Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Di sepanjang perjalanan pulang, Zira terus menangis di dalam taksi online yang ditumpanginya. Ia tak peduli dengan keberadaan sopir taksi yang sesekali meliriknya melalui kaca di hadapannya.
Sesuai dengan prediksi Zira, mobil milik Leon terus melaju di belakang taksi online yang ditumpanginya. Pria itu pasti ingin memastikan bahwa ia tiba di rumah dengan selamat. Segitu baiknya sifat dan sikap Leon sehingga Zira merasa semakin tidak pantas untuk melanjutkan hubungan dengan pria itu.
Setibanya di depan pintu gerbang rumahnya, Zira turun dari taksi online setelah melakukan pembayaran. Sejenak ia menolehkan pandangan pada mobil Leon yang kacanya terbuka setengahnya. Pria itu menatap sendu ke arahnya.
"Maafkan aku, Leon....Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu." Batin Zira sebelum mengayunkan langkah memasuki gerbang rumahnya.
"Ya Tuhan...Apa aku akan sanggup melepasnya?." Gumam Leon seraya menatap ke arah gerbang di mana tubuh Zira baru saja menghilang dibaliknya.
Kedatangan Zira di sambut oleh kakaknya yang sengaja menunggunya masuk. Rupanya secara tidak sengaja, dari lantai dua Tomi melihat Zira turun dari sebuah taksi, sementara mobil Leon menyusul di belakang taksi yang ditumpangi Zira.
"Sebenarnya ada apa, Zira? Jangan menyembunyikan apapun dari mas, Zira!." Akhir-akhir ini Tomi merasa ada yang aneh dengan sikap adiknya itu, namun Tomi berusaha menepis perasaan tersebut. Akan tetapi melihat kejadian malam ini, di mana Zira menumpangi sebuah taksi sedangkan di saat yang bersamaan mobil Leon pun terlihat di depan gerbang, Tomi tak dapat lagi menepis kecurigaan dihatinya.
Deg.
Zira tersentak dengan pertanyaan Tomi. Ia memang berencana mengungkapkan kebenaran tentang dirinya dihadapan keluarganya, namun bukan untuk malam ini.
Tatapan menyelidik Tomi membuat Zira tergagap saat menjawab dan hal itu justru semakin menambah kecurigaan dihati Tomi." Bu_bukan apa-apa kok, mas."
"Mas bukan anak kecil, Zira." Tomi mendekat ke arah berdirinya Zira sementara tatapannya terus memindai wajah gugup adiknya.
"Sebaiknya kamu jujur saja pada mas, Zira!." Terus didesak oleh Tomi membuat Zira pada akhirnya menyerah dan mengaku dihadapan Tomi kalau ia telah menyudahi hubungannya dengan Leon.
"Hubungan kami sudah berakhir, mas."
"Jangan mengada-ada kamu, Zira?." Bukan karena Leon merupakan pemuda kaya raya sehingga Tomi marah mendengar pengakuan mengejutkan adiknya tersebut, tetapi Tomi merasa ini adalah hal yang bisa mempermalukan keluarga mereka mengingat pernikahan Zira dan Leon sudah didepan mata. Bahkan persiapan untuk menyambut pernikahan pun sudah hampir sembilan puluh persen.
"Zira serius, mas."
Deg.
"Apa sebenarnya alasan Leon sampai tega mempermalukan keluarga kita seperti ini?." Tidak sedikitpun terbesit di benak Tomi bahwa adiknya lah yang telah menyudahi hubungan tersebut, mengingat betapa besarnya rasa cinta adiknya tersebut terhadap calon suaminya itu.
"Bukan Leon, tapi Zira yang telah menyudahi hubungan diantara kami, mas."
"Tidak mungkin, mas tidak percaya." Tomi yang tetap tidak percaya pada ucapan adiknya, lantas berlalu pergi.
"Mas mau pergi kemana?." Zira menghalangi langkah Tomi.
"Mas ingin memberi pelajaran pada pemuda breng-sek itu. Jangan mentang-mentang dia anak konglomerat, lantas bisa seenaknya saja mempermalukan keluarga kita seperti ini." Tomi berpikir pengakuan Zira hanyalah sebuah akal-akalan demi membela Leon dari kemarahan keluarganya.
"Please....jangan lakukan itu, mas! Sungguh, ini murni keputusan Zira dan Leon sama sekali tidak bersalah." Tomi tetap saja mengabaikan ucapan Zira dan kembali mengayunkan langkahnya.
"Leon sama sekali tidak bersalah mas, semua ini murni keputusan Zira yang merasa tidak pantas mendampingi pria sebaik Leon." Karena Tomi masih saja mengabaikannya dan terus berjalan menuju garasi mobil, Zira pun tak bisa lagi menyembunyikan kebenaran tentang dirinya dari kakaknya.
"Pria sebaik Leon tidak pantas mendapatkan wanita bekas pria lain, mas." Teriak Zira di sela tangisnya.
Deg.
Langkah Tomi sontak terhenti, tubuhnya pun nampak membatu untuk sesaat, saking syok nya. Menyadari tangisan Zira, Tomi yakin kalau saat ini adiknya itu tidak sedang bercanda dengan kata-katanya. Ia berbalik badan, menghadap pada Zira yang kini sesenggukan.
"Kenapa bisa seperti ini, Zira? Siapa pria breng-sek itu, hah?." Tomi mengguncang tubuh adiknya agar mau mengakui siapa pria yang telah merenggut kesuciannya. "Jawab mas, Zira!." Suara bentakan Tomi terdengar oleh ibunya yang kini berada ruang tamu, hendak mengambil ponselnya yang ketinggalan saat merangkai bunga sore tadi.
"Ada apa ini, kenapa ribut-ribut?." Ibu menghampiri kedua anaknya.
"Mamah tanya saja langsung pada anak perempuan mamah, kenapa bisa begitu bodohnya hingga tid-ur dengan seorang pria!." Ujar Tomi yang terlanjur kecewa pada adik perempuannya itu. Bagaimana tidak kecewa, selama ini ia selalu berusaha menjaga adik perempuannya itu dengan baik, tapi tiada angin tiada hujan tiba-tiba Zira mengakui sebuah kenyataan yang membuatnya sangat kecewa sekaligus merasa gagal sebagai seorang kakak.
"Maafkan Zira, mah." Zira berlutut dihadapan ibunya.
Wajah ibu langsung berubah kecewa. "Mamah tidak menyangka kalau nak Leon tega menyia-nyiakan kepercayaan mamah." Selama ini putrinya tidak pernah dekat dengan pria manapun selain tunangannya, Leon, maka tidak heran jika wanita paruh baya tersebut berpikir jika pria yang telah merenggut kesucian putrinya adalah Leon.
Zira langsung menggelengkan kepalanya untuk menepis dugaan ibunya.
"Bukan Leon, mah."
"Apa maksud kamu, Zira?."
"Bukan Leon yang melakukannya mah, makanya Zira memutuskan untuk menyudahi hubungan kami. Leon adalah pria yang baik dan dia berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Zira, mah." Ibu langsung jatuh pingsan mendengarnya. Sepertinya wanita itu benar-benar syok.
"Plak..." Suara tamparan keras dari sang ayah membuat pipi mulus Zira berubah merah. Ya, saat ibu jatuh pingsan, Tomi menggendong dan membawanya ke kamar hingga pada akhirnya sang ayah pun mengetahui apa yang terjadi pada putrinya tersebut. Saking kecewanya, sang ayah sampai menampar Zira. Untuk pertama kalinya tuan Andrean menampar putri kesayangannya itu.
"Maafkan Zira, pah..." Sama seperti pada ibunya beberapa saat lalu, kini Zira pun memohon pengampunan dengan berlutut dihadapan ayahnya, mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil terisak.
"Papah tidak butuh permohonan maaf kamu, yang papah butuh sekarang adalah pengakuan kamu tentang sosok pria breng-sek itu." bentak sang ayah.
Zira terdiam, sama sekali tak berniat mengaku pada keluarganya tentang sosok pria yang telah tega merenggut kesuciannya. Bukan apa-apa, Zira tidak ingin sampai ayahnya mendatangi Lexi dan mengamuk pada pria itu, hingga akhirnya malah memancing kemarahan seorang Lexiano Fernandez, pria tidak punya hati. Cukup ia yang menjadi korban dari perbuatan pria yang tak punya hati seperti Lexiano Fernandez, Zira tidak ingin sampai keluarganya juga ikut berurusan dengan Lexi. Lagipula, setelah ini ia berencana menjauhi keluarga Fernandez, tidak ingin lagi terlibat urusan apapun dengan keluarga konglomerat tersebut.
"Kenapa masih diam saja, jangan bilang kamu sengaja ingin menutupi sosok pria breng-sek itu dari papah, Zira?."
"Maafkan Zira, pah." Zira tetap teguh dengan pendiriannya, tidak ingin mengakui sosok Lexi pada siapapun, termasuk keluarganya.
"Baiklah, jika kamu tetap kekeuh menyembunyikan sosok pria breng-sek itu, maka silahkan angkat kaki dari rumah ini!."
Deg.
"Pah....." Tomi angkat bicara. Sekecewa apapun ia terhadap Zira, namun Zira tetaplah adik kandungnya dan ia tidak mungkin membiarkan Zira sampai diusir dari rumah.
hanya atasan dan sekretaris
semangat terus thor 💪💪