"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penthouse yang Sunyi
Senja tidak pernah menyetir se-ugalan ini seumur hidupnya. Menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang, dia membawa SUV hitam Arsen membelah malam menuju sebuah kompleks apartemen high-end di kawasan bisnis premium.
Sepanjang jalan, matanya terus melirik ke kursi sebelah. Arsen sudah memejamkan mata, kepalanya bersandar lemas di jok, dengan satu tangan masih menekan pinggangnya yang terus mengalirkan darah. Suara napasnya yang pendek dan berat adalah satu-satunya tanda kalau pria itu masih bertahan.
Begitu sampai di basemen privat apartemen tersebut, Senja buru-buru memapah tubuh kokoh Arsen masuk ke dalam lift khusus yang langsung menuju unit penthouse di lantai teratas. Badan Arsen bener-bener berat dan tinggi, membuat gaun satin hitam Senja ikut terkena noda darah dari kemeja sang bos.
Bip. Pintu unit terbuka setelah Senja menempelkan kartu akses yang tadi dia rogoh dari kantong celana Arsen.
Hal pertama yang tertangkap oleh mata Senja adalah kemewahan yang minimalis. Apartemen itu luas banget, dengan dinding kaca raksasa yang menampilkan city light Jakarta. Tapi, tempat ini kerasa sepi, dingin, dan minim pajangan foto—mirip kamar hotel bintang lima daripada sebuah rumah. Dan di atas meja konsol dekat pintu, Senja sempat melirik sebuah kotak penyimpanan jam tangan mewah, berdampingan dengan tiga buah ponsel satelit yang layarnya terus berkedip tanpa nama.
"P-Pak Arsen... kasurnya di mana?" tanya Senja dengan napas terengah-engah, menahan bobot tubuh Arsen yang makin merosot.
"Sofa... di depan aja," gumam Arsen lirih, suaranya nyaris habis.
Senja merebahkan tubuh Arsen di atas sofa kulit berukuran besar di ruang tengah. Tanpa membuang waktu, Senja langsung berlari mengambil kotak medis tebal yang tadi dia bawa dari mobil.
Saat Senja kembali ke sofa, Arsen sudah setengah sadar. Senja berlutut di lantai beton ekspos samping sofa. Tangannya yang gemetar bergerak membuka kancing tuxedo dan kemeja putih Arsen satu per satu hingga terbuka lebar.
Begitu kain kemeja itu tersingkap sepenuhnya, Senja refleks membekap mulutnya sendiri.
Dada dan perut kokoh Arsen dipenuhi keringat dingin bercampur darah yang mengalir deras dari luka robek di pinggang kirinya. Jahitan kemarin bener-bener lepas, membuat luka tusukan itu menganga kembali. Tapi yang bikin Senja makin merinding adalah... di sekitar dada dan pundak Arsen, ada beberapa bekas luka lama berbentuk bulatan kecil yang sudah mengering.
Senja tahu bentuk itu. Itu bekas luka tembak.
"Pak Arsen... lo beneran manusia jenis apa sih?" bisik Senja dengan suara bergetar hebat. Air matanya yang sejak tadi dia tahan akhirnya menetes juga ke pipinya. Dia takut setengah mati kalau Arsen bakal mati di tangannya malam ini.
Mendengar suara isakan pelan Senja, kelopak mata Arsen perlahan terbuka sedikit. Di tengah rasa sakit yang luar biasa mencabik tubuhnya, mata elang Arsen bergerak lambat, menatap wajah Senja yang dipenuhi air mata dan kepanikan.
Tangan Arsen yang besar dan dingin perlahan terangkat, lalu dengan sisa tenaga yang ada, jemarinya menyentuh dagu Senja, memaksa perempuan itu untuk menatap matanya.
"Jangan menangis, Senja..." bisik Arsen, suaranya sangat parau dan dalam. "Ambil obat bius cair... di botol kecil. Suntikkan di sekitar luka. Terus jahit lagi... kamu bisa, kan?"
"Gue bukan dokter, Arsen! Kalau salah gimana?!" seru Senja frustrasi, air matanya makin deras. Dia bener-bener panik.
"Kamu bisa. Saya percaya sama kamu," ucap Arsen lirih. Kata 'saya percaya sama kamu' keluar dengan begitu tulus dari mulut pria yang biasanya selalu meremehkan orang lain itu. Detek setelahnya, genggaman tangan Arsen di dagu Senja terlepas, dan pria itu jatuh pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah.
Senja mendadak merasa dunianya berhenti berputar. Tapi kalimat percaya dari Arsen barusan seolah menyuntikkan keberanian nekat ke otaknya.
"Oke, oke... demi bonus tahunan gue, lo gak boleh mati, tiran sialan," umpat Senja sambil menghapus air matanya kasar pakai lengan baju.
Dengan tangan yang dipaksa untuk stabil, Senja mengambil botol obat bius, mengisi alat suntik, dan menyuntikkannya di sekitar area luka Arsen seperti yang diinstruksikan. Setelah menunggu beberapa menit hingga obatnya bereaksi, Senja mengambil jarum medis dan benang khusus yang tersedia lengkap di kotak obat Arsen.
Senja menarik napas dalam-dalam, memposisikan tubuhnya condong di atas tubuh telanjang dada Arsen. Jarak mereka dekat banget, sampai Senja bisa merasakan embusan napas hangat Arsen yang lemah di kulit lehernya. Senja mulai menjahit luka itu dengan gerakan hati-hati, mengikuti bekas jahitan dokter sebelumnya. Setiap tusukan jarum bikin jantung Senja serasa mau copot, tapi dia terus bertahan sampai simpul terakhir selesai dibuat.
Satu jam kemudian.
Senja terduduk lemas di lantai, bersandar pada kaki sofa. Napasnya ngos-ngosan kayak abis maraton. Di atas sofa, luka di pinggang Arsen sudah terbalut perban bersih yang rapi, dan napas pria itu mulai terdengar lebih teratur dan tenang meskipun wajahnya masih pucat.
Senja menatap telapak tangannya yang ternoda darah Arsen, lalu beralih menatap wajah tampan bosnya yang sedang tertidur pulas tanpa daya di depannya. Malam ini, semua topeng Arsen Malik sebagai direktur agensi kreatif yang kaku sudah runtuh total di mata Senja.