NovelToon NovelToon
Ketika Kisah Kita Ternyata Abadi

Ketika Kisah Kita Ternyata Abadi

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Cintapertama / Supernatural / Contest / Romansa-Percintaan bebas / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:137.7k
Nilai: 5
Nama Author: Isnasari Sulfia Handriyani

Sebuah kisah tentang hubungan antara dua anak manusia. Melibatkan dunia mistis dan sebuah mesteri yang belum terpecahkan.

Kakek
Aku tak ingin cucuku tersakiti karena kesalahan yang dulu pernah kubuat.

Aldo
Aku ingin melepasmu, tapi aku mencintaimu.

Pria
Dirimu adalah magnet bagiku, magnet yang menarikku mendekat setiap kali kita bertemu, karena aku tak memiliki kuasa atas diriku ketika itu berhubungan dengan pesonamu.

Gadhis
Apa yang kau sembunyikan dariku mas, tetapi apapun itu aku harap itu bukanlah sebuah penghianatan.

Bagaimana kisah Gadhis dan Pria selanjutnya ketika ada lelaki lain yang juga mencintainya…
Jadilah saksi dari perjalanan kisah Gadhis dan Pria dalam “Ketika Kisah Kita ternyata Abadi”. Dibumbui dengan kisah cinta segi tiga, penghianatan, pengorbanan. tangis, dan tawa. Buktikan bahwa setiap kisah akan indah pada waktunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isnasari Sulfia Handriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Curiga

Pagi ini Aldo tidak terbangun di kamarnya sendiri. Dia berada dalam sebuah kamar kos sederhana dengan hanya beberapa perabot didalamnya. Meskipun bukan kosan mewah tetapi sudah dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai. Disampingnya berbaring Kristin yang masih tertidur lelap. Keringat masih membasahi tubuh keduanya dari sisa-sisa percintaan mereka semalam.

Dipandangnya wajah Kristin dengan sejuta rasa dan sejuta tanya.

Apakah aku mencintai perempuan ini? Bagaiman dengan perasaanku pada Gadhis. Apakah aku bisa meninggalkannya setelah apa yang selama ini kami perbuat? Apakah aku setega itu? Lalu bagaimana dengan Gadhis, apakah aku mencintai Gadhis? kalau iya mengapa aku bisa menghianatinya sedemikian rupa.

Tubuh lengketnya semakin gerah memikirkan semua itu.

Perlahan dia turun dari ranjang, dia tidak ingin Kristin terbangun karena pergerakannya. Aldo memutuskan untuk mandi, semoga setelah tubuhnya segar tersiram air, akan menyegarkan pula otak dan hatinya yang penuh dengan dilema. Diputarnya air pada shower dan dipejamkannya mata, tubuhnya menikmati kucuran air yang jatuh. Mandi menggunakan shower memang yang terbaik, puncak kepalanya terasa menerima pijatan-pijatan halus dari aliran air, benar-benar menyegarkan.

Ketika Aldo keluar dari kamar mandi, terlihat Kristin sudah dalam posisi duduk di sisi tepi ranjang. Kakinya yang menjuntai kebawah digoyang-goyangkan mungkin untuk mengurangi kepenatan. Aldo berjalan mendekati perempuan itu lalu diciumnya kening Kristin dengan lembut.

“Sudah bangun?” sapanya sambil mengembangkan senyum.

“Hmm, terimakasih buat semalam,” ucapnya sambil mengecup bibir Aldo sekilas.

“Kita saling memuaskan semalam,” balas Aldo sambil berjalan menuju almari kaca. Ketika almari terbuka terlihat beberapa pasang pakaian kerja milik Aldo. Tampak jelas bahwa Aldo sering menghabiskan malamnya di tempat itu.

Kristin melihat tubuh atletis milik Aldo tanpa mengedipkan mata. Diikutinya kemana pun tubuh Aldo bergerak, sambil tersenyum dia mendekati Aldo dan memeluknya dari belakang.

“I want you,” bisiknya.

“Not now, aku harus menjemput Gadhis dan mengantarnya ke kampus, lagi pula kamu juga harus segera berangkat ke kantor, banyak berkas yang harus kamu siapkan untuk kulihat nanti, ” dengan halus Aldo melepaskan lilitan tangan Kristin di tubuhnya.

“Aku ingin bertemu gadis itu, hah…seorang gadis yang bernama Gadhis, apakah dia benar-benar masih gadis?” kalimat yang terlontar menunjukkan bagaimana tidak sukanya kristin pada Gadhis.

“Jangan hina Gadhisku,” geram Aldo dengan suara yang ditekan, “dia bukan kamu.”

“oh…jadi begitu. Terus siapa aku, ya benar…dia bukan aku, sekarang siapa aku…siapa aku bagimu…siapa!” teriak Kristin mulai tidak bisa  mengendalikan diri. “Ingat do, kamu yang membuatku seperti ini, jangan hindari tanggung jawabmu.”

Yang benar saja, “Apa kamu bilang, karena aku…karena aku…aku ingatkan lagi supaya ingatanmu kembali segar. Semuanya karena kita Krist…kita, waktu itu memang kita menginginkannya,” Aldo berjalan mendekati Kristin yang masih emosi. Dipeluknya erat perempuan itu, “Please, jangan membuat hubungan ini melelahkan Krist. Karena aku sudah lelah dengan semua ini,” bisiknya perlahan.

Kristin tidak membalas pelukan itu, tapi sedkit demi sedikit tubuhnya melemas dan air mata mulai luruh diwajahnya, “I know, semua ini melelahkan dan aku juga tahu kalau suatu saat aku harus pergi, tapi bagaimana dengan hatiku

Do? Mau aku bawa kemana hati ini pergi,” semakin deras air mata Kristin mengalir di pundak Aldo.

Merasakan pundaknya yang basah, Aldo makin mengeratkan pelukannya,”Jangan menangis Krist, please…aku akan mencari jalan keluar yang terbaik buat kita, percayalah padaku.”

Muncul sebuah senyuman sarkas meskipun samar di bibir Kristin,”bisakah aku mempercayai seorang penghianat sepertimu Do, bisakah?” Diam…Aldo tak mampu menjawabnya, siapa yang mampu menjawab pertanyaan semacam itu  pada orang dengan posisi seperti dirinya.

Aldo melarikan kendaraannya ke rumah Gadhis dengan pikiran yang penuh sesak. Pertengkaran seperti tadi bukan pertengkaran mereka yang pertama dan pasti tidak akan menjadi yang terakhir. Bahkan ketika mobilnya sudah sampai tepat di depan pagar rumah Gadhis, Aldo masih harus mengumpulkan kekuatan karena menghadapi Gadhis tidak akan mudah. Setelah berkali-kali menarik nafas dan menghembuskannya perlahan barulah dia keluar dari mobil dengan memasang wajah ceria.

“Assalamualaikum,” Aldo mengucap salam, pintu rumah memang terbuka tetapi tidak tampak penghuni rumah di depan. Meskipun dia sudah terbiasa keluar masuk, bagaimanapun dia harus menjaga sopan santun ketika bertamu.

“Waalaikumsalam,” terlihat wajah ceria Gadhis menyambut kedatangannya, “Jemputnya kok lebih siang dari biasanya, lama sedikit lagi aku telat lo sayang,” seperti biasa setiap kali bertemu Gadhis akan langsung mengamit tangan Aldo.

“Mama…Gadhis sama Mas Aldo berangkat dulu ya…” teriak Gadhis dari ruang tamu dan bersiap untuk berangkat.

“Eeee…sebentar, nak Aldo nggak mau sarapan dulu, ada papa Sas lagi sarapan itu di dalam,” sapa Marta ramah.

“Sepertinya nggak tante, mungkin saya mau pamitan saja ya sama om Sas,” jawab Aldo sopan sambil melangkahkan kakinya ke dalam.

“Panggil mama sama papa toh…kok panggilnya masih om sama tante terus sih.”

“Nanti saja tante kalau sudah resmi baru panggil mama dan papa,” jawab Aldo sambil tersenyum.

Gadhis sudah berjalan mendahului mamanya dan Aldo untuk menghampiri papanya di meja makan, “biar nggak terlalu lama ngomongnya, aku wakili ya sayang. Pah Gadhis sama mas Aldo mau berangkat dulu ya…” Gadhis lantas mencium punggung tangan Sasmito dan Marta, kemudian dia mengambil tangan Aldo dan disodorkannya tangan itu kepada kedua orang tuanya.

Aldo tertawa melihat tingkah Gadhis, “maaf om tante kami berangkat dulu ya,” pamit Aldo akhirnya sambil mencium punggung tangan calon mertuanya.

“Hati-hati kalau mengemudi,” pesan Sasmito sambil menepuk punggung tangan Aldo. Aldo hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Aku tahu mas sedang ada masalah,” suara Gadhis memecah kesunyian ketika mereka sudah berada dalam mobil menuju kampus, “wajah mas menunjukkan semuanya, mungkin kalau orang lain yang melihat, mas seperti biasa-biasa saja, tapi tidak denganku,” Gadhis melanjutkan kalimatnya.

“Kamu mungkin bisa saja salah, aku baik-baik saja.”

“Iya benar, aku mungkin bisa salah,” gadhis menjeda kalimatnya, “ada yang bilang seorang perempuan akan lebih peka terhadap pasangannya, aku percaya itu dan aku merasa ada sesuatu yang mas sembunyikan dariku.”

Aldo menelan salivanya yang terasa lekat ditenggorokan. Kali ini Aldo memilih diam, dia tak ingin mendebat apapun yang dikatakan Gadhis. Pertengkaran dengan Kristin tadi pagi sudah cukup melelahkan baginya jadi dia tak ingin menambah perdebatan dengan Gadhis sekarang.

“Sekarang aku makin yakin, kalau ada yang mas sembunyikan dariku,” Gadhis masih melanjutkan kalimatnya. Pandangan mata yang tadi diarahkan lurus ke depan sekarang beralih memandang wajah Aldo lekat.

Untungnya perjalanan sudah hampir mendekati kampus. Aldo tidak ingin menjawab pertanyaan yang sedari tadi dilontarkan Gadhis. Dihentikannya mobil ketika sudah menemukan spot parkir yang pas. Dilepaskannya sit belt yang terpasang di tubuhnya, kemudian dilepaskannya sit belt yang terpasang di tubuh Gadhis. Setelah kedua sit belt terlepas, didekatinya tubuh Gadhis dan dipeluknya hangat.

“Aku bukannya tak punya jawaban atas pertanyaanmu, tetapi aku tak ingin menjawabnya. Biarkan semua beban aku yang tanggung, kamu hanya harus bahagia dan banyak tertawa,” bisikan lembut Aldo membuat hati Gadhis lebih terkendali meskipun belum sepenuhnya tenang. Aldo ingin berlama-lama memeluk sambil menghirup aroma tubuh kekasihnya yang menenangkan. Sebelum Aldo mengurai pelukannya, dikecupnya lembut puncak kepala Gadhis.

Tok…tok…tok. Acara syahdu mendayu yang seharusnya bisa lebih lama itu hancur karena ketukan seseorang di kaca mobil. Wajah Santi terlihat menempel erat pada kaca. Gadhis sampai melonjak karena terkejut melihat penampakan di kaca pintu mobil disebelahnya. Santi terlihat tersenyum lucu sambil melambaikan tangannya dan memberi tanda agar Gadhis keluar dari mobil.

“Apa,” teriak Gadhis setelah berada di luar.

“Ih pagi-pagi nggak boleh marah…lagian kalian masih pagi sudah pelukan dalam mobil, dasar mesum. Perlu kalian berdua catat ya ini area kampus, tempat manusia mencari dan mendapatkan pendidikan. Akhlaknya dijaga dong.”

“Ooo jadi kalau diluar area kampus boleh ya?” kata Gadhis sambil menowel pipi Santi.

Santi sudah ingin menjawab kalimat sahabatnya, kalau saja Aldo tidak menyela, “San sudah sarapan belum?”

Senyum Santi langsung merekah, dengan gerakan lambat Santi memutar kepalanya, “belum, apa mas\_\_\_,” belum selesai Santi bicara Aldo memotong kalimatnya.

“Maaf ya San, kali ini silahkan beli sarapan sendiri…jadwalku padat.”

Gadhis yang mendengar kalimat kekasihnya langsung tertawa terbahak,”Sukurin.”

“Selamat belajar sayang,” kata Aldo akhirnya sambil melambaikan tangan.

Gadhis dan Santi berjalan beriringan dengan tawa Gadhis yang masih mengudara, sesekali Gadhis memutar tubuhnya kebelakang dan melambaikan tangan.

*Apa yang kau sembunyikan dariku mas, tetapi apapun itu aku harap itu bukanlah sebuah penghianatan. Karena aku tak tahu apa yang harus aku lakukan ketika kau menghianatiku. Cukup sekali bagiku kehilangan seseorang yang berarti, aku tak mau kehilangan lagi untuk yang kedua kali*.

1
Yovianti Yudo
next
Ish_2021
ugh...
Sekar Milenia
ceritany bagus lohh...
Rini Farah
keren Thor
Rini Farah
👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽👍🏽
Rini Farah
bagus ceritanya
Pangeran Matahari
hai kk aku mmpir ni ma.pir juga y kecucu manja oma
Mike
ngakak aku Thor bacanya 😂
Mike
Ini bener udah tamat KA?
Ish_2021: terimakasih sudah di apresiasi ❤️ ya...
total 2 replies
Rini Haryati
sukses
semangat
lanjut
Rina Avriliasunshine
tetap semangat berkarya author
Rina Avriliasunshine
aku juga setia kok thor meskipun nemunya pas udah end
Ish_2021
terimakasih doanya aamiin
Rina Avriliasunshine
aku doain mba othor novelmu ini nanti banyak yang baca..
aku suka ceritanya
Rina Avriliasunshine
aku masih setia
Pangeran Matahari: mmipir y kk kecucu manja oma
total 1 replies
Rina Avriliasunshine
ceritanya bagus tapi sayangnya kok sepi
Rina Avriliasunshine
cerita yang bagus pasti tidak banyak yang baca..
Pangeran Matahari: mmpir y kk ke cucu manja oma
total 3 replies
Ish_2021
ahhh...
Ish_2021
akhirnya perjuanganku usai
Pangeran Matahari: mmpir juga y kk ke cucu manja oma
total 1 replies
Ish_2021
ketika mendekati akhir rasanya tak ingin berpisah dengan Gadhis dan Pria
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!