NovelToon NovelToon
VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

VAELMOOR: Yang Cukup Tidak Selalu Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:763
Nilai: 5
Nama Author: SilentNovels

Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 Yang Tersisa dari Jubah Abu

Fajar menyingsing di atas Hollowreach dengan warna yang salah. Bukan jingga hangat yang biasa menyapa desa-desa perbatasan, melainkan abu-abu pucat bercampur asap yang masih mengambang rendah di antara atap-atap yang runtuh sebagian, menempel di tenggorokan siapa pun yang menghirupnya terlalu dalam. Embun pagi yang seharusnya jatuh bersih di rerumputan kini bercampur jelaga, meninggalkan bintik-bintik hitam di setiap permukaan basah, di daun jendela, di pagar kayu, di kulit tangan siapa pun yang menyentuhnya.

Brann berjongkok di tanah becek dekat gerbang timur, sarung tangan kulit tebal membungkus jarinya, memisahkan lipatan jubah abu tua dari tubuh yang sudah kaku semalaman. Bau logam bercampur tanah basah menempel di lubang hidungnya, sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa ia biasakan meski sudah bertahun-tahun bekerja dengan bahan-bahan yang lebih buruk di ruang kerjanya sendiri. Ia menahan napas sesaat setiap kali harus membalik salah satu tubuh, menghitung dalam hati sampai tiga sebelum melepaskan napas kembali, kebiasaan kecil yang ia pelajari sendiri bertahun-tahun lalu untuk menahan mual.

"Berapa banyak yang sudah kau periksa?" tanya Tomas, berdiri beberapa langkah darinya, busur masih tersampir di punggung, matanya menyapu deretan tubuh yang dibaringkan berjajar di bawah pohon ek tua di pinggir jalan, kain-kain seadanya menutupi wajah masing-masing, disumbangkan penduduk desa yang lebih memilih tidak melihat lagi.

"Sembilan," kata Brann, tidak mengangkat kepala, jarinya masih menelusuri jahitan kerah jubah yang sedang ia periksa. "Semua sama. Tidak ada tanda pengenal pribadi. Tidak ada uang, tidak ada surat, tidak ada apa pun yang bisa memberi tahu kita nama mereka atau dari mana mereka berasal."

"Itu aneh."

"Sangat aneh." Brann akhirnya duduk tegak, meregangkan punggung yang mulai kaku, tulang belakangnya berbunyi pelan saat ia memutar bahu. "Perampok biasa membawa barang jarahan, uang receh, kadang surat cinta dari kekasih di rumah, sesuatu yang menunjukkan mereka masih punya kehidupan di luar apa yang sedang mereka lakukan. Orang-orang ini membawa senjata, ransum kering secukupnya, dan tidak lebih. Seolah mereka sengaja meninggalkan segala sesuatu yang bisa mengaitkan mereka pada dunia sebelum berangkat."

Ia mengangkat sepotong kain dari tumpukan di sampingnya, jubah abu tua yang sudah robek di beberapa tempat, bahannya kasar di ujung jari, ditenun rapat untuk menahan air tapi tidak untuk kenyamanan. Jahitannya rapi meski bahannya sengaja dibuat kusam, tanpa hiasan berlebihan yang bisa menarik perhatian, tanpa satu pun kancing berkilau atau bordir warna cerah yang biasa ditemukan pada jubah pemburu bebas kebanyakan.

Di bagian dalam kerah, tersembunyi dari pandangan luar, sebuah simbol kecil dijahit dengan benang gelap yang nyaris tidak terlihat kecuali diperiksa dari jarak dekat: sebuah lingkaran dengan tiga garis melengkung di dalamnya, membentuk pola yang tidak simetris, seolah sengaja dibuat asimetris.

Brann menyipitkan mata, memiringkan kain itu di bawah cahaya pagi yang mulai lebih terang, membawa kain itu lebih dekat ke wajahnya, hidungnya hampir menyentuh benang gelap itu.

"Tomas," katanya, suaranya berubah, kehilangan nada santai yang biasa menyertai rasa ingin tahunya. "Lihat ini."

Tomas mendekat, berjongkok di sisinya, lututnya menekan tanah lembap. Ia mengambil kain itu untuk melihat lebih dekat, jari-jarinya menelusuri jahitan simbol itu perlahan. "Lambang."

"Bukan lambang guild mana pun yang pernah kulihat," kata Brann. "Terlalu sederhana untuk lambang keluarga bangsawan. Terlalu spesifik untuk kebetulan."

Ia mengeluarkan buku catatan kecil dari kantong dalam jubahnya, sampulnya sudah lecek di ujung-ujung karena terlalu sering dibuka dan ditutup di tengah hujan, di tengah pertempuran, di tengah malam-malam penuh eksperimen yang gagal. Ia menyalin simbol itu dengan pensil arang, tangannya cepat tapi teliti, garis demi garis mengikuti lekukan asimetris itu sampai sketsanya cukup akurat untuk dibandingkan nanti, goresan pensil berbunyi pelan di atas kertas dalam kesunyian pagi yang hanya diselingi kicau burung yang perlahan mulai kembali, seolah tidak menyadari apa yang terjadi semalam.

"Kau pikir ini penting?" tanya Tomas, matanya masih menatap simbol itu, mencoba mengingat apakah ia pernah melihatnya di suatu tempat, di suatu pos pemeriksaan, di suatu peta lama.

"Aku pikir," kata Brann, menutup buku catatannya, mengencangkan tali kulit yang mengikatnya, "ini satu-satunya petunjuk nyata yang kita punya soal siapa sebenarnya orang-orang ini. Dan aku tidak suka betapa sedikitnya petunjuk itu."

...----------------...

Di dalam balai desa, cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela sempit, jatuh dalam garis-garis panjang di atas lantai kayu yang sudah tergores di sana sini oleh puluhan tahun pemakaian, debu melayang perlahan di dalam sinar itu, terlihat jelas dalam kesunyian ruangan. Petra duduk di dekat perapian yang sudah padam, selimut wol kasar tersampir di bahunya, teksturnya menggelitik kulit lehernya setiap kali ia bergerak, lengan kirinya masih dibalut rapat, tapi matanya yang menatap kosong ke arah abu dingin di perapian jauh lebih mengkhawatirkan daripada luka fisiknya.

Sister Yuna duduk di bangku seberangnya, tidak langsung berbicara, membiarkan keheningan mengisi ruangan lebih dulu, hanya derak kayu tua sesekali dan suara samar warga desa yang mulai membersihkan reruntuhan di luar, palu yang memukul paku, gesekan sapu lidi di atas tanah berdebu, seruan singkat seseorang meminta bantuan mengangkat balok kayu.

"Aku terus melihatnya," kata Petra akhirnya, suaranya kecil, jauh berbeda dari nada penuh semangat yang biasa menyertainya. "Wajahnya. Caranya tersenyum sebelum menyerang."

Yuna mengangguk pelan, tidak menyela, jemarinya terlipat rapi di pangkuannya.

"Aku pikir aku bisa menghentikannya," lanjut Petra. Jari-jarinya meremas ujung selimut, kain itu kusut dalam genggamannya, sendinya memutih menahan tekanan yang lebih besar dari yang dibutuhkan hanya untuk memegang kain. "Aku pikir kalau aku bisa mengalahkan pemimpin mereka, semuanya akan lebih mudah. Aku bahkan tidak sempat menyentuhnya."

"Kau masih hidup," kata Yuna.

"Karena Arden."

"Karena Arden," Yuna mengulangi, tidak membantah, "dan karena kau cukup kuat untuk bertahan sampai dia datang."

Petra mendongak, matanya basah tapi belum sepenuhnya jatuh, bibirnya bergetar sebelum ia menahannya dengan menggigitnya sekali. "Kalau aku tidak mengejarnya, dia tidak perlu terluka melindungiku. Kalau aku tidak mengejarnya, mungkin lebih sedikit rumah yang terbakar, karena Arden dan yang lain bisa fokus di tempat lain."

"Atau mungkin pemimpin mereka akan menemukan target lain," kata Yuna, "dan kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya mereka cari di sini."

Petra terdiam, kata-kata itu tidak sepenuhnya meredakan sesuatu yang berputar di dadanya, tapi cukup untuk membuatnya menghela napas panjang, bahunya turun beberapa senti, otot lehernya sedikit melonggar dari ketegangan yang sudah bertahan sejak semalam.

Yuna bergerak mendekat, duduk di sisinya, kayu bangku berderit pelan menahan beban keduanya, satu tangan terangkat menyentuh punggung tangan Petra yang masih meremas selimut, jemarinya hangat berbeda dengan udara pagi yang masih dingin di ruangan itu.

"Rasa bersalah yang kau rasakan sekarang," katanya, lembut, "tidak akan hilang hanya karena aku bilang kau tidak salah. Tapi kau tidak harus menanggungnya sendirian, dan kau tidak harus membuktikan apa pun malam ini, atau besok, atau kapan pun, untuk pantas berada di sini bersama kami."

Petra tidak menjawab segera, tapi tangannya berhenti meremas kain, jari-jarinya perlahan melemas satu per satu, dan untuk pertama kalinya sejak fajar, ia membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan mengalir turun, diam-diam, tanpa isak yang keras, hanya jejak basah di pipinya yang dihapus Yuna perlahan dengan ibu jarinya, gerakan yang lebih terasa seperti seorang kakak daripada seorang pendeta yang bertugas menyembuhkan.

Di luar jendela, seorang anak kecil tertawa sesaat, suara riang yang aneh terdengar di tengah reruntuhan, sebelum ditegur ibunya untuk kembali membantu membersihkan halaman.

...----------------...

Perjalanan kembali ke Aldenmere memakan waktu dua hari penuh, lebih lambat dari biasanya karena beberapa penduduk Hollowreach ikut serta, memilih mengungsi sementara ke kota sampai desa mereka benar-benar aman untuk ditinggali kembali. Gerobak-gerobak tambahan berderit sepanjang jalan, memuat apa saja yang masih bisa diselamatkan dari rumah-rumah yang terbakar, sebuah lemari kayu tanpa satu kaki, kandang ayam kosong, karung-karung gandum yang bau asapnya belum sepenuhnya hilang. Rombongan Jangkar Kelabu berjalan dengan formasi lebih longgar, kelelahan yang tidak sepenuhnya fisik membebani setiap langkah mereka, sepatu bot menyeret debu jalan yang mengering di bawah matahari siang yang terlalu terang untuk suasana hati siapa pun.

Ketika akhirnya gerbang Aldenmere terlihat di kejauhan, matahari sudah mulai turun, mewarnai langit dengan gradasi jingga yang familiar, kontras dari abu-abu pucat yang menyambut mereka di Hollowreach beberapa hari lalu. Bau roti panggang dari tungku-tungku kota, aroma yang begitu biasa hingga hampir tidak disadari, terasa asing sekarang, terlalu normal untuk telinga dan hidung yang baru saja terbiasa dengan bau asap dan darah.

Ness sudah menunggu di markas, seperti biasa, tapi kali ini raut wajahnya berubah drastis begitu melihat kondisi rombongan yang pulang, sebagian masih membawa perban, sebagian membawa wajah yang lebih tua dari usia sebenarnya.

"Aku dengar kabar dari pedagang yang lebih dulu sampai," katanya, suaranya cepat, tangannya sudah membuka buku catatannya sendiri sebelum semua orang bahkan sempat duduk, ujung jarinya menodai halaman dengan bekas tinta dari pena yang belum kering sepenuhnya. "Serangan besar. Desa terbakar sebagian."

"Berita bergerak cepat," kata Corym, lelah, menjatuhkan dirinya ke kursi terdekat, punggungnya membentur sandaran dengan suara berderak pelan.

Ness duduk di seberang meja panjang, menyusun kertas-kertasnya dengan gerakan yang lebih gugup dari biasanya, ujung-ujung kertas itu tidak sejajar seperti biasa, tanda ia sudah menyusunnya berulang kali sepanjang hari sambil menunggu. "Kontrak Hollowreach selesai, tapi klien sudah mendengar soal kerusakan yang terjadi. Mereka mempertanyakan apakah pembayaran penuh masih berlaku, mengingat sebagian barang dagangan rusak dalam kebakaran."

"Kita bisa membicarakan itu nanti," kata Arden, suaranya datar karena lelah, matanya setengah tertutup, sisa-sisa perjalanan dua hari masih menempel di kelopak matanya yang berat.

"Itu belum semuanya," lanjut Ness, tidak menyerah meski nada Arden jelas meminta jeda. "Dua kontrak kecil lain yang sudah kita sepakati minggu ini membatalkan diri begitu mendengar soal serangan Hollowreach. Mereka takut terlibat dengan sesuatu yang, kutipan langsung, 'lebih besar dari kemampuan kelompok kecil untuk ditangani.'"

Petra, yang duduk diam sejak masuk, mengangkat kepala mendengar itu, tapi tidak berkata apa-apa, hanya menatap ke arah lantai, jarinya kembali meremas ujung lengan bajunya sendiri.

"Aku tidak menyalahkan siapa pun," kata Ness, cepat, melihat ekspresi di sekitar meja, "aku hanya perlu kalian tahu situasinya, supaya kita bisa merencanakan langkah berikutnya dengan kepala dingin, bukan dengan kepanikan."

"Terima kasih, Ness," kata Arden. "Kita bicarakan semuanya besok. Malam ini, semua orang butuh istirahat."

Ness mengangguk, menutup buku catatannya dengan bunyi debam pelan, meski matanya masih menyimpan kekhawatiran yang belum sepenuhnya ia ucapkan, tangannya mengetuk sampul buku itu dua kali sebelum akhirnya berdiri dan membiarkan yang lain menuju kamar masing-masing.

...----------------...

Malam itu, ketika sebagian besar anggota sudah naik ke kamar masing-masing, Corym menemukan Arden masih duduk di ruang utama, tidak di kursi biasanya dekat perapian, melainkan di dekat jendela, menatap keluar ke arah gelapnya jalan Aldenmere yang sepi, satu tangan menopang dagu, sikunya bertumpu di ambang jendela.

"Kau seharusnya tidur," kata Corym, duduk di kursi seberangnya, kayu berderit pelan menahan beratnya.

"Aku tahu," kata Arden, tidak bergerak, matanya masih tertuju keluar.

Corym menunggu, tidak mendesak, membiarkan keheningan melakukan pekerjaannya seperti biasa di antara mereka berdua, jarinya mengetuk pelan di lengan kursi, sebuah kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang sejak masa muda mereka berlatih bersama.

"Kata-kata terakhirnya," kata Arden akhirnya, suaranya rendah, "terus terngiang di kepalaku."

"Lantai itu tidak akan diam selamanya," ulang Corym, pelan, kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan berat yang sama seperti saat pertama kali ia mendengarnya di gudang penyimpanan hasil panen.

Arden menoleh, sedikit terkejut mendengarnya diucapkan kembali dengan begitu tepat, alisnya sedikit terangkat.

"Aku juga mendengarnya," kata Corym. "Aku berdiri cukup dekat."

Arden menghela napas, tangannya bergerak ke dada, menyentuh bentuk liontin di balik bajunya, sebuah gerakan refleks yang sudah sangat familiar sekarang, meski kali ini ia tidak mengeluarkannya, hanya membiarkan telapak tangannya menekan kain di atasnya.

"Aku terus memikirkan Menara Verlanth," kata Arden. "Fragmen itu. Keruntuhan altar. Dan sekarang orang-orang ini, jauh dari sana, mengatakan hal yang sama, seolah mereka tahu sesuatu tentang apa yang terjadi di dalam sana."

"Kau pikir mereka berhubungan."

"Aku tidak tahu," kata Arden, dan untuk sekali ini, ketidaktahuan itu terdengar lebih berat daripada sekadar kata-kata biasa, suaranya turun hampir menjadi bisikan. "Tapi aku tidak percaya pada kebetulan sebesar ini, Corym. Bukan setelah semua yang terjadi minggu ini."

Corym menyandarkan punggungnya, matanya menatap langit-langit ruangan sejenak sebelum kembali ke Arden. "Kau belum menghadap Guildmaster."

"Aku tahu."

"Surat itu masih di kamar Ness, menunggu."

"Aku tahu, Corym." Suara Arden sedikit lebih tajam kali ini, cukup untuk membuat Corym mengangkat sebelah alis, tapi tidak mundur, tidak beranjak dari kursinya.

"Aku tidak menyalahkanmu," kata Corym, lebih lembut, nada suaranya melunak kembali. "Aku hanya bilang, mungkin sekarang saatnya kau berhenti menunda hal-hal yang seharusnya kau hadapi. Panggilan Guild. Ilena. Apa pun yang kau simpan di balik kerah bajumu itu."

Arden tidak menjawab segera. Matanya kembali ke jendela, ke bayangan kota yang tenang di luar sana, tenang dengan cara yang terasa rapuh sekarang, seolah ketenangan itu bisa pecah kapan saja seperti yang terjadi di Hollowreach.

"Besok," kata Arden akhirnya. "Aku akan menghadap Guildmaster besok. Aku janji."

Corym menatapnya lama, mencoba mengukur apakah janji ini akan bertahan lebih lama dari janji-janji sebelumnya, alisnya sedikit berkerut, tapi akhirnya hanya mengangguk, berdiri dari kursinya, sendi lututnya berbunyi pelan setelah duduk terlalu lama.

"Baiklah. Tidurlah, Arden. Kau terlihat seperti sudah tidak tidur sejak Hollowreach."

Arden tidak membantah itu, karena memang benar. Ia mendengar langkah Corym menjauh menuju tangga, satu per satu anak tangga berderit di bawah bobotnya, sampai akhirnya sunyi sepenuhnya menyelimuti ruang utama, hanya diselingi napasnya sendiri dan detak samar jam kayu tua di sudut ruangan.

...----------------...

Di ruang kerjanya sendiri, dikelilingi botol-botol kaca dan bau tajam bahan kimia yang sudah menjadi bagian dari udara di sekitarnya, campuran belerang dan sesuatu yang lebih manis, hampir seperti bunga yang membusuk, Brann duduk di bawah cahaya lentera tunggal, sketsa simbol dari kerah jubah abu itu terbentang di meja di hadapannya, di samping tumpukan buku tua yang sudah mulai menguning halamannya, sebagian sudutnya rapuh dan mudah patah kalau dibalik terlalu cepat.

Ia sudah membolak-balik tiga buku sejarah tanpa hasil, matanya lelah, kelopaknya berat dan sesekali berkedip lebih lama dari biasa, tapi rasa penasaran yang mendorongnya tetap terjaga meski jam sudah larut malam, meski lentera di mejanya sudah dua kali perlu ditambah minyaknya sejak ia mulai duduk di sana.

Buku keempat, sebuah catatan sejarah lama tentang bencana-bencana besar yang pernah tercatat di benua ini, sampulnya kulit gelap yang sudah retak di beberapa bagian, akhirnya memberikan sesuatu. Di antara halaman-halaman yang membahas berbagai insiden lama, kelaparan, wabah, perang perbatasan yang sudah lama dilupakan, ia menemukan sebuah ilustrasi kecil, digambar kasar oleh tangan penulis aslinya beratus tahun lalu, tintanya sudah memudar menjadi cokelat pucat, menggambarkan simbol yang nyaris identik dengan yang ada di tangannya sekarang: sebuah lingkaran dengan tiga garis melengkung asimetris di dalamnya.

Brann berhenti bernapas sejenak.

Ia meletakkan sketsanya sendiri berdampingan dengan ilustrasi tua itu, jarinya bergerak bolak-balik di antara keduanya, membandingkan setiap lekukan, setiap sudut, memastikan matanya tidak menipunya karena kelelahan, memastikan ini bukan sekadar kebetulan yang dibentuk oleh pikirannya yang terlalu lama bekerja tanpa istirahat.

Judul bab di atasnya tertulis dalam huruf tua yang sudah pudar sebagian, namun masih cukup jelas untuk dibaca di bawah cahaya lentera yang ia dekatkan lebih rapat ke halaman itu.

Keruntuhan Abu.

Brann duduk diam, matanya berpindah bolak-balik antara sketsanya sendiri dan ilustrasi lama itu sekali lagi, tangannya sedikit gemetar bukan karena dingin malam yang merembes lewat celah jendela ruang kerjanya, melayang seperti hantu tipis di antara botol-botol ramuannya.

Mereka identik.

Ia menutup buku itu perlahan, jarinya masih menahan halaman itu sesaat sebelum benar-benar melepaskannya, dan menatap ke arah pintu ruang kerjanya, mempertimbangkan apakah ia harus membangunkan seseorang malam ini juga, atau menunggu sampai pagi untuk menyampaikan apa yang baru saja ia temukan, sebuah nama yang belum pernah ia dengar diucapkan siapa pun di Jangkar Kelabu, tapi yang kini terasa seperti kunci dari segala sesuatu yang sudah terjadi sejak mereka melangkah masuk ke lantai menengah Menara Verlanth.

1
San Sensei
semangat ya kak 👍
SilentNovels: makasih ya
total 1 replies
the virtuso
saling support thor 👍
SilentNovels: siap Abang thor kuh
total 1 replies
Fleuriaa
walaupun karya novel nya cuma ada satu, tapi alur ceritanya berkualitas dan novel nya punya potensi asalkan konsisten
SilentNovels: wah, makasih banyak ya kak
total 1 replies
@.me.⭐🌟
oooh jadi ini yang di baca oleh @ .ar. world hmm cukup menarik juga tapi jangan terlalu kebanyakan tulisan katanya nantinya pembaca bisa kewalahan tapi gpp cerita mu sudah cukup bagus
SilentNovels: Makasih banyak masukannya 😄 Untuk chapter-chapter berikutnya bakal aku usahakan konsisten di 1.500–2.000 kata, biar tetap nyaman dibaca dan nggak bikin kewalahan. Senang juga kalau sejauh ini ceritanya cukup menarik buat kamu. Makasih sudah baca dan kasih pendapat!
total 1 replies
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus 👍 aku suka dan udah aku kasih like
SilentNovels: wah, ngk pp deh makasih ya
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!