NovelToon NovelToon
Di Pacarin Brondong Kaya

Di Pacarin Brondong Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dya Veel

Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Supermarket

Kayla mendorong troli belanjanya melewati sepanjang rak-rak yang ia lalui. Ia mengambil beberapa snack serta bumbu makanan.

Gadis itu berbalik dan melewati rak makanan di seberang, ini adalah rak favoritnya. Baru saja Kayla ingin mengambil susu vanila yang biasa ia beli, matanya membelakak sempurna begitu melihat harga yang tertera disana.

"Waduh, 103.000 ribu?!" gumam Kayla.

Dulu harga segitu terasa murah bagi Kayla, namun semenjak sudah pindah di kos-kosan kecil dan pas-pasan itu rasanya membeli sesuatu di atas 100.000 ribu terasa sangat mahal.

Kayla dengan berat hati meletakan kembali susu itu. Padahal susu ini enak sekali, sayangnya ia harus berhemat.

Ia mendorong trolinya menjauh, berpindah ke rak makanan instan. Di sana, matanya berbinar melihat deretan mie instan seharga tiga ribuan. Murah, mengenyangkan, dan tidak bikin dompetnya menangis.

Setelah berkeliling beberapa menit, Kayla mendorong trolinya menuju meja kasir. Ia menuju salah satu kasir di dekat pintu keluar.

Saat Kayla sedang sibuk menghitung sisa uang koin di telapak tangannya sambil membandingkan harga mie instan rasa soto dan ayam bawang, sebuah bayangan tinggi mendadak berdiri di sampingnya.

Pluk.

Sebuah kotak susu vanila impor seharga 103 ribu yang tadi ia letakkan kembali, tiba-tiba masuk ke dalam trolinya. Disusul tiga kotak susu lagi dengan rasa berbeda.

Kayla sontak menoleh dengan mata melotot. "Heh! Siapa yang nyelipin—"

Ucapan Kayla terputus begitu melihat cowok jangkung berseragam SMA yang tertutup jaket denim sedang berdiri santai sambil mengunyah permen karet. Juna. Cowok itu menatap rak mie instan dengan pandangan malas.

"Susu kesukaan lo, kan? Ambil aja. Ribet amat pake dihitung dulu koinnya, kayak mau bayar parkir," ucap Juna enteng, lalu memasukkan sebotol soda besar ke dalam troli Kayla tanpa permisi.

"Juna! Balikin nggak!" Kayla langsung mengambil kotak-kotak susu itu, hendak mengembalikannya ke rak. "Gue nggak butuh belas kasihan lo ya! Lagian ini nggak ada di dalam daftar belanjaan gue!"

Juna menahan tangan Kayla, lalu mengambil alih kotak susu itu dan memasukkannya kembali ke troli. "Inget ngga? Selama enam bulan, kebutuhan lo gue yang tanggung. Anggap aja ini bonus karena lo udah berhasil bikin Adel nangis di sekolah tadi siang."

"Gue nggak mau utang budi sama bocil!" Kayla bersedekap, memasang wajah angkuh andalannya meski dalam hati hidungnya mencium aroma susu vanila itu dengan sangat rindu.

"Nggak ada utang budi. Ini murni bisnis," balas Juna tenang. Ia merebut troli dari tangan Kayla dan mendorongnya duluan menuju kasir.

"Heh, gua bilang ngga usah!" potong Kayla.

"Udah, buruan ke kasir. Gue laper, mau cepet balik ke kosan."

Kasir di hadapan keduanya terlihat kebingungan. Ia hendak mengambil susu vanila itu untuk di scan, namun Kayla segera meraihnya dan meletakkannya ke ujung.

Tapi bukan Juna jika tidak jahil, ia meraih susu itu dan kembali meletakkannya di depan sang kasir.

"Mbak, tolong di scan! Sama ini juga!" ucap Juna, ia lalu mulai meraih barang belanjaan milik Kayla dari dalam troli dan meletakkannya di atas meja kasir bersamaan dengan barang belanjaan miliknya.

Kayla membulatkan matanya, rasanya ia ingin menelan cowok itu hidup-hidup! Mereka saling merebut susu itu satu sama lain, hingga Juna meraih susu itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Kayla yang tingginya pas-pasan tidak bisa menggapai tangan Juna, mau tak mau Kayla hanya bisa pasrah. Ia lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam sana.

Tetapi Juna lebih dulu menyondorkan kartu miliknya kepada sang kasir sehingga barang belanjaan milik Kayla kini sudah menjadi satu dengan milik Juna.

"Jadi satu ya, mbak!"

Kayla terdiam. Ia hanya bisa mendumel dalam hati. Gadis itu lalu mengambil kantong belanja miliknya.

"Ekhem, makasih," ucap Kayla, terdengar agak ketus.

"Hah? Apaan? Kura-kura ninja?" tanya Juna sambil sengaja mendekatkan telinganya ke wajah Kayla.

"Gue bilang makasih, Juna! Budek ya lo!" ketus Kayla, langsung membalikkan badan dan berjalan cepat keluar dari minimarket.

Ia memeluk kedua kantong plastik besar itu erat-erat dengan gaya angkuh, seolah sedang membawa barang-barang branded dari mal elit.

Kayla berjalan cepat melewati sepanjang trotoar. Jalanan tampak sepi, padahal ini baru jam 7 malam.

Ia terus berjalan melewati persimpangan pertama dan berbelok ke kanan. Namun baru beberapa meter melangkah menyusuri trotoar, Kayla menyadari ada suara langkah kaki yang cepat tepat di belakangnya. Semakin dekat dengan kos, suara itu juga terdengar semakin jelas. 

Ia menoleh sekilas dan mendapati Juna berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket denimnya.

Kayla mempercepat langkahnya. Juna ikut mempercepat langkah. Kayla mendadak berhenti, dan Juna hampir saja menabrak punggungnya.

Kayla berbalik dengan wajah galak. "Heh, Bocil! Ngapain lo jalan di belakang gue terus?! Lo mau ngintipin gue, ya? Atau lo mau nyolong barang belanjaan yang udah lo beliin tadi?!"

Juna melongo, lalu menatap Kayla dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan heran. "Heh, oma! Pede banget lo jadi orang. Jalanan ini kan arahnya emang ke kosan. Lagian kosan kita kan sama, gue juga mau pulang kali!"

Kayla terdiam, lalu bergumam pelan. "Oh iya yah,"

Dia berbalik dan berjalan cepat. Wajahnya tampak kikuk, Kayla merutuki dirinya dalam hati. Bodoh sekali! Pikir Kayla.

Juna yang berjalan beberapa langkah di belakangnya menggeleng-gelengkan kepala, bersusah payah menahan tawa agar tidak menyembur. "Makanya, Oma, makanya jangan kepedean. Otak lo jadi ikutan lemot kan gara-gara mikirin cara buat kelihatan keren di depan gue."

"Diem lo! Seragam doang abu-abu, tapi mulut lo lebih lemes dari ibu-ibu komplek!" semprot Kayla tanpa menoleh ke belakang. Ia sengaja memperlebar langkah kakinya, berniat meninggalkan Juna sejauh mungkin.

Semakin Kayla memaksakan diri berjalan cepat, jari-jarinya rasanya semakin mau putus karena teriris cekikan plastik. Pegal luar biasa mulai menjalar dari pergelangan tangan sampai ke pundaknya. Keringat tipis bahkan mulai bermunculan di pelipis Kayla, merusak riasan wajahnya yang sudah ia tata sejak sore.

Juna menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh. Ia lantas mempercepat langkahnya hingga kini mereka saling berdampingan. 

"Sini, bagi satu plastiknya. Muka lo udah mirip ikan lohan kehabisan oksigen gitu," ucap Juna enteng, mengulurkan tangannya di hadapan Kayla.

"Nggak usah! Gue kuat!" tolak Kayla angkuh. Ia mendongakkan dagunya, mencoba berjalan melewatinya begitu saja. "Badan gue ini terlatih, ya. Gini-gini gue sering ikutan kelas pilates pas masih di rumah lama!"

Juna memutar bola matanya malas. "Pilates nggak bikin plastik lo makin kuat. Udah sini, daripada lo pingsan di jalan terus bikin repot gue."

"Gue dibilang nggak mau ya nggak mau, Juna! Jangan maksa..."

Belum sempat Kayla menyelesaikan kalimatnya, hukum alam langsung menampar kesombongannya seketika itu juga. Bagian bawah salah satu kantong plastik yang rupanya sudah menipis akibat gesekan kain jeans Kayla robek tanpa aba-aba.

Dalam hitungan detik, belasan bungkus mie instan, tiga kotak susu vanila cadangan, bumbu dapur saset, dan puncaknya yaitu kotak susu vanila seharga seratus tiga ribu rupiah menggelinding bebas dan liar di atas lantai semen koridor depan yang remang-remang, pas di batas gerbang masuk kosan.

Hening seketika.

Kayla mematung dengan sisa gagang plastik kosong yang menggantung menyedihkan di tangannya. Wajah cantiknya seketika berubah memerah padam sampai ke telinga. Ia ingin sekali mengutuk dirinya sendiri dan menghilang dari bumi sekarang juga. Kayla menjerit frustrasi dalam hati karena merasa jatuh miskin ternyata sangat tidak estetis jika harus ditunjukkan di depan anak SMA.

Juna yang berdiri tepat di depannya langsung memegangi perutnya. Bahunya naik turun menahan tawa, sebelum akhirnya tawanya pecah memenuhi keheningan malam.

 "HAHAHAHAHA! Tumpah semua kan! Aduh, dibilangin batu banget sih! Pilates lo nggak mengajarkan cara mendeteksi kantong plastik mau jebol ya, Kay? HAHAHAHA!"

"JUNA! Diem lo, Bocil Kematian! Bukannya bantuin malah diketawain!" amuk Kayla malu setengah mati. Dengan wajah merengut maksimal, ia langsung berlutut, memunguti bungkus-bungkus mie instan itu dengan gerakan panik dan buru-buru.

Juna akhirnya ikut berlutut, memungut kotak susu vanila seharga seratus ribu lebih yang menggelinding ke dekat ujung sepatunya.

 "Untung susunya kemasan kardus tebal. Kalau botol kaca, menangis darah lo di sini memandangi duit seratus ribu merembes ke tanah."

"Ah, diem deh! Cepetan bantuin!" sahut Kayla galak. 

Setelah semua barang berhasil diselamatkan dan dipindahkan ke dalam pelukan masing-masing, mereka akhirnya berdiri dan mulai berjalan berdampingan menyusuri koridor dalam kosan. 

Namun dasar Juna berotak rese, setiap beberapa langkah ia sengaja menyenggolkan bahunya ke bahu Kayla, membuat langkah gadis itu yang sudah oleng menjadi makin tidak seimbang.

"Juna! Bisa jalan lurus nggak sih?! Lebar badan lo itu nggak seukuran jalan tol ya, nggak usah maruk tempat!" semprot Kayla dengan berbisik, takut suaranya menggema di koridor yang sepi.

"Lah, yang maruk tempat itu lo, Oma. Badan mungil gitu tapi kalau jalan jalurnya zigzag, mengayun bagai ditiup angin badai," balas Juna santai, sengaja menyenggol bahu Kayla sekali lagi sampai cewek itu hampir menabrak dinding koridor.

"Bocil kematian! Gue ulek juga ya lo—"

Belum sempat Kayla melayangkan cakaran mautnya, langkah kaki mereka berdua mendadak terhenti tepat di depan pintu kamar nomor tiga. Sebuah suara dehaman yang sangat berat, besar, dan familier memotong perdebatan mereka. 

"Ehem!"

Kayla dan Juna kompak menghentikan gerakan tangan mereka dan menoleh.

Di ujung koridor dekat tangga, berdiri Bu Arin selaku pemilik kosan dengan daster batik mega mendung kebesarannya. Rambutnya digulung handuk putih besar, dan sebuah ponsel di tangan kanan yang lampunya menyala terang benderang menyorot langsung ke arah wajah mereka berdua. Matanya yang tajam di balik kacamata menatap Juna dan Kayla bergantian dengan pandangan penuh selidik.

"Astaga... Juna! Kayla! Ini udah jam berapa?!" seru Bu Arin dengan suara melengking khasnya yang sukses membuat bulu kuduk kedua anak muda itu meremang seketika. 

"Jam malam kosan putri itu jam sembilan teng! Ini Ibu lihat di hp udah lewat lima belas menit! Kenapa ada anak laki-laki berduaan di koridor bawah, mepet-mepet pintu kamar perempuan lagi, hah?!"

Kayla langsung jantungan. Bayangan dirinya diusir malam ini juga dan terpaksa tidur di emperan toko langsung berputar di otaknya.

 "Anu... Bu Arin... ini bukan kayak yang Bu Arin pikirin! Ini tadi itu, anu, kantong belanjaan saya jebol pas baru sampai, terus Juna kebetulan jalan di belakang saya dan cuma mau..."

"Nggak ada alasan! Ibu paling nggak suka ya kalau ada yang melanggar aturan jam malam!" potong Bu Arin tegas, melangkah mendekat membuat Kayla makin gemetaran. 

"Ibu nggak mau ya kosan ini dapet cap jelek dari tetangga sekitar gara-gara ada anak muda bebas berduaan malam-malam begini. Juna, kamu balik ke kamar kamu di lantai atas sekarang, atau Ibu telepon orang tua kamu?!"

"Ah, iya ibu. Saya balik dulu, ehe," Juna sambil cengengesan menaruh barang belanjaan milik Kayla dan segera berlalu pergi. 

Kini tersisa Kayla dan Bu Arin. Kayla denga tergesa-gesa meraih barang belanjaannya dan pamit dari wanita itu, "Ibu saya juga balik ya!"

Bu Arin menatap Kayla yang berjalan pergi menuju kamarnya sambil menggelengkan kepala, "Haduh, anak jaman sekarang ada-ada aja deh!"

1
Arin
Udah gak usah dengerin tuh si mantan. Cuman mau gertak aja sama kamu Kayla. Jangan mau balikan lagi ya
Arin
Hari apesmu Kayla.... memang gak boleh pindah kos-kosan.... 🤣🤣🤣🤣
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan
Arin
Saingan Juna malah ikut kos disana juga😁😁😁. Makin seru persaingan buat menarik Kayla
Arin
Lah ibu.... orang cuman jalan berduaan diributin. Itu sebelah kamar Kayla apa kabar??? Lagi mendesah bersama..... Udah halal apa belum???? 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!