Kevin Setiawan, 25 tahun, adalah seorang pengusaha muda kaya, yang kabur dari rumah karena menolak di jodohkan oleh orangtuanya.
Untuk menutupi identitasnya, dia tinggal di sebuah rumah kos dan bekerja sebagai pegawai minimarket.
Suatu malam dia menemukan seorang bayi tepat di depan pintu rumah kosnya, pertemuan dengan bayi perempuan itu membuat hidup Kevin berubah, dan kini dia menyandang status ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan
Kevin memencet sebuah nomor di ponselnya, lalu terdengarlah nada sambung dari seberang.
"Halo...."
"Halo Paul...ini gue Kevin...!"
"Broo!! you ganti nomor lagi?...please deh ah...aku capek di cecar terus sama Om Herry...pulang Vinn...!!" Seru Paul.
"Sorry Paul...kayaknya bakal lama disini, titip perusahaan ya...jangan lupa kasih bonus ke karyawan...jangan pelit-pelit, nanti you tulis laporannya, beberapa hari lagi aku hubungi...!"
"Vin...bilang dulu ke gue, lu ada dimana??"
"Sorry...aku nggak bisa kasih tau...tapi yang pasti aku aman...tolong jaga nyokap, bilang aku baik-baik aja...!"
"Vin..bokap lu udah kerahin anak buahnya buat nyari lu...sekarang udah mulai menyebar ke seluruh Indonesia..."
"Papa memang lebay!!" Cetus Kevin.
"Vin...kata si Lukman, di Surabaya ada orang yang mirip lu, karyawan minimarket, tapi duda satu anak, itu bukan lu kan Vin??"
"Ya bukanlah...ya kali...dah ah...tar ku hubungi lagi...!"
Kemudian Kevin mematikan ponselnya.
Meira nampak masih tertidur di dalam boxnya, pagi ini Meira tidak menangis, kemudian Kevin mengangkat Meira dan membaringkannya di tempat tidurnya.
"Mei kok diam saja...biasanya pagi-pagi sudah ngoceh...mana suaranya Mei...Daddy mau dengar..." Ucap Kevin.
Meira nampak lemah dan tidak bersuara, padahal semalam dia menangis keras sekali.
"Mei...kamu kenapa Mei...jangan buat Daddy cemas Mei...!"
Kemudian Kevin segera melepaskan popok Meira, alangkah terkejutnya Kevin saat melihat banyak cairan encer di dalam popok Meira yang penuh.
Kevin langsung mengganti popok Meira, dan tanpa menunggu lama dia segera berjalan cepat menuju rumah Pak Joko lagi, baru semalam padahal Kevin kerumah Pak Joko.
Kebetulan Bu Joko sedang ada di depan rumahnya sedang menyapu lantai teras.
"Lho...Mas Kevin ada apa? Kok panik keliatannya?" Tanya Bu Joko sambil meletakan sapunya.
"Bu...ini Meira sepertinya diare, dari semalam dia selalu muntah kalau di kasih susu...eeh...pagi-paginya langsung mencret-mencret..." Ungkap Kevin.
"Oalaa...ini sepertinya sudah dehidrasi Mas...cepat di bawa kerumah sakit saja ..!" Usul Bu Joko.
"Iya Bu...tapi rumah saya belum di kunci...pakaian kotor Meira juga belum di cuci..." Kevin nampak bingung.
"Ya ampun...kasihan amat sih Mas Kevin...ya sudah, nanti saya minta tolong orang untuk beresin rumah Mas Kevin...tenang Mas....di sini aman, dan saya juga akan langsung mengawasinya..." Tawar Bu Joko.
Tanpa berpikir panjang, Kevin langsung menganggukkan kepalanya.
"Trima kasih Bu..."
Tak lama, taksi yang di pesan Kevin sudah tiba di rumah Bu Joko, Tanpa menunggu lama Kevin segera naik ke dalam taksi sambil menggendong Meira.
Setelah sampai di rumah sakit, Kevin berlari menuju ruang UGD. Beberapa perawat dan seorang dokter mulai memeriksa kondisi Meira.
"Pak Kevin...sudah berapa lama Meira tidak minum susu?" Tanya Dokter.
"Sudah dari kemarin Dok...kalau di beri susu selalu dimuntahkan..."
"Berarti sudah sejak kemarin tidak ada asupan yang masuk ke tubuh Meira, sementara dia terus muntah dan sekarang mencret...!!" Dokter menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya Dok....semalam Meira demam dan sudah di beri obat..." Ujar Kevin.
"Maaf Pak Kevin...sepertinya anda tidak bisa merawat bayi..."
"Apa maksud dokter...??"
"Ada virus di dalam pencernaan Meira, sekarang dia malah dehidrasi...mau tidak mau, Meira harus di rawat di rumah sakit..." Jelas Dokter.
"Apa??"
"Iya Pak...karena kasus ini tidak bisa dianggap remeh, ini sangat membahayakan bayi anda yang masih rentan..."
Kevin langsung berlari masuk kedalam ruangan Meira, nampak perawat sedang memasang infus di tangan mungil Meira, bayi itu menangis.
"Mei...maafin Daddy Mei....maafin Daddy...Daddy salah Mei...maaf, Daddy tidak bisa jadi Daddy yang baik buat Meira....Daddy menyesal Mei...maafin Daddy...."
Kevin langsung menangis sambil memeluk tubuh mungil Meira. Baru kali ini Kevin menangis hanya karena seorang bayi. Hatinya begitu hancur melihat Meira yang menangis kesakitan karena harus terpaksa di infus.
Sebuah tangan lembut menepuk bahu Kevin. Kevin menengadah keatas, seorang perawat cantik tersenyum dengan sangat manis.
"Tania..!" Seru Kevin sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Jangan khawatir Kevin...Meira akan baik-baik saja..."
"Tania...aku sangat takut...belum pernah setakut ini sebelumnya..." Ucap Kevin. Tania hanya tersenyum.
"Itu namanya, kau sudah mulai sayang pada Meira, kau dan Meira ada ikatan batin...walaupun kalian tidak sedarah..." Jelas Tania.
"Tania...bisakah kau menemaniku di sini...aku butuh teman..." Pinta Kevin.
"Aku memang bekerja di sini Kevin...nanti jam 4 sore, baru aku akan pulang..."
"Maksudku...kau tetaplah disini menemaniku, jangan pulang..." Kata Kevin.
"Ya...ya...boleh nanti aku menemanimu sebentar..."
Tania mendekati Meira, tangan bayi itu bergerak-gerak, mungkin karena tidak nyaman terpasang selang infus.
"Meira sayang...cepat sembuh ya Nak...kasihan Daddy Meira...baru belajar merawat Meira, tapi Meira sudah sakit...tuh lihat Daddy sampai menangis..." Ucap Tania sambil mengecup pipi Meira.
Tiba-tiba perasaan Kevin menghangat, ada yang bergetar di sudut dadanya.
"Tania...kau cocok menjadi ibu...kau sangat lembut dan manis..." Puji Kevin. Wajah Tania memerah seketika.
"Ah...kau bisa saja..."
"Sungguh...bahkan aku berniat mencari ibu untuk Meira..." Sahut Kevin.
"Bukankah ibunya akan menjemputnya 5 tahun lagi?"
"Ya benar...tapi sebelum 5 tahun Meira kan juga butuh seorang ibu pengganti...aku rasa kau adalah orang yang tepat Tania..." Kevin menatap dalam wajah Tania yang kemerahan.
"Jangan terburu-buru... "
"Kenapa? Apa karena aku hanyalah seorang pegawai minimarket? Yang gajinya pas-pasan?" Tanya Kevin.
"Bukan...bukan seperti itu...aku hanya..." Tania menghentikan perkataannya.
"Taraaaa!!!"
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Yanti dan Joni sudah muncul dengan membawa banyak sekali bungkusan.
"Mbak Yanti? Joni? Kok kalian tau Meira di rawat di sini?" Tanya Kevin.
"Dari tetanggamu Vin...aku kerumahmu, rumahmu lagi di bersihkan sama ibu-ibu komplek...kau ini pintar sekali memanfaatkan ketampanan mu untuk menjerat ibu-ibu itu...!" Seru Joni.
"Lho...aku juga tidak tau kalau Bu Joko meminta ibu-ibu itu untuk membersihkan rumah...argh...sial! Rumahku sudah digerayangi ibu-ibu genit itu!!" Sungut Kevin.
"Kevin...aku keluar dulu, mau kontrol pasien yang lain..." Pamit Tania yang langsung pergi meninggalkan mereka, sekilas dia tersenyum kearah Yanti dan Joni.
"Mas Kevin...itu suster Tania kan yang sering lewat dan belanja di minimarket?" Tanya Yanti.
"Betul Mbak..." Jawab Kevin.
"Kau tampak makin akrab dengannya Vin, jangan katakan kau mulai menaruh hati padanya...nanti akan ada yang patah hati...!!" Cetus Joni. Yanti langsung melotot ke arah Joni.
"Uuwaaa....uuwwwaaa...." Meira mulai menangis. Buru-buru Kevin mengangkat bayinya dan memeluknya di dadanya.
"Uuuh....anak Daddy sudah bangun...lihat tuh siapa yang datang...Tante Yanti dan om Joni...mereka bawa apa ya..."
***********
Ayo guys....tetap setia membaca cerita ini...dan mohon dukungannya selalu...jangan lupa berlangganan ya...simpan cerita ini di dalam rak buku kalian...dan akan up setiap hari...
Trima kasih...🙏🤗✨