NovelToon NovelToon
Little Angel

Little Angel

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:483.8k
Nilai: 5
Nama Author: LeeGo

Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.

"Gue mau mati aja, hiks."

Gendis Mahesa.

Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.

"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."

Dewa Ganesha

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Jelas

Dewa pikir sembilan bulan bisa membantunya lepas dari bayang-bayang sosok manis yang selalu menghantui pikirannya. Dewa pikir tanpa akses komunikasi ia bisa lepas dari keinginan untuk mengetahu kabar si tuyul kecil yang sialnya berhasil menyita perhatiannya tapi ternyata apa yang ia pikirkan salah besar. Sudah hampir lima bulan tapi bayangan senyum si tuyul Gendis masih asik menari-nari mengusik sepi dan ramainya. Gadis kecil itu berhasil menduduki puncak kedua di hatinya setelah sang nenek yang begitu di cintainya.

"Telfonlan lah bang. Pohon depan mantep tuh buat nongkrong.” Salah satu rekan Dewa menghampiri menepuk bahu si buaya kacang-kacang itu yang sukses menjelmas menjadi cicak tiap kali memikirkan gadis kecil bertas totol-totol itu.

"Berisik lu!“ Ucapnya kesal. Orang-orang disekitarnya bahkan menjelma menjadi maha kampret kalau sudah urusan menggodanya dengan membawa-bawa nama Gendis. Ya, nama gadis itu bahkan sudah seperti mantra yang berhasil mengusik seorang Dewa yang selama ini hobi mengusik orang disekitarnya.

"Si bocil lepas, mampus lu, Bang.” Masih belum menyerah, tentara baru bernama Sudar itu malah semakin menjadi seolah siap di terjunkan dalam kali belakang pos.

"Lo ngomong sekali lagi, rahang lo gue bengkokin.” Ancam Dewa yang malah ditanggapi dengan santai oleh si sudar.

"Gak apa-apalah yang penting Bang Dewa happy.” Ejeknya lalu saat melihat batu di tangan Dewa siap meluncur, ia langsung lari menyelamatkan diri.

"Kampret lu!” Dewa mendengus sebal. Tidak tau apa kalau ada singa yang sedang galau bisa gawat dunia fauna. Habis diacak-acak. Lama merenung, Dewa akhirnya menyerah. Ia mengambil hp cui-cui N*kia layar kuning yang paling kuat menangkap jaringan lalu memanjat pohon. Pejuang cinta bangatlah dia sekarang. Melihat kelakuannya sekarang saja Dewa merasa sudah pada level bucin akut. Tolonglaaah, ia hanya bosan di hutan jadi hanya ingin mendengar suara Gendis biar bosannya hilang. Jadi kalau soal jatuh cinta--- buang jauh-jauh tuduhan tak masuk akal itu.

Dewa memencet nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Ini saja sudah menunjukkan betapa Gendis punya tempat spesial di sudut hati yang tak ingin diakuinya. Sejak kapan coba seorang lelaki yang terkenal sebagai buaya loreng menghafal nomor seorang perempuan, yang ada juga nomornya yang terpahat jelas diingatan cewek-cewek. Tapi yang ini kan bukan cewek, dia bocil, jadi tidak masuk hitungan. Aman, Wa.

Drrrrttt...

Dewa menghela nafas lega saat panggilannya tersambung. Masih belum diangkat tapi ia sudah cukup senang setidaknya tuyul kecil itu tidak mengganti nomornya atau menghilangkan jejak.

Sekali, dua kali, belum juga diangkat. Dewa menepuk kakinya yang sejak tadi digigiti oleh nyamuk dan semut. Benar-benar perlu diberi piala si Gendis karena sudah berhasil membuat seorang Dewa rela sampai segininya.

“Sekali lagi lo nggak angkat telfon gue, fix gue lompat dari atas sini.” Janjinya yang kemudian disesalinya setelah melihat kebawah. Tinggi juga tempat naiknya.

Tapi untunglah, di dering berikutnya hp itu di angkat, ”Halo” Sapa Dewa lalu terdengar bunyi seperti kresek dan suara-suara sumbang yang tampak sibuk disana.

"Haloo? Ini siapa?Sorry nggak jelas---khkkkk”

Dewa melihat layar telfonnya, nomornya benar milik Gendis tapi suara yang disebrang sana bukan tuyul kecilnya. Lalu siapa?

"Gendis mana?” Tanya Dewa masih dibalas oleh suara seperti kresek yang begitu mengganggu. Parah. Parah.Parah. Jaringan benar-benar menguji kesabarannya.

"Halo?Siapa?Gendis?”

"Iya. Ini nomornya kan?“

Suara berisik disebrang semakin parah, ”I-khhrggg-- ya. Gendis ---khhkkk--- menikah---khkk hari ini Tuuuuuuuuuut”

Deg.

Dewa terdiam. Ia tidak salah dengar kan?Ini prank kan?Tidak mungkin. Wajah Dewa berubah pucat. Gendis menikah?Tuyulnya menikah?Si polkadot meninggalkannya?Tidak Mungkin.

Dewa mengusap wajahnya kasar dan kembali menelfon nomor tersebut tapi sayangnya tanpa silang di sudut hpnya membuat ia hanya bisa meluapkan kekesalannya memukul cabang pohon tempatnya berpegangan. Lo kan punya Gue, Ndis. Tapi--- Dewa tiba-tiba pusing dan satu bisikan dikepalanya hampir berhasil memerintahnya untuk lompat. Astaga Definisi ditinggal nikah kenapa se-tai ini sih?!

Sisa bulan masa tugasnya dihabiskan dengan berlatih keras hingga lupa rasanya istrahat. Tidak ada seorangpun yang berani mengusiknya. Dewa yang biasanya banyak bicara, suka mengumpat tiba-tiba menjadi seorang yang pendiam. Semua orang di pos jaga tahu bahwa sejak kejadian menelfon itulah Dewa mulai berubah. Entah apa yang terjadi semua masih menjadi pertanyaan.

"Akhirnya selesai juga tugas kita disini. Walaupun hanya bisa ketemu babi dan monyet tetap saja rasanya berat meninggalkan tempat ini.” Sudar melirik Dewa dengan lewat sudut matanya tapi orang yang diajaknya bicara itu tak menanggapi. Dewa hanya membereskan isi ranselnya sama sekali tidak terpengaruh dengan kehebohan teman-temannya yang begitu bahagia bisa kembali bertemu keluarga setelah sembilan bulan berpisah. Pasukan yang menggantikan tugas mereka pun sudah sampai di Manado, sore nanti akan sampai di pos untuk pergantian tugas.

"Sorry bro kalau gue rese selama ini.” Ucap Sudar merasa perlu meminta maaf karena selama ini dialah yang paling aktif mengusik Dewa.

Dewa tersenyum tipis, ”Santai.” Ujarnya balas menepuk bahu Sudar. Ia tak bermasalah dengan siapapun, ia pun menemui rekan-rekannya dan mengucapkan hal basa basi tak mau meninggalkan kesan yang tak baik. Perubahannya selama ini hanya karena ia merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga baginya. Satu-satunya masalah Dewa adalah ia tidak memahami hatinya bahwa sebenarnya ia tengah patah dan mungkin akan sulit disembuhkan.

***

Kepulangan Dewa kembali ke ibukota disambut oleh nenek Ida yang merupakan satu-satunya keluarga yang dimiliki oleh laki-laki itu. Sebenarnya Dewa tak memiliki rencana untuk menjadi seorang prajurit mengingat nenek Ida akan sering ditinggalkan seperti ini tapi nenek ida sendiri yang menyarankan Dewa untuk menjadi abdi negara karena khawatir akan dirinya yang bisa dibilang sudah rusak akan semakin rusak.

"Selamat datang kembali cucuku sayang. Duh, makin ganteng aja deh.” Nenek Ida memeluk Dewa erat meluapkan kebahagiaan dan kesyukurannya karena lelaki itu pulang dengan selamat, ”Apa kabar kamu?“ Tanya nenek menggirng cucunya itu masuk kedalam rumah.

"Baik Nek, seperti biasa.” Jawab Dewa terlalu kalem di telinga nenek karena biasanya Dewa tak hanya akan menjawab seringkas itu, ada banyak cerita yang akan dibaginya dengan nenek mengenai apa saja yang dialaminya di tempat tugas tapi kali ini moodnya benar-benar terjun bebas. Semua itu karena satu sosok yang kini jaraknya kembali dekat dengannya. Tapi untuk apa jarak yang dekat kalau ia tak bisa lagi memiliki. Sial sekali dirinya, sembilan bulan ternyata gagal menyelamatkan dirinya dari jerat pesona tuyul kecil yang sekarang entah mungkin sedang berada dalam.pelukan hangat lelaki lain. Dewa tersenyum sinis, menertawai kebodohannya yang lagi-lagi teringat oleh Gendis.

"Kamu beneran baik-baik saja?” Tanya Nenek Ida lagi tak yakin dengan jawaban sang cucu. Darimana kata baik-baik saja jika hanya dengan melihat saja ia sudah bisa menebak ada yang tak beres dengan cucunya. Dewa tak setengil biasanya bahkan terkesan dingin. Hal itu jelas membuat nenek khawatir. Dewanya tak begini.

"Iya, Nek. Cuma butuh istrahat sebentar.” Ujar Dewa berusaha meyakinkan neneknya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya, “Kerang ajaib untuk nenek.” katanya menyerahkan sebuah kerang hias yang ia dapat dari toko ole-ole.

"Wiiih manteep. Persis punya si spongebob ini.” Serunya senang. Seperti dugaannya, nenek menyukai ole-ole yang ia bawa. Wajah Dewa berubah mendung melihat satu lagi benda yang bodohnya ia beli juga meskipun tahu orang yang akan menerimanya sudah menerima cincin dari orang lain. Gelang kerang-kerangan yang sangat cantik, tapi sayang akan berakhir dalam tong sampah. Ia akan membuangnya nanti.

"Nek, Dewa istrahat di kamar ya.” Ucapnya setelah menutup kembali resleting ranselnya. Ia suntuk, bukan hanya karena perjalanan jauj yang di tempuh dengan kapal laut tetapi hatinya sudah tak seutuh lagi sejak panggilan sialan itu ia lakukan. Coba saja ia tidak menelfon, mungkin sekarang ia dalam keadaan baik-baik saja. Kalaupun ia akhirnya tau kabar buruk itu, ia sudah di ibukota dengan banyaknya hiburan yang bisa mengalihkannya.

Dewa mengambil segelas air dalam wadah plastik dari dalam kulkas sebelum masuk dalam kamar. Ia butuh air dingin untuk mengguyur kepalanya siapa tahu setelah itu ia berubah jadi manusia es, setidaknya hatinya membeku tak perlu lagi merasakan perasaan kampret yang sedang menggerogotinya.

Sementara di tempat lain gadis yang berhasil membuatnya kacau tampak sedang sibuk persiapa ujian akhir. Kurang lebih empat bulan lagi ujian kelulusan akan diadakan. Gendis dan seluruh siswa kelas dua belas sekarang sedang berjuang untuk masa depan yang mereka cita-citakan. Gendis bahkan secara khusus disewakan tutor oleh kedua orangtuanya untuk mendukung pelajarannya.

"Gue capek, gue mau nikah aja.”

"Kalau capek lo harusnya istrahat San bukan nikah.” Ujar Gendis menatap prihatin salah satu sahabatnya yang kini menggelepar diatas lantai. Mereka belajar berdua saja karena Aleksis ada urusan sedangkan Nadia kalau malam-malam begini akan mendapat les tambahan dari Omnya yang kata Sandra adalah berkat yang tak bisa diturunkan kepada gadis tak beruntung seperti mereka bertiga.

"Please deh Ndis, ini tuh sarkas doang. Pinteran dikit kek.” Sandra menekan kepalanya dalam bantal-bantal empuk berusaha melupakan sejenak mimpi buruk setiap siswa kelas ujian.

"Kata mami gue pintar.” Gendis berujar bangga. Bukan saja kata mami tapi nilai raportpun demikian. Yang Gendis tak pahami disini adalah pintar di bidang ilmu pengetahuan beda definisi dengan pintar yang Sandra maksud. Tapi karena Sandra malas berdebat yang akhirnya dia sebel sendiri, mendingan ia diam saja. Gendis kalau didiamkan gak bakalan rese.

"Besok Ke The Narnia yuk?” Ajak Sandra mengangkat kepalanya dan berbaring menyamping menonton Gendis yang tampak fokus dengan soal matematikanya, ”Udah lama kita nggak kesana. Terakhir pas Nadia dapat omel Omnya. Serem bangat sumpah untung Om Gi ganteng jadi bisa gue maklumi.”

"Gak bisa gue. Udah ada planning.”

"Ke tempat biasa?”

Gendis mengangguk. Semua sahabat-sahabatnya sudah tahu job sampingannya sebagai pendamping sosial tak terdaftar di negara ini. “Udah dua bulan ini gue nggak nengok mereka.”

"Sok sibuk ngurus nikahan sih lo. Udah ada WO juga masih ngurus sana sini. Padahal bisa tinggal duduk anteng doang terima beres gitu aja.” Sewot Sandra cukup dibuat kesal dengan kekeraskepalaan Gendis yang mau mengurus party sampai akhirnya jatuh sakit.

"Gue suka mau gimana lagi. Lagian kapan lagi cobak gue belajar ngurus dekor, prasmanan kalau bukan diacara sendiri. Itung-itung pengalaman lah.”

"Alah, lo mah apa aja diitungin pengalaman.” Sandra kembali menenggelamkan kepalanya dalam bantal lalu memejamkan mata.

Dalam kesibukannya mengerjakan soal, Gendis tak bisa melupakan begitu saja telfon masuk dari orang asing beberapa bulan yang lalu. Jika boleh berharap, apa mungkin orang itu adalah Dewa?Tapi kalau memang benar Dewa lalu kenapa tak menelfonnya lagi?Bukankah keterlaluan meninggalkan dirinya tanpa kabar selama sembilan bulan setelah dengan seenak jidatnya melabelinya Punya Dewa? Apa semua lelaki seperti itu?Ah, tapi bagaimana Gendis bisa membandingkan jika selama ini ia tak pernah dekat dengan lelaki manapun selain Dewa?!Lalu ciuman itu?Tanpa sadar Gendis memegang bibir bawahnya lalu sedetik kemudian helaan nafas berat lolos dari mulutnya.

"Kenapa lu?”

"Hah?” Gendis mengerjap. Memang dirinya kenapa?Ia menatap Sandra bingung.

Sandra mencebik, ”Lo bengong, megang bibir trus buang nafas berat kayak gitu pasti ada apa-apa.”

Gendis meringis, ”Emang iya?Ketahuan bangat?“

Sandra bangun lalu duduk bersila lalu menunjuk Gendis, ”Cerita sama gue. Ada yang lo sembunyiin dari kita-kita kan?” Tuduhnya tepat sasaran.

Gendis menggigit bibir bawahnya terlihat ragu untuk mengatakannya tapi--- ”Kalau laki-laki nyium cewek trus bilang kalau cewek itu punyanya, trus ngilang gitu aja tanpa kabar artinya apa?”

"LO DI GHOSTING!” Seru Sandra.

Gendis terjengkat kebelakang karena terkejut teriakan sandra. Gadis itu memperbaiki kacamata bacanya lalu kembali duduk ,”Kok gue sih. Gue kan bilang kalau ada laki-laki nyium cewek--“

"LO CEWEKNYA, SIAPA LAKI-LAKI ITU?” Sandra sepertinya sedang kesurupan jin tim hore, dari tadi bicaranya tidak bisa santai.

Gendis tak mengatakan apa-apa. Sepertinya ia salah menanyakan ini pada Sandra. Mungkin seharusnya sama Nadia saja yang walaupun sel otak keduanya sebelas duabelas tapi setidaknya Nadia punya pengalaman berurusan dengan laki-laki dewasa.

"Gendis!” Sandra tak sabar. Malam ini harus ada kejelasan siapa laki-laki yang sudah membuat sahabatnya tercemari begini, ”Siapa laki-lakinya?” Tuntutnya.

Gendis manyun. Apa boleh ia mengecil saja lalu menggelinding dan menghilang?Menghdapi Sandra sepertinya lebih menakutkan dari sang mami.

"Janji jangan bilang siapa-siapa?” Gendis mrngancungkan jari kelingkingnya. Ritual yang selalu mereka lakukan saat berjanji. Sandra mengaitkannya dengan ogah-ogahan. Janji ini sangat berat karena sekali Nadia atau Aleksis memancing maka semua akan terbongkar. Selemah itu ia menyimpan rahasia. Sangat tidak cocok menjadi seorang agen.

"Jadi siapa orangnya?”

Gendis menggigit bibir bawahnya gugup lalu kemudian bersuara lirih, ”Bang Dewa.”

"APAAAAAAHHH!!!“

***

1
Munji Atun
Kak Lee 🥰 akhirnya bisa ketemu lagi sama Gendis and the genks 😍 uuh senengnya jgn lama" lagi ya upnya 🥰
makasih banyak ya ❤🥰💪
Miamia
ya salam ndissss bengek aku🤣🤣🤣, kocak , rajin up ya kak Thor 😍
Tita
yaaa habis,kapan lagi ini ketemu gendhis❤️
Tita
habis sedih,terharu sekarang nyengir dah😁
Tita
❤️❤️❤️❤️❤️
Tita
ayo bang dewa mendekat lagi sama Tuhan,gendis bukti sayang Tuhan sama kamu wa❤️
Opi Irbah Salma
lanjut Thor 😍
Deva Santi
bang dewa belum ngumpul sama bang GI sesama bucin bikin mual..., the Genk ngumpul seruhhh banget si Sandra dan leksis Lom dpt jodoh pa g laku si thorrr
Rahayu Kurniasari
maaciihhh kak othoorrr.. 😍😍
Sri Gunarti
waah rami kalau kalian kumpul seru 🥰🥰🥰
Turwaty suketi
Aduuuh om dewa makin ugal ugalan🤣
stnk
thoooor moga rutiiiinnnn....tak tungguuu loooh...
stnk
Om Gi juara berapa Nad...🤣🤣🤣
stnk
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
stnk
Lebaaayyyyyyy....🤣🤣🤣🤣
tintiin21
kumpulan om² bucin parah.... 😆😆😆😆😆
Deva Santi
kebucinan para tentara, seneng liat cerita gendis, Nadia lalu apa kabar aleksis dan sandraaa kak
Iwin Soviyatiningsih
makasih UP nya thor 🙏 next ditunggu
Sri Gunarti
jadi kangen gibdan
Rahayu Kurniasari
pertama..
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!