"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Efek Samping Pasca-Trauma
Kampus hari Senin rasanya beda banget.
Bau buku di perpustakaan, suara bising mahasiswa di koridor, sampe aroma gorengan kantin yang biasanya bikin laper, sekarang kerasa jauh banget dari ingatan gua soal hutan bambu dan dinginnya Desa Pinus.
Gua jalan ngelewatin selasar fakultas Teknik dengan langkah ragu. Di pundak gua, ada tas plastik berisi jaket denim Dedik yang udah gua cuci bersih (pake pelembut paling wangi, biar dia tau Sagitarius itu perhatian).
Gua sebenernya males ketemu dia, tapi "logikanya" meminjam kata-kata si Aquarius itu, jaket ini harus dibalikin.
"Rey! Reyna!"
Gua nengok. Arlan jalan cepet nyamperin gua. Lengannya masih dibalut perban tipis, tapi gayanya udah balik lagi pake kemeja mahal yang disetrika licin. Gua otomatis ngerasa males.
"Apa lagi, Lan? Mau bawa pengacara lagi?" tanya gua sarkas.
Arlan nahan langkah gua, mukanya kelihatan agak ngerasa bersalah, dikit banget.
"Rey, gue cuma mau minta maaf soal kejadian di penginapan kemarin. Gue beneran disuruh kantor buat narik data itu. Gue nggak ada maksud bikin lo lari-larian kayak buronan."
"Tapi lo nyaris bikin riset itu gagal, Lan. Lo tau kan Dedik kerjanya kayak gimana?"
"Iya, gue tau. Si kaku itu emang pinter. Gue kalah, oke?" Arlan angkat tangan tanda menyerah. "Tapi lo harus hati-hati, Rey. Tim auditor sponsor lagi ngecek rincian pengeluaran riset kalian."
"Mereka masih nyari celah buat nggak bayar insentif tambahan karena kecelakaan motor gue kemarin dianggap kelalaian tim."
Gua narik napas panjang. "Terserah lo deh, Lan. Yang penting jangan ganggu Dedik dulu. Dia lagi fokus buat sidang laporan antara sama Pak Dekan."
Gua ninggalin Arlan gitu aja. Tujuan gua cuma satu: Lab Komputer lantai 3, tempat biasa si "Manusia Logika" itu mendekam kalau lagi ngolah data.
Begitu gua buka pintu Lab, hawanya langsung kerasa dingin banget. AC-nya kayak sengaja disetel suhu kutub utara.
Di pojokan, di depan monitor gede yang penuh sama grafik frekuensi suara, ada cowok pake kaos oblong item lagi serius banget ngetik. Gitarnya nyender manis di samping meja.
Gua jalan pelan, terus naruh tas plastik itu di meja sebelahnya.
"Nih. Udah gua cuci. Wangi, nggak bau keringet gua lagi," kata gua ketus, nyoba nutupin rasa deg-degan.
Dedik nggak langsung nengok. Dia ngetik satu baris kode lagi, neken Enter, baru deh dia muter kursi kerjanya. Matanya yang agak sembab, kayaknya kurang tidur...lagi natap gua datar dari balik kacamatanya.
"Wangi apa? Floral? Logikanya, gua nggak terlalu suka wangi bunga yang menyengat," sahutnya pelan. Tapi tangannya tetep ngeraih tas plastik itu.
"Dikasih makasih bukannya syukur, malah protes wangi!" gua duduk di kursi sebelah dia tanpa diundang. "Gimana sidang sama Pak Dekan? Aman?"
"Aman. Sembilan puluh persen data kita diterima. Pak Dekan malah mau masukin riset ini ke jurnal internasional," Dedik benerin posisi kacamatanya. "Tapi ada satu masalah."
"Apa lagi?"
"Vokal lo di rekaman malam itu."
Jantung gua langsung mencelos. "Kenapa? Fals ya? Kan gua udah bilang, mending lo pake suara simulasi komputer aja!"
Dedik geleng-geleng. Dia neken tombol Play di komputernya.
Suara gua yang nyanyi di tengah hutan bambu keluar dari speaker studio yang mahal. Kedengeran jernih banget, emosional, dan jujur... gua sendiri merinding denger suara gua sendiri diiringi gitar dia.
"Masalahnya bukan karena jelek, Rey," Dedik natap layar monitor, bukan natap gua. "Masalahnya, suara lo terlalu 'hidup'. Komputer nggak bisa niru getaran emosi di bagian chorus itu."
"Dan Pak Dekan minta... lo harus nyanyi secara live nanti pas presentasi akhir di depan dewan penguji dan perwakilan sponsor."
Gua langsung berdiri tegak sampai kursi gua jatoh. "GAK! GAK MAU! DED, LO TAU GUA PUNYA STAGE FRIGHT!"
"Gua tau," sahut Dedik tenang, setenang permukaan air di gelas kimia. "Tapi secara statistik, persentase keberhasilan proyek ini naik tiga puluh persen kalau ada pembuktian resonansi suara manusia secara langsung."
"Lo mau usaha kita di hutan bambu kemarin cuma jadi file MP3 yang berdebu di server kampus?"
"Tapi gua nggak bisa, Ded! Gua bakal pingsan kalau diliatin banyak orang!"
Dedik berdiri. Dia jalan deketin gua. Jarak kita cuma selangkah. Dia lebih tinggi dari gua, jadi gua harus agak ndongak buat liat matanya.
"Waktu di hutan, lo bisa," bisik Dedik. "Lo cuma perlu bayangin kalau di ruangan itu nggak ada siapa-siapa. Cuma ada gua sama gitar gua. Sama kayak malem itu."
Gua diem. Bayangan pelukan Dedik di tengah kegelapan hutan bambu tiba-tiba lewat di otak gua kayak kilat. Muka gua mendadak panas. Sialan, kenapa dia harus ngingetin momen itu sih?!
"Itu beda! Itu kan gelap! Gua nggak liat muka lo!" bela gua, padahal sebenernya gua inget banget gimana nyamannya di deket dia waktu itu.
"Oh, jadi lo butuh gelap buat bisa nyanyi?" Dedik naikin satu alisnya, sudut bibirnya ketarik dikit, dia lagi ngeledek gua. "Atau lo butuh dipeluk dulu biar suaranya keluar?"
Gua spontan mukul lengan dia pake tas plastik kosong. "DEDIK! MULUT LO YA!"
Dedik ketawa pelan, suara ketawa yang jarang banget keluar.
"Logikanya, Rey... rasa takut itu cuma respon kimiawi di otak. Lo bisa kontrol itu. Kita punya waktu dua minggu sebelum presentasi. Tiap sore, lo latihan di sini sama gua."
"Latihan? Di sini?"
"Iya. Cuma berdua. Sampai lo ngerasa suara gua dan gitar gua adalah tempat paling aman buat lo."
Gua nelen ludah. Tempat paling aman? Omongan dia barusan kedengeran lebih romantis daripada semua gombalan Arlan selama setahun terakhir, meskipun dibungkus pake nada bicara yang kaku.
"Oke," kata gua lirih. "Tapi lo jangan galak-galak pas ngoreksi nada gua!"
"Gua nggak galak. Gua cuma jujur," Dedik balik lagi ke kursinya. "Satu lagi, Rey."
"Apa?"
"Makasih jaketnya. Dan... makasih udah milih buat tetep bareng gua pas Arlan dateng kemarin. Meskipun secara logika, bareng Arlan lebih nyaman karena motornya bagus."
Gua senyum tipis, ngerasa menang dikit. "Motor bagus nggak bisa ngajakin riset di tengah hutan bambu malem-malem, Ded."
Dedik nggak bales omongan gua, tapi gua liat telinganya agak memerah. Gua tau, si Aquarius ini lagi salting tapi sok jago.
Gua jalan keluar dari Lab dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, gua horor ngebayangin harus nyanyi di depan orang.
Di sisi lain, gua ngerasa ada yang aneh sama jantung gua tiap kali Dedik ngomong soal "tempat aman".
Pas gua nyampe di parkiran, gua liat Kak Tiara lagi ngobrol sama beberapa asdos lain. Begitu liat gua, dia langsung dadah-dadah.
"Rey! Gimana? Udah ketemu Dedik?" tanya Kak Tiara pas gua deketin.
"Udah, Kak. Disuruh latihan nyanyi tiap sore," keluh gua.
Kak Tiara senyum penuh arti. "Bagus itu. Dedik emang butuh 'sentuhan' manusia kayak lo biar risetnya nggak kaku-kaku amat."
"Oh iya, ati-ati ya. Arlan kayaknya lagi ngerencanain sesuatu sama anak-anak musik buat nandingin riset kalian di festival kampus bulan depan."
Gua ngerutin dahi. Arlan emang nggak ada matinya. Tapi kali ini, gua nggak takut. Gua punya Partner Sialan yang logikanya lebih tajem dari silet.
***
Latihan sore dimulai! Bisakah Dedik nyembuhin stage fright Reyna? Dan apa rencana baru Arlan untuk ngerusak "Harmoni Nada" mereka di festival kampus? Jangan-jangan, Arlan mau nyabotase alat musik Dedik?