NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita Pirang

BAB 10 — Wanita Pirang

Hari itu cuaca di London cukup cerah, namun entah kenapa suasana hati Alena terasa mendung sejak pagi.

Sejak kejadian di apartemen Adrian, hidup Alena rasanya berubah menjadi dongeng. Setiap malam dia bahagia, setiap malam dia merasa dicintai dan dimiliki sepenuhnya oleh pria yang dia kagumi. Tapi siang harinya... dia harus kembali menjadi penonton, menjadi mahasiswi biasa yang harus menjaga jarak aman dari kekasihnya sendiri.

Itu sulit. Sangat sulit.

Alena berjalan menyusuri koridor kampus menuju kelas. Di tangannya dia memegang buku catatan, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Dia terus mengingat pesan Adrian tadi pagi: "Malam berikutnya... jangan buat aku menunggu lama."

Senyum kecil tak sadar terbit di bibirnya. Bayangan sentuhan, bisikan, dan rasa hangat semalam masih terasa jelas di kulitnya.

Namun, senyum itu harus lenyap seketika saat dia melewati area lobi utama kampus.

Suara tawa renyah namun terdengar sangat berkelas terdengar dari arah halaman depan. Tawa yang bukan miliknya.

Dengan rasa penasaran yang bercampur firasat tidak enak, Alena memperlambat langkahnya dan menyamar seolah sedang melihat papan pengumuman, tapi matanya mencuri pandang tajam ke arah sumber suara.

Jantung Alena seakan berhenti berdetak.

Di sana, di bawah sinar matahari yang sedang bersinar terang, berdiri seorang wanita.

Wanita itu sangat cantik. Sangat cantik dan memukau. Rambut pirang bergelombang panjang tergerai indah di bahunya, kulitnya putih bersih, dan matanya berwarna biru bening seperti langit Skotlandia. Dia mengenakan setelan bisnis yang sangat mahal dan stylish, membuatnya terlihat elegan, percaya diri, dan... dewasa.

Dan yang paling membuat darah Alena seakan mendidih... wanita itu berdiri sangat dekat dengan seseorang yang sangat dia kenal.

Adrian.

Adrian berdiri di sana, berhadapan dengan wanita pirang itu. Dan apa yang terjadi selanjutnya, rasanya seperti pisau yang menusuk tepat ke jantung Alena.

Wanita itu tersenyum lebar, lalu dengan sangat bebas dan akrab, dia melangkah maju dan memeluk leher Adrian.

HUG.

Pelukan yang sangat lama, sangat hangat, dan sangat akrab di depan mata semua orang.

Alena melihat tangan Adrian... tangan yang semalam membelai tubuhnya dengan penuh gairah, tangan yang menggenggam tangannya dengan lembut pagi tadi... kini terangkat perlahan dan membalas pelukan wanita itu.

Punggung tangan Adrian menepuk-nepuk pelan punggung wanita itu. Wajahnya... wajah dingin dan serius itu kini menampakkan senyum. Senyum yang lebar, tulus, dan rileks.

Sejak kapan Adrian bisa tersenyum sebebas itu di depan orang lain?

Alena merasa dadanya sesak. Sangat sesak. Udara seakan habis dari paru-parunya. Dia ingin berbalik dan lari menjauh dari tempat itu, tapi kakinya seakan terpaku di lantai keramik. Matanya tak bisa lepas melihat pemandangan menyakitkan di depannya.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam bagi Alena, mereka akhirnya melepaskan pelukan itu. Namun jarak mereka masih sangat dekat. Wanita itu masih menggenggam lengan Adrian dengan akrab, sesekali menyentuh lengan pria itu seolah itu adalah hal yang wajar dilakukan setiap hari.

"Kau tambah gagah saja, Adrian. Kerja sebagai dosen ternyata cocok sekali untukmu," kata wanita itu dengan aksen British yang sangat halus dan manja.

"Dan kau semakin cantik, Sophia. Aku tidak menyangka kau akan kembali ke kota ini," jawab Adrian. Suaranya terdengar santai, hangat, dan sangat lembut. Sama sekali berbeda dengan nada bicara dinginnya saat di kelas.

Sophia... Jadi namanya Sophia.

Alena mengepal tangannya kuat-kuat di samping badan. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, berusaha menahan emosi yang mulai meledak.

Siapa dia? Kenapa mereka bisa semesra itu? Kenapa Adrian terlihat begitu nyaman? Ribuan pertanyaan berputar kacau di kepala Alena. Rasa tidak aman tiba-tiba menyerangnya habis-habisan.

Dibandingkan wanita itu, Alena merasa dirinya kecil. Wanita itu sempurna. Cantik, tinggi, berkelas, dan jelas berasal dari kalangan yang sama dengan Adrian. Mereka terlihat... sangat cocok. Seperti pasangan yang sempurna di majalah fashion.

Tanpa sadar, kaki Alena melangkah mundur perlahan, berniat menghilang sebelum mereka melihatnya. Tapi sayang... nasib berkata lain.

Mata biru wanita itu—Sophia—tiba-tiba menyapu ke arah pinggir koridor dan menangkap keberadaan Alena.

Wajah cantik itu tersenyum ramah, lalu dia menunjuk ke arah Alena sambil bertanya pada Adrian.

"Oh? Siapa gadis manis itu? Muridmu?"

Adrian menoleh mengikuti arah pandangan Sophia.

Matanya bertemu dengan mata Alena.

Detik itu juga, perubahan terjadi begitu cepat dan menyakitkan. Senyum di wajah Adrian lenyap seketika. Wajahnya kembali datar, dingin, dan profesional. Tatapannya berubah menjadi tatapan dosen ke murid biasa. Tidak ada kedipan mata, tidak ada sinyal rahasia.

Seolah Alena hanyalah orang asing.

"Ya. Dia salah satu mahasiswi terbaik di kelasku," ucap Adrian singkat, nada bicaranya kembali dingin dan kaku.

Alena merasa ingin menangis saat itu juga. Tapi dia tahu dia tidak bisa. Dia harus kuat.

Dengan langkah yang dipaksakan tegap, Alena berjalan mendekati mereka, menunduk sedikit memberi hormat pada Adrian, lalu menatap wanita asing itu.

"Selamat siang, Sir," sapa Alena formal, lalu menoleh ke Sophia. "Halo."

Sophia tersenyum sangat ramah dan hangat, lalu mengulurkan tangannya yang putih dan manicure rapi.

"Halo sayang! Aku Sophia. Senang bertemu denganmu."

Alena menyambut uluran tangan itu dengan kaku. "Halo... aku Alena."

"Alena... nama yang cantik, cocok sekali dengan wajahmu yang khas Asia ini, sangat imut!" puji Sophia tulus, tapi bagi Alena setiap kata itu terasa seperti duri.

Lalu, dengan santainya Sophia menempelkan tubuhnya lagi sedikit ke arah Adrian, bahkan tangannya melingkar di lengan pria itu dengan posesif, sambil berkata dengan bangga kepada Alena.

"Kau tahu kan? Aku dan Adrian sudah kenal sejak lama sekali. Kita bahkan pernah bertunangan dulu, lho. Sayang sekali kami putus di tengah jalan karena masalah pekerjaan. Tapi sampai sekarang kami tetap dekat kok, kan sayang?"

PRANG.

Seperti ada kaca yang pecah di kepala Alena.

Mantan tunangan?

Jadi bukan cuma teman biasa. Bukan cuma kenalan. Mereka pernah bertunangan. Mereka pernah punya ikatan yang sangat serius.

Alena menatap wajah Adrian, mencari bantuan, mencari penolakan, mencari apa saja. Tapi pria itu hanya diam, memasukkan tangan ke dalam saku celananya, dan hanya mengangguk pelan seolah membenarkan ucapan Sophia.

"Benar. Sophia adalah bagian penting dari masa laluku."

Kalimat itu menghantam kepala Alena dengan keras.

Alena tersenyum kaku, mencoba menutupi rasa hancur di wajahnya. "Oh... begitu ya. Wah... cocok sekali kalian berdua. Cantik dan tampan."

"Terima kasih sayang," jawab Sophia girang, tidak sadar bahwa senyum Alena adalah senyum paling pahit di dunia.

"Kalau begitu aku permisi dulu ya, Pak. Mau masuk kelas," ucap Alena pelan, suaranya bergetar hebat dia berusaha menahannya agar tidak pecah.

"Silakan," jawab Adrian dingin, tanpa ekspresi.

Alena berbalik badan dan berjalan cepat menjauh dari sana.

Begitu punggungnya tidak lagi terlihat oleh mereka, air mata yang ditahan sejak tadi akhirnya menggenang. Dadanya terasa sesak, panas, dan perih luar biasa.

Mantan tunangan...

Mereka cocok...

Mereka memeluk...

Rasa cemburu itu bukan sekadar iri. Itu adalah rasa takut kehilangan. Rasa sadar diri bahwa ada wanita yang jauh lebih sempurna, jauh lebih setara, dan jauh lebih memiliki sejarah panjang dengan Adrian daripada dirinya.

Alena menyeka air matanya kasar dengan punggung tangan.

Gila, Alena. Jangan nangis! hardiknya dalam hati. Tapi rasanya sulit sekali. Jantungnya terasa sakit, sangat sakit.

Dia sadar satu hal yang menyakitkan malam ini saat dia kembali ke apartemen sendirian...

Dia sedang cemburu. Cemburu buta. Dan rasanya... menyiksa.

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!