Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Di sisi lain kota... Hari pertama Calista bekerja akhirnya tiba. Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, ia sudah berdiri di depan gedung PT Arga Pratama Group.
Seragam kerja yang dikenakannya masih baru. Kemeja putih sederhana dipadukan dengan rok hitam panjang dan hijab berwarna krem yang terpasang rapi.
Ia menatap gedung tinggi itu beberapa detik. "Ya Allah... semoga hari ini berjalan lancar."
Setelah mengucap basmalah, Calista melangkah masuk.
Di lobi perusahaan... Beberapa karyawan baru sudah berkumpul. Seorang staf HR bernama Rika membagikan kartu identitas sementara.
"Selamat pagi semuanya."
"Selamat pagi, Bu," jawab para peserta serempak.
Calista menerima kartu identitasnya dengan kedua tangan. "Terima kasih."
Senyumnya yang lembut membuat Rika ikut tersenyum.
"Selamat bergabung."
Di lantai paling atas... Arga sedang memeriksa laporan keuangan. Namun konsentrasinya buyar ketika Dimas masuk.
"Pak."
"Ya?"
"Seluruh karyawan baru sudah hadir."
Arga mengangguk. "Bagus."
Dimas tampak ragu. "Bapak... ingin melihat proses orientasi?"
Arga terdiam sesaat. Padahal biasanya... Ia tidak pernah tertarik menghadiri acara seperti itu. Namun entah mengapa... Bayangan wajah Calista kembali muncul di benaknya.
"Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan baik."
Dimas mengangguk pelan, meski dalam hati ia tahu alasan itu tidak sepenuhnya benar.
Di ruang orientasi...
Calista duduk di barisan kedua. Ia mendengarkan setiap penjelasan dengan penuh perhatian. Sesekali ia mencatat poin-poin penting di buku kecil yang dibawanya.
Tak jauh dari sana... Pintu ruangan terbuka.
Semua karyawan langsung berdiri.
"Selamat pagi, Pak Arga."
Arga membalas dengan anggukan singkat. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Namun hanya berhenti pada satu orang.
Calista.
Perempuan itu tampak serius memperhatikan materi tanpa menyadari dirinya sedang diperhatikan.
Arga tidak lama berada di sana. Ia hanya memberikan sambutan singkat.
"Selamat bergabung di PT Arga Pratama Group. Di perusahaan ini, saya tidak melihat siapa latar belakang kalian. Yang saya nilai hanya kemampuan, kejujuran, dan kemauan untuk berkembang. Saya harap kalian bekerja dengan sebaik-baiknya. Selamat bekerja."
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Sebelum keluar... Tatapan Arga kembali bertemu dengan mata Calista selama beberapa detik.
Calista segera menundukkan kepala dengan sopan.
Sedangkan Arga... Untuk pertama kalinya, ia merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Beberapa hari berlalu. Calista mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Ia datang paling pagi. Pulang sesuai jam kerja. Tak pernah mengeluh. Jika ada pekerjaan tambahan, ia mengerjakannya dengan teliti.
Keramahannya membuat banyak rekan kerja menyukainya.
"Calista."
"Iya, Kak?"
"Bisa bantu cek data ini?"
"Tentu."
"Tidak merepotkan?"
Calista tersenyum. "Tidak apa-apa."
Sikapnya yang rendah hati membuat suasana divisi administrasi menjadi lebih hangat.
Di ruang CEO...
Dimas kembali membawa laporan. "Pak."
"Hm?"
"Ini laporan evaluasi karyawan baru."
Arga membacanya sekilas. Matanya berhenti pada satu nama.
Calista.
Nilai disiplin: Sangat Baik.
Ketelitian: Sangat Baik.
Kecepatan belajar: Sangat Baik.
Kemampuan bekerja sama: Sangat Baik.
Di bagian bawah bahkan terdapat catatan dari supervisornya.
"Jarang menemukan karyawan baru yang seteliti ini."
Tanpa sadar... Sudut bibir Arga terangkat.
Dimas memperhatikan perubahan itu. "Pak..."
"Ya?"
"Sepertinya Bapak cukup memperhatikan Bu Calista."
Arga menutup map perlahan. "Aku memperhatikan semua karyawan."
Dimas tersenyum tipis. "Kalau begitu... kenapa nama beliau yang pertama kali Bapak cari?"
Arga terdiam. Ia sendiri tidak mampu menjawab. Dan itu membuat Dimas tersenyum.
Sore itu... Hujan turun cukup deras. Sebagian besar karyawan memilih menunggu hujan reda.
Calista berdiri di teras gedung sambil memeluk tasnya. Ia tidak membawa payung. Di saat itulah...
Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depannya. Kaca mobil perlahan turun.
Arga menatapnya dari balik kemudi. "Kamu masih menunggu?"
Calista sedikit terkejut. "Pak Arga..."
"Hujannya masih lama."
Calista tersenyum sopan. "Tidak apa-apa, Pak. Saya tunggu saja."
Arga memperhatikan hujan yang semakin lebat. "Lagipula jalan menuju halte cukup jauh."
Calista mengangguk kecil. "Iya, Pak."
Beberapa detik berlalu. Arga akhirnya berkata pelan, "Kalau kamu tidak keberatan... Saya bisa mengantarkan sampai tempat yang searah."
Calista langsung menggeleng halus. "Terima kasih banyak, Pak. Tapi saya tidak enak."
Arga tidak memaksa. Ia justru semakin kagum. Seandainya perempuan lain berada di posisi Calista, mungkin kesempatan itu sudah diterima tanpa berpikir panjang. Namun Calista berbeda. Ia menjaga batas. Ia menjaga sikap. Ia tidak memanfaatkan kedudukan atasannya.
Mobil itu akhirnya melaju perlahan meninggalkan halaman perusahaan.
Dari balik kaca spion... Arga masih sempat melihat Calista berdiri di bawah atap sambil tersenyum kecil kepada satpam yang meminjamkannya sebuah payung tua. Melihat senyum sederhana itu... Tanpa disadari Arga ikut tersenyum. Dalam hati ia mengakui sesuatu yang selama ini berusaha ia sangkal. Perasaannya kepada Calista bukan lagi sekadar rasa iba karena pertemuan mereka di trotoar. Ia mulai mengagumi keteguhan, kesederhanaan, dan ketulusan perempuan itu.
"Pak? Tidak mau putar balik?" Tanya Dimas yang sadar Arga masih menatap ke belakang.
Arga terdiam beberapa saat.
"Perjuangin pak, perempuan memang selalu begitu, menolak, tapi aslinya mau." Ujar Dimas lagi.
Arga menggelengkan kepalanya. Ia terlalu gengsi mengakuinya. "Tidak. Kamu sok tau banget."
"Maaf pak."
Namun, hati Arga terus berkecamuk, ia tidak bisa menghilangkan bayangan Calista. Bagaimana jika hujan tidak kunjung reda juga?
"Dimas! Putar balik!"
"A... Siap Pak!!" Ucap Dimas semangat.
*
Sementara itu... Di rumah keluarga Arganta... Malam kembali turun. Namun berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Danis sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Jam digital di samping ranjang menunjukkan pukul 01.47.
Ia masih duduk di tepi tempat tidur, kedua siku bertumpu di lutut, sementara kedua tangannya menutupi wajah.
Rasa sesak itu kembali datang. Bukan karena Sari. Nama perempuan itu bahkan nyaris tidak lagi muncul di kepalanya. Yang terus memenuhi pikirannya justru...
Calista.
Tanpa sadar, pandangannya beralih ke balkon. Beberapa pot tanaman kecil yang ditinggalkan Calista masih tersusun rapi. Daun-daunnya tampak sedikit layu.
Danis bangkit perlahan. Ia menghampiri salah satu pot bunga itu. Di sampingnya terdapat sebuah botol penyiram kecil.
Danis terdiam. Baru kali ini ia menyadari... Selama ini tanaman-tanaman itu selalu tampak segar. Tanpa pernah ia tahu siapa yang merawatnya.
Ia mengambil botol penyiram, lalu menuangkan air dengan gerakan canggung. Air justru tumpah hingga membasahi lantai.
Danis tersenyum pahit. "Bahkan menyiram bunga saja aku tidak bisa...." Kalimat itu terdengar lirih. Dadanya kembali terasa sesak.
Pagi harinya... Danis datang ke kantor lebih awal. Namun sejak rapat dimulai, pikirannya tidak berada di sana.
"Pak Danis?" Suara Faas membuyarkan lamunannya.
"Ya?"
"Proposal ini bagaimana?"
Danis menatap layar presentasi cukup lama. Beberapa detik kemudian... "Apa tadi?"
Seluruh peserta rapat saling berpandangan.
Faas menghela napas pelan. Baru kali ini ia melihat sahabatnya benar-benar kehilangan fokus.
Usai rapat... Faas mengikuti Danis hingga ke ruang kerjanya.
"Ada yang ingin aku tanyakan."
Danis melepaskan dasinya. "Tanya saja."
"Kamu masih memikirkan Sari?"
"Tidak."
"Lalu?"
Danis terdiam. Beberapa saat kemudian ia mengusap wajahnya kasar.
"Aku... terus mengingat Calista."
Faas tidak terkejut. Ia justru sudah menduganya. "Kamu rindu?"
Danis tidak langsung menjawab. Namun keheningan itu sudah menjadi jawaban.
"Aku bahkan tidak tahu dia tinggal di mana sekarang. Aku tidak tahu dia makan atau tidak. Aku tidak tahu dia baik-baik saja atau tidak." Suara Danis terdengar semakin pelan. "Aneh.... Dulu aku selalu berharap dia pergi. Sekarang... aku justru ingin melihatnya sekali saja."
Faas menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kamu mencintainya?"
Danis memejamkan mata. "Aku tidak tahu. Tapi rumah itu terasa kosong. Setiap bangun tidur aku mencarinya. Setiap makan aku mengingat masakannya. Setiap malam... aku berharap mendengar suaranya lagi."
Ruangan menjadi sunyi.
Faas akhirnya berkata, "Itu bukan sekadar rindu. Itu penyesalan."
Kalimat itu menghantam hati Danis. Ia mengembuskan napas panjang. "Aku harus menemukannya."
Siang itu... Tanpa membuang waktu, Danis memerintahkan sopir mengantarnya ke rumah lama Calista.
Mobil hitamnya berhenti di depan rumah sederhana milik almarhum ayah Calista. Pintu rumah tertutup rapat. Halaman tampak sepi.
Danis turun dari mobil. Ia mengetuk pintu beberapa kali.
Tok...
Tok...
Tok...
Tidak ada jawaban.
Seorang tetangga yang sedang menyapu halaman menoleh.
"Mau cari siapa, Nak?"
"Saya mencari Calista."
"Oh..."
"Calista sudah tidak tinggal di sini."
Jantung Danis berdegup lebih cepat. "Ibu tahu dia pindah ke mana?"
Wanita itu menggeleng. "Setelah ayahnya meninggal dan rumah ini dijual, dia jarang kelihatan. Kami juga tidak tahu sekarang tinggal di mana."
Danis menelan ludah. "Terima kasih, Bu."
Ia kembali masuk ke mobil. Namun mobil itu tidak langsung berjalan. Danis memejamkan mata.
Baru kali ini... Ia benar-benar menyadari. Perempuan yang dulu selalu ada ketika ia pulang... Kini benar-benar menghilang dari hidupnya. Dan ia bahkan tidak tahu harus mencarinya ke mana.