NovelToon NovelToon
Karang Bolong Buana

Karang Bolong Buana

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KBB 10 Sahabat Cantik

10

Sahabat Cantik

“Azhmar, kenapa kau meninggalkanku?” tanya Purwasaga kepada gadis cantik yang kini menemaninya berbincang di pinggiran kolam kura-kura bercangkang merah terang.

Seusai makan besar, kaum lelaki saling menemukan rekan berbincang berdasarkan kebutuhan masing-masing. Acara ini bukan sekedar makan bersama belaka, tetapi menjadi momentum bagi setiap orang untuk mencari peluang kerja sama dalam usahanya di berbagai bidang. Karena mereka yang hadir dalam undangan adalah para pengusaha Negeri Elindra.

Kaum istri berbincang dengan sejenisnya sebagai nyonya pengusaha. Sedangkan kaum muda berbincang dengan kaum muda, seperti Purwasaga dengan Azhmar. Karena sebelumnya mereka kenal, jadi tidak ada orang yang layak diajak bicara oleh Purwasaga, kecuali Azhmar.

“Aku tidak meninggalkanmu. Aku menontonmu bertarung. Kau sangat lemah sehingga harus masuk ke Kamar Beku,” kata Azhmar.

“Berarti kau membiarkanku dinikahi oleh Lintha?” tukas Purwasaga.

“Apakah kau berharap aku yang menikahimu?” tanya balik Azhmar.

“Ti-tidak,” sanggah Purwasaga.

“Jika aku menikahimu, maka aku akan dianggap merencanakan pemberontakan dengan bantuan dari bangsa asing,” kata Azhmar. Lalu katanya lagi, “Lintha menyukaimu. Jelas aku tidak akan mempertahankanmu. Dengan kau dinikahi oleh Lintha, kau bisa terhindar dari penjara. Kau tidak sadarkan diri beberapa hari. Sedangkan masa Gelang Penanggung milik ayahku yang kau pakai telah berakhir. Jika kau tidak memiliki Gelang Penanggung, kau pasti akan ditangkap dan dipenjara lama.”

“Lalu bagaimana aku bisa pulang jika aku diikat oleh pernikahan?” tanya Purwasaga.

“Katakan saja kepada Lintha bahwa kau ingin pulang. Dia justru akan senang,” kata Azhmar.

“Apakah kau serius?”

“Kau pikir aku yang secantik ini memiliki tabiat berdusta?”

“Akan jadi sangat memalukan jika seorang gadis secantik kau sampai berdusta,” kata Purwasaga.

“Lintha lebih suka menikmati dan melepas, sehingga dia bisa mencari lelaki baru yang dia sukai,” kata Azhmar.

“Jangan-jangan aku bukan suami pertamanya?” tanya Purwasaga tiba-tiba dengan nada suara direndahkan. Ia tampak terkejut serius.

“Kau bisa menilai sendiri cara dia adu bawah denganmu,” jawab Azhmar tanpa sungkan.

“Ahhh!” erang Purwasaga sambil menepak wajahnya sendiri tanda betapa kecewanya dia.

“Kenapa suami baru Lintha ini, Azhmar?” tanya satu suara lelaki.

Seketika Purwasaga terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia segera melepas tangannya dari wajah dan melihat pemilik suara barusan.

Dilihatnya seorang pemuda tampan berpakaian warna perak dengan celana warna merah gelap yang gombrong, celana khas lelaki Negeri Elindra. Sabuk pakaiannya yang juga berwarna hitam memiliki asesoris emas yang membuatnya terlihat gagah dan mahal. Pemuda tampan berhindung mancung tersebut memiliki rambut berwarna biru gelap dengan jenggot tipis warna biru muda.

“Dia putus asa menghadapi adu bawah pertamanya dengan Lintha,” jawab Azhmar.

Terbeliak Purwasaga mendengar jawab Azhmar.

“Kenapa kau menjawab seperti itu, Azhmaaar?” tanya Purwasaga kesal, tetapi hanya di dalam hati. Sementara lidahnya bertanya lain, “Siapa dia, Azhmar?”

“Pangeran Bebalon,” jawab Azhmar.

Terbeliak sepasang mata Purwasaga mendengar nama yang membawa gelar tersebut.

“Sembah hormat hamba, Gusti Pangeran,” ucap Purwasaga dan buru-buru menjura hormat dengan membungkuk dan menunduk, seraya merapatkan kedua telapak tangannya di depan dahi.

Pemuda yang diperkenalkan sebagai Pangeran Bebalon itu hanya tersenyum dan mengangguk.

“Aku mengerti, aku mengerti. Pasti kau terkejut dengan kehebatan wanita Bangsa Penjaga Biru dalam urusan adu bawah. Hahaha!” kata Pangeran Bebalon. Lalu tanyanya, “Aku dengar-dengar dari Rungga Waka Wakar bahwa kau seorang pendekar. Apa kedudukanmu di negeri manusia?”

“Aku putra seorang demang, Gusti,” jawab Purwasaga.

“Sebut saja Pangeran,” kata Pangeran Bebalon. Dia lalu bertanya kepada Azhmar, “Apa itu demang?”

“Nama jabatan. Di negeri ini, demang sama dengan batabata,” jawab Azhmar.

“Oh, putra batabata,” ucap Pangeran sambil menarik wajahnya sedikit mundur, tanda mengerti. Lalu sang pangeran berkata kepada Purwasaga, “Purwasaga, kau seorang pendekar. Rasanya tidak pantas jika kau hanya diam menunggu di dalam kamar istrimu. Bagaimana jika kau aku ajak berburu? Noni Azhmar juga ikut.”

Purwasaga tidak langsung menjawab. Ia beralih memandang Azhmar.

“Kau mau melihat kehebatanku sebagai pemimpin pemberontak, Purwasaga?” tanya Azhmar.

“Tentu. Aku ikut,” jawab Purwasaga mantap.

“Hei, apa yang Pangeran Bebalon rencanakan bersama suamiku?” tanya seorang wanita muda berperawakan tinggi besar sambil berjalan ke arah mereka bertiga.

Ketika Purwasaga menengok, ia agak terkejut, seperti orang yang terpergok. Sementara Pangeran Bebalon hanya tersenyum di saat Azhmar tanpa reaksi.

“Aku mengajak suamimu berburu di Bukit Seratus Lubang,” jawab sang pangeran.

“Kapan?” tanya wanita cantik jelita berambut biru itu sambil berhenti berjalan dan merangkul bahu Purwasaga. Ia tidak lain adalah Lintha.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini Lintha tidak memaksa wajah suaminya menabrak dada besarnya yang sejajar.

“Pagi lusa kita berangkat. Berkumpul di rumahku,” jawab Pangeran Bebalon.

“Baguslah. Aku masih punya satu hari untuk menikmati adu bawah bersama suamiku,” kata Lintha seraya tersenyum kepada kedua tamunya.

“Kau yakin suamimu akan kuat?” tanya Azhmar yang tampaknya sudah akrab dengan Lintha.

“Hihihik!” tawa Lintha. “Kau tidak perlu khawatir, Azhmar. Aku punya Minyak Bayi Cantik.”

“Oooh!” desah Pangeran Bebalon. Sepertinya dia mengerti.

“Suamiku, apakah kau sudah memakai minyak itu?” tanya Lintha seraya menengok memandang wajah suaminya yang lebih rendah.

“Su-sudah,” jawab Purwasaga tergagap sedikit.

“Tapi….” Lintha menggeser pandangannya ke arah bawah, ia sampai agak memajukan kepalanya demi melihat jelas celana suaminya, tepatnya di bagian bawah perut.

Terbeliak panik Purwasaga melihat tingkah istri besarnya itu. Ia sangat tahu apa yang ingin dilihat oleh istrinya.

“Kenapa tidak ada penampakan?” tanya Lintha heran.

“Lintha, Pangeran, Azhmar, aku permisi. Perutku mendadak sakit, sepertinya ada makanan yang tidak cocok dengan perutku,” kata Purwasaga dengan raut mengerenyit bermain drama.

Buru-buru Purwasaga melepaskan diri dari rangkulan istrinya dan berbalik pergi meninggalkan ketiga orang itu.

Lintha hanya memandangi kepergian suaminya dengan wajah heran.

“Pangeran, bukankah kau pernah memakai Minyak Bayi Cantik?” terka Lintha.

“Pernah,” jawab Pangeran Bebalon.

“Jika suamiku memakainya setelah aku tinggalkan tadi, seharusnya celananya menonjol. Ada yang aneh,” kata Lintha.

“Sepertinya kau harus langsung memeriksanya, Lintha. Aku khawatir dia sengaja memotongnya. Hahaha!” kata Pangeran Bebalon, lalu tertawa agak keras.

“Aku baru tahu jika Pangeran pernah memakai minyak itu,” kata Azhmar.

“Sahabatku,” ucap Lintha sambil bergeser dan merangkul bahu Azhmar yang lebih kecil darinya.

Kedua wanita cantik itu sama-sama memandang Pangeran Bebalon. Lintha memandang dengan tersenyum, sedangkan Azhmar tidak ada ekspresi yang berubah.

“Ternyata kau tidak tahu bahwa Pangeran Bebalon pernah menjadi bayi penyumbat Selir Pupuzaza selama setahun,” kata Lintha.

“Oh, pantas kau menjadi pangeran yang terkucilkan,” komentar Azhmar.

Pangeran Bebalon hanya tersenyum.

“Suatu saat hariku akan tiba dan aku akan menjadi satu-satunya lelaki yang lebih kuat dari seluruh wanita Bangsa Penjaga Biru,” kata Pangeran Bebalon bercita-cita. “Tentu kalian bisa menduga-duga kenapa aku memilih untuk berburu di Bukit Seratus Lubang.”

“Kau mau memanfaatkan suamiku, Pangeran?” tukas Lintha.

“Apakah kau keberatan, Noni Lintha?” tanya Pangeran Bebalon dengan sebutan formal.

“Dengan syarat,” tegas Lintha dengan tatapan serius kepada pangeran tersebut.

“Katakan!” perintah Pangeran Bebalon.

“Aku ingin jadi selir,” ujar Lintha.

“Setuju!” ucap Pangeran Bebalon dengan cepat sepakat.

Azhmar hanya tersenyum kecil menyaksikan kesepakatan Pangeran dan Lintha. (RH)

1
rajes salam lubis
zonk udah kena suap,ciri khas warga +62
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
burung yang suka menggelitik sampai ketawa Kik Kik Kik 🤣🤣🤣😁😆
Om Rudi: burung apakah itu?
total 1 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
wahhhh kendaraan yang di pakai cukur , pakai rem cakram om 🫢😃
Om Rudi: kayaknya 🤭
total 1 replies
rajes salam lubis
pinisirin
rajes salam lubis
alamak
rajes salam lubis
gak perlu di jelaskan la om,buang buang tenaga..bukan buang hajat y!
Om Rudi: 🤣🤣🤣 biar jumlah katanya cepat terpenuhi
total 1 replies
rajes salam lubis
terong ungunya y terang om
Om Rudi: heheheheh
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
oseng kates wae om dr pada kol wes lah mboh om mumet aq enek rendang enek oon
hahhhh
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: iyo maosk zonk barang 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
gak handukan dulu om kan masih basah kuyup abis berenang 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: widihhhh 🤣🤣
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
terong dicabein maknyuzzz 🤤😂😂
Om Rudi: jiahahahah
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Selabak level berapa om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: pedes cukupan 😃😄
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
kalo pepatah negeri Konoha " walau bapak salah asal bahagia kita diam saja" 🤣🤣🤣😁😆🤪
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: ok gas polll mpe jeboll 😂😂😂
total 2 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
nama singa jantannya siapa om 🤔🤔😆
Om Rudi: aduh, lupa Om kasih nama
total 1 replies
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎
Ozeng Bazo lebih enak om 🤣🤣🤣😁
😎 ȥҽɳƙαɱʂιԃҽɾ 😎: minta tolong istri suruh masakin 😉
total 2 replies
ˢ⍣⃟ₛ🏡s⃝ᴿ 𝐚𝐧𝐭𝐢𝐞
Azhmar itu bangsa Demit om
Om Rudi: Om juga belum tahu🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
hatiku gak sedalam itu lho Om. cukup dengan menyentuh dadaku, pasti Om dapatkan hatiku 🙄😘🤣
Om Rudi: hihihihi 🤭🤭
total 1 replies
👣Sandaria🦋
ingat, Om. yg oon nya gak boleh nular ke authornya itu kan?😂
Om Rudi: kenapa?
total 1 replies
👣Sandaria🦋
asli ini pasangan kodok, Om🙄😂
Om Rudi: asli dong🤣🤣
total 1 replies
👣Sandaria🦋
anak didiknya Rajes Salam pasti🙄
👣Sandaria🦋
plus tali pengikat burungnya kemarin 🤣
Om Rudi: Om mah sudah lupa, Mak Imut mah ingat aja
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!