Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Syifa tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepala dengan sopan namun tegas. "Tidak usah, Mas. Terima kasih banyak atas tawarannya. Tapi... Abi saya dari dulu tidak pernah mengizinkan saya dibonceng oleh laki-laki yang bukan mahram saya. Sekali lagi maaf ya, Mas Hasbi."
Hasbi tampak sedikit kecewa, namun ia berusaha memaklumi prinsip kuat gadis di depannya. "Oh... iya, maaf, saya lupa. Tapi, kamu kedinginan sekali, Syif, saya lihat bibirmu sampai biru. Nih, pakai jaket saya saja dulu untuk sementara biar hangat." Hasbi dengan sigap melepas jaket parka tebalnya, lalu meletakkannya di atas meja depan Syifa.
Syifa menatap jaket itu dengan perasaan ragu dan bimbang yang luar biasa. Ia masih sadar betul akan statusnya sekarang yang sudah menjadi istri orang. Menerima barang dari pria lain yang jelas-jelas menyukainya terasa seperti sebuah bentuk pengkhianatan kecil di hatinya.
"Tidak usah, Mas Hasbi. Beneran, saya tidak apa-apa," tolak Syifa halus, mendorong jaket itu kembali ke arah Hasbi.
"Ah, tidak apa-apa, Syif. Pakai saja, nanti kamu bisa masuk angin," ujar Hasbi sedikit memaksa, kembali menggeser jaket itu ke dekat tubuh Syifa.
Merasa tidak enak hati dan tidak ingin memperpanjang perdebatan di depan umum yang bisa mengundang perhatian orang lain di minimarket, Syifa akhirnya terpaksa mengambil jaket tersebut dan melipatnya, lalu meletakkannya di atas pangkuannya sebagai penghalang dingin, tanpa benar-benar memakainya di tubuh.
----------------
Sementara itu, di ruang rapat lantai atas rumah sakit, Fadhlan yang sedang duduk di kursi pimpinan mendengarkan pemaparan presentasi dari kepala divisi medis tiba-tiba merasakan handphone di dalam saku celananya bergetar hebat berkali-kali.
Mengingat etos kerja dan profesionalisme tingkat tinggi yang selalu dianutnya, Fadhlan menghela napas pendek. Tanpa repot-repot melihat nama kontak atau siapa orang yang menelfonnya di layar, jempolnya langsung menggeser tombol merah, menolak panggilan tersebut, lalu menekan tombol daya untuk menonaktifkan handphonenya secara total agar fokus rapat tidak terganggu.
Dua jam kemudian, usai rapat selesai dan semua urusan administrasi rumah sakit beres, Fadhlan memutuskan untuk segera kembali ke rumah menggunakan mobil yang disetir Pak Ridwan. Kepalanya masih terasa agak pening, namun fokus utamanya sekarang adalah pulang dan menemui istrinya.
Fadhlan mengira kalau Syifa sudah pulang dengan selamat menggunakan taksi yang ia pesan. Namun, begitu ia melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi, ia tidak menemukan keberadaan istrinya di mana pun.
Fadhlan berjalan cepat menuju area dapur dengan langkah cemas. "Bi, Syifa di mana?" tanya Fadhlan langsung pada Bi Darsih yang sedang mencuci piring.
Bi Darsih berbalik dengan wajah heran yang polos. "Loh... baru saja bibi mau tanya ke Aden. Kenapa Aden pulangnya sendirian tidak bersama Non Syifa? Bukannya tadi pagi berangkatnya bareng?"
Deg!
Jantung Fadhlan berdenyut abnormal. "Dia belum pulang, Bi?"
"Belum, Den. Dari tadi belum ada tanda-tanda Non Syifa datang," jawab Bi Darsih mulai ikut cemas.
Lastri yang sedang memotong buah di dekat meja pantry ikut menyahut dari belakang. "Mungkin Non Syifa masih bingung dengan alamat rumah ini, Den. Kan Non Syifa baru kemarin pindah ke sini."
Mendengar perkataan Lastri, Fadhlan seketika bagai dihantam kenyataan pahit. Kebodohan dan kecerobohannya sendiri melintas di kepala. Bagaimana bisa ia melupakan fakta krusial bahwa istrinya adalah gadis desa yang baru satu hari menginjakkan kaki di kota besar ini?
Tanpa membuang waktu lagi, Fadhlan merogoh saku celananya, menyalakan kembali handphonenya yang sempat mati total selama berjam-jam. Begitu logo sistem menyala, rentetan notifikasi panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari kontak bernama "Istriku" langsung membanjiri layarnya.
Fadhlan membuka pesan pertama dengan tangan yang mulai gemetar dingin.
"Bapak marah ya? Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak tahu jalan pulang ke rumah Bapak... Di sini hujan deras sekali, Pak. Saya sedang berteduh."
Dada Fadhlan terasa sesak membaca kata demi kata yang penuh kepasrahan itu. Ia menggeser layar ke bawah, membaca pesan berikutnya yang masuk satu jam setelah pesan pertama.
"Setidaknya kalau Bapak marah besar sama saya, Bapak mau baca pesan dari saya ini... Maaf kalau saya pulang terlambat. Hujannya deras sekali dan petir, saya sedang menunggu di minimarket dekat gerbang kampus."
Di bagian paling bawah pesan, terdapat sebuah tautan share-location yang sempat dikirimkan Syifa sebelum handphone gadis itu mungkin kehabisan baterai atau kehilangan sinyal akibat badai. Tautan itu menunjukkan titik koordinat sebuah minimarket merah biru yang berjarak tidak jauh dari gerbang luar kampus.
Fadhlan tercengang. Rasa bersalah, panik, dan takut kehilangan seketika bercampur menjadi satu, membakar seluruh akal sehatnya. Penyakit demam dan pusing yang tadinya menggelayuti kepalanya mendadak hilang menguap digantikan oleh adrenalin yang berpacu liar.
Tanpa berpikir panjang atau membalas pesan tersebut, Fadhlan langsung berbalik, menyambar jaket kulit hitam tebal dan helm full-face miliknya yang tergantung di dekat koridor teras dalam.
"Den! Aden mau ke mana? Di luar hujan deras sekali, Den!" seru Bi Darsih panik, berlari kecil mengejar langkah lebar majikannya sampai ke area garasi luar.
"Jemput Syifa, Bi," jawab Fadhlan pendek dengan nada suara yang bergetar menahan luapan emosi.
"Kalau begitu naik mobil saja, Den! Biar diantar sama Pak Ridwan, lebih aman tidak kehujanan!" usul Bi Darsih cemas melihat kondisi fisik Fadhlan yang sebenarnya belum pulih benar.
"Tidak keburu, Bi! Jalanan pasti macet kalau pakai mobil!" sahut Fadhlan tegas.
Tanpa memedulikan teriakan peringatan dari Bi Darsih lagi, Fadhlan langsung menaiki motor Ninja hitam miliknya yang bermesin besar. Ia menyalakan mesin yang langsung menderu garang memecah suara rintik hujan. Dengan gerakan cepat, ia memutar gas dalam-dalam, membuat motor sport itu melesat bak peluru hitam menembus tirai hujan yang sangat lebat di luar gerbang.
Di dalam benaknya saat ini, hanya ada satu nama yang berputar layaknya poros kehidupan, Syifa. Fadhlan terus merutuki kebodohannya di sepanjang jalan. Mengingat hari yang sudah mulai petang, langit yang menggelap cepat karena badai, dan kondisi jalanan sekitar kampus yang terkenal rawan dan sepi saat hujan, Fadhlan hanya bisa berdoa dalam hati agar istrinya baik-baik saja dan tidak terjadi hal buruk apa pun sebelum ia sampai di sana.
...----------------...
Hujan deras yang mengguyur kota sejak sore belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Di teras minimarket yang mulai sepi, Syifa masih setia duduk melipat tangan, menatap bulir-bulir air yang menghantam aspal. Di sampingnya, Hasbi setia menemani. Sesekali pemuda itu melontarkan candaan ringan demi mengusir cundang sepi, bahkan sempat membelikannya sebotol minuman hangat dan sebungkus roti.
Syifa merasa tidak enak hati. Kehadiran Hasbi di sampingnya mulai memicu rasa risau.
"Kalau Mas Hasbi mau pulang duluan, tidak apa-apa. Saya mau menunggu hujan berhenti saja di sini," ujar Syifa, menyunggingkan senyum sungkan.
Hasbi menatap jam di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap langit yang kian menggelap. "Tapi ini sudah hampir Maghrib, Syif. Angkot juga sepertinya sudah tidak ada yang lewat jam segini."
"Emmm, iya... nanti Syifa telepon Abi saja untuk jemput." Syifa menggigit bibir bawahnya, berbohong demi kesopanan.
"Saya antar saja ya? Nanti saya yang jelaskan langsung sama Abi kamu," ajak Hasbi sembari beranjak, sorot matanya penuh harap agar Syifa bersedia pulang bersamanya.
"T-tapi nanti kalau ada orang kampus yang lihat, saya khawatir akan jadi salah paham. Jadi tidak usah, Mas, terima kasih banyak," tolak Syifa halus namun tegas.
Wajar saja Syifa ragu. Kampus berbasis agama tempat mereka menuntut ilmu menerapkan aturan yang ketat. Setiap mahasiswa dan mahasiswi yang bukan mahram atau belum sah menjadi suami-istri dilarang keras berboncengan. Syifa tidak ingin memicu fitnah.
‘Semoga kesempatan kali ini bisa membuatku lebih dekat dengan Syifa,’ lirih Hasbi dalam hati, mengabaikan penolakan itu demi rasa yang dipendamnya.
"Saya ngga mungkin meninggalkan kamu di sini sendirian, Syif. Sudah malam."
Syifa terdiam, jemarinya meremas ritsleting tasnya dengan bingung. Berkali-kali ia memeriksa layar ponselnya, menunggu balasan pesan dari suaminya yang tak kunjung datang.
‘Mas Fadhlan, kamu di mana? Tega bener sih ninggalin aku jam segini...’ batin Syifa nelangsa.
"Percaya Syif sama saya. Kalau ada apa-apa, saya yang akan bertanggung jawab penuh. Saya hanya mau menolong... ayo pulang?" Hasbi meyakinkan, dan tanpa sadar, tangannya bergerak memegang lengan Syifa untuk mengajaknya berdiri.
Tepat pada detik itu, sebuah motor ninja berwarna hitam pekat berhenti dengan deru mesin yang tajam di depan minimarket. Pria berjaket tebal di atas motor itu membuka helmnya dengan gerakan tegas, menampakkan rahang kokoh yang mengeras. Ia langsung turun dan berjalan cepat ke arah mereka.
Syifa membulatkan kedua matanya, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
"Lepas!" titah pria itu dengan suara berat, rendah, namun sarat akan ancaman mutlak saat ia menginterfensi jarak di antara Syifa dan Hasbi.
Hasbi tersentak, langkahnya mundur selangkah. "Pak Fadhlan?" ucap Hasbi, mengenali sosok dosen muda yang disegani di kampusnya.
"Ayo Syifa! Kita pulang sekarang," perintah Fadhlan tanpa intonasi bantahan, matanya menatap tajam Syifa yang seketika menunduk ketakutan.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Syifa beranjak. Namun, karena gugup dan gemetar, tangan kanannya refleks masih memegang ujung jaket Hasbi yang sempat ia raih saat terkejut tadi.
Sebenarnya, sebelum Fadhlan menghentikan motornya di minimarket itu, ia sudah mengamati istrinya dari kejauhan. Jantungnya bergemuruh hebat saat melihat Syifa tengah mengobrol berdua dengan seorang lelaki, mahasiswa yang sama yang pernah ia lihat menaruh perhatian pada istrinya.
Menyaksikan lengan Syifa dipegang oleh mahasiswa itu, ego dan rasa cemburu Fadhlan sebagai seorang suami langsung tersulut api. Ditambah lagi sekarang, ia melihat jemari Syifa menggenggam jaket pria lain di depannya.
Tanpa aba-aba, Fadhlan merebut paksa ujung jaket di tangan Syifa, lalu menyentakkannya kembali pada Hasbi.
"Terima kasih. Tapi dia tidak membutuhkannya!" ketus Fadhlan. Dengan gerakan protektif, ia langsung menggenggam erat telapak tangan Syifa yang terasa dingin.
Hasbi bahkan tidak diberikan celah sedikit pun untuk membela diri atau sekadar menyapa. Di bawah tatapan nanar Hasbi, sang dosen membuka jaketnya sendiri, memakaikannya ke tubuh Syifa yang basah, dan menuntun gadis itu naik ke atas motor ninja tanpa ada penolakan sama sekali dari Syifa.
Motor itu melesat membelah sisa hujan, meninggalkan Hasbi yang mematung di pelataran minimarket.
"Tadi itu... benar Pak Fadhlan, kan? Ada hubungan apa dia dengan Syifa?" gumam Hasbi, otaknya berputar keras mencari jawaban. "Bukannya kemarin Pak Fadhlan baru saja menikah?"
Hasbi berdiri terpaku di sana, merasa atmosfer tegang yang barusan terjadi seolah-olah hanyalah sebuah halusinasi di sore yang basah.
Fadhlan melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Angin malam dan sisa rintik hujan menghantam wajah mereka, namun Fadhlan tidak menghiraukan apakah istrinya ketakutan atau hampir pingsan di boncengan belakang. Pikirannya terlanjur dikuasai gemuruh cemburu.
Syifa tahu betul suaminya sedang berada di puncak kemarahan. Menghindari risiko berbahaya di jalan, ia memilih bungkam, lalu perlahan melingkarkan kedua tangannya di pinggang kokoh Fadhlan, memeluknya erat demi mencari keamanan.
Begitu mereka sampai di halaman rumah mewah mereka, Fadhlan langsung turun, mematikan mesin, dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ataupun menanyakan keadaan Syifa. Syifa hanya bisa menghela napas panjang, menguatkan hatinya, dan mengekor di belakang suaminya dengan langkah gontai.
"Alhamdulillah, Non sudah pulang. Aduh, Non... basah kuyup begini. Bibi siapkan air hangat untuk mandi ya, Non?" sambut Bi Darsih cemas begitu melihat menantu majikannya basah di ambang pintu.
"Tidak usah, Bi, terima kasih banyak. Syifa bisa sendiri kok," jawab Syifa, berusaha tersenyum meski bibirnya sedikit bergetar karena dingin.
"Tapi kalau mandi pakai air hangat ya, Non? Bibi khawatir Non nanti sakit."
"Iya, Bi. Syifa ke atas dulu ya. Maaf ya Bi, kalau malam ini Syifa ngga bisa bantu Bibi sama Lastri menyiapkan makan malam."
"Sudah, Non, itu sudah tugasnya Bibi. Non mandi saja terus langsung ganti baju, biar ngga masuk angin."
Syifa mengangguk pelan, lalu melangkah menaiki anak tangga satu demi satu. Di depan pintu kamar mereka, ia berhenti sejenak, menghela napas sedalam mungkin demi mempersiapkan diri menghadapi mode dingin sang suami.
...----------------...
Saat melangkah masuk, suara gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi; Fadhlan sedang membersihkan diri. Syifa bergegas mencari pakaian kering, mengganti bajunya yang lembap, lalu duduk di tepi tempat tidur. Karena tubuhnya yang kelelahan dan hawa dingin yang menjalar, tanpa sengaja matanya terpejam dan ia tertidur dalam posisi duduk.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Fadhlan keluar dengan handuk kecil yang mengeringkan rambutnya. Langkahnya terhenti saat melihat tubuh mungil istrinya tertidur lelap dengan posisi yang tidak nyaman di tepi kasur. Rasa bersalah perlahan mengikis amarahnya. Fadhlan berjalan mendekat, berlutut di hadapan Syifa. Menatap wajah polos yang tampak begitu lelah, jemari Fadhlan terulur, menyentuh pipi Syifa dan mengusapnya dengan sangat lembut.
‘Maaf... tadi saya terlambat menjemputmu, dan malah membuatmu ketakutan,’ lirih Fadhlan di dalam hatinya yang terdalam.
Merasa ada sentuhan hangat di pipinya, Syifa bergerak pelan. Kelopak matanya terbuka lambat lambat, dan ia langsung terperanjat begitu mendapati wajah suaminya berada sangat dekat di hadapannya.
"Eh, P-Pak... Maaf, saya ketiduran," ujar Syifa tergagap, refleks memundurkan tubuhnya karena gugup.
"Hem," jawab Fadhlan singkat, kembali memasang wajah datarnya seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"S-saya mandi dulu kalau begitu." Syifa segera bangkit, menyambar handuknya, dan bergegas lari menuju kamar mandi, meninggalkan Fadhlan yang kembali berdiri mematung menatap pintu yang tertutup.
......................
Malam harinya setelah menunaikan sholat Isya, mereka turun ke ruang makan. Sesi makan malam berlangsung dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada obrolan hangat seperti biasanya, yang terdengar hanyalah denting sendok dan piring yang saling beradu secara ritmis.
Di dapur, para asisten rumah tangga berbisik-bisik memperhatikan ketegangan dari kejauhan.
"Mereka kenapa ya, Bude? Apa sedang bertengkar?" tanya Lastri dengan suara berbisik pada Bi Darsih.
"Hussh, kamu kalau ngomong yang betul. Mereka akur-akur saja kok tadi pagi waktu berangkat," sahut Bi Darsih, berusaha berpikiran positif.
"Tapi pulang menjemput Non Syifa tadi, Aden kelihatan marah sekali, Bude. Ya kan, Mang Sholeh?" Lastri mencari dukungan.
Mang Sholeh yang sedang menikmati kopi di sudut dapur pun mengangguk setuju. "Bener Mbakyu, tadi saja dari kejauhan Aden naik motornya kencang sekali. Sampai-sampai Agus minta tolong saya buat buru-buru bantu buka gerbang karena takut Aden kenapa-kenapa."
"Masa iya sih?" Bi Darsih mulai ragu. "Ah sudahlah, mungkin mereka sama-sama sedang lelah saja," kilah Bi Darsih kemudian, mencoba menenangkan.
"Mbakyu emang kalau dibilangin susah percaya, La," cibir Mang Sholeh.
"Iya nih, Bude ngga percaya sama kita," timpal Lastri.
"Hussh, sudah, sudah! Sana kalian jangan bergosip terus. Kalau Den Fadhlan sampai dengar, bisa dipecat kalian berdua nanti," tegur Bi Darsih galak, menyudahi obrolan dapur mereka.
Selesai makan malam, Syifa tidak langsung kembali ke atas. Ia memilih membantu Bi Darsih dan Lastri membereskan meja makan serta mencuci piring. Walau Bi Darsih berkali-kali melarangnya, Syifa tetap bersikeras. Di tengah kesunyian hatinya, menyibukkan diri adalah satu-satunya cara agar ia tidak tenggelam dalam rasa rindu pada keluarganya di kampung halaman.
"Non Syifa?" panggil Lastri pelan di sela-sela membilas piring.
"Kenapa, La?"
"Anu... itu, Non sama Aden lagi marahan, ya?" tanya Lastri hati-hati, merasa sungkan namun penasaran.
Syifa menghentikan gerakan tangannya sejenak, lalu menoleh dengan senyuman tipis dipaksakan. "Hmm, engga kok, La. Cuma salah paham sedikit saja."
"Kalau ada apa-apa atau ada yang mau diceritakan, jangan sungkan bilang sama Lastri atau Bude ya, Non?" ucap Lastri tulus, menatap nyonya mudanya dengan iba.
"Iya Lala, terima kasih banyak ya. Kalau sudah selesai pekerjaannya langsung istirahat saja. Aku mau ke kamar dulu."
"Iya, Non."
...****************...