we Lin seorang penjaga toko perhiasan yang di kirim ke dunia lain dan menjadi karakter op di dunia lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WERWET, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10-Bayangan pengkhianat
Bab 10 — Bayangan Pengkhianat
Ruangan kontrol mendadak menjadi sunyi.
Kalimat Kapten Teo barusan terasa lebih mengerikan dibanding serangan digital yang sedang terjadi.
“Pengkhianat…?” ulang salah satu teknisi dengan suara gemetar.
Letnan Elvira langsung menatap Teo tajam.
“Kapten, apa Anda yakin mengatakan itu sekarang?”
“Lihat sendiri situasinya,” jawab Teo dingin. “Sistem pertahanan lapisan kedua hanya diketahui oleh anggota internal tingkat tinggi.”
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Tidak mungkin pihak luar bisa menembusnya secepat ini tanpa bantuan dari dalam.”
Semua orang langsung saling menatap penuh curiga.
Beberapa anggota mulai gelisah. Suasana yang sebelumnya dipenuhi kepanikan kini berubah menjadi ketegangan.
Tiba-tiba—
“Peringatan! Ruang arsip digital sektor timur telah dibuka paksa!”
Salah satu monitor kembali menyala merah.
“Apa?! Mereka menuju ruang arsip sekarang?!” teriak operator.
Elvira segera bergerak.
“Kalau data arsip bocor, identitas seluruh anggota organisasi bisa tersebar.”
Teo langsung berbalik.
“Divisi keamanan ikut denganku.”
“Siap, Kapten!”
Beberapa prajurit bersenjata segera mengikuti Teo keluar dari ruang kontrol.
Sementara itu, Elvira tetap berada di depan layar utama.
Jemarinya bergerak cepat mengetik kode demi kode.
“klik… klik...”
Keringat tipis mulai turun di pelipisnya.
Untuk pertama kalinya sejak serangan dimulai, ekspresinya terlihat sedikit gugup.
Karena ia sadar…
Musuh kali ini bukan orang biasa.
Tiba-tiba salah satu teknisi membelalak.
“Letnan! Ada seseorang yang masih terhubung ke jaringan utama!”
“siapa identitasnya?”
“Sistem tidak bisa membaca datanya!”
Elvira langsung mendekat ke layar.
Di tengah ribuan kode yang bergerak liar, muncul satu simbol aneh berbentuk mata berwarna ungu.
Simbol itu perlahan berputar.
Lalu sebuah suara elektronik terdengar dari speaker ruangan.
“Kalian terlambat.”
Semua orang langsung membeku.
“Siapa kau?!” bentak Elvira.
Namun suara itu hanya tertawa pelan.
“Organisasi Rasi Bintang… sebentar lagi akan runtuh dari dalam.”
“Berani sekali kau—”
Belum sempat Elvira menyelesaikan ucapannya—
“BZZZT!”
Seluruh layar mendadak mati total.
Ruangan kembali gelap.
“Cadangan listrik gagal aktif!”
“Apa?!”
Suasana langsung kacau.
Beberapa teknisi panik. Ada yang mencoba menyalakan sistem manual, ada juga yang mulai kehilangan fokus.
Di tengah kegelapan itu—
Langkah kaki terdengar pelan dari lorong luar.
Tok…
Tok…
Tok…
Elvira perlahan menoleh ke arah pintu ruangan.
Instingnya langsung merasa tidak enak.
“Siapa di sana?”
Tak ada jawaban.
Hanya suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Para prajurit keamanan segera mengangkat senjata mereka.
Pintu ruangan terbuka perlahan.
Cahaya redup dari lorong memperlihatkan siluet seseorang memakai jubah hitam panjang.
Wajahnya tertutup topeng putih retak.
Semua orang langsung tegang.
“Mustahil…” gumam salah satu anggota.
Orang itu masuk dengan tenang seolah tidak takut sedikit pun.
Lalu ia berhenti tepat di depan ruangan.
“Akhirnya aku bisa masuk juga ke markas utama.”
Suara beratnya terdengar dingin.
Elvira menyipitkan mata.
“Siapa kau sebenarnya?”
Pria bertopeng itu perlahan mengangkat kepalanya.
Kemudian—
Di balik topeng retak itu terlihat senyuman tipis.
“Seseorang yang dulu pernah menjadi bagian dari Organisasi Rasi Bintang.”
Suasana ruangan semakin mencekam.
Tidak ada seorang pun yang berani bergerak gegabah setelah mendengar ucapan pria bertopeng itu.
Bahkan beberapa prajurit elite mulai terlihat gugup.
Aura yang keluar darinya terasa berbeda, seperti tekanan mematikan yang perlahan memenuhi udara.
Elvira tetap berdiri tegak, namun tangannya diam-diam mulai mengepal penuh kewaspadaan.