Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Mulut Gede Dalem Lembek
Sekitar satu jam perjalanan, mobil mereka akhirnya masuk ke satu kawasan elit yang sepi, gedung-gedungnya besar, tinggi, mewah banget, terlihat tertib dan aman banget. Mobil berhenti mulus di depan satu gedung besar yang terlihat gagah dan berwibawa banget, di sana udah banyak mobil mewah lain terparkir rapi, nunjukin kalau tempat ini emang tempat orang-orang berkuasa dan penting berkumpul.
Faris langsung buka pintu duluan, dia turun dengan santai, natap sekelilingnya dengan mata jelalatan, ngamatin setiap sudut, setiap orang yang ada di sana, gayanya tetep santai tapi matanya tajam banget kayak elang, nggak ada satu hal pun yang lewat dari pengamatannya. Tangan kanannya dia masukin ke saku celana, sebenernya dia udah megang bungkus rokok Gajah Barunya di dalem sana, udah gatal banget pengen nyalain lagi, tapi dia tahan karena tau ini tempat resmi dan penting, dia nggak mau kelihatan sembarangan banget di depan orang banyak.
Viona turun diikuti sama Faris, mereka jalan masuk ke dalem gedung itu. Pas masuk, suasananya dingin, hening, berwibawa banget, banyak orang pake baju rapi dan mahal ngobrol santai, tapi tatapan mereka semuanya tajam dan penuh perhitungan. Semua orang yang lewat natap Viona dengan pandangan yang beda-beda, ada yang hormat, ada yang senyum ramah, ada yang dingin, ada yang natap sinis sama benci banget, bener-bener suasana yang penuh intrik dan kepura-puraan.
Faris tetep jalan di belakang sebelah kiri Viona, posisi yang paling aman buat ngelindungin, mukanya tetep datar, santai, senyum-senyum dikit natap orang-orang yang natap dia dengan pandangan heran karena penampilan sama gayanya yang beda banget sama orang-orang penting yang ada di sini. Baju jasnya emang rapi, tapi cara dia jalan, cara dia natap, cara dia berdiri, semuanya kelihatan santai, luwes, nggak kaku sama sekali, bener-bener gaya sengklek yang asli, beda banget sama orang-orang kaku yang ada di sana.
Mereka masuk ke satu ruangan besar di bagian paling dalam gedung itu, di sana udah ada beberapa orang tua dan orang berwibawa duduk melingkar menunggu kedatangan Viona. Pas Viona masuk, mereka semua natap ke arah pintu, mukanya ada yang senyum ramah, ada yang datar, ada yang kelihatan marah sama nggak suka banget.
"Selamat siang semuanya, maaf saya agak terlambat sedikit," sapa Viona sopan, dia duduk di kursi yang udah disediain buat dia, Faris langsung berdiri tegak di belakang kursi itu, tangannya dia rapat di depan perut, mukanya tetep santai, matanya jelalatan ngamatin semua orang yang ada di ruangan itu satu per satu, nyatet muka mereka, gerak-gerik mereka, nada bicara mereka, semuanya dia simpan baik-baik di dalem ingatannya.
Obrolan pun dimulai, topiknya langsung masuk ke urusan perusahaan, keuangan, kerja sama, sama masalah-masalah yang lagi dihadapi Adhitama Corp. Suasana ruangan itu makin lama makin panas, makin tegang, makin berisik, banyak tuduhan, banyak pertanyaan tajam, banyak omongan yang menyudutkan Viona, semuanya diarahkan buat menekan Viona biar dia nyerah dan mau ngeluarin diri dari kepemimpinan perusahaan itu. Viona jawab sebisa mungkin dengan tenang dan tegas, tapi kelihatan banget dia kesulitan dan makin terdesak karena dia sendirian ngadepin mereka semua yang kelihatannya udah sepakat buat menjatuhkan dia.
Faris yang dari tadi diem dan cuma dengerin aja, makin lama makin ngerasa nggak sreg banget. Dia denger omongan mereka yang berbelit-belit, yang kelihatan bener sebenernya salah, yang kelihatan adil sebenernya curang, semuanya dia dengerin baik-baik. Tiba-tiba ada salah satu orang tua yang kelihatan paling berkuasa di sana ngomong kasar sama nada tinggi ke arah Viona, malah natap Viona dengan pandangan jijik dan merendahkan, seolah Viona itu anak kecil yang nggak ngerti apa-apa dan cuma numpang hidup di atas harta peninggalan bapaknya.
"Cukup! Kalau kamu emang nggak sanggup jalanin perusahaan ini dengan bener, lebih baik kamu mundur aja, serahin ke kami yang udah berpengalaman bertahun-tahun! Kamu itu cuma anak manja yang baru belajar jadi pemimpin, mana ngerti urusan rumit begini hah?!" bentak orang itu keras banget, mukanya merah padam menahan emosi.
Viona diem, matanya berkaca-kaca nahan marah dan sakit hati, dia mau jawab tapi lidahnya rasanya kaku, dia sendirian dikelilingi orang-orang yang sebenernya musuh dia sendiri.
Faris yang dari tadi udah nahan emosi, tiba-tiba maju selangkah ke depan, mukanya yang tadi santai banget langsung berubah jadi dingin dan tajam banget, matanya menatap tajam ke arah orang tua itu, bikin orang itu kaget dan langsung diem natap Faris yang tiba-tiba berani gerak dan ngomong.
"Wih Pak, santai dong, suaranya jangan gede-gede banget kayak penjual ikan di pasar, kaget lho dengerinnya. Maaf ya Pak, saya cuma pengawal biasa, nggak ngerti urusan perusahaan ribet begini, tapi yang saya tau itu Ibu Bos saya ini kerja keras banget, siang malem mikirin nasib perusahaan sama nasib pegawai-pegawainya. Kalau Bapak bilang dia anak manja yang nggak ngerti apa-apa, terus apa dong kami-kami ini yang kerja ngikutin perintah dia? Berarti kami ini lebih bodoh lagi dong dari anak manja? Wah kasian banget kami dong kalau gitu," kata Faris santai banget, nada bicaranya enak tapi nyelekit banget, senyum sengkleknya tetep nggak ilang dari bibirnya.
Semua orang di ruangan itu langsung diem serentak, natap Faris dengan pandangan kaget dan nggak percaya banget, nggak ada yang nyangka pengawal biasa berani ngomong balik dan nyela omongan orang sepuh yang dihormati itu dengan nada santai dan tajam sekaligus. Viona sendiri sampe melongo natap Faris, dia juga nggak nyangka Faris bakal bertindak begini, dia sempet takut kalau Faris malah bikin keadaan makin parah dan makin runyam.
Orang tua itu makin merah mukanya, dia ngerasa dipermalukan sama anak muda yang dia anggap remeh itu.
"Kamu siapa hah?! Berani-beraninya kamu nyela omongan saya?! Ini urusan orang gede, urusan pemilik perusahaan, bukan urusan pengawal rendahan kayak kamu! Minggir sana sebelum saya suruh orang usir kamu keluar!" bentak orang itu lagi makin keras.
Faris malah makin senyum lebar, dia garuk kepalanya santai, terus dia maju lagi selangkah, natap orang itu dengan pandangan yang nggak kalah tajam dan menantang, gayanya tetep santai banget kayak lagi ngomong sama temen seumuran.
"Memang saya cuma pengawal Pak, rendahan juga bener, nggak punya harta, nggak punya jabatan, nggak punya kekuasaan kayak Bapak-bapak sekalian. Tapi satu hal yang harus Bapak tau: saya dibayar buat ngelindungin Ibu Bos saya, ngelindungin dia dari bahaya, ngelindungin dia dari orang jahat, ngelindungin dia dari orang yang mau nyakitin hati atau harga dirinya. Jadi kalau ada siapa aja, mau orang gede, mau orang tua, mau pejabat sekalipun, yang berani nyakitin, menghina, atau menekan Ibu Bos saya sembarangan di sini, maaf ya Pak, saya bakal jadi musuhnya, saya bakal ngelawan sekuat tenaga saya, mau saya menang atau kalah, itu urusan belakangan, yang penting saya udah lakuin tugas saya dengan bener dan jujur," jawab Faris santai banget tapi tegas banget, bikin bulu kuduk yang denger rasanya merinding dan percaya banget sama omongannya.
Suasana ruangan itu jadi hening total, sunyi banget, nggak ada suara apa-apa lagi. Omongan Faris yang sederhana, santai, tapi tegas dan berani banget itu ngena banget ke hati semua orang yang ada di sana, bikin mereka sadar dan malu sendiri. Mereka yang udah tua, udah berkuasa, udah berpengalaman, malah bergerombol menekan satu orang wanita muda sendirian, sementara anak muda yang cuma pengawal aja berani berdiri dan membela tuannya dengan tulus dan berani.
Orang tua itu diem kaku, dia natap Faris lama banget, natap ketegasan dan keberanian yang terpancar jelas dari wajah santai Faris itu, lama-kelamaan kemarahan dia perlahan ilang, diganti rasa hormat dan rasa kagum yang terpaksa dia terima. Dia sadar dia udah kalah, bukan karena kekuasaan atau uang, tapi karena kebenaran dan keberanian yang jauh lebih kuat daripada apa yang dia punya.
"Baiklah... maaf kalau omongan saya tadi terlalu kasar dan berlebihan," ujar orang itu akhirnya dengan nada yang jauh lebih rendah dan tenang, dia natap Viona dengan pandangan menyesal. "Kamu punya orang yang hebat dan setia di sisimu Viona, itu harta yang jauh lebih berharga daripada uang atau aset apa pun yang perusahaan ini punya. Mungkin memang saya yang salah menilai kamu dan menilai situasi ini."
Pertemuan itu akhirnya dilanjutkan dengan suasana yang jauh lebih tenang, lebih adil, dan lebih sopan, mereka semua mulai dengerin penjelasan Viona dengan baik dan terbuka, mulai ngomongin solusi yang bener dan adil buat masalah yang ada.