NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PILIHAN YANG KUBUAT

“Bukan salahmu.” Pisau yang sudah kuangkat diatas kepala terhenti ketika mendengar kalimat dari Clarissa. Dia masih sempat memikirkan perasaanku disaat – saat terakhir. Aku tidak tau maksud Dimas menyuruhku menyerang Clarissa sampai sejauh mana. Mungkin luka kecil juga termasuk menyerang. Bisa juga dia menyuruhku terus menyerang sampai kematian menjemputnya. Tidak ada yang tau. Begitu juga dengan Clarissa. Dia mungkin saja terluka parah karena serangan dariku. Dia pasti juga sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi padanya. Meski begitu, kata – kata yang terakhir yang dia pilih adalah untuk menenangkanku. Dia masih peduli dengan orang lain disaat terakhirnya. Peduli denganku. Betapa egoisnya aku. Hanya terus memikirkan diri sendiri. Lagipula meskipun aku melakukan keinganan Dimas sekarang, entah apa yang terjadi padaku di kemudian hari.

Kalau pada akhirnya aku akan tetap menderita. Kalau pada akhirnya aku akan tetap mati. Maka biarkanlah aku memilih caranya. Biarkan aku berjuang untuk terakhir kalinya. Meski tidak ada hasil, paling tidak aku tau, aku tau kalau diakhir hayat aku masih memiliki keberanian. Rasa bangga pada diriku sendiri. Perasaan yang selalu kuabaikan karena rasa takut. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik. Meski itu hanya sedikit, meski itu tidak terlihat, meski itu hanya seberat biji kurma. Aku ingin berubah. “Waktu habis.”

Dimas berjalan mendekat kearahku. Sebelum dia sampai, aku berlari menjauh, mendorong orang yang ada dibelakang Clarissa. Memotong tali yang mengikatnya. Melempar pisau ke sudut ruangan melewati orang yang berdiri dibelakang bangkuku sebelumnya. Kaget membuat orang tersebut jatuh kebawah. Lalu, aku melempar kursi kearah Dimas agar Clarissa bisa kabur ke pintu keluar. “LARI!” aku menyusul dibelakangnya.

Pintu tidak terkunci, aku sadar karena sebelumnya pintu bergerak karena dorongan angin. Aku dan Clarissa mungkin bisa selamat setelah keluar dari ruangan. Masalah terakhir adalah orang yang menjaga pintu keluar. Kalau ingatanku tidak salah, ada satu orang dengan badan paling besar diantara kelompok Dimas, aku tidak melihatnya didalam, artinya dia yang berjaga. Kami tidak bisa lewat kalau tidak menghadapinya. Meskipun bisa, kami tidak memiliki waktu, Dimas dan yang lainnya sudah siap menangkap kami jika terlalu lama. Aku yakin Clarissa memikirkan hal yang sama, dia sesekali menatapku ragu saat berjalan kearah keluar. Maka dari itu, aku punya usulan.

Begitu pintu terbuka dan kami keluar, segera aku melompat kearah orang yang berjaga. Mengunci lehernya dengan kedua tanganku. “Apa yang kamu lakukan? Kita harus lari!” Clarissa menghentikan langkahnya ketika menyadari kemungkinan aku tertinggal. Tapi, aku tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya. Aku hanya tersenyum padanya. Berharap dia mengerti maksudku. “Nggak! Kita harus keluar bareng.”

Kalimat sok keren yang aku ucapkan pada Clarissa adalah sebuah motivasi untukku. Meskipun itu hanya sebuah kalimat omong kosong, aku ingin tetap mempercayainya. Percaya kalau dia bahagia, aku juga akan merasakannya. Itu adalah harapan terakhir yang kumiliki. “Ingat kata – kataku di sepeda air?” Aku kesulitan bicara dengan Clarissa, orang yang sedang kutahan melakukan perlawanan. Dia terus – terusan menyerangku dengan sikutnya. Clarissa terdiam sesaat, membuat orang yang ada didalam ruangan hampir menyusul kami. “LARI CLARISSA!”

Tanpa mengatakan sepatah katapun, Clarissa berlari sekeras yang dia bisa. Dua orang yang ada di dalam ruangan menyusulnya, tapi itu tidak masalah. Clarissa cukup atletis, larinya lebih cepat daripada kebanyakan rata - rata cowok. Dia akan selamat. Meski tidak tau lokasi, dia bisa mengeceknya lewat ponsel. Mereka tidak mengambilnya. Aku masih bisa merasakan ponsel disaku celanaku. Sepertinya mereka tidak menduga akan ada kejadian seperti sekarang. Mereka meremahkan kami. Aku hanya khawatir soal kemungkinan orang yang lebih dari empat orang, untung saja kekhawatiran itu tidak diperlukan. Kalau tidak, orang yang ada di dalam ruangan tidak perlu repot - repot mengejar Clarissa. Clarissa pasti akan baik - baik saja.

Bagaimana denganku?

Orang yang kutahan sudah berhasil melepaskan diri berkat bantuan Dimas. Sekarang aku tergeletak ditanah dengan tubuhku yang tertindih. Aku yang sudah melewatkan kesempatan untuk berpihak pada Dimas, pasti akan mendapatkan bayaran. Ditambah aku membuatnya marah karena berhasil membuat Clarissa kabur. Meskipun Clarissa kembali dengan orang tua ataupun orang lain, belum tentu aku akan baik – baik saja. Perlu waktu yang cukup lama untuk dia datang kembali. Bahkan bisa saja dia tidak kembali sama sekali. Aku tidak memberikan arahan padanya. Tapi, itu tidak masalah, rasa takut bisa saja membuat orang menjadi berbeda. Aku juga tidak mengharapkan Clarissa akan kembali. Semua adalah keputusan sepihak yang kubuat, dia tidak memiliki kewajiban untuk kembali menolongku.

“Kamu jaga disini, biar aku tangkap dia pakai mobilku.” Dimas ingin mengejar menggunakan mobilnya? Bahaya. Secepat apapun Clarissa berlari, tidak mungkin bisa menandingi kecepatan mesin. Kalau begitu, perjuanganku akan sia – sia. Aku yang sudah terluka begini, paling tidak mengharapkan satu keinginanku terwujud. Keselamatan Clarissa.

“Mau kemana? Urusanmu kan sama aku? Mau Lari?” Begitu aku bicara, Dimas langsung menghentikan langkahnya. Meski begitu, aku ditekan lebih kuat oleh orang diatasku. Dia juga menyuruh Dimas untuk tidak menghiraukan kata – kata dariku. Aku mendengar Dimas kembali melanjutkan langkahnya. Ini akan berakhir buruk kalau aku tidak melakukan sesuatu. Aku sebenarnya sebisa mungkin menghindari masalah menjadi lebih buruk, tapi aku pikir ini satu – satunya cara. Aku tidak tau hal apa yang membuatku terus berusaha, mungkin karena adrenalinku sedang tinggi, jadi aku berani melakukan apapun. “WOI BRENGSEK! AKU BILANG JANGAN KABUR!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!