NovelToon NovelToon
Senandung Cinta Melodi

Senandung Cinta Melodi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Melodi Nada Asmara, seorang gadis dua puluh tahun yang sangat mencintai musik. Musik adalah napas bagi Melodi. Dunianya tak pernah sepi karena selalu ada melodi yang mengalun di dalam telinganya.

Berbeda dengan Abas Baskara, seorang pria misterius dan dingin, yang menganggap musik hanyalah suara berisik yang mengganggu ketenangan hidupnya.

Pertemuan Melodi dan Abas di tepi pantai di suatu senja, mengubah hidup mereka. Abas yang selalu menganggap musik itu berisik, ternyata menemukan ketenangan dalam setiap petikan gitar yang dimainkan Melodi. Melodi yang biasanya memainkan gitar dengan jiwa yang bebas, kini memahami bahwa setiap nada memiliki makna jika dimainkan untuk seseorang.

Bersama Melodi, Abas menemukan ketenangan yang selama ini dia cari. Bersama Abas, Melodi belajar, bahwa musik bukan sekadar kumpulan nada, melainkan bahasa yang mampu menyembuhkan luka hati.

Bagaimana kisah Melodi dan Abas? Simak dalam Senandung Cinta Melodi! 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Melodi

Abas melirik ponselnya yang sejak tadi berdering. Dia sengaja mengacuhkannya saat melihat nama kontak Bara terus meneleponnya. Abas sedang tak ingin menanggapi adiknya saat ini.

Panggilan telepon berhenti. Abas menghela napas panjang. Dia kembali mencoba fokus pada pekerjaannya. Beberapa detik kemudian ponsel Abas berdering. Bukan panggilan telepon, melainkan pesan singkat dari Bara.

Abas kembali melirik ponselnya. Adiknya yang usil itu terlihat melampirkan sebuah video pada pesannya. Abas mengerutkan kedua alisnya. Dia meraih ponselnya. Dibukanya pesan singkat dari Bara yang berisi sebuah video dengan caption.

Ternyata dia kuliah disini.

Alis Abas semakin mengerut saat membaca pesan singkat dari Bara.

"Dia?" gumam Abas.

Abas menekan tombol play pada video yang dilampirkan Bara. Mata Abas terpaku saat melihat siapa yang ada di dalam video itu.

"Saya akan bawakan satu lagu, ciptaan saya sendiri. Meskipun kayaknya nggak terlalu cocok dinyanyikan sekarang, tapi ini sebagai contoh Temen-temen semua, bahwa seni adalah bahasa universal. Kalian bisa menumpahkan emosi kalian lewat lukisan, pahatan, cerita bergambar, dan bahkan... musik,"

Lalu, intro lagu yang akhir-akhir ini mengisi pikirannya, terdengar. Abas menyandarkan punggungnya perlahan ke kursi kerjanya. Dia menonton gadis bergitar yang dia temui di pantai beberapa hari yang lalu dalam diam. Matanya tak bisa lepas dari layar ponselnya.

"Angin... Sampaikan padanya

hati ini kan ku jaga

dalam nada...

dalam diam..."

Tepuk tangan riuh dari dalam video menyadarkan Abas. Dia segera menutup ruang obrolannya dengan Bara dan kembali mempelajari dokumen di hadapannya.

Sedetik kemudian, mata Abas kembali melirik ke arah ponselnya. Bukan karena ada telepon ataupun pesan singkat, melainkan karena video yang baru saja ditontonnya.

Abas mengulurkan tangan hendak meraih ponselnya. Saat ujung jarinya akan menyentuh ponsel, Abas berhenti. Dia menatap ponselnya sesaat sebelum akhirnya mengambilnya lagi.

Abas kembali membuka ruang obrolannya bersama Bara. Dia menatap cukup lama pada tautan video yang Bara berikan. Ibu jarinya menggantung di atas tombol play selama beberapa detik sebelum akhirnya dia menekannya. Abas lalu meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Lagu Senja Dalam Diam mengalun dari ponselnya.

'Begini saja cukup,'

***

Siang harinya, di warung bakso Mang Asep...

"Tumben kamu nyanyiin lagu kamu sendiri?" tanya Panji pada Melodi sambil mengaduk-aduk baksonya.

"Request-an Lala," jawab Melodi.

"Biar dapet makan siang gratis dia," sahut Lala. Melodi terkekeh.

"Tahu aja," kata Melodi. Panji hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Melodi.

"Untung kan kamu nggak jadi pacaran sama Melodi?" tanya Lala pada Panji, membuat Panji hampir tersedak bakso yang sudah mulai dia kunyah. Melodi menatap Panji yang juga menatapnya.

"Masih kamu bahas aja, La," kata Melodi sambil mengalihkan pandangannya ke mangkuk mie-so di hadapannya.

"Tahu tuh," kata Panji lalu meminum es teh pesanannya. Lala tersenyum menggoda.

"Kenapa sih nggak kamu terima aja si Panji?" tanya Lala.

Kedua mata Melodi membulat. Lagi-lagi, Panji hampir tersedak. Kali ini gelas es teh yang sudah di ujung bibirnya seketika dia letakkan kembali ke meja. Melodi melirik ke arah Panji yang juga melirik ke arahnya.

"Kamu sengaja ya, La?" tanya Melodi, gemas. Lala menahan tawa.

"Lucu ngeliat kalian salting," kata Lala sambil tertawa.

"Sial!" umpat Panji lalu kembali memakan bakso.

"Eh, tapi, Pan, kamu nggak penasaran kenapa Melodi nggak nerima kamu? Padahal kalian tuh match banget," kata Lala. Panji melayangkan tatapan tajam ke arah Lala.

"Lama-lama aku suruh kamu bayar bakso sama es tehku sekalian," kata Panji, kesal. Melodi menahan tawa.

"Rasain!" kata Melodi.

"Yaelaaah... Kompak banget sih? Jadian aja gih!"

Melodi dan Panji saling tatap. Sedetik kemudian keduanya menunduk dan sibuk makan, menutupi salah tingkah yang kian terlihat. Lala tertawa, menikmati dua temannya yang bersikap canggung.

"Eh, La, anterin aku ke kos ya," pinta Melodi.

"Dih! Udah minta traktir, minta anter juga lagi. Ogah!" kata Lala.

"Please, La!" pinta Melodi sambil menangkupkan dua tangannya di depan wajahnyanya. Lala menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan makannya. Melodi mengerutkan bibirnya.

"Aku anter aja," kata Panji. Melodi menoleh ke arah Panji.

"Naaah. Tuh," kata Lala. Melodi menatap Lala.

"Sengaja ya?" tanya Melodi. Lala menaikkan kedua alisnya.

"Kos kamu sama kos Panji kan searah. Baru libur semester sebulan aja udah lupa aja," kata Lala.

"Iya, Mel. Bareng aku aja," kata Panji yang sudah selesai makan. Melodi menatap Lala yang mengangguk.

"Mmm... Nggak apa-apa nih?" tanya Melodi pada Panji, memastikan. Panji mengangguk mantap. Melodi menarik napas panjang, pasrah.

"Ya udah kalau gitu. Aku abisin mie-soku dulu," kata Melodi.

Sepuluh menit kemudian, Melodi, Lala, dan Panji sudah keluar dari warung bakso Mang Asep. Lala segera menaiki motornya dan berlalu, meninggalkan Melodi dan Panji.

"Ngacir aja tuh anak," komentar Melodi.

"Takut kamu keburu berubah pikiran," kata Panji sambil naik ke motornya. Melodi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil naik ke motor Panji.

"Tadi pagi dianter siapa?" tanya Panji saat motornya sudah melaju perlahan menyusuri jalanan sekitar kampus.

"Eh? Oh... Kenalan baru," kata Melodi. Panji mengerutkan kedua alisnya.

"Anak mana? Seni rupa? Desain?" tanya Panji penasaran. Melodi menaikkan satu alisnya. Dia lalu tersenyum.

"Anak kota," jawab Melodi.

"Eh?"

Panji menoleh sesaat karena kaget.

"Awas, depan," kata Melodi, membuat Panji kembali fokus.

"Anak kota? Gimana maksudnya?" tanya Panji. Melodi menaikkan kedua bahunya.

"Bukan anak kuliahan kayaknya. Dia abis liburan di pantai. Kebetulan lewat pas aku lagi nunggu bus di halte. Trus, dia nawarin tumpangan," kata Melodi santai. Panji menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bener-bener. Kamu ini..."

"Apa?"

"Off-guard banget," komentar Panji. Melodi hanya meringis.

"Gimana kalau cowok itu macem-macem ke kamu?" tanya Panji dengan nada khawatir.

"Eh? Aku tadi bilang ya yang nganter aku cowok?" tanya Melodi.

"Yaaa dilogika aja sih, Mel," jawab Panji. Melodi manggut-manggut.

"Lain kali waspada dikit, kenapa?" kata Panji, masih dengan nada khawatir.

"Ehee~ Abisnya, dia nggak keliatan kayak mau macem-macemin aku. Trus, bus juga nggak dateng-dateng. Tumben banget molor. Ya udah, daripada aku telat naik panggung," kata Melodi, membela diri.

Panji menghela napas panjang. Dia tahu Melodi memang seperti itu. Ramah dengan semua orang. Terlalu ramah bahkan. Mungkin itu salah satu daya tarik yang membuat banyak cowok tertarik padanya, termasuk Panji. Panji menatap wajah Melodi melalui kaca spion motornya. Senyum tipis terkembang di wajahnya.

'Melodi, Melodi. Entah kenapa kamu begitu spesial. Padahal, mungkin buatmu, apa yang kamu lakukan itu hal biasa,'

***

1
Ne Ajja
tanya langsung sama orangnya, Bas...
jangan bisanya nanya dalam hati mulu 🤭
Purnamanisa: kepo banget emang si Abas, tapi sok cool 🤣🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
ada yg panas tapi bukan kompor 😂
Purnamanisa: apa tuuuh 😅😅🤣🤣
total 1 replies
Ne Ajja
belokin dong, Bar...
dah tau kakamu itu lempeng aja orangnya...
sesekali bolehnya didorong, sampe nyungsep juga ngga pa2...🤣🤣
Purnamanisa: Kalo dibelokin langsung Abasnya ngambek, Kak... biarkan dia belok sendiri 😅😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ngga, Bas...
beneran yg kamu lihat itu, Aku. 🫣 🤭🤣
Purnamanisa: 😅😅
Melodi dimana2 🤣🤣
btw, video Senja Dalam Diam sudah ada di tiktok Purnamanisa ya, kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Suka sama lagunya.
Hafal bagian reffnya🤭
Purnamanisa: senjaaa... katakan padanya...🤭🤭
total 1 replies
Ne Ajja
"rasa" hadir tanpa butuh alasan...
eaaa....🤭
Purnamanisa: terimakasih kakaaak... biasanya kalo udah eps 20 keatas baru rame kak 😅😅 bantuin up dan share ya kalo menurut kakak ceritanya keren 🙏🙏 terimakasih udah selalu baca karya2 author 😊😊
total 3 replies
Ne Ajja
arahin, Mel 🤭
Purnamanisa: lupa ga bawa kompas, Kak 😅😅
total 1 replies
Ne Ajja
ohhh....astaga...
bener2 plot twist nya..

jangan sampe Alto yg disalahin ya atas berpalingnya Sabrina...
die aja ngga tau klo lagi disukai sama si Sab..
Purnamanisa: daripada nikah tapi kebayang2 cowok lain kan yaa 😅😅😅
total 3 replies
Ne Ajja
aku udah vote + gift...
moga bisa naikin pembacanya ya...
semangat Ka...💪💪
Ne Ajja: sami2 ka...
total 2 replies
Ne Ajja
👍👍👍👍👍
Ne Ajja: okeh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!