NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deru Mesin dan Aroma Americano

Hari Selasa di Universitas Wikerta dimulai dengan sisa-isa kegelisahan yang menghantui Kirana sejak semalam. Di kepalanya, bayangan Bima yang menurunkan footstep motor dengan begitu sigap terus berputar seperti piringan hitam rusak. Kirana merasa berutang budi. Bukan hanya karena mie ayam yang habis ia lahap, tapi karena sikap sopan Bima di depan Mamanya yang berhasil membuat suasana rumah menjadi "huru-hara" pujian hingga pagi tadi.

"Ra, lo kenapa sih? Dari tadi ditekuk terus itu mukanya, tapi bibir lo kadang kedutan mau senyum," tegur Maya saat mereka berjalan menyusuri koridor gedung Sastra setelah kelas Sejarah Sastra selesai.

Kirana menghela napas, meremas tali tasnya. "Gue ngerasa nggak enak, May. Kemarin Bima udah anterin gue, traktir mie ayam, terus sopan banget sama nyokap. Gue... gue ngerasa harus bales sesuatu sebagai tanda terima kasih. Etikanya kan gitu."

Maya langsung menghentikan langkahnya, matanya membelalak. "Wah, kemajuan pesat! Kirana sang Putri Sastra mau kasih upeti buat Panglima Bengkel? Kasih kopi atau camilan aja, Ra. Anak Teknik itu bahan bakarnya kalau nggak kafein ya karbohidrat."

Kirana terdiam sejenak, lalu mengangguk mantap.

Sebelum ke kantin, ia mampir ke kedai kopi langganan di dekat gerbang kampus, memesan dua gelas Americano dingin dan sebungkus roti bakar cokelat yang masih hangat.

"Satu buat Bima, trus yang ini buat temennya yang lain" Biar nggak canggung banget kalau gue cuma bawa satu," gumam Kirana pada dirinya sendiri, mencoba mencari pembenaran atas rasa gugupnya.

Dengan langkah ragu, Kirana berjalan menuju "Kandang Macan"—sebutan untuk area Teknik Mesin yang letaknya hanya terpisah taman luas dari gedungnya.

Begitu masuk ke area itu, suasananya sangat berbeda. Tidak ada kursi empuk atau aroma buku lama. Di sana, deru mesin bubut terdengar dari kejauhan, dan beberapa mahasiswa tampak sibuk dengan proyek besar.

Bima tidak sedang memegang kunci inggris di bawah kolong mobil kali ini. Ia justru terlihat sedang berdiri di depan sebuah mesin turbin besar bersama timnya.

Mereka tampak serius mengukur tekanan udara dan mencatat data ke dalam buku jurnal yang sampulnya sudah kusam.

Bima memegang jangka sorong dengan sangat teliti, keningnya berkerut fokus, sementara tangannya yang dilapisi sarung tangan kerja tampak cekatan menyetel katup mesin tersebut.

Begitu sosok Kirana terlihat di area kerja, suasana mendadak riuh. Anak-anak Teknik yang sedang beristirahat di kursi panjang langsung bersorak.

"Woy! Ada bidadari Sastra nyasar ke habitat mesin nih!" teriak salah satu teman Bima yang sedang membersihkan pelat besi. "Mau daftar jadi asisten lab atau mau nyari mekanik hati, Neng?"

"Hati-hati, Ra! Di sini banyak oli, jangan sampe baju cantiknya kena noda!" goda yang lain sambil tertawa.

Kirana merasakan wajahnya memanas. Ia hampir berbalik lari karena malu, namun tiba-tiba suara dingin namun tegas membelah kebisingan itu.

"Woy, diem lu semua! Balik kerja! Jangan bikin tamu risih," bentak Bima tanpa menoleh, namun ia langsung meletakkan jangka sorongnya dan melepas sarung tangan kerjanya.

Bima berjalan menghampiri Kirana, menghalangi pandangan teman-temannya yang masih usil.

Sikapnya yang langsung "pasang badan" itu membuat olokan teman-temannya mereda seketika. Bima berdiri di depan Kirana, menetralkan suaranya agar tidak terdengar sekasar saat membentak teman-temannya tadi.

"Ada apa ke sini? Bahaya kalau lu nggak pake APD (Alat Pelindung Diri) masuk ke area mesin," ucap Bima pelan, namun matanya menatap kantong plastik yang dibawa Kirana.

"Ini... cuma mau bales budi yang kemarin. Makasih udah dianterin dan juga traktiran mie ayamnya. Ini buat lo sama temen-temen lo," ucap Kirana pendek sambil menyodorkan kopi.

Bima melihat tangannya yang sedikit kotor karena debu logam, ia segera mengelap tangannya ke kain majun yang tersampir di bahunya sebelum menerima pemberian Kirana. "Makasih. Lu nggak perlu repot-repot sebenernya."

"Nggak apa-apa. Gue duluan ya!" Kirana langsung berbalik dengan langkah cepat, mengabaikan senyuman tipis Bima yang jarang terlihat oleh orang lain.

Siang harinya, Kirana duduk di kantin pusat bersama Maya.

Tak lama kemudian, Danu datang. Danu adalah kakak tingkat yang memang sedang dekat dengan Kirana, namun mereka belum memiliki status hubungan apa pun. Danu selalu tampil rapi dan sopan, khas mahasiswa berprestasi.

"Hai, Kirana. Maaf ya kemarin aku nggak sempat anterin kamu pulang, rapatnya benar-benar lama," ucap Danu sambil duduk di depan Kirana. Ia menatap Kirana dengan ramah, tanpa kesan mengekang.

"Nggak apa-apa, Kak Danu. Kemarin aku dapet tumpangan kok," jawab Kirana jujur, meski ia tidak mendetailkan siapa yang mengantarnya.

"Syukurlah. Oh ya, nanti sore ada pameran buku di perpustakaan pusat, mau mampir bareng?" tanya Danu menawarkan.

"Boleh, Kak. Kebetulan aku juga lagi nyari referensi," balas Kirana tersenyum.

Namun, ketenangan itu terusik saat rombongan anak Teknik masuk ke kantin.

Bima berada di depan, wajahnya sudah bersih, mengenakan jaket bomber hitam. Begitu melihat Kirana sedang mengobrol dengan Danu, langkah Bima sempat melambat. Ia tidak terlihat marah, tapi ada sorot mata yang lebih dalam saat menatap ke arah meja itu.

Bima berjalan mendekat. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah gelang biru—milik Kirana yang jatuh di jok motornya semalam.

"Kir," panggil Bima singkat saat sampai di samping meja mereka.

Danu menoleh, menatap Bima dengan bingung. Kirana pun tersentak.

"Gelang lo. Ketinggalan di motor gue semalam pas turun," ucap Bima sambil meletakkan ikat rambut itu di atas meja dengan gerakan perlahan.

Danu sedikit mengernyitkan dahi, namun suaranya tetap tenang. "Oh, jadi kemarin Kirana bareng kamu, Bima?"

Bima mengangguk sekali, menatap Danu dengan santai namun tetap terlihat dominan. "Iya. Kasihan udah sore nggak dapet ojek. Jadi gue anter sekalian mampir makan dulu." Bima kemudian menoleh ke arah Kirana, suaranya melembut. "Lain kali kalau turun jangan buru-buru. Nanti barang lo nyangkut lagi."

Danu hanya tersenyum sopan ke arah Bima. "Terima kasih ya, Bima, sudah bantu Kirana pulang dengan aman."

Bima tidak menjawab Danu, ia hanya menatap Kirana selama beberapa detik sebelum akhirnya berbalik menyusul teman-temannya. Sikap Bima yang tidak lagi cuek namun tidak meledak-ledak itu justru membuat Kirana merasa aneh. Bima sengaja mendekat bukan untuk memicu keributan, tapi seolah ingin menunjukkan kehadirannya.

Kirana menatap ikat rambut birunya di atas meja. Pikirannya melayang kembali ke momen di gedung Teknik tadi, saat Bima dengan tegas membungkam mulut teman-temannya hanya untuk melindunginya dari olokan. Ada rasa aman yang menyelusup di hatinya, rasa aman yang berbeda dari kenyamanan yang diberikan Danu.

Sore itu, meskipun ia pergi ke pameran buku bersama Danu, mata Kirana sesekali melirik ke arah parkiran, mencari sosok motor hitam yang deru mesinnya mulai terasa seperti musik yang ia kenali. Kirana sadar, ia sedang berada di antara dua dunia: kelembutan Danu yang menenangkan, dan ketegasan Bima yang menggetarkan. Dan anehnya, ia mulai menikmati getaran yang tidak terduga itu.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!