Erika yang polos dan miskin jatuh cinta pada Evans, lelaki tampan dan kaya, lelaki yang sangat diidam-idamkan banyak wanita.
Mencintai Evans sama seperti menggenggam mata pisau, semakin menggenggamnya erat semakin berdarah-darahlah yang kamu rasakan.
Rasa kecewa dan sakit hati, itulah yang dirasakan Erika sejak bersama Evans. Tapi Erika tidak mampu melepaskan lelaki itu.
Mampukah Erika meraih hati Evans sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sun Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan
Visual Erika 👆
Tok tok tok
"Evans.." Tuan Ducan memanggil.
Tok tok tok
"Iya, Pa. Sebentar."
Ceklek. Pintu dibuka.
"Ada apa, Pa?"
"Papa mau bicara sebentar."
Evans dan Tuan Ducan turun bersama ke ruang tengah. Di sana Nyonya Ducan sudah menunggu.
"Sekarang Papa tahu kenapa kamu menolak pertunanganmu dengan Alexa."
Evans masih diam.
"Karena ini kan?" Tuan Ducan meletakkan beberapa foto di atas meja.
Deg...
Evans melirik foto-foto itu sekilas. Dia terkejut. Lalu meraih foto-foto itu dan melihatnya dengan lebih seksama. Evans masih diam sambil memperhatikan foto-foto itu. Foto itu benar-benar jelas sekali. Dalam foto, Erika terlihat memeluk lengan seorang pria tampan sambil tersenyum gembira dengan pria itu. Foto lain, Pria tersebut tampak sedang mengusap kepala Erika. Dan foto yang lain lagi, mereka makan sepiring berdua di warung pinggir jalan. Terlihat sang pria menyuapi Erika. Sangat mesra.
Wajah Evans memerah menahan marah. Dia terlihat kecewa. Beberapa saat dia diam, kemudian mengarahkan pandangannya pada papanya.
"Cepat sekali gerakan Papa. Sepertinya apapun yang kulakukan Papa tahu semua," kata Evans tampak tidak suka.
"Perempuan itu miskin dan sudah punya pacar. Mama minta kamu jauhi perempuan itu!" titah Nyonya Ducan.
"Aku punya pilihan sendiri. Tolong Mama dan Papa berhenti menjodohkanku dengan siapapun. Apalagi Alexa. Dialah yang terlebih dahulu meninggalkanku. Aku tidak akan kembali padanya." Suara Evans meninggi.
"Kalau Kamu tidak suka Alexa. Tidak apa. Papa cari yang lebih baik untukmu. Atau kalau kamu memang tidak suka dijodohkan, pilihlah perempuan yang sesuai dengan keluarga kita. Jangan perempuan miskin!" jelas Tuan Ducan.
****
Flashback
Lisa sedang tersenyum melihat foto-foto yang kemarin dia terima dari orang suruhannya untuk menguntit Erika. Lalu ponselnya berbunyi.
drrrt drrtt drrrt drrrt
"Halo. Ada informasi lain?" tanya Lisa tak sabar.
"Ada, Nona. Ternyata lelaki yang bersama perempuan itu adalah kakaknya sendiri. Kakak kandungnya."
"Kakaknya Erika?" tanya Lisa tak percaya.
"Iya Nona. Dan Tuan Evans, kami sempat melihatnya menemui perempuan itu pada malam hari. Tuan Evans mengajak gadis itu jalan-jalan di hari Minggu."
"Maksudmu kencan? "
"Sepertinya iya, Nona."
"Ya sudah."
Lisa mematikan telepon.
"Sial! Padahal aku mau jadikan foto-foto ini sebagai alat. Tahu-tahunya lelaki itu kakak kandungnya. Kesal akhh!"
Lisa memicingkan mata sambil menggelengkan kepala dengan cepat. Tapi tak apa-apa juga. Kalau misalnya Evans masih belum tahu soal ini, setidaknya dia masih bisa menghancurkan kencan hari Minggu mereka. Walaupun hubungannya dengan Evans sudah tak ada harapan lagi tapi dia tidak suka kalau Evans bahagia dengan perempuan lain. Lisa tersenyum sinis. Dia langsung pergi menemui Nyonya Ducan. Mamanya Evans.
***
"Perempuan miskin dan sudah punya pacar? Tante tak akan biarkan Evans dekati perempuan yang seperti ini," ucap Nyonya Ducan.
"Ya begitulah Tante. Lisa gak sengaja lihat Erika lagi jalan sama cowoknya. Terus Lisa foto deh."
"Kamu sendiri kenapa bisa putus dari Evans? Tante heran deh lihat kalian."
"Hah? Kak Evans tak cerita ya sama Tante Ducan soal kenapa kami putus? Eum syukurlah. Malu banget rasanya kalau Tante Ducan tahu."
"Biasalah, Tante. Cuma salah paham saja kok," jawab Lisa singkat.
"Tante tidak paham keinginan Evans itu yang bagaimana. Kalau bisa luruskanlah segera kesalahpahaman itu. Tante senang kok lihat kamu dan orang tuamu," ucap Nyonya Ducan tersenyum.
"Iya Tante. Hehehe." Lisa tersenyum hambar. Walaupun ayahnya orang terpandang tetapi sesungguhnya orang tuanya sama sekali tak memedulikannya. Ibu kandungnya sudah meninggal dan ayah kandungnya sama sekali tak menganggapnya anak karena terpengaruh oleh ibu tirinya. Mereka hanya tampak harmonis dari luar saja. Bahkan Lisa sudah diusir dari rumah dan tinggal di apartemen.
Flashback off
Beberapa hari ini Erika rajin belajar makeup via internet. Tentu saja dia memakai uang kakaknya Danish untuk membeli beberapa alat makeup. Tampaknya Erika cukup berbakat dalam berdandan. Buktinya beberapa hari saja belajar sendiri, Erika sudah bisa tampil cantik dengan makeup tipis natural. Rambutnya dikuncir satu. Model menyamping ala korea. Dia memakai dress putih selutut, salah satu pakaian yang saat itu dibelinya bersama kakaknya di pasar. Pada kerah di bagian depan dan belakang sedikit menekuk sehingga menonjolkan leher jenjangnya yang indah.
Erika keluar kamar. "Kakak! Apa aku cantik?" tanya Erika tersenyum penuh semangat.
"Ya ampun, Erika. Kamu cantik banget." Tampak Danish terpukau sambil memegang kedua bahu adiknya. Erika tertawa kecil.
"Apa benar si Evans itu orangnya bagus?" tanya Ibu Wilma.
"Bagus, Bu. Di kampus banyak yang suka sama dia. Dia tampan dan punya mobil mewah. Kak Evans juga baik," jelas Erika polos, penuh semangat.
"Ya sudah, tapi nanti sore kamu harus sudah pulang," kata Ibu Wilma.
"Iya, Bu. Ngomong-ngomong Kak Danish mau ke mana? Kok pakai seragam kerja? Ini kan hari Minggu." Erika tampak bingung melihat kakaknya sudah siap-siap.
"Iya, Kakak diminta Pak Lim untuk masuk. Ada barang-barang yang datang," jawab Danish.
"Padahal nanti sore aku mau ajak Kak Evans ke rumah. Biar kalian kenalan Kak, Bu." Erika cemberut.
"Kalau sore Kakak sudah pulang kok," kata Danish.
"Oh baguslah. Hehe."
Drrrtt drrtt drrtt drrrtt
Ada panggilan telepon. Erika segara melihat layar ponselnya. "Aahh, Kak Evans." Cepat-cepat Erika mengangkatnya.
Klik
"Halo, Kak Evans."
"Halo, Erika. Aku sudah di depan gang."
"Oh oke Kak."
Bip bip bip.. Panggilan terputus. Evans mematikan panggilan.
Erika pamit dan segera pergi menuju depan gang. Di sana tampak Evans telah berdiri menunggu. Mengenakan kemeja putih pas ke tubuh dengan bagian lengan dilipat rapi dan celana denim berwarna indigo.
"Ya ampun, kami sama-sama pakai warna putih. Apakah kami akan berjodoh? Hehehe ada-ada saja aku ini." Erika menertawai pikirannya sendiri.
"Hai, Kak Evans," sapa Erika tersenyum manis. "Ini baju kakak. Sudah kucuci dan setrika." Erika memberikan paper bag berisi pakaian luar Evans.
"Iya. Masuklah," kata Evans memandang dengan dingin ke arah Erika, dia menerima paper bag itu sambil membuka pintu mobil. Setelah Erika masuk, dia menutupnya kembali. Lalu dia menyusul masuk ke dalam mobil.
Erika hendak memasang sabuk pengaman dengan kikuk. Evans pun langsung secara alami membantunya. Tangan Evans meraih sabuk di samping atas Erika dan entah kenapa wajah Evans tiba-tiba dekat sekali ke wajah Erika. Evans memang sengaja melakukannya. Tepat di situ Evans diam tak bergerak mengunci pandangannya pada Erika. Erika langsung kaku menahan nafas. Belum pernah sekalipun wajah seorang pria sedekat ini dengannya. Mata mereka beradu. Erika mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Nafas Evans berhembus pelan, terasa hangat di wajah Erika. Sekejap Erika cepat-cepat memalingkan wajahnya dengan kaku karena sangat gugup. Evans pun langsung segera memasang sabuk pengaman Erika. Memasang sabuknya sendiri dan mulai melajukan mobilnya. Jantung Erika berdebar-debar. Dia diam mematung karena merasa kaku.
Evans melirik pelan pada Erika.
"Hari ini dia cantik sekali. Sayang, tampangnya saja yang polos." Evans mengernyitkan dahi tanda tak suka.
Mereka masih diam satu sama lain.
"Eum canggung sekali jadinya. Kak Evans kok tampak beda ya sepertinya. Apa ada sesuatu?"
Erika mencoba memecah suasana. "Kak Evans kita mau jalan-jalan kemana?" tanya Erika kikuk.
"Bagaimana kalau kita nonton? Ada film bagus," usul Evans datar.
"Ah iya Kak, aku mau," jawab Erika bersemangat.
Evans sengaja memilih film romantis. Dia membeli makanan dan minuman dan setelah menunggu beberapa saat mereka langsung masuk ke gedung bioskop. Di tengah film, Evans pelan-pelan memegang punggung tangan Erika. Erika terkejut dan langsung melihat ke arah Evans. Tapi Evans malah fokus pada film. Erika pun membiarkan saja tangannya dipegang, walaupun sebenarnya jantungnya berdegup saat ini.
Beberapa waktu kemudian.
"Kenapa tangannya dingin sekali? Perasaan Ac nya tidak terlalu dingin. Apa dia sakit?" Evans melihat ke arah Erika yang diam kaku.
Evans mendekatkan wajahnya ke telinga Erika. Erika sedikit bergidik.
"Erika, tanganmu dingin sekali, apa kamu sakit?" bisik Evans serius. Erika menoleh menatap wajah Evans. Ya ampun, dekat sekali wajah Evans. Erika gugup sekali jadinya.
Erika sedikit menjauh. "Tidak kok, Kak," jawab Erika berbisik. Evans pun kembali ke posisi semula.
Sehabis nonton, mereka pergi ke salah satu kafe di dekat gedung bioskop tersebut.
Mereka makan siang di sana. Duduk berhadapan.
"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Evans santai sambil makan.
"Belum Kak," jawab Erika cepat.
"Kenapa belum?"
"Karna belum ada yang cocok Kak, hehe."
"Sudah berapa kali kamu kencan?" Evans menatap lekat-lekat wajah Erika.
"Eum. Ini. Ini pertama kalinya Kak, aku jalan sama cowok," jawab Erika menunduk malu sambil tersenyum kecil.
"Oh ya?" tanya Evans sedikit sinis. Erika sedikit bingung mendengar nada bicara Evans. Dia mengangkat wajahnya melihat ekspresi wajah Evans.
"Wah, aku tersanjung kalau begitu," ucap Evans kemudian sambil tersenyum untuk menutupi kejengkelannya karna dia tahu Erika berbohong. Sementara, Erika tersenyum tanpa tahu apa yang terjadi.
"Bagaimana kalau aku yang jadi pacarmu mulai sekarang?" tanya Evans cepat.
"Apa?" Erika terkejut betapa cepatnya laki-laki di hadapannya ini mengatakan hal itu.
****
Visual Evans
Beri like, vote dan hadiahnya ya 😣 Seikhlasnya aja.😉