TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 10: Melampaui Batas Keabadian
Bangkitnya Matahari Atma
DUAR!
Cahaya putih cemerlang menyapu seluruh Dimensi Tanpa Ruang. Kegelapan yang tadinya mendominasi seketika lari menjauh. Di belakang punggung Raka, kini muncul Matahari Ketujuh yang berbentuk lingkaran cahaya putih tanpa henti, memancarkan aura kedamaian namun dengan tekanan yang luar biasa berat.
Raka berdiri perlahan. Rambutnya kini berubah menjadi putih perak yang panjang dan bersinar.
Matanya tidak lagi berwarna emas, melainkan putih bening dengan pupil berbentuk matahari.
Zirah cahaya putih menutupi tubuh atletisnya, memberikan kesan ia adalah dewa yang baru lahir.
"Nisala..." gumam Raka. Ia bisa merasakan kesadaran Nisala di dalam hatinya, memberinya ketenangan yang tak terbatas.
Barata tertegun, wajahnya yang angkuh kini menampakkan sedikit ketakutan.
"Matahari Atma? Bagaimana mungkin seorang blasteran manusia sepertimu bisa membangkitkan kekuatan tertinggi para penguasa jagat?"
"Ini bukan kekuatanku sendiri, Barata," suara Raka bergema seperti ribuan lonceng suci. "Ini adalah kekuatan cinta dan pengorbanan yang tidak akan pernah kau mengerti."
Syuuuuuutttt!
Raka bergerak. Kali ini, ia benar-benar melampaui konsep kecepatan. Barata bahkan belum sempat mengangkat tangannya saat Raka sudah berada di depannya.
Bugh!
Satu pukulan Raka mendarat telak di perut Barata. Pukulan itu tidak mengeluarkan ledakan besar, namun Barata memuntahkan darah hitam dalam jumlah banyak.
Pukulan Matahari Atma menghancurkan struktur sukma dari dalam.
"Arrrghhh!"
Barata mencoba membalas dengan petir hitamnya, namun Raka hanya menyentuh petir itu dengan jari telunjuknya.
Petir itu berubah menjadi butiran bunga cahaya yang indah.
Raka memanggil Pedang Atma, sebuah bilah cahaya transparan yang panjangnya mencapai tiga meter. Dengan satu tebasan vertikal, Raka memotong ruang dan waktu.
Srek!
Tebasan itu menghantam rantai-rantai yang mengikat ayahnya. Satu per satu, rantai raksasa itu hancur berkeping-keping."
Krakkk! Krakkk!
Sang Hyang Jagat terjatuh dari gantungannya. Raka dengan sigap menangkap tubuh ayahnya yang kini sudah mengecil kembali seukuran manusia biasa.
"Raka... kau... kau sudah tumbuh begitu besar," bisik Sang Hyang Jagat dengan mata berkaca-kaca.
Namun, pertempuran belum usai. Barata, yang kini dalam kondisi terluka parah, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan merah pekat, Inti Darah Alam Semesta. Ia meminumnya dengan rakus.
Groaaaaarrrr!
Tubuh Barata membengkak menjadi monster setinggi gunung dengan ratusan tangan dan mata.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka dimensi ini akan kuhancurkan bersama kalian semua!"
Dimensi Tanpa Ruang mulai runtuh. Retakan-retakan besar muncul di mana-mana.
Raka berdiri di depan ayahnya, memegang pedangnya dengan mantap. Ia tahu, untuk menghentikan Barata sepenuhnya, ia harus membangkitkan dua matahari terakhir. Namun, risiko bagi jiwanya sangatlah besar.
"Ayah, tetaplah di belakangku," ucap Raka dengan nada tenang yang mematikan.
"Aku akan mengakhiri kegelapan ini sekarang juga."
Raka melesat terbang menuju monster raksasa Barata, menjadi seberkas cahaya putih yang menantang kegelapan mutlak. Di dalam hatinya, suara Nisala berbisik lembut, memberi semangat untuk pertarungan terakhir yang akan menentukan nasib seluruh alam semesta."
Dimensi Tanpa Ruang."
kini tak lebih dari reruntuhan kaca raksasa yang melayang di tengah kehampaan. Suara retakan dimensi terdengar seperti jutaan lonceng yang pecah bersamaan.
Dewa Barata, dalam wujud monster raksasa setinggi gunung, menggerakkan ratusan tangannya yang menggenggam senjata-senjata kegelapan.
Setiap matanya yang berjumlah seribu memancarkan sinar merah yang menghanguskan apa pun yang disentuhnya.
"MATILAH KAU, KECOA KECIL!" suara Barata bukan lagi suara manusia, melainkan gemuruh badai yang menghancurkan.
Glarrrr!
Ratusan pukulan tangan raksasa itu menghantam posisi Raka. Raka melesat lincah di antara celah-celah pukulan tersebut. Namun, tekanan udara dari serangan Barata begitu kuat hingga membuat zirah cahaya Raka retak.
Krakkk!
"Raka! Kau tidak bisa menang hanya dengan serangan fisik!" suara Nisala bergema di dalam batin Raka.
"Dia telah menyatu dengan Inti Alam Semesta. Kau harus melampaui konsep 'ada' dan 'tiada'!" Penyatuan Batin: Ruang Kedalaman Jiwa."
Di tengah gempuran maut itu, Raka memejamkan mata. Ia memasuki alam bawah sadarnya, sebuah ruang meditasi yang tenang di tengah badai. Di sana, ia melihat sosok Nisala yang cantik sedang berdiri di tengah danau cahaya berwarna ungu keemasan.
Nisala mendekat, wajahnya memancarkan aura kedamaian yang magis.
"Untuk mencapai Matahari Kedelapan, kau harus membiarkan aku masuk lebih dalam... bukan hanya di sukmamu, tapi di setiap sel keberadaanmu. Kita harus menjadi satu napas, satu detak, satu gairah."
Nisala memeluk Raka dari belakang. Raka merasakan kehangatan tubuh Nisala yang kini terasa sangat nyata di dalam batinnya. Tangan halus Nisala meraba dada bidang Raka, sementara bibirnya berbisik di tengkuk pemuda itu, mengirimkan getaran elektrik yang membangkitkan seluruh sarafnya.
Raka berbalik, menangkap pinggang Nisala dan menariknya ke dalam cumbuan yang paling dalam. Dalam ruang jiwa ini, mereka tidak lagi memiliki rahasia.
Raka yang membara sebagai lelaki bertemu dengan energi dingin Nisala yang tak terbatas. Sensasi itu begitu kuat, membuat Raka merasa seolah tubuhnya mencair dan menyatu dengan semesta.
Raka menggeram rendah. Setiap sentuhan Nisala di kulitnya terasa seperti aliran lava yang memberikan kekuatan baru. Di puncak penyatuan batin yang sangat intim ini, sebuah ledakan energi murni berwarna ungu transparan meletus dari jantung mereka.
Ini bukan lagi soal kenikmatan jasmani, tapi sebuah peleburan kosmik yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah menyerahkan seluruh ego mereka. Matahari Kedelapan: Matahari Nirwana."
Syuuuuuuuuuuutttt!
Kembali ke dunia nyata, tubuh Raka tiba-tiba menghilang dari pandangan Barata. Begitu ia muncul kembali, auranya telah berubah menjadi transparan dengan garis-garis emas dan ungu yang elegan.
Matahari Kedelapan!" Matahari Nirwana." berbentuk lingkaran cahaya besar yang tenang di belakang kepalanya, membuat Raka tampak seperti dewa tertinggi yang turun ke bumi.
Suara dengungan suci keluar dari tubuh Raka.
Barata mencoba mencengkeram Raka dengan seribu tangannya.
Srakkk!
Namun, begitu tangan-tangan monster itu menyentuh aura Raka, tangan tersebut seketika berubah menjadi kelopak bunga teratai yang berguguran.
"Apa?! Kekuatanku... tidak bisa menyentuhnya?!" teriak Barata dalam ngeri.
Raka mengangkat tangan kanannya perlahan. Di ujung jarinya, muncul sebuah titik hitam kecil yang memiliki daya tarik luar biasa. Itulah "Titik Nol" kekuatan dari Matahari Nirwana.
"Barata, kau telah merusak keseimbangan terlalu lama," ucap Raka. Suaranya kini sangat tenang, namun mengandung wibawa yang membuat dimensi itu berhenti bergetar. "Kembalilah ke ketiadaan."
Wusss!
Raka meluncur maju. Kali ini, ia tidak memukul. Ia hanya berjalan menembus tubuh monster raksasa Barata. Setiap bagian tubuh Barata yang dilewati Raka seketika hancur menjadi partikel cahaya ungu.
"TIDAAAAAKKKK! AKU ADALAH PENGUASA JAGAT!" Barata meraung, mencoba mengeluarkan seluruh energi hitamnya.
Boom!
Raka melepaskan tebasan jari yang disebut Pedang Nirwana. Garis cahaya tipis berwarna ungu membelah monster Barata tepat di tengah.
Sret!
Ledakan cahaya yang begitu indah menyelimuti seluruh Dimensi Tanpa Ruang. Barata meledak, bukan dalam api yang panas, melainkan dalam partikel cahaya yang membawa ketenangan. Inti Alam Semesta yang tadinya dicuri Barata, kini melayang bebas di depan Raka."
Bersambung....