Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10.
“Biasakan kalau bekerja itu cepat dan tepat waktu, jangan membuat orang lain menunggu," kata Haikal tanpa menoleh.
"Baik, Pak Haikal. Lain kali saya tidak akan mengulangi," sahut Salindra merasa tidak enak hati.
Perjalanan kurang lebih satu jam mobil sampai di depan perusahaan milik klien. Mereka bertiga turun berjalan masuk. Seorang Sekuriti memberi salam kepada mereka dengan hormat.
“Selamat pagi, Tuan-tuan dan Nona. ?" tanya Sekuriti dengan ramah.
“Selamat pagi juga, Pak?“ sahut Asisten Rayan mewakili bosnya.
Salindra memperhatikan pembicaraan mereka, dalam hatinya merasa haru sekaligus kagum cara orang kaya saling bertegur sapa, sedangkan selama yang ia tahu orang kaya selalu bersikap cuek. Ternyata dugaan itu tidak berlaku bagi sesama bisnis. Entah kejutan apalagi nanti yang akan ia temui.
“Kedatangan kalian sudah ditunggu di ruang meeting, silahkan!" jawab Sekuriti.
“Terimaksih, kami permisi dulu," Asisten Rayan berpamitan.
"Silahkan!" sahut Sekuriti dengan senyum ramah.
Mereka bertiga berjalan menuju lift naik ke lantai sepuluh, di mana letak ruang meeting berada. Salindra merasa degup jantungnya berpacu dengan cepat. Hari ini akan bertemu dengan para pebisnis terkenal di seluruh negeri. Semakin naik ke atas semakin kuat jantungnya bekerja, perasaannya semakin tidak menentu.
Saat pintu lift terbuka Salindra menarik napas dalam berusaha menetralkan degup jantungnya. Asisten Rayan melihat sikap Salindra, mengerutkan alisnya.
"Kamu pasti gugup, kan! Santai saja dan bersikaplah profesional jangan sampai mempermalukan bos Haikal," bisik Asisten Rayan di telinga Salindra.
Bulu kuduk Salindra berdiri ketika napas Asisten Rayan menyapu lehernya. Salindra mengangguk sambil menjauhkan wajahnya agar tidak bersentuhan dengan Asisten Raya. Mereka masuk ke dalam ruang meeting dan duduk di tempat yang sudah disediakan.
Pemilik perusahaan duduk di kursi tengah paling ujung, menatap semua klien yang hadir. Salindra terkejut ketika melihat salah satu klien, di seberang tak jauh dari tempat duduknya, seorang pria paruh baya duduk dengan santai sedang berbicara dengan klien di sebelahnya.
Beberapa klien melihat Salindra masuk merasa asing. Di antara mereka ada sepasang mata memperhatikan Salindra sampai di tempat duduk kemudian mengalihkan pandangannya dengan cuek, berpura-pura tidak melihat.
"Dunia ini terasa sempit sekali,“ gumam Salindra.
Asisten Rayan menoleh ke arah Salindra heran. Tangannya menyentuh kening Salindra sambil geleng-geleng kepala.
Salindra menjauhkan wajahnya menyibak tangan Asisten tidak terima. "Anda sedang apa?"
"Justru aku yang bertanya, apa kamu punya riwayat sesak napas?" tanya Asisten Rayan, pandangannya fokus pada pembahasan kerjasama.
“Saya tidak punya riwayat sesak napas, memangnya kenapa anda bertanya seperti itu?" tanya Salindra merasa tidak nyaman.
"Kamu tadi bilang kalau dunia itu sempit, mungkin kamu butuh jalan-jalan biar napasmu segar kembali," sahut Asisten Rayan dengan suara lirih.
"Ehem,"
Salindra dan Asisten Rayan menoleh ke arah Haikal bos mereka, langsung diam dan fokus dengan meeting.
"Bagaimana Tuan Haikal, apakah anda setuju dengan ide dari Pak Yuda?" tanya Hardinata selaku pemilik perusahan.
“ Saya ikut suara terbanyak," jawab Haikal.
Salindra merasa kagum dengan Haikal sikapnya yang profesional dan bijak saat mengemukakan pendapat.
“Bagaiamana dengan yang lain?" tanya Hardinata kepada klien lainnya.
"Bolehkah saya mengajukan pertanyaan?“ Salindra mengangkat tangan.
Semua mata mengarah kepada Salindra. Haikal terkejut melihat keberanian Salindra, mengerutkan keningnya begitu juga dengan Asistennya yang di sebelah Salindra.
“Salindra, apa kamu yakin bisa meyakinkan mereka?" bisik Asisten Rayan.
Salindra menyenggol lengan Asisten sambil tersenyum malu. Ia sendiri belum tahu apakah akan diterima idenya untuk itu akan mencobanya siapa tahu berguna. Dari awal mendengar pembahasan tentang pekerjaan mereka, Salindra mempunyai ide menolak mengenai salah satu produk.
“Silahkan, Nona,“ ucap Hardinata.
“Perkenalkan, nama saya Salindra, selaku sekretaris dari Pak Haikal...“
Salindra mengemukakan pendapatnya mengenai beberapa produk yang tidak sesuai dengan nilai standar karena produk tersebut tidak ada bahan yang menjamin nilai kualitas dan kenyamanan, sangat di sayangkan jika seseorang mengalami infeksi atau mengalami trauma menggunakan produk tersebut sehingga produk tersebut tidak laku di pasar internasional.
Sebenarnya masih banyak pembahasan lainnya yang Salindra sampaikan tapi akan memakan waktu sangat lama, sehingga ia hanya menambahkan beberapa point saja.
Mendengar pendapat Salindra Hardinata dan beberapa klien saling berunding dan menentukan keputusan, cukup lama mereka menentukan keputusan karena produk itu sudah ada yang di seberkan di daerah tertentu, dan mereka ingin mengetahui hasilnya beberapa hari ke depan. Jika berhasil dan lebih cocok maka, akan dilanjutkan.
Setelah menimbang perkataan Salindra semua bersepakat bahwa akan menambahkan beberapa bahan yang sesuai dengan jenis dan warna kulit, juga akan memberi sedikit bahan alami untuk menjaga keseimbangan sehingga akan tercipta produk yang berkualitas tinggi.
“Terimakasih atas kesepakatan bersama, keputusan hasil akhir, kami setuju dengan pendapat, Nona Salindra. Dan segera kami akan menganalisis kembali produk tersebut dan segera aman meluncurkan produk tersebut,“ ucap Hardinata.
Semua klien bertepuk tangan sebagai bentuk persetujuan, sepasang mata menatap kagum sekaligus penasaran dengan Salindra. Pria itu memperhatikan Salindra tanpa sepengetahuan Salindra. Meeting selesai semua klien pulang ke perusahaan masing-masing.
Haikal mengajak pergi makan siang Asisten dan Sekertarisnya di restauran. Mereka memesan ruang VIP. Salindra lagi-lagi dibuat kagum dengan restauran mewah tersebut. Pandangannya menyapu seluruh ruangan bergaya klasik dan terasa seperti jaman dahulu.
Asisten Rayan menepuk bahu Salindra. “Ketahuan baru pertama kali masuk restauran mewah, ya?“ Asisten Rayan melihat arah pandang Salindra nampak mengagumi restauran tersebut.
Salindra mengangguk sambil berjalan masuk ke dalam ruang VIP dan mereka duduk dengan nyaman. Beberapa menit kemudian datang pelayan membawa beberapa makanan pembuka sambil memberikan buku menu kepada mereka kemudian meninggalkan ruang tersebut.
Mereka bertiga menyantap hidangan pembuka, Salindra melihat hidangan tersebut merasa aneh tapi cocok di lidahnya membuatnya senang. Dua pria di samping Salindra menatap sambil tersenyum tipis. “Lucu sekali, dia," batin mereka berdua.
“Kamu mau pesan apa?" Haikal bertanya kepada Salindra.
Asisten Rayan melihat Haikal berdecak. "Saya tidak ditanya, Pak!"
Haikal menoleh Asistennya heran. "Kamu pesan sendiri saja kenapa tanya aku,"
"Sekarang ada Salindra, saya dicuekin, baiklah saya akan memesan sendiri," Asisten segera memesan melalui alat yang sudah tersedia.
Salindra merasa sungkan melihat Asisten Rayan diperlakukan tidak adil terhadap Haikal, membuatnya tidak nyaman.
“Salindra, kamu sudah memilih menu segera memberitahu pelayan tidak usah menunggu saya,“ perintah Haikal sambil memesan pesanannya.
Akhirnya Salindra memilih menu sesuai seleranya dan memesan melalui alat tersebut. Beberapa menit kemudian pelayan datang membawa hidangan pesanan mereka dan melegakan di atas meja.
Melihat hidangan membuat lidah Salindra tidak sabar ingin segera melahapnya. Dari dulu ia ingin sekali makan makanan seperti ini tapi belum kesampaian dan baru sekarang ia memakannya bersama bosnya dan Asisten Rayan.
Meskipun tidak bersama keluarganya, tapi ia merasa seperti mempunyai keluarga membuat suasana hati Salindra merasa haru.
“Salindra,“ panggil Haikal melihat Salindra diam saja.
Salindra terkejut dan segera mengambil air minum lalu meneguknya sedikit. "Iya, Pak. Ada apa?"
“Kamu melamun atau tidak suka dengan makanannya?" tanya Haikal sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
“Tidak kok, saya suka dan akan memakannya," Salindra langsung mengambil makanan dan memasukkan ke dalam mulut dengan cepat.