NovelToon NovelToon
GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

GIGOLO TAMPAN ITU TERNYATA ORANG TERKAYA DI MEXICO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Valerie bertemu Mario, pria tampan yang dikiranya gigolo di klub malam. Ia jatuh hati pada sosok sederhana itu, hingga kebenaran terungkap: Mario adalah orang terkaya dan paling berkuasa di Mexio yang menyamar mencari cinta tulus. Dikhianati oleh kebohongan, Valerie ragu memberi maaf. Di tengah bahaya dan intrik kekuasaan, Mario berjuang membuktikan ketulusannya. Kini, keduanya harus memilih: melepaskan, atau mempertahankan cinta yang lahir dari kesalahpahaman di tengah kemewahan dan risiko nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Jalan Tanpa Ujung

Udara di balik pintu itu terasa berbeda dari apa pun yang pernah mereka rasakan sepanjang ribuan tahun hidup mereka. Tidak terasa dingin, tidak terasa panas, tidak terasa ringan atau berat—ia terasa seperti napas kehidupan itu sendiri, mengalir lembut masuk ke dalam paru-paru, membawa rasa segar yang menyentuh setiap serat jiwa, membangunkan kesadaran yang selama ini tertidur di dalam kedamaian yang terlalu lama. Saat langkah kaki pertama mereka menyentuh tanah di sisi lain pintu, ribuan orang serentak berhenti bergerak, menahan napas, dan menatap sekeliling dengan mata yang terbelalak, seolah baru pertama kali mereka benar-benar membuka mata dan melihat dunia.

Mereka berdiri di atas permukaan yang terbuat dari kristal bening, seterang kaca namun sekuat batu karang, memantulkan segala sesuatu di sekelilingnya hingga seolah-olah mereka berdiri di tengah-tengah dua dunia: satu di atas tanah, satu lagi terbalik di bawah kaki mereka. Di sekeliling mereka, cahaya tidak datang dari matahari atau bintang, tapi memancar dari segala arah, berwarna lembut seperti cahaya fajar yang tak pernah berakhir, berubah-ubah rona secara perlahan dari keemasan menjadi ungu, dari perak menjadi biru lembut, menciptakan suasana yang magis namun tenang.

Di hadapan mereka, membentang sebuah jalan lebar yang terbuat dari batu yang bersinar lembut, berkelok-kelok menjauh hingga menghilang di balik kabut cahaya di kejauhan, seolah-olah ia terus berjalan tanpa akhir, menembus batas-batas yang tidak terlihat. Di kiri dan kanan jalan itu, terbentang lanskap yang tak pernah terbayangkan oleh pikiran manusia: lembah yang dipenuhi dengan tanaman yang bergerak mengikuti irama yang hanya bisa dirasakan, bunga-bunga yang kelopaknya terbuka dan tertutup mengeluarkan nada-nada musik yang halus, sungai-sungai yang airnya mengalir bukan ke bawah tapi ke segala arah, memantulkan ribuan warna seolah-olah cairan itu terbuat dari cahaya yang dicairkan.

Namun yang paling menarik perhatian mereka bukanlah keindahan alam di sekeliling, melainkan apa yang berjejer rapi di sepanjang jalan itu. Di kiri dan kanan, berbaris rapi ribuan, bahkan jutaan pintu kayu dengan berbagai bentuk dan ukuran, masing-masing memiliki ukiran yang unik, hiasan yang berbeda, dan memancarkan getaran yang khas. Ada pintu yang tinggi dan megah, ada yang kecil dan sederhana, ada yang berkilauan seperti permata, ada yang tampak tua dan usang namun memancarkan kehangatan yang dalam. Di atas setiap pintu itu, tertulis kalimat-kalimat yang bersinar lembut, namun maknanya terasa menyentuh langsung ke dalam hati setiap orang yang membacanya.

Rian dan Lyra berdiri di barisan paling depan, membiarkan mata mereka menjelajahi segala sesuatu yang ada di hadapan mereka. Ribuan tahun mereka hidup dalam kedamaian, ribuan tahun mereka memegang kebenaran yang menyatukan seluruh umat manusia, namun di hadapan pemandangan ini, mereka kembali merasa kecil, kembali merasa penuh dengan rasa ingin tahu yang membara, kembali merasakan getaran yang sama persis seperti saat mereka masih muda, saat mereka pertama kali mendengar kisah Mario dan Valerie, saat mereka pertama kali memegang halaman-halaman buku besar yang kini telah melebur menjadi cahaya di dalam diri mereka semua.

"Rian," bisik Lyra, suaranya bergetar oleh perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. "Aku merasa seolah-olah kita baru saja mulai hidup lagi. Seolah-olah semua yang kita alami selama ini hanyalah mimpi, dan kini kita baru terbangun untuk menghadapi kenyataan yang sesungguhnya."

Rian menoleh ke arahnya, menatap mata yang telah dikenalnya selama ribuan tahun, dan melihat di sana nyala api yang telah lama tidak terlihat—nyala api semangat, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk melangkah ke tempat yang belum diketahui. Ia mengangguk perlahan, tangannya terulur untuk memegang tangan Lyra, jari-jemari mereka saling bertautan erat.

"Karena memang begitulah kenyataannya, Lyra," jawab Rian dengan suara lembut namun penuh keyakinan. "Selama ribuan tahun, kita hidup dengan jawaban. Kita hidup dengan kepastian. Kita hidup dengan kebenaran yang kita pegang erat-erat, sehingga kita lupa bahwa hidup itu sendiri adalah pertanyaan yang terus berjalan. Kita pikir setelah menemukan jawaban atas 'siapa kita', perjalanan kita selesai. Tapi kita lupa bahwa jawaban itu hanyalah kunci untuk membuka pintu-pintu baru yang tak terhitung jumlahnya. Kini kita berdiri di hadapan pintu-pintu itu, dan kita mengerti: setelah kita tahu siapa kita, pertanyaan terbesar yang tersisa adalah: bagaimana kita akan hidup? apa yang akan kita ciptakan? dan jejak apa yang akan kita tinggalkan di jalan yang tak berujung ini?"

Suasana di sekeliling mereka mulai berubah perlahan. Ribuan orang yang berdiri di sana mulai bergerak dengan hati-hati, melangkah maju sedikit demi sedikit, mata mereka tertuju pada pintu-pintu yang berjejer rapi. Ada yang berhenti di depan satu pintu dan menatapnya lama, seolah-olah pintu itu memanggil namanya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Ada yang berjalan dari satu pintu ke pintu lain, menelusuri barisan yang panjang seolah sedang membaca buku yang halamannya tak pernah habis. Ada yang berbisik satu sama lain, bertanya-tanya, berbagi perasaan, saling menguatkan dalam perasaan yang sama: rasa takjub, rasa penasaran, rasa antusias, dan sedikit rasa takut yang manis.

Tiba-tiba, dari arah tengah jalan di kejauhan, muncul dua sosok yang mereka kenal dengan baik—sosok yang selama ribuan tahun hanya terlihat dalam ingatan dan mimpi, sosok yang kisahnya telah menjadi napas kehidupan bagi seluruh umat manusia. Mario dan Valerie berjalan mendekat dengan langkah yang ringan dan anggun, wajah mereka bersinar dengan cahaya yang lembut namun terang, senyum mereka lebar dan hangat, seolah-olah mereka telah menunggu kedatangan ini selama ribuan tahun, seolah-olah mereka tahu bahwa momen ini pasti akan tiba, tidak peduli berapa lama waktu yang berlalu.

Orang-orang yang melihat mereka datang serentak berhenti bergerak, lalu secara alami mereka membentuk jalan di tengah, memberi ruang bagi dua sosok legendaris itu untuk berjalan mendekati mereka. Tidak ada yang bersorak, tidak ada yang berteriak, hanya keheningan yang penuh dengan rasa hormat, kasih sayang, dan rasa syukur yang mendalam. Saat Mario dan Valerie berhenti berdiri di hadapan mereka, hanya berjarak beberapa langkah, Rian dan Lyra maju selangkah, lalu mereka berempat berdiri berhadapan, di mana ikatan persahabatan dan kasih sayang yang telah terjalin selama ribuan tahun terasa lebih kuat dari sebelumnya.

"Kalian akhirnya sampai di sini," kata Mario dengan suara yang lembut namun bergema di seluruh tempat itu, terdengar jelas di telinga setiap orang yang hadir. "Kami tahu kalian akan sampai. Kami tahu bahwa damai yang sempurna, meski indah, tidak akan pernah bisa memuaskan jiwa manusia selamanya. Karena jiwa manusia tidak diciptakan untuk diam. Ia diciptakan untuk bergerak, untuk tumbuh, untuk mencipta, untuk menjelajah, dan untuk terus menemukan makna yang baru, selamanya."

Valerie menatap wajah-wajah di hadapannya, matanya memancarkan kasih sayang yang menyentuh setiap hati yang melihatnya.

"Dulu, perjalanan kami adalah perjalanan untuk mencari jawaban. Kami bertanya, 'apakah aku berharga? apakah aku dicintai? apakah aku memiliki tempat di dunia ini?' Dan setelah kami menemukan jawabannya, perjalanan kalian dimulai: perjalanan untuk menyebarkan jawaban itu, untuk mengajarkannya, untuk menanamkannya di hati setiap orang di seluruh alam semesta. Dan kini, perjalanan baru dimulai: perjalanan untuk menjalani jawaban itu, untuk mewujudkannya dalam setiap langkah hidup, untuk mengekspresikannya dalam segala hal yang kita lakukan, dan untuk menciptakan dunia-dunia baru yang terbangun di atas dasar kebenaran yang telah kita temukan bersama."

Seorang pemuda yang berdiri di barisan depan mengangkat tangannya sedikit, lalu berbicara dengan suara yang bergetar oleh rasa penasaran:

"Tuan Mario, Nyonya Valerie... apa arti dari semua pintu ini? Mengapa ada begitu banyak? Dan mengapa setiap pintu memiliki tulisan yang berbeda? Apakah kita harus memilih satu jalan saja dan tidak boleh berjalan di jalan lain?"

Mario tersenyum, lalu berjalan mendekat hingga ia berdiri tepat di hadapan pemuda itu, menatap matanya dengan pandangan yang lembut dan bijaksana.

"Pertanyaan yang sangat baik, anak muda. Dan pertanyaan ini adalah pertanyaan pertama yang harus kalian jawab untuk diri kalian sendiri, sebelum kalian melangkah masuk ke dalam salah satu pintu itu. Dengarkan baik-baik, karena jawabannya adalah kunci untuk seluruh perjalanan yang akan kalian jalani selamanya."

Mario berbalik dan menunjuk ke arah ribuan pintu yang berjejer rapi di sepanjang jalan.

"Setiap pintu di sini mewakili satu cara untuk hidup, satu cara untuk mencintai, satu cara untuk mencipta, satu cara untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya. Dulu, kita berjuang untuk menemukan bahwa kita berharga, bahwa kita utuh, bahwa kita lengkap apa adanya. Tapi nilai itu bukan sesuatu yang diam, bukan sesuatu yang hanya ada di dalam diri kita seperti harta yang disimpan di dalam peti. Nilai itu adalah kekuatan yang harus mengalir, kekuatan yang harus dinyatakan, kekuatan yang harus diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang tak terhitung jumlahnya. Sama seperti matahari yang terang bukan hanya karena ia memiliki cahaya di dalam dirinya, tapi karena cahayanya bersinar ke segala arah, memberi kehidupan, memberi kehangatan, memberi cahaya bagi segala sesuatu yang ada di sekelilingnya."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan:

"Lihatlah pintu-pintu itu. Ada yang bertuliskan 'Jalan Pencipta'—ini adalah jalan bagi mereka yang ingin menciptakan hal-hal baru: seni, musik, puisi, ilmu pengetahuan, teknologi, dunia-dunia baru, bentuk kehidupan baru, keindahan yang belum pernah dilihat mata manusia sebelumnya. Ada yang bertuliskan 'Jalan Penjaga'—ini adalah jalan bagi mereka yang ingin melindungi, merawat, dan memelihara kehidupan, yang ingin memastikan bahwa keindahan dan kebenaran yang telah kita temukan terus terjaga dan berkembang, yang ingin menjadi pelindung bagi mereka yang membutuhkan bantuan dan bimbingan. Ada yang bertuliskan 'Jalan Sahabat dan Penyembuh'—ini adalah jalan bagi mereka yang ingin berjalan bersama orang lain, yang ingin mendengar, mengerti, menguatkan, dan menyembuhkan luka, yang ingin membangun ikatan kasih sayang yang semakin kuat seiring berjalannya waktu."

Mario menunjuk ke arah lain, di mana barisan pintu yang lebih panjang lagi terlihat membentang jauh ke belakang.

"Ada 'Jalan Penjelajah'—bagi mereka yang ingin pergi ke tempat yang belum diketahui, yang ingin menemukan hal-hal yang belum ditemukan, yang ingin memperluas batas-batas dunia dan pemahaman, yang ingin menyentuh bagian dari alam semesta yang belum pernah disentuh oleh jiwa mana pun. Ada 'Jalan Guru dan Pemandu'—bagi mereka yang ingin berbagi apa yang telah mereka pelajari, yang ingin membimbing mereka yang baru memulai perjalanan, yang ingin menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Ada 'Jalan Perenung dan Penyelidik'—bagi mereka yang ingin masuk ke dalam kedalaman makna, yang ingin memahami rahasia kehidupan dan keberadaan, yang ingin menyelami samudra kesadaran yang tak bertepi."

Ia menoleh kembali ke arah pemuda itu, lalu menatap semua orang yang hadir, dan senyumnya semakin lebar.

"Dan masih ada ribuan, jutaan jalan lainnya—tak terhitung jumlahnya, karena cara untuk mengekspresikan nilai dan cinta tidak akan pernah habis, selamanya. Dan untuk pertanyaanmu: apakah kalian harus memilih satu jalan saja? Jawabannya adalah: kalian bebas memilih apa pun yang kalian inginkan. Kalian bisa berjalan di satu jalan selama seratus tahun, seribu tahun, atau jutaan tahun, hingga kalian merasa telah memahaminya sepenuhnya, lalu kalian bisa berpindah ke jalan lain untuk mempelajari hal-hal baru. Kalian bisa berjalan di beberapa jalan sekaligus, menggabungkan mereka menjadi jalan milikmu sendiri yang unik. Kalian bisa berjalan sendirian, atau berjalan bersama orang lain, berkelompok, atau berbaris sejajar dengan ribuan orang lainnya. Tidak ada jalan yang benar dan tidak ada jalan yang salah. Semua jalan adalah jalan untuk hidup. Semua jalan adalah jalan untuk tumbuh. Semua jalan adalah jalan untuk menjadi lebih dekat dengan makna kehidupan yang sesungguhnya."

Valerie melangkah maju dan berdiri di samping Mario, suaranya yang lembut menambahkan:

"Satu-satunya hal yang penting, sahabat-sahabatku, adalah bahwa kalian berjalan dengan sepenuh hati. Bahwa apa pun jalan yang kalian pilih, kalian menjalaninya dengan kesadaran penuh, dengan cinta di dalam setiap langkah, dengan keberanian untuk menghadapi segala sesuatu yang akan kalian temukan di sepanjang jalan. Jalan-jalan ini tidak semuanya mudah. Di sepanjang jalan itu, kalian akan menemukan tantangan, kalian akan menemukan hal-hal yang membingungkan, kalian akan menemukan rintangan yang membuat kalian harus berjuang lagi, kalian akan menemukan rasa lelah dan rasa ragu yang kembali datang. Tapi itulah keindahannya. Karena di dalam perjuangan itulah nilai kalian tumbuh. Di dalam menghadapi tantangan itulah jiwa kalian menjadi lebih kuat. Di dalam mengatasi rintangan itulah kalian benar-benar hidup sepenuhnya."

Rian melangkah maju dan berdiri di samping mereka berdua, menatap ribuan orang yang berdiri di hadapannya, dan kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti mengalir langsung dari kedalaman hatinya:

"Selama ribuan tahun kita hidup dalam damai yang sempurna, kita berpikir bahwa itulah puncak kebahagiaan. Tapi kini kita mengerti: kebahagiaan yang sejati bukanlah saat kita tidak memiliki masalah lagi, bukan saat kita tidak perlu berjuang lagi, bukan saat kita tidak perlu bertanya lagi. Kebahagiaan yang sejati adalah saat kita berjalan dengan tujuan, saat kita berjuang dengan makna, saat kita bertanya dengan keberanian, dan saat kita menemukan hal-hal baru yang membuat kita semakin mencintai hidup dan satu sama lain. Kita telah menemukan jawaban atas siapa kita. Dan kini, kita akan menjalani perjalanan untuk menjadi apa yang kita pilih untuk menjadi, selamanya."

Lyra menatap sekelilingnya, melihat bagaimana wajah-wajah di hadapannya berubah, melihat bagaimana rasa penasaran dan kebingungan perlahan digantikan oleh semangat dan tekad, melihat bagaimana nyala api kembali menyala di mata mereka semua.

"Pilihlah jalanmu, teman-teman. Dengarkan suara di dalam hatimu, karena di sanalah jalanmu tertulis. Tidak ada jalan yang lebih baik dari jalan lain. Tidak ada jalan yang lebih mulia atau lebih rendah. Semua jalan adalah sama indahnya, semua jalan adalah sama berharganya, karena semua jalan terbuat dari nilai dan cinta yang ada di dalam dirimu sendiri. Majulah. Berjalanlah. Hidupilah. Dan ketahuilah bahwa tidak peduli ke mana kalian pergi, tidak peduli seberapa jauh kalian berjalan, kalian tidak akan pernah terpisah satu sama lain, dan kalian tidak akan pernah terpisah dari makna yang telah kita temukan bersama. Karena kita adalah satu, dan kita akan tetap satu, selamanya."

Saat kata-kata itu terucap, angin lembut berhembus menyapu tempat itu, membawa suara nyanyian yang halus, dan secara perlahan ribuan pintu yang berjejer di sepanjang jalan mulai terbuka satu per satu. Dari balik setiap pintu itu memancarkan cahaya yang berbeda-beda, membawa getaran yang khas, memanggil mereka yang hatinya selaras dengan jalan di balik pintu itu. Orang-orang mulai bergerak maju, perlahan namun pasti, masing-masing berjalan menuju pintu yang menarik hatinya, dipandu oleh perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, dipanggil oleh suara yang hanya bisa didengar oleh jiwa mereka sendiri.

Beberapa berjalan berkelompok, tertawa dan berbicara satu sama lain, memilih jalan yang sama agar bisa berjalan bersama. Beberapa berjalan sendirian dengan langkah yang tenang dan mantap, menuju jalan yang membutuhkan kesendirian dan perenungan. Beberapa berjalan dengan langkah yang cepat dan penuh semangat, seolah-olah mereka telah menunggu momen ini selama ribuan tahun. Beberapa berjalan perlahan, menoleh ke belakang sesekali untuk melambaikan tangan kepada teman-teman mereka yang memilih jalan lain, dengan senyum yang penuh kasih dan pengharapan.

Rian dan Lyra berdiri di tempat mereka, menatap bagaimana ribuan orang berjalan menuju jalan mereka masing-masing, menyaksikan bagaimana cahaya dari setiap pintu menyatu menjadi satu cahaya besar yang menerangi seluruh dunia di sekeliling mereka. Di samping mereka, Mario dan Valerie berdiri diam, menatap pemandangan itu dengan senyum bangga dan penuh kasih, seolah-olah mereka telah menyelesaikan tugas mereka dengan sempurna, namun juga seolah-olah mereka akan terus berjalan bersama mereka selamanya.

"Jadi ini adalah permulaan yang sesungguhnya, ya?" kata Rian pelan, suaranya penuh dengan kekaguman dan rasa syukur yang mendalam.

"Benar," jawab Mario sambil menepuk bahu Rian dengan lembut. "Apa yang kita lakukan selama ini hanyalah mempersiapkan tanah, menanam benih, dan membiarkannya tumbuh hingga kuat. Kini pohon itu telah tumbuh kokoh, dan cabang-cabangnya mulai menjulang ke segala arah, membawa buah-buahan yang tak terhitung jumlahnya. Kisah tentang mencari dan menemukan telah selesai. Dan kini, kisah tentang hidup dan mencipta baru saja dimulai."

Lyra menoleh ke arah Rian, lalu menatap jalan panjang yang terbentang di hadapan mereka, melihat ribuan pintu yang masih menunggu untuk mereka pilih. Ia memegang tangan Rian dengan erat, merasakan kehangatan dan kekuatan yang mengalir di antara mereka.

"Jalan mana yang akan kita pilih, Rian?" tanyanya dengan senyum yang cerah.

Rian menatap mata Lyra, lalu menatap Mario dan Valerie, lalu menatap ribuan pintu yang berjejer di sepanjang jalan, dan di dalam hatinya ia merasakan jawaban yang datang dengan jelas dan pasti.

"Jalan kita adalah jalan yang kita pilih bersama," jawab Rian dengan suara yang penuh semangat. "Jalan yang membawa kita untuk mencipta, untuk berbagi, untuk tumbuh, dan untuk terus berjalan bersama semua orang yang kita cintai. Jalan yang tidak akan pernah berakhir, karena kita akan terus berjalan, terus belajar, terus mencipta, dan terus mencintai, selamanya."

Mereka berempat berjalan beriringan menyusuri jalan yang panjang itu, melewati pintu-pintu yang terbuka, melewati cahaya yang memancar dari segala arah, menuju masa depan yang tak terlihat namun terasa jelas di dalam hati mereka. Dan di sepanjang jalan itu, di antara jutaan jiwa yang berjalan menuju jalan mereka masing-masing, terasa getaran yang menyatukan mereka semua: getaran nilai, getaran cinta, getaran makna yang telah mereka temukan bersama, dan yang kini akan mereka wujudkan dalam perjalanan panjang yang baru saja dimulai, perjalanan yang akan berjalan terus hingga batas keabadian itu sendiri.

 

Bersambung ke Bab 33

1
Adidtya13
sama aku mampir up trus ya
Alia Chans
"Setiap bab ceritamu selalu berhasil memukau hati. Hebat sekali! Salam kenal sesama penulis, mari saling mampir dan mendukung karya satu sama lain agar dunia literasi kita makin ramai."
Moms Celina: hai thanks ya kak dan makasih atas pendapatnya ya😍
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
hai aku mampir👍👍
Moms Celina: hai thanks ya
total 1 replies
Verhouthen Danita
novelnya menarik nggak bikin bosen nggak bikin jenuh bikin penasaran banget soalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!