketahui, sebelum akhirnya mendarat di pesisir selatan benua Eropa dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta kuda.

Perjalanan dari pesisir menuju daratan utara Eropa mengubahku secara fisik maupun mental. Rambut ikalku yang dulu dipotong pendek kini mulai tumbuh memanjang melewati bahu. Tubuh balitaku sedikit bertambah tinggi, dan secara perlahan mulai terbiasa dengan hawa dingin yang menusuk. Secara mental, keputusasaan yang dulu mencekikku kini mengendap menjadi ketenangan yang sedingin es.

Aku menjadi lebih berhitung, lebih banyak mengobservasi, dan menyembunyikan emosiku rapat-rapat.

Sambil bersandar di dinding kereta yang berguncang, aku menatap butiran salju pertama yang turun dari langit kelabu.

Otakku mau tidak mau memikirkan kegetiran nasibku. Dulu, di kehidupanku sebagai Maya, aku belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di benua Eropa. Uang beasiswaku di Mesir hanya cukup untuk makan dan membeli buku, jangankan untuk berkeliling dunia. Ironisnya, kesempatanku untuk melihat salju putih dan lautan hutan pinus di benua empat musim ini justru terwujud di abad keenam, dalam tubuh seorang anak budak yang telah kehilangan segalanya.

Satu-satunya hal yang menahan sisa kewarasanku di tengah lautan orang asing ini adalah Kakek Ilyas.

Ia adalah seorang budak tua yang ditugaskan khusus oleh sang kepala pengawal untuk merawatku. Karena ibunya adalah seorang perempuan Arab, Kakek Ilyas menjadi satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara. Selama berbulan-bulan, pria tua itulah yang menjadi figur keluarga penggantiku.

Saat aku jatuh sakit karena demam selama perjalanan musim dingin pertama, Kakek Ilyas berjaga hampir semalaman di sampingku. Ia berkali-kali membasahi kain dengan air hangat lalu menempelkannya ke dahiku.

"Kau keras kepala seperti anak perempuanku dulu," gumamnya sambil tersenyum lelah.

Aku tidak pernah bertanya apa yang terjadi pada putrinya. Namun sejak malam itu, untuk pertama kalinya sejak ditangkap, aku merasa tidak sepenuhnya sendirian.

Suatu malam, di dalam gerobak tertutup yang hangat, aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Kakek Ilyas," bisikku pelan. "Untuk apa aku dibeli semahal ini?"

Kakek Ilyas tersenyum lembut sambil menyelimutiku dengan mantel bulu serigala yang tebal.

"Tuan Besar Lothar bukanlah pria yang sembarangan, Anak Manis," jawabnya dengan suara serak. "Kau dibeli bukan untuk dipekerjakan sebagai kuli kasar. Kau adalah hadiah istimewa untuk perayaan ulang tahun kedelapan Tuan Muda Clovis, anak bungsu di klan kami."

Aku mengernyitkan dahi. "Hadiah?"

"Ya. Karena aku bisa bahasa Arab, kepala pengawal menugaskanku untuk mengajarimu aturan keluarga," ucapnya halus. "Kelak, setelah kau dan Tuan Muda Clovis beranjak dewasa, kau akan ditempatkan dekat dengannya. Jika ia menyukaimu, kedudukanmu akan jauh lebih baik daripada budak biasa."

Aku terdiam kaku. Aku tidak bodoh. Bahkan tanpa penjelasan lebih lanjut, otak dewasaku tahu persis apa maksudnya. Masa depanku telah diputuskan sepihak untuk menjadi pelayan ranjang seorang anak laki-laki yang bahkan baru berusia delapan tahun. Kengerian akan nasib itu membayangiku, namun di sisi lain, itulah satu-satunya alasan mengapa aku diberi makan enak dan diselimuti mantel hangat saat ini.

Namun, janji masa depan itu tidak pernah terwujud.

Saat kami memasuki wilayah hutan berdaun jarum yang sangat lebat dan mulai tertutup kabut, perjalanan kami terhenti. Dari celah gerobak, aku mendengar Kakek Ilyas menerjemahkan keributan di luar dengan wajah tegang.

Penduduk desa setempat memblokir jalan utama. Mereka memperingatkan tentang hutan di depan sana yang telah memakan banyak korban, tentang rombongan yang tak pernah kembali, dan tentang penampakan monster kuno bernama Leshy.

Kepala pengawal yang memimpin rombongan kami mendengus marah. Merasa sudah hampir setahun berada di perjalanan, ia menolak usulan anak buahnya untuk memutar arah lewat lereng gunung. Barikade penduduk desa itu dibongkar paksa, dan kereta kami merayap masuk ke dalam perut hutan.

Begitu kami masuk, suasana berubah drastis.

Kabut putih turun semakin tebal, menelan cahaya matahari hingga hutan terasa seperti menjelang malam. Suara burung dan serangga tiba-tiba menghilang sepenuhnya. Hutan menjadi sunyi senyap, menyisakan derit roda kereta yang terasa memekakkan telinga. Kuda-kuda mulai gelisah, mendengus keras dan menghentakkan kaki mereka ke tanah beku. Anjing penjaga rombongan merengek pelan sambil menyelipkan ekor di antara kedua kaki mereka. Udara terasa begitu berat, dan aku bisa mendengar beberapa prajurit mulai berkomat-kamit merapal doa dengan suara bergetar.

Sesuatu sedang mengintai kami.

Lalu, iring-iringan terhenti mendadak. Di tengah jalan setapak yang diselimuti kabut pekat, sesosok bayangan raksasa berjalan mendekat.

Siluet tinggi besar itu dibalut pakaian dari kulit beruang dan serigala. Ia menggumamkan sebuah kata dengan suara yang sangat berat.

"Lekarstvo."

"Obat..." bisik Kakek Ilyas di sampingku, tubuh tuanya mulai bergetar ketakutan.

Kepala pengawal langsung meneriakkan perintah menyerang. Dan saat itulah, pembantaian dimulai.

Pria raksasa itu mengayunkan kapaknya dengan kecepatan mengerikan. Ia mencengkeram leher seekor kuda perang lapis baja yang beratnya ratusan kilogram, lalu melemparkannya hingga menabrak pohon besar seolah kuda itu hanya boneka jerami.

Mataku terbelalak lebar. Otakku mati-matian mencari penjelasan ilmiah. Gigantisme? Kelainan tubuh langka? Tidak. Tidak ada manusia yang bisa melempar seekor kuda hidup-hidup dengan satu tangan telanjang. Untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali ke dunia ini, keyakinanku pada logika mulai retak.

Kengerian yang sesungguhnya mencekikku, bukan karena melihat darah, melainkan karena kesadaran bahwa akalku sudah tidak bisa lagi memproses apa yang kulihat.

Pria raksasa itu membantai para prajurit dengan mudah. Namun, ia tidak menghancurkan kereta secara membabi buta. Melalui celah kayu, aku melihatnya menendang peti berisi koin emas tanpa minat, lalu membuka karung-karung gandum, dan mengendus kotak-kotak berisi salep serta botol anggur. Ia sedang putus asa mencari sesuatu.

Langkah kakinya yang berat akhirnya tiba di gerobak hartaku. Pintu kayu ditarik paksa hingga berhamburan.

Kakek Ilyas tiba-tiba bangkit berdiri. Dengan sisa keberaniannya yang rapuh, pria tua itu merentangkan tangan, berusaha melindungiku. Makhluk itu mengira Kakek Ilyas sedang menyembunyikan obat yang dicarinya. Tanpa ragu sedikit pun, lengan berotot itu berayun.

Suara tulang yang terkoyak terdengar keras.

Tubuh tua Kakek Ilyas terbelah tepat di hadapanku. Darah hangatnya memercik, membasahi wajah dan tanganku.

Untuk sesaat, aku bahkan tidak bisa menangis. Otakku menolak menerima bahwa pria tua yang semalam masih menyelimutiku dan tersenyum bercerita itu, kini hanya tinggal bongkahan daging yang terpotong di atas tumpukan koin emas. Aku meringkuk gemetar di sudut gerobak, napasku tertahan oleh syok yang teramat sangat.

Pria raksasa itu mengais peti-peti di sekitarku, membuang kalung mutiara dan cawan perak ke lantai kayu. Tidak ada obat di gerobak ini. Ia mendengus kasar dan hendak berbalik pergi.

Namun, gerakannya terhenti. Pandangannya perlahan turun, jatuh tepat ke arahku.

Tangan raksasanya yang berlumuran darah perlahan terjulur. Aku bahkan tidak memiliki sisa tenaga untuk menjerit saat tangan raksasa itu mencengkeram pakaian tebalku dan mengangkat tubuh kecilku.

Di antara puing-puing kayu dan mayat-mayat yang berserakan, aku masih sempat melihat sang kepala pengawal. Pria berzirah itu terkapar bersandar pada roda kereta dengan perut yang robek, dibiarkan hidup sebagai satu-satunya saksi atas kehancuran ini. Aku memejamkan mata erat-erat saat pria raksasa itu membawaku pergi menjauh, menelan kami berdua ke dalam kegelapan hutan yang tak berujung.

1
Sarah
Hahaha 😂
Sarah
Yaelah. 😂
Sarah
Aduh, jangan sampai dikira nyolong. 😭
Sarah
Emang di zaman kuno ada yang kayak gini? raksasa gitu...? Maksudku, kalau ini zaman Nabi Adam sih make-sense karena tingginya kakek moyang kita ini juga.... 😭
Tapi kalau ini zaman sebelum kelahiran nabi... manusianya kan udah pada pendek. 😭
Sarah: Iyasih, kalau misalnya kelahiran zaman purba awal banget, Goram dan Mila pasti pendek kehitungnya. Tapi karena ini zaman pra-kelahiran rasul, tinggi mereka jadi terhitung terlalu tinggi dan gak normal. 🙂
total 2 replies
Sarah
Dia pasti masih hidup, Qatilah. Seharusnya, Waraqah bin Naufal akan bertemu Rasulullah untuk menyatakan kenabiannya nanti bukan? Tapi kalau apakah kalian bisa bertemu lagi... entahlah.
Sarah
Sakit banget baca bab ini... lihat remaja sama anak kecil survive berdua. 😭😖
Sarah
Kudanya pasti Syahid. Karena mengantar orang yang akan membenarkan kenabian Rasulullah saw bersama adiknya untuk bertahan hidup.
Sarah
Tapi... penyerangan ini... memang tidak pernah Maya baca di sejarah kah? Apa ini sesuatu yang tidak tercatat? Sesuatu yang dia lupa? Atau... sesuatu yang berubah?
Sarah: Iyasih, aku aja baru tahu Waraqah bin Naufal itu punya saudari. Dan pada dicari, rupanya bener. Cuma minim info, cuma ada yang tentang menawarkan diri ke Abdullah. 🙂
total 2 replies
Sarah
Antara dia gak diculik tapi diselamatin, atau udah diculik tapi berhasil diselametin.
Sarah
Diculik kah?
Sarah
Susu manis emang udah ada yah di zaman itu?
Maya: ada tapi bukan pake gula melainkan madu
total 1 replies
Sarah
Wah... yang mengenali kenabian nabi itu bukan sih? Yang sepupunya Siti Khadijah? Apa aku salah ingat yah?
Maya: yup betul 😄
total 1 replies
Sarah
Ah... gak bisa bayangin perasaan Abi Uminya... 😭
Sarah
Menarik, isekai tapi ke arab dan MC-nya muslimah. Meskipun nyatanya kalau orang mati ya... kagak ada reinkarnasi yang ada ditanyain man robbuka langsung. Tapi yah... di dunia ini ’kan ada banyak yang tidak ketahui. Bisa aja cewek ini diberikan takdir yang agak... lain...? Pasti ada alasannya kenapa dia malah dilemparin ke masa lalu. Bagus, thor. Konsepnya menarik banget. 👍😂
Sarah: Namanya juga fiksi kak. Nikmati aja hiburan. 😂
total 2 replies
Protocetus
kok jadi Isekai min?
Maya: lebih tepatnya historical isekai
total 1 replies
Protocetus
Thor beneran pernah kuliah di Al Azhar?
Maya: enggak hehehe 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!