Sekuel Talak di Ujung Ramadhan
Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.
Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.
Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
Langit pagi tampak gelap seperti ikut memikul luka yang dibawa Sarah keluar dari rumah itu.
Hujan turun deras tanpa ampun, mengguyur jalanan yang masih sepi. Angin dingin menusuk sampai ke tulang, membuat tubuh Sarah yang sudah lemah semakin gemetar. Namun wanita hamil itu terus berjalan tertatih-tatih di pinggir jalan, memeluk perutnya erat seolah hanya itu satu-satunya hal yang masih bisa ia lindungi.
Kakinya sakit. Kepalanya pening setelah benturan di kusen pintu. Pipi kirinya masih terasa panas akibat tamparan Leo. Tapi rasa sakit paling besar justru ada di dadanya.
Setiap langkah terasa berat.
Air hujan membasahi seluruh tubuhnya hingga jilbab dan bajunya menempel di kulit. Napas Sarah tersengal. Sesekali dia memegangi tiang listrik atau pagar rumah warga untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Beberapa kendaraan melintas pelan. Ada yang melirik iba, ada yang sekadar penasaran. Namun tidak ada yang benar-benar berhenti.
Sarah sudah terlalu lelah untuk peduli.
Isi kepalanya hanya suara Leo yang terus terngiang.
Keluar kamu dari rumah saya.
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan tadi.
Hingga akhirnya langkah Sarah mulai goyah. Pandangannya kabur. Jalanan di depannya seperti berputar perlahan. Napasnya memburu, sementara tubuhnya menggigil hebat akibat dingin dan syok yang menumpuk sejak tadi malam.
“Adek… bertahan ya…” bisiknya lirih sambil mengusap perutnya yang mulai terasa kencang.
Namun tubuhnya sudah mencapai batas.
Bruk.
Sarah ambruk di pinggir jalan yang basah oleh hujan. Tubuhnya terkulai lemah dengan rambut dan jilbab yang berantakan. Air hujan terus mengguyur wajah pucatnya tanpa henti.
Tak jauh dari sana, sebuah mobil hitam melintas pelan.
Lampu mobil itu mendadak meredup saat sang pengemudi melihat sosok wanita tergeletak di tepi jalan.
Ckittt—
Mobil berhenti mendadak.
Seorang lelaki segera turun sambil membawa payung. Langkahnya cepat menerobos hujan deras menuju tubuh Sarah yang tak bergerak.
“Ya Allah…” gumamnya panik sambil berjongkok.
Tangannya menyentuh bahu Sarah pelan, lalu membalik tubuh wanita itu agar wajahnya terlihat jelas.
Dan seketika mata lelaki itu membelalak kaget.
“Sarah?!”
Nada suaranya berubah drastis. Campuran terkejut dan cemas sekaligus.
Tanpa membuang waktu, lelaki itu langsung mengangkat tubuh Sarah yang basah kuyup ke dalam mobilnya. Wajahnya tampak tegang saat melihat kondisi Sarah yang pucat dan bibirnya yang terluka.
“Astaghfirullah… siapa yang melakukan ini sama kamu…” lirihnya penuh amarah tertahan.
Setelah membaringkan Sarah di kursi belakang, lelaki itu buru-buru mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Halo? Siapkan IGD sekarang. Saya dalam perjalanan.”
Deru mesin mobil berhenti tepat di depan instalasi gawat darurat rumah sakit yang masih tampak lengang karena pagi baru saja dimulai.
Hujan belum reda. Air terus jatuh deras membasahi halaman rumah sakit dan kaca-kaca besar bangunan itu.
Pintu mobil terbuka cepat.
Pria itu segera turun lalu membuka pintu belakang. Tanpa peduli jas dan kemejanya ikut basah, dia langsung mengangkat tubuh Sarah ke dalam gendongannya.
Tubuh wanita itu terasa dingin dan lemas. Kepala Sarah terkulai di bahunya, sementara napasnya terdengar sangat lemah.
“Bertahan… sebentar lagi aman,” gumam pria itu lirih sambil berjalan cepat memasuki IGD.
Beberapa perawat yang berjaga langsung menoleh kaget melihat seorang dokter datang dalam keadaan basah kuyup sambil menggendong wanita hamil yang tak sadarkan diri.
“Dokter!” salah satu suster buru-buru menghampiri. “Apa yang terjadi?”
Pria itu tidak berhenti melangkah. Rahangnya mengeras melihat kondisi Sarah yang semakin pucat.
“Siapkan brankar sekarang!” perintahnya tegas.
Suster lain segera berlari mengambil brankar, sementara seorang perawat tampak bingung menatap wajah Sarah yang penuh luka samar di sudut bibirnya.
“Dokter… ini siapa?” tanya suster itu hati-hati.
Pria tersebut langsung menoleh tajam.
“Jangan banyak tanya,” ucapnya dingin namun penuh tekanan. “Cepat panggil petugas lainnya. Pasien ini butuh penanganan segera.”
Nada suaranya membuat suasana IGD langsung tegang.
“Ba-baik, Dok!”
Para petugas bergerak cepat. Sarah segera dipindahkan ke atas brankar.
Saat tubuh wanita itu dibaringkan, tangan Sarah yang dingin tiba-tiba bergerak lemah, seperti refleks mencari sesuatu. Bibir pucatnya bergetar samar.
“Ja… jangan…” lirihnya nyaris tak terdengar.
Pria itu terdiam sesaat. Tatapannya jatuh pada wajah Sarah yang dipenuhi bekas penderitaan. Ada sesuatu yang bergejolak kuat di matanya—amarah, cemas, dan rasa tidak percaya melihat kondisi wanita itu.
Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum akhirnya berjalan mengikuti brankar yang didorong masuk ke ruang penanganan darurat.
Dan sepanjang langkahnya, satu pertanyaan terus menghantam pikirannya:
Siapa yang tega membuat Sarah seperti ini?
Lorong IGD pagi itu dipenuhi aroma obat-obatan dan suara langkah kaki yang terburu-buru. Hujan di luar masih turun deras, menimbulkan suara gemuruh samar dari balik kaca rumah sakit.
Dokter Gema berdiri di depan ruang penanganan dengan jas putih yang masih sedikit basah. Rambutnya juga belum sepenuhnya kering karena tadi menerobos hujan sambil membawa Sarah masuk ke rumah sakit. Tatapannya terus tertuju ke arah pintu ruang tindakan yang masih tertutup rapat.
Di tengah pikirannya yang kacau, seseorang mendekatinya dengan langkah cepat.
“Dokter Gema, ada apa?” tanya seorang wanita muda berseragam perawat. Name tag di dadanya bertuliskan Lala.
Gema menoleh singkat. Napasnya masih berat.
“Sarah,” jawabnya pelan. “Cucunya Bu Dini.”
Kening Lala langsung berkerut.
“Bu Dini… tetangga kita?"
Gema mengangguk pelan.
Bu Dini memang salah satu tetangga lama di lingkungan tempat Gema dibesarkan. Dulu Gema sempat tinggal bareng Tante Rina dan om Salman di rumah neneknya selama setahun karena papa dan mamanya ke Manila.
Sarah sendiri jauh lebih muda dibanding Aryan. Gadis itu masih kecil ketika Gema mulai merantau dan sibuk mengejar karier.
Berbeda dengan Lala—cucu Bu Ningsih—yang sejak dulu memang sudah dekat dan dianggap keluarga sendiri oleh Gema dan Risma.
“Ya,” jawab Gema lirih. “Tadi saya menemukan dia tergeletak di pinggir jalan.”
Mata Lala langsung membesar tak percaya.
“Serius, Dok?”
Ada rasa cemas di suaranya.
“Sekarang dia di mana?”
“Sedang ditangani.”
Belum sempat percakapan itu berlanjut, pintu ruang tindakan terbuka cepat. Salah satu suster keluar dengan wajah tegang.
“Dokter, sepertinya kami butuh bantuan Anda.”
Raut wajah Gema langsung berubah serius.
Tanpa banyak bicara, pria itu segera melangkah masuk ke dalam ruangan.
Dan saat matanya kembali jatuh pada tubuh Sarah yang terbaring lemah di atas ranjang pasien, dada Gema terasa sesak.
Wajahnya pucat pasi. Bibirnya pecah. Ditambah kondisi kandungannya yang mulai mengalami kontraksi akibat syok berat.
Lala langsung ke IGD bersama Gema menangani Sarah. Gadis mengatupkan kedua tangannya menutup mulut. Kondisi Sarah sangat memprihatinkan.
Sarah, Yang menyelamatkan nyawamu adalah pria idamanmu saat kecil. Batin Lala.
dosa bu dosaaa...
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...