Mahesa Bhumi Arka Denta Sikumbang Seorang pengusaha dan pengacara terkenal.Di malam hari dia menjadi Vigilante untuk membalaskan dendam kematian keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Impian Di Lereng Singgalang Bagian 2
Lereng Bukit Singgalang Pos Satu, Tahun 2009
Setiap hari, begitu bel sekolah berhenti berbunyi dan tas buku yang masih terasa berat tergantung di punggung, ketiga anak itu sudah tahu apa yang menanti. Latihan dimulai tepat sepulang mereka dari Sekolah Dasar sampai usia mereka menginjak empat belas tahun, saat matahari sudah condong ke tengah siang, menyinari lereng Bukit Singgalang dengan terik yang seolah ingin memanggang kulit. Udara terasa panas dan kering, debu beterbangan setiap kali melangkah, dan angin yang berhembus pun terasa hangat membakar tenggorokan. Perut baru saja terisi nasi dan lauk setelah makan siang, pikiran masih lelah mencerna pelajaran hitungan dan huruf, tapi mereka tetap harus melangkahkan kaki menuju jalur tanjakan yang sudah menjadi tempat ujian mereka sehari-hari.
Berbulan-bulan lamanya rutinitas ini berjalan. Awalnya, hanya lari naik turun dari Pos Satu sampai ke puncak, lalu kembali lagi, diulang sampai lima kali putaran dalam satu hari. Rasanya seperti disuruh memanjat dinding yang tidak punya ujung. Napas terengah-engah bagaikan kuda yang baru dipacu jauh, dada terasa sesak seolah diikat tali rafia, dan kaki terasa berat seolah diikatkan batu kilangan besar. Sampai-sampai Erwin pernah mengeluh dalam hati, apakah Bapak sengaja memilih jalan paling curam di seluruh Bukit Singgalang hanya untuk membuat mereka menderita.
Namun seiring waktu, tubuh mereka perlahan beradaptasi. Apa yang dulu terasa mustahil, kini mulai terasa seperti rutinitas biasa. Napas yang dulu terputus-putus dan ngos-ngosan, kini mengalir lebih teratur meski di bawah terik matahari. Langkah yang dulu sering tergelincir dan goyah di tanah berbatu, kini melangkah lebih mantap dan ringan. Sampai suatu siang, ketika Arlan Rasyad Sikumbang memerintahkan mereka naik turun bukit itu sebanyak lima kali berturut-turut tanpa jeda panjang, tidak ada lagi keluhan yang keluar dari mulut mereka. Meskipun keringat membasahi seluruh badan dan pakaian ganti sudah basah kuyup, mereka melakukannya dengan kepala terangkat, merasa bangga seolah sudah menjadi pendekar cilik yang tak terkalahkan.
Tapi bagi Arlan, itu baru permulaan. Ia adalah ayah sekaligus guru yang paham betul: kekuatan yang hanya muncul saat kondisi enak dan segar, belumlah cukup untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Saat ketiga anak itu baru saja sampai di pos istirahat dan mencoba mengatur napas yang masih memburu, ia berdiri tegak di hadapan mereka dengan wajah tenang, seolah baru saja punya ide baru yang “menyenangkan”.
“Cukuik sampai disinan se.(Cukup sampai di sini)?” tanyanya dengan nada datar, seolah apa yang baru mereka capai hanyalah hal sepele.
"Kok lah maraso cukuik, siap-siap lah. Kini turun baliak ka dasar, lalu naik sakali lai ka lereng ko. Tapi kini, pakailah ko.(Kalau sudah merasa cukup, bersiaplah. Sekarang turun lagi ke dasar, lalu naik sekali lagi ke lereng ini. Tapi kali ini, pakailah ini).”
Dari balik punggungnya, Arlan mengeluarkan sepasang terompah kayu yang tebal, keras, dan terlihat berat. Terbuat dari kayu pilihan yang tidak mudah lapuk, alasnya kasar, tidak rata, dan jauh dari rasa empuk seperti alas kaki biasa. Begitu melihat benda itu, wajah ketiga anak itu langsung berubah — persis seperti murid yang baru mendengar ada ujian tambahan di hari terakhir sekolah.
*"Adoeh Apo Lai(Wah, ini apa lagi)?” gumam Bhumi pelan, matanya melotot melihat terompah itu.
Tanpa banyak bicara, mereka pun mengenakannya. Begitu telapak kaki menyentuh permukaan kayu yang kaku itu, rasanya langsung terasa aneh dan menyiksa. Setiap kali melangkah, alas kayu itu menghantam tanah berbatu dan akar pohon, menimbulkan getaran yang menjalar hingga ke tulang kering. Ditambah lagi panasnya tanah yang terbakar matahari merembes naik lewat kayu itu, membuat setiap hentakan terasa seperti menginjak loyang yang masih panas.
Di antara ketiganya, Erwin Rasyad adalah yang paling cepat meluapkan rasa kesalnya. Sebagai anak sulung, ia sudah berusaha sabar, tapi kali ini rasanya sudah di luar batas wajar. Ia baru saja menghabiskan tenaga untuk belajar, lalu dipacu lari naik turun bukit, dan sekarang harus melangkah memakai alas kaki yang terasa seperti dipukul-pukul kakinya sendiri setiap langkah. Ia berhenti sejenak, lalu menghentakkan kakinya dengan keras ke tanah hingga terdengar bunyi dug! dug! yang nyaring, persis seperti anak kecil yang sedang ngambek tidak diberi jajanan kesukaan.
Ia menoleh ke arah ayahnya dengan wajah memerah, napasnya memburu, lalu berteriak dengan suara lantang setengah marah dan setengah mengeluh.
"Bapak!, Iko rancanonyo amuah mambunuah kito tigo pelan-pelan, atau latihan Silek Minangkabau?! Katonyo amuah manampo jadi pendekar, tapi rasonyo labiah sarupo disikso hari-hari! Ambo baru pulang sakola, paruik masih raso kanyang, dan tenaga se indak puliah sempurna! Kalau macam ko taruih, nanti indak jadi jago silek, tapi jadi urang nan jalan sambil pincang salamo-lamonyo(Bapak!,Ini rencananya mau bunuh kita bertiga pelan-pelan apa latihan Silek Minangkabau?! Katanya mau menempa jadi pendekar, tapi rasanya lebih seperti disiksa berhari-hari! Kami baru pulang sekolah, perut masih terasa kenyang dan tenaga saja belum pulih sempurna! Kalau begini terus, nanti bukan jadi jago silat, tapi jadi orang yang jalan sambil pincang selamanya)!”
Namun reaksi Arlan justru membuat Erwin makin bingung dan kesal. Sang ayah tidak marah, tidak juga memarahi dengan keras. Ia hanya berdiri diam dengan wajah tenang, bahkan di sudut bibirnya terukir senyum tipis yang terasa mengganggu, seolah sedang menonton pertunjukan lucu di siang hari.
"Kok muluik masih kuek mangarau macam tu, bararti tenagamu masih banyak siso(Kalau mulut masih kuat berteriak begitu, berarti tenagamu masih banyak sisa).” jawab Arlan santai sambil mengangguk pelan.
"Jalan taruih. Nanti baru mangarati guno nyo (Jalan terus. Nanti baru mengerti gunanya).”
Mendengar jawaban itu, Erwin hanya bisa mendengus panjang, memutar bola mata setinggi mungkin, lalu menggeram pelan dalam hati. Ia tahu betul watak ayahnya: semakin mengeluh, semakin berat tantangan yang akan diberikan. Sambil mengusap keringat yang membanjiri dahi, ia kembali melangkah, meski setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kerikil panas. Di belakangnya, Bhumi dan Bayu hanya bisa saling pandang dengan wajah lelah dan pasrah, lalu mengikuti jejak kakak mereka.
Perjalanan naik kali ini terasa sangat panjang dan menyiksa, tapi juga penuh pemandangan yang konyol. Terompah kayu membuat keseimbangan tubuh sulit dijaga, memaksa mereka mengerahkan tenaga ekstra hanya untuk tetap berdiri tegak. Panas matahari terasa semakin menyengat, membuat napas yang tadinya sudah teratur kembali menjadi pendek dan cepat. Erwin melangkah sambil mulutnya komat-kamit sendiri, sesekali masih menggerutu soal terompah kayu yang rasanya makin berat saja.
Ketika akhirnya bayangan titik tujuan di lereng gunung mulai terlihat, tenaga mereka sudah tinggal sedikit sekali. Erwin adalah yang pertama tiba. Begitu kakinya menginjak tanah yang lebih datar, rasanya seolah ada tali yang menahan tubuhnya tadi tiba-tiba dipotong. Lututnya langsung lemas tanpa peringatan, tubuhnya terhuyung ke belakang, lalu plop! ia ambruk begitu saja ke atas tanah dan rumput tanpa sempat mencari tumpuan apa pun. Ia tergeletak telentang, kedua tangan terentang lebar, dadanya naik turun dengan cepat, napasnya terengah-engah keras sekali seolah ingin menghirup seluruh udara yang ada di sekitarnya.
"Hah… hah… hah… rasonyo sadonyo tulang di badan amuah lacop(Hah… hah… hah… rasanya semua tulang di badan mau lepas)…” keluhnya dengan suara tersengal, matanya terpejam rapat, tidak sanggup mengangkat kepala.
Tidak lama kemudian tibalah Bhumi. Ia sudah terlihat terhuyung-huyung sejak jarak sepuluh langkah lagi. Begitu sampai di tempat itu, kakinya terasa gemetar hebat dan hampir tidak sanggup berdiri. Daripada ambruk jatuh seperti kakaknya, ia langsung bergerak cepat meraih batang pohon terdekat, lalu memeluknya erat-erat seolah itu adalah penyelamat satu-satunya. Tapi baru saja badannya menempel di pohon, perutnya yang terasa berputar karena panas, lelah, dan guncangan perjalanan itu tak bisa ditahan lagi. Wajahnya langsung memucat, matanya terbelalak, dan dalam sekejap ia langsung membungkuk lalu muntah-muntah dengan hebat sampai rasanya seluruh isi makan siang yang baru saja masuk tadi seolah ingin keluar semua.
Ia terbatuk-batuk keras, air matanya menetes bukan karena sedih tapi karena desakan di perut, sambil tetap memegang batang pohon agar tidak roboh. Setelah agak lega, ia mengeluh dengan suara parau.
"Ya ampuun… rasonyo paruik amuah tabaliak… syukuah ado pohon ko, kalau indak ambo lah ikuik tagolek jo muntah di tanah sarupo karuang bocor(Ya ampun… rasanya perut mau terbalik… syukur ada pohon ini, kalau tidak saya sudah ikut tergeletak dan muntah di tanah seperti karung bocor)…”
Yang paling mengundang tawa sekaligus rasa iba adalah kedatangan Bayu. Ia tertinggal cukup jauh, dan saat terlihat, pemandangannya sungguh konyol dan pas sekali. Kakinya sudah tidak sanggup lagi menahan beban tubuh, terasa lemas dan gemetar hebat sampai tidak bisa melangkah tegak sedikit pun. Kedua tangannya pun ikut gemetar menahan rasa lelah yang luar biasa. Akhirnya, karena tak sanggup lagi memakainya, ia melepas terompah kayu itu dari kakinya — tapi tidak ditinggalkan begitu saja. Ia malah memasukkan dan menggenggam kedua terompah kayu itu erat-erat di kedua tangannya, seolah itu adalah barang pusaka berharga yang tidak boleh hilang walau satu inci pun.
Dengan posisi itu, ia tidak bisa lagi berjalan, jadi ia pun merangkak naik seperti bayi yang baru belajar bergerak maju, tangan dan lututnya bergesekan dengan tanah yang masih hangat. Wajahnya kotor terkena debu dan keringat, napasnya terengah-engah sampai terdengar dari kejauhan, tapi ia terus berusaha maju perlahan-lahan meski seluruh tubuhnya terasa bergetar.
Begitu sampai di dekat mereka, ia langsung terkapar terlentang di samping Erwin, terompah kayu masih tergenggam erat di kedua tangannya. Mulutnya terbuka lebar, dadanya naik turun cepat, dan suaranya terdengar parau.
"Iko… iko labiah barek dari pado disuruah mampikia tigo karuang bareh sakali gus… rasonyo tangan jo kaki amuah copot sadonyo… tapi tarompa ko indak buliah tatinggaan, kan Paman suruok pakai.(Ini… ini lebih berat daripada disuruh angkat tiga karung beras sekaligus… rasanya tangan dan kaki mau copot semua… tapi terompah ini tidak boleh ketinggalan, kan Paman suruh pakai)…”
Melihat pemandangan yang konyol tapi menyentuh hati itu — Erwin tergeletak lemas, Bhumi masih memegang pohon sambil terbatuk setelah muntah, dan Bayu terkapar sambil menggenggam terompah hasil merangkak — Arlan Rasyad Sikumbang akhirnya berjalan mendekat dengan senyum yang lebar dan tulus, bukan lagi senyum mengejek. Ia berjongkok di hadapan mereka, lalu berbicara dengan nada lembut namun tegas.
“Tahu indak angku, kok ambo buek latihan sabarek ko sampai raso manyikso(Tahu kenapa Bapak buat latihan seberat ini sampai terasa menyiksa)?” tanyanya sambil menatap satu per satu wajah mereka.
"Indak untuak manyakik an, tapi untuak mangaja'an ciek hal nan pantiang: kakuatan sasungguahnyo indak hanyo kaliatan katiko badan sagar, paruik kanyang, jo cuaco sadonyo. Kakuatan nan sabananyo baru tauji katiko kalian lah lelah, lapa, kapanehan, dan tenaga lah hampir habih — tapi masih ado kahandak untuak malangkah maju saketek lai(Bukan untuk menyakiti, tapi untuk mengajari satu hal penting: kekuatan sejati bukan hanya terlihat saat tubuh segar, perut kenyang, dan cuaca sejuk. Kekuatan yang sesungguhnya baru teruji saat kalian sedang lelah, lapar, kepanasan, dan tenaga sudah hampir habis — tapi masih punya keinginan untuk melangkah maju sedikit lagi).”
Ia menunjuk terompah kayu yang masih digenggam Bayu.
"Alaik ko malatiah kaseimbangan jo katahanan tapak kaki angku supayo nanti dapek baridiri kokoh di medan apo sajo. Kalau hari ko Erwin dapek sampai walaupun lansuang ambruk, Bhumi dapek batahan baganggam pohon walaupun paruiknyo mambarontak, dan Bayu dapek mangarangkak sampai akhia sambil tetap manjago parintah — itu lah labiah dari cukuik. Lamo-kelamoan, apo nan raso barek hari ko akan raso ringan. Itulah jalan Silek Minangkabau: kareh di awa, panuah kariangik jo pangorbanan, tapi malahian katangguhan nan indak akan mudah goyah saumua iduik(Alat ini melatih keseimbangan dan ketahanan telapak kakimu agar nanti bisa berdiri kokoh di medan apa pun. Kalau hari ini Erwin bisa sampai meski langsung ambruk, Bhumi bisa bertahan berpegangan pohon meski perutnya memberontak, dan Bayu bisa merangkak sampai akhir sambil tetap menjaga perintah — itu sudah lebih dari cukup. Lama-kelamaan, apa yang terasa berat hari ini akan terasa ringan. Itulah jalan Silek Minangkabau: keras di awal, penuh keringat dan pengorbanan, tapi melahirkan ketangguhan yang tak akan mudah goyah seumur hidup).”
Mendengar penjelasan itu, meski tubuh masih terasa lemas, perih, dan perut masih terasa tidak enak, hati ketiga anak itu perlahan merasa lebih tenang. Mereka mulai sadar, setiap tetes keringat dan rasa lelah hari ini adalah bekal yang tak ternilai untuk menjadi pendekar yang sesungguhnya nanti.