Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shen melin kembali ber ulah
Suasana ruang makan masih dipenuhi keheningan yang aneh. Di satu sisi, Shen Yuxin tersenyum cerah sambil menikmati sarapannya. Di sisi lain, Lu Zhichen dan Lin Xiaoran masih saling melempar tatapan tajam. Lin Xioran yang terus mengejek Zhichen dengan pandangan nya. Dan Lu Zhichen yang merasa Lin Xioran telah merebut istrinya.
Biasanya Sang Master dan Lin Xiaoran selalu akur karena mereka telah berteman sejak kecil. Namun, hari ini mereka bagaikan dua musuh yang sedang memperebutkan satu orang. Namun, bagi Shen Yuxin, tatapan itu justru terlihat sangat romantis.
"Aduh... mereka benar-benar tidak bisa saling melepaskan pandangan."
"Apa jangan-jangan Lu Zhichen sudah mulai jatuh cinta pada Lin Xioran?"
Gumam Shen Yuxin dalam hati.
"Ternyata cinta mereka secepat ini."
Mendengar gumaman pelan itu, kepala pelayan tua hampir menjatuhkan nampan yang ia pegang.
"Cinta...?"
Ia melirik Zhichen yang wajahnya sudah gelap seperti langit sebelum badai.
Lalu ia melihat Xiaoran yang penuh ejekan karena berhasil mendapatkan perhatian shen Yuxin. Kalau itu disebut cinta... Mungkin dunia memang sudah terbalik.
"Xiaoran, cepat duduk."
Yuxin menarik kursi di sampingnya. Xiaoran langsung duduk sambil tersenyum. Lalu ia melirik Lu Zhichen sejenak seolah sedang mengejeknya, seakan mengatakan bahwa Yuxin lebih memilih dirinya.
"Terima kasih."
Sedangkan Lu Zhichen Mendengus kesal. Karena kursi yang ditempati Xiaoran adalah kursi yang biasa ia gunakan. Zhichen memandang kepala pelayan.
"Pindahkan kursinya."
Kepala pelayan berkedip.
"Maaf, Tuan?"
"Pindahkan."
"Tapi..."
"Pindahkan."
Belum sempat kepala pelayan bergerak, Yuxin langsung menyela.
"Tidak usah."
Ia tersenyum manis.
"Biarkan Xiaoran duduk di sini."
Akhirnya, Xiaoran duduk di antara Yuxin dan Zhichen, menjadi penghalang alami di antara pasangan suami istri itu. Zhichen merasa sangat kesal. Sebaliknya, Xiaoran justru merasa baru saja mendapatkan mainan baru. Kapan lagi ia memiliki kesempatan membuat sang Raja Mafia kalang kabut seperti ini?
Han Mo yang berdiri di belakang sang Master diam-diam menghela napas.
"Selesai sudah..."
batinnya. Master pasti akan mencari pelampiasan lagi. Dan biasanya... Pelampiasan itu adalah dirinya. Atau Xio Bai.
Sarapan akhirnya dimulai. Yuxin dengan cekatan mengambilkan sandwich isi daging untuk Zhichen. Tak lupa secangkir kopi susu pekat dengan sedikit gula yang menjadi minuman kesukaannya.
"Suamiku, ini kesukaanmu."
Zhichen langsung tersenyum. Ia tidak menyangka Shen Yuxin mengingat semua makanan dan minuman favoritnya.
"Terima kasih, Sayang."
Belum sempat ia menyentuh sandwich itu...
Yuxin kembali mengambil beberapa Senwitd yang sama, dan menyodorkan nya di depan Lin Xioran.
"Xiaoran, kamu juga harus banyak makan."
Shen Yuxin sengaja menyuruh Xiaoran duduk di tengah-tengah dirinya dan Zhichen agar hubungan keduanya menjadi semakin dekat.
Senyum Zhichen perlahan menghilang lagi. Wajah nya menjadi kembali datar dan dingin. Seolah siap melenyapkan apapun.
*
*
Selesai sarapan, Yuxin segera berdiri.
"Ayo, Xiaoran! Kita berangkat!"
Xiaoran ikut berdiri.
"Baik."
Melihat kedua wanita itu hendak pergi, Zhichen ikut bangkit.
"Kalian mau ke mana? Biar aku antar."
Yuxin langsung menggeleng.
"Tidak usah."
"Tapi akan sangat berbahaya jika kalian keluar hanya berdua."
"Kau harus bekerja. Bukankah kau presiden direktur perusahaan itu? Kau harus memberikan contoh yang baik kepada semua karyawanmu."
Zhichen masih mencoba agar mereka berdua tidak semakin lengket.
"Kalau begitu, biarkan Han Mo mengantar kalian."
Han Mo yang sedang berdiri tegak langsung menoleh.
"Siap, Master."
Namun, Yuxin kembali menggeleng.
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
Yuxin tersenyum polos.
"Kalau Han Mo ikut denganku, siapa yang akan membantumu di perusahaan?"
"Kalau begitu biarkan Xio Bai yang mengantar kalian."
Shen Yuxin kembali menggeleng.
"Tidak perlu. Aku dan Xiaoran bisa menjaga diri kami sendiri dengan baik."
Xiaoran langsung merangkul pundak Yuxin sambil tersenyum lebar.
"Yuxin benar. Kita tidak butuh pengawal. Aku juga cukup mahir bela diri. Aku pasti bisa melindungi Yuxin."
Lu Zhichen langsung berdecak kesal melihat sikap Xiaoran. Namun, ia tidak bisa terus berdebat dengan istri kecilnya. Akhirnya, Zhichen mengalah dengan sangat terpaksa.
Setelah itu...
Yuxin dan Xiaoran akhirnya meninggalkan mansion. Mobil yang mereka tumpangi melaju menuju pusat perbelanjaan terbesar di Beijing. Begitu memasuki pusat perbelanjaan, mata Yuxin langsung berbinar.
"Wah... cantik sekali!"
Xiaoran tersenyum melihat tingkah Yuxin yang begitu antusias.
"Ayo. Hari ini kita belanja sepuasnya."
"Setuju!"
Keduanya mulai berkeliling dari satu toko ke toko lainnya. Tanpa mereka sadari... Beberapa pria berbadan besar dengan pakaian santai sedang mengikuti dari kejauhan. Mereka bukan orang biasa. Melainkan pengawal rahasia yang diperintahkan Lu Zhichen.
*
*
Di sisi lain... Sebuah mobil hitam juga berhenti tidak jauh dari pusat perbelanjaan. Pintu belakang terbuka. Seorang wanita tua turun dengan wajah penuh wibawa. Tatapan matanya dingin. Dialah Nyonya Besar Shen. Di sampingnya berdiri Shen Melin yang wajahnya masih dipenuhi amarah.
"Nenek!"
Shen Melin menunjuk ke arah pintu masuk mal.
"Kata pelayan keluarga Lu, Shen Yuxin berada di sini!"
"Dia yang mengusirku dengan kejam. Lihat, lututku sampai lecet seperti ini."
Keluh Shen Melin dengan nada manja. Sorot mata wanita tua itu langsung berubah tajam.
"Bagus."
"Hari ini juga aku akan menghukumnya, karena sudah mempermalukan dan menyakiti cucu kesayangan ku!"
Senyum licik perlahan muncul di bibir Shen Melin. Ia yakin kali ini Shen Yuxin pasti akan habis di marahi oleh sang nenek. Namun, Shen Melin sudah lupa, bahwa Shen Yuxin yang sekarang bukan lagi cucu penurut yang dulu.
*
*
Sementara itu, Yuxin sendiri masih sibuk memilih tas dengan wajah berseri-seri. Di kehidupan sebelumnya, saat masih menjadi Aurora, ia tidak pernah memiliki waktu hanya untuk sekadar berbelanja. Malam hari ia gunakan untuk memburu nyawa target-targetnya. Sedangkan siang hari ia habiskan untuk tidur sepanjang hari.
Apalagi kali ini ia bisa berbelanja tanpa perlu memikirkan batas kartu atau jumlah uang yang harus dikeluarkan. Dan yang paling penting... Ia tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Karena suami mafianya yang tampan, meski berwajah dingin dan datar telah menyediakan semuanya untuk dirinya. Betapa bodohnya Shen Yuxin yang asli. Menyia-nyiakan batu permata demi sebutir kerikil di pinggir jalan.
Hanya karena mengira orang yang menyelamatkannya dari kolam renang adalah Gu Yichen. Ia rela menjadi bodoh dan dijadikan pion oleh Gu Yichen dan Shen Melin. Sungguh sangat ironis.
Namun kini, tubuh itu telah menjadi miliknya. Tentu saja Aurora tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh siapa pun lagi. Dan tentu saja... Ia akan terus bertahan hidup untuk dirinya sendiri.
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁