NovelToon NovelToon
Kiss Me

Kiss Me

Status: tamat
Genre:CEO
Popularitas:3.9M
Nilai: 5
Nama Author: Chida

"Besok pasang AC ya, gue gak mau kalo ke sini kamar lo masih panas kayak gini,"
~Arkana Putra Fajar~


"Jangan liatin aku terus, awas nanti kamu jatuh cinta sama aku,"
~Anwa Khairani~


Arkana Putra Fajar, seorang pengusaha muda di bidang kuliner bertemu dengan gadis yang di tinggal pergi oleh kekasihnya untuk selama-lamanya.

Dapatkah Arkana menaklukkan gadis berpenampilan sederhana itu dan mengganti posisi kekasih sang gadis yang sudah tiada dengan dirinya??


follow ig @chida_chie

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang aneh

Bukan hanya barang elektronik yang Arkana belikan untuk Anwa. Arkana mengajak Anwa kembali masuk ke dalam supermarket di tempat perbelanjaan itu. Segala buah, minuman, makanan kecil dia masukkan ke dalam troli.

"Ar... ini banyak banget," ujar Anwa yang sudah tak enak hati.

"Gak papa buat stok kamu di kost, mau apa lagi? yang mana? ini?" katanya menunjukkan coklat batangan lalu dimasukkannya lima coklat batangan ke dalam troli kembali.

"Udah Ar... cukup, udah---udah."

"Ok, sekarang kita tinggal bayar, tuan Putri ikut aja kemana Pangeran pergi ya, dijamin selamat sampai tujuan."

Anwa hanya bisa menggelengkan kepalanya, sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Seakan yang akan tinggal di kamar kostnya adalah Arkana, semua dia lengkapi.

"Kayaknya kita harus cari rak tivi yang minimalis ya," ujarnya lalu berjalan menuju ke bagian furniture.

"Ar... aduh bener deh aku pulang aja ya."

"Pulang aja gak papa, lo pulang juga rak tivinya tetep dateng kesana," ujarnya mengerlingkan mata.

"Astagaaaa."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Orang yang baru saja memasangkan AC di kamar Anwa baru saja selesai mengerjakan tugasnya. Anwa hanya duduk di pinggiran kasur memperhatikan Arkana yang sedang mengatur tata letak dimana tivi dan kulkas kecil itu berada.

Maka letak tivi berada satu garis dengan tempat tidur Anwa, sedangkan kulkas mini berada bersebelahan dengan rak piring kecil menuju arah ke kamar mandi.

"Selesai," ujarnya sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, "dingin kan? kalo begini kan aku bisa tiap hari kesini."

Anwa masih terdiam, sebenarnya ini adalah bentuk protesnya pada Arkana.

"Wa, diem aja sih... dingin kan?"

"Hhmm."

"Banyak makanan lagi Wa," katanya lagi sambil meneguk minuman kaleng yang baru saja dia ambil di dalam kulkas.

"Buat kamu aja."

"Wa...." Duduk di sebelah Anwa.

"Apaan sih?"

"Lo kalo marah lucu tau."

"Biarin aja."

"Wa...."

"Apa Ar?"

"Ngomong-ngomong gue belom tau nomer ponsel lo," katanya tersenyum.

"Siapa suruh gak nanya."

Arkana tertawa. "Berapa?"

"Apa?"

"Nomernya, Wa."

Anwa memberikan ponselnya pada Arkana. "Miss call aja, aku juga lupa berapa nomer HP aku."

Arkana menggeser keatas layar ponsel itu. Yang pertama dilihatnya adalah poto Anwa mencium pipi Dika kekasihnya. Seketika rasa yang aneh berdesir di dadanya, entah rasa apa tapi cukup menyakitkan saat melihat poto itu.

"Sudah aku simpan," ujarnya memberikan ponsel itu kembali pada Anwa, tapi kali ini sikap Arkana tiba-tiba dingin.

"Ar... makasih ya," ucapan terimakasih dari bibir Anwa diiringi dengan senyuman yang tulus.

"Buat apa?"

"Buat ini," menunjuk barang-barang yang sudah mereka beli tadi.

"Cuma sebagian kecil yang bisa gue kasih ke elo, cuma buat menghibur lo Wa," ujarnya mengacak rambut Anwa.

"Kayaknya bakal jadi kebiasaan ya."

"Apa?"

"Ngacak-ngacak rambut aku."

Arkana tertawa, lalu meneguk lagi minuman kaleng di tangannya. "Nih abisin," ujarnya menyodorkan minuman itu, "gue balik dulu ya."

Anwa mengangguk seperti anak kecil yang menurut.

"Jangan lupa makan," ujarnya lagi lalu berjalan menuju pintu diikuti oleh Anwa di belakangnya, dan tiba-tiba berhenti membuat Anwa menabrakkan dirinya pada Arkana yang sudah berbalik.

Seketika pandangan mata mereka saling mengunci, tinggi badan yang hanya selisih 20 centimeter membuat Anwa harus mengangkat sedikit wajahnya.

"Kalo berenti bilang-bilang dong," sungut Anwa.

"Ya lo yang salah jalan di belakang gue," kekeh Arkana, "balik ya."

Sepulangnya Arkana, Anwa merebahkan dirinya, menikmati dinginnya kamar yang sudah ber AC itu, dan terhanyut ke alam mimpi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dua minggu berlalu sejak Arkana datang dan memfasilitasi isi kamar kostnya, lelaki itu sudah tidak lagi menampakkan wajahnya. Terkadang Anwa juga bertanya-tanya kemana Arkana, sedangkan untuk nomer ponselnya pun dia tak punya. Karena memang hanya Arkana yang menyimpan nomernya dan itu pun hanya menyimpan, tidak pula menghubungi.

Makan siang yang biasanya selalu ada yang mengirimkan untuk Anwa, sudah dua minggu ini juga sudah tak lagi datang.

"Wa, sudah disiapkan semua berkas yang mau di bawa meeting oleh Pak Fajar?"

"Sudah Bu," menyerahkan dua map dokumen yang sudah ia siapkan sedari pagi.

"Oke makasih ya, ini saya berangkat meeting sama Pak Fajar, kalo ada sesuatu dan lain hal yang masih bisa kamu handle usahakan ditangani semaksimal mungkin."

"Baik Bu," jawabnya tegas.

Pak Fajar yang baru saja keluar dari ruangannya menghampiri meja mereka.

"Gimana Anwa pekerjaan kamu? saya lihat kamu cepat mengikuti ya."

"Iya Pak, saya usahakan bisa cepat belajar dan beradaptasi dengan pekerjaan di sini."

"Bagus, saya suka anak muda yang punya kemauan keras buat belajar."

Anwa tersenyum, sampai kedua atasannya hilang dari hadapannya.

Sore pukul lima, Anwa mulai bersiap-siap untuk pulang dari kantor, membereskan file-file yang berserakan di atas meja kerjanya. Tak lama dering telepon berbunyi, diliriknya nomer tak di kenal dan seperti biasa tak akan pernah dia angkat. Selang beberapa menit terdengar pesan masuk.

Gue tunggu di bawah ya, cepetan turun, bunyi pesan itu.

Anwa pun tersenyum seakan tahu siapa yang mengirimkan pesan padanya, lalu membalas pesan itu untuk menunggu sebentar.

Keluar dari lobby kantor, sebuah mobil Pajero Sport berwarna hitam metalik sudah berada di pelataran lobby. Anwa pun tersenyum, saat kaca jendela mobil itu terbuka, ia sedikit mempercepat langkahnya.

"Hai...."

"Hai," balas Anwa masih dengan senyumnya, "gak lama kan?"

"Gak... seneng banget sih kayaknya." Arkana melajukan mobilnya keluar dari pelataran gedung tinggi itu.

"Keliatan ya?"

"Seneng ya liat gue lagi?" godanya pada Anwa.

Anwa lagi-lagi tersenyum, jujur banget sebenernya memang Anwa senang lelaki itu kembali lagi entah darimana dia, tapi hati Anwa bahagia. Rasa yang aneh ini terkadang muncul saat Arkana selalu tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Senyum mulu," ujarnya saat berhenti di lampu merah, menyandarkan kepalanya pada kemudi dan menoleh ke Anwa.

"Apaan sih." Gadis itu salah tingkah.

"Gak nanya kemana gue dua minggu?"

"Aku gak nanya aja kamu bakal cerita juga kan," ujarnya santai, "udah ijo lampunya."

Arkana melaju kembali. "Gue dari Bali, restoran gue dua minggu berturut-turut jadi tempat nikahan orang," ujarnya, "jadi mau gak mau gue harus standby, memastikan semuanya berjalan dengan baik."

"Keren...."

"Apanya?"

"Usaha kamu."

"Cuma nerusin usaha kakek, banyak belajar dari mima, di kembangin lagi mengikuti jaman, jadi lah seperti sekarang."

Anwa mengangguk angguk.

"Gimana tidurnya?"

"Eh?"

"Maksud gue setelah pasang AC," Arkana terkekeh.

"Biasa aja, cuma lebih dingin."

"Boong banget," dia mengacak-acak rambut Anwa, "lebih nyaman kan? maksud gue di banding pake kipas angin yang bunyi kemarin."

Anwa hanya diam, lalu kembali ke masa lalu, dulu Dika pun menyarankan untuk memakai AC di kamarnya, tapi Anwa menolak, karena selama mereka menjalin hubungan Dika selalu dominan membiayai hidupnya, jadi Anwa lebih berpikir tidak sepantasnya dia membebani lagi keuangan kekasihnya.

"Gue kira hobi ngelamun lo lama-lama ilang... ternyata masih aja ya," ujar Arkana memperhatikan wajah Anwa yang tiba-tiba berubah sayu.

"Kita makan aja Ar," ajaknya.

"Boleh... makan apa?"

"Pecel lele, mau?"

"Boleh... kok pake nanya mau sih?"

"Takut kamu gak biasa makan di pinggir jalan."

"Gue makan apa aja Wa dan dimana aja" jawabnya.

makan lo aja gue bisa saat ini ujarnya dalam hati dan menyunggingkan senyum nakal penuh arti.

***mulai nakal ya abaaaang....😘 sabarr yaaaa bentar lagi mereka jadi uwu kok

1part lagi gengs.... jejaaaaak jangan lupa

btw buat yang mau masuk ke group, monggo yaaah...mari kita menjalin silaturahmi dan saling support 😘***

1
falea sezi
gila jabatan bgt ortu arkana
falea sezi
baper euy dlu dia pcrn ma mantan kayaknya gini jg gk sih tangan Arya nakal bgt
falea sezi
inget donk yg 365 days
Ari Sawitri
kok deg deg an ya aku..
Ari Sawitri
orang tua Arkana aku kira bijak ternyata masih gila hormat dan jabatan. rela korban kan kebahagiaan anaknya demi jabatan dan nama baik 🤨😏
Ari Sawitri
emang g baca koran yg dikasih aneth? kan disitu jelas kasus yg menimpa bapaknya anwa?
Ari Sawitri
cewek apaan juga kamu Wa .. mau dicium dikasih perhatian tp ngegantung perasaan. lama lama jengah jg, klu masih trauma ya sdh jauhi Arkan
Ari Sawitri
jd ingat tuan saga dan daniah .. tuan saga terobsesi dg rambut kriwil daniah 😄🤭🤭
Ari Sawitri
paling suka klu karakter cowok nya setia dan keliatannya Arkan tipe setia 😊... dah suka alurnya mengalir ga dipaksa gt pembacanya 👍🙏🤗
Vlink Bataragunadi 👑
akuuuu akuuuu, aku suka lupa ngedip kl liat diaaa, ya ampuuuun 🤤🤤🤤🤤🤣
Rahmaniar
suka ceritanya👍👍
Rahmaniar
suka ceritanya👍👍
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
bagus bangt ceritanya👍👍🥰🥰🥰
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
sangat bagus👍👍👍👍👍
Nur Cahyani
siap g siap wa
Nur Cahyani
enak kan kalo baikan
Nur Cahyani
lnjt g nikah mas
Nur Cahyani
nggak usa dibujuk wa
Nur Cahyani
makan aja kok ribet
Nur Cahyani
ngapain tunggu 3 bln . arkanauda g kuat tu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!