NovelToon NovelToon
ISTRIKU MENDIAMIKU

ISTRIKU MENDIAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEJUTAN

ARMILA

Resti memang jahat. Dia memasukkan sesuatu pada minumanku. Padahal aku sudah menerimanya di rumah ini.

Tidak mengusirnya malam-malam.

Untung saja ponselku ada di dalam saku hingga bisa merekam perilaku busuknya. Kalau otak kriminal memang susah. Diberi hati akan minta jantung. Rekaman ini akan menjadi bukti kejahatannya.

Setelah Resti pergi, aku menukar satu minuman saja. Rencananya yang satu akan kuminum sedikit. Ingin tahu reaksi yang akan ditimbulkan dari obat tersebut.

Sebenarnya gampang mengusir Resti. Namun, aku tak ingin melakukan sebab menunggu aksi dari Mas Andra. Apakah dia peka perasaanku atau tidak? Apakah ia akan membela istrinya ini dari kekurangajaran madu tak tahu malu itu atau malah membiarkan?

Aku juga ingin melihat seberapa tunduk Mas Andra pada Resti. Jadi bisa memutuskan sebenarnya siapa dikuasai siapa dalam hubungan tersebut.

Ternyata Mas Andra lemah di hadapan Resti.. Buktinya dia tidak memaksa istrinya pulang, malah mereka masuk ke dalam kamar utama.

Baiklah kalau begitu, ini akan jadi alasanku membela diri di hadapan mertua suatu saat nanti. Tentu saja harus ada bukti bahwa Mas Andra dan Resti masuk ke dalam kamar. Kurekamlah saat keduanya masuk ke sana.

Aku punya banyak rekaman baik audio maupun video. Di meja makan pun kurekam pembicaraan kami.

Meski hati dongkol, aku tetap bersikap tenang. Pun ketika Resti dengan sengaja memamerkan kemesraan. Ia menyuapi mas Andra, seperti sengaja ingin menyulut emosi.

Tunggu saja, kamu akan merasakan obat yang tadi dimasukkan dalam minumanku.

*

Ternyata, itu obat pencahar. Aku yang minum sedikit saja sampai bolak-balik beberapa kali. Badan jadi lemas dan inginnya rebahan di kasur. Kebayang Resti yang minum satu gelas full.

"Sayang, obat sebentar lagi datang. Bertahan, ya!"

Mas Andra memeluk tubuhku yang terkulai lemah. Dari nada suaranya memang nyata kecemasan itu. Bukan cemas padaku saja sebenarnya, tapi pada bayi kami yang masih menyusui.

"Ibu tak boleh menyusui dulu, Pak "Ibu tak boleh menyusui dulu, Pak sebelum diarenya berhenti! Nanti ngaruh ke dedek Affan!" jelas bibi yang setia membantu pekerjaan rumah tangga.

Mas Andra tak kembali kepada Resti. Ia menemaniku hingga pagi tiba.

Paginya mas Andra langsung menyelidiki penyebab peristiwa membahayakan itu. Inilah késempatanku membongkar kedok istri barunya itu.

Kentara sekali kemarahan Mas Andra pada Resti ketika melihat rekaman video itu. Mungkin jika tak bisa menahan diri, ia akan menampar wanita yang wajahnya masih pucat.

Dasar perempuan bebal, bukannya menyesal malah menyalahkan orang lain. Terang saja Mas Andra makin berang.

Tapi, kalimat mas Andramenggantung di udara sebab ucapan seseorang. Luar biasa, mama mertua datang.

Reaksi mas Andra seperti orang melihat hantu, begitu juga Resti. Aku pun kaget, tapi tidak ketakutan seperti mereka. Malah senang banget sebab kedatangan sang pembela.

"Mama, kok, gak bilang mau datang?"

Aku langsung menyambut wanita yang matanya sayu itu. Pemilik kulit putih itu berpelukan hangat denganku.

"Kalau bilang, gak kejutan, dong! Oh, ya ini ribut ribut ada apakah?"

"Mas Andra yang akan menjelaskan, Mah!"

Aku menoleh pada lelaki yang wajahnya sudah sepucat mayat. Pasti badannya yang masih lemas itu makin tak bertenaga.

Sengaja kulempar penjelasan padanya agar bisa menyaksikan kebohongan apalagi yang akan dibicarakan.

"Gak ada apa-apa, Mah. Tadi kami cuma bercanda, ia 'kan, Sayang?"

Mas Andra merangkul pinggangku setelah ia selesai memeluk mama. Tapi, wanita itu seperti tak bisa langsung percaya. Dia melemparkan tatapannya pada Resti yang kini diam tertunduk.

"Siapa dia?" tanya mama dengan nada curiga tentu.

"Oh, itu keponakan mang Dadang. Sekarang juga mau pulang diantar mamang!"

Terus saja, Mas kau gali kuburanmu sendiri. Suatu saat takkan ada lagi jalan keluar dari semua ini.

Baik, aku ikuti permainan ini sambil menyiapkan bukti untuk gugatan perceraian kita. Tapi, sebelumnya aku ingin kau dan Resti menderita dulu. Kalau langsung cerai keenakan kalian, dong.

Mas Andra segera pergi untuk mencari mang Dadang tak lama ia kembali bersama pria itu.

"Mari, Nak kita pulang!" ajak mang Dadang pada Resti. Mau tak mau, perempuan jahat itu mengikuti mang Dadang. Dasar tak punya etika, ia tak pamit padaku dan mama.

Mas Andra mengembuskan napas cukup keras. Terang saja itu membuat mama kembali menatap penuh selidik.

"Sepertinya ada yang disembunyikan?"

"Enggak ada, kok, Mah. Apa juga yang disembunyikan!"

Mas Andra dengan sigap merangkul pinggang mama. Lantas mengajaknya menjauh dari tempat ini. Aku pinta temanku itu. Aku mengatakan oke sebab Affan sudah dibekali ASI satu botol penuh.

Aku turun dari pelaminan untuk memberi kesempatan tamu lain memberi selamat pada pengantin. Rencananya ambil minuman saja sebab tidak lapar.

Sepertinya niat ini tak dilanjutkan sebab aku menyaksikan suatu pemandangan mengejutkan. Mas Andra datang bersama Resti. Mereka jalan bagai pasangan paling romantis sedunia.

Kakiku membeku hingga sulit digerakkan. Aku dipaksa untuk tetap menyaksikan pemandangan yang sekarang seperti sedang mengejek harga diri.

Wajah mas Andra terlihat seperti kehilangan darah. Ia mematung melihatku dari jarak yang tak terlalu jauh. Sementara Resti makin menyengaja mengobarkan api di hati madunya. Ia merangkulkan kedua tangan di pinggang mas Andra. Lalu, melemparkan senyuman mengejek.

Ya, Tuhan!

Mengapa kami harus dipertemukan di sini. Tolonglah, aku tak mau lepas kendali.

Aku membalikkan badan sebelum mas Andra bicara. Lebih baik langsung pulang daripada nanti dipermalukan lebih jauh oleh mereka.

"Armila, tunggu!"

Aku tak memedulikan teriakan mas Andra. Terserah apa kata orang yang melihat adegan ini. Untunglah ia tak mengejar lagi.

Sebelum pulang, aku coba memenangkan pikiran dan perasaan dulu. Khawatir kalau kacau malah berbahaya di jalan.

"Kamu ingatnya begitu, ya?"

"Maaf, ya. Kak!"

"Sudah mau pulang? Wah, aku baru datang, kamu sudah mau pulang. Eh, sendirian saja? Kebetulan yang kebetulan. Aku juga sendirian. Ke sana lagi, ayo. Temani ke pengantinnya, sambil ngobrol dikitlah. Gak kangen memang sama cowok populer ini?"

"Dia datang bersama saya. Kenalkan, Andra, suami Armila!"

Sodoran tangan mas Andra disambut oleh kak Reiga. Keduanya berjabat tangan dan bertatapan dengan arti yang hanya dapat ditafsirkan hanya oleh hati masing-masing.

"Wah, saya tidak update. Ternyata Armila sudah menikah. Selamat, ya meski telat. Kalau begitu, saya ke sana dulu. Mari, La, mari Mas Andra!"

Mas Andra langsung menggandeng tanganku untuk keluar dari pesta setelah kak Reiga pergi.

"Aku akan mengantarmu pulang.

Mobilmu nanti mang Dadang saja yang bawa sekalian antar Resti!"

*

Pagi ini aku melihat rumah kosong di depan rumah sedang ramai. Mungkin ada yang mau mengisinya.. Syukurlah ada penghuni baru, jadi tak terlalu sepi.

Meski perumahan ini bukan kawasan elit banget, tapi para penghuninya jarang di rumah. Mereka rata-rata pekerja kantoran seperti mas Andra. Makanya cukup sepi baik siang maupun malam.

Aku pun jarang ke halaman kecuali untuk hal penting saja. Tapi, kali ini jadi kepo sebab ada suara-suara di seberang.

"Armila! Kamu tinggal di sini? Wah, berarti kita tetanggaan!"

Entah harus kaget atau senang melihat orang yang kini menghampiri. Ternyata kak Reiga penghuni baru rumah itu. Dia jadi tetanggaku berarti.

Kami bicara dibatasii pagar.

Sepertinya dia juga tak bisa masuk untuk ngobrol lama sebab sedang sibuk mengurus barang-barang yang akan dimasukkan ke dalam rumah baru.

"Ada siapa, Mah?" tanya mas Andra yang baru saja keluar dari pintu.

"Senang tetanggaan dengan, Mas Andra!" sambut kak Reiga saat mas Andra sudah ada di dekat kami.

Kulihat wajah mas Andra jadi kelam.

Mungkin sekarang kepalanya sedang tandukan. Ada asap juga yang bergulung-gulung tak henti-henti.

Sebab untuk memanasinya kemarin aku bilang lewat chat kalau kak Reiga itu cinta pertama sewaktu di SMP.

1
Titien Prawiro
Untuk apa punya istri lagi klo sdh punya anak. lelaki serakah, baru baca saja sdh benci banget.
Agus Tina
Lanjut thor, bila perlu vuat Resti susah ounya anak kareba sudah membunuh darah dagingnya sendiri. Dan buat Armila pergi jauh buat Andra tersiksa kerinduan pada anak yg sudah ia sakiti scr tidak langsung karena sudah menyakiti ibunya ...
Gusti Hamdiah
andranya goblok dong
Saskiah Khairani
mohon dukungannya teman² 🙏
Ma Em
Biar saja Armila dgn Reiga daripada sama Andra suami yg tdk punya pendirian plin plan biar Andra dgn Resti biar dia menyesal setelah berpisah dgn Armila .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!