NovelToon NovelToon
NAFKAH YANG TERTUKAR

NAFKAH YANG TERTUKAR

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

"Di mata dunia, dia adalah pangeran penyelamat. Di mataku, dia adalah sipir penjara yang kejam."
Bagi keluarga besar Aris Baskoro, Aris adalah anak berbakti dan abang idaman. Sebagai seorang Manager Regional sukses dengan gaji puluhan juta, dia tak pernah ragu melunasi cicilan mobil adiknya, membiayai kuliah saudara-saudaranya, hingga memberikan tas-tas branded untuk ibunya tercinta. Aris adalah 'pahlawan' yang selalu diagung-agungkan.
Namun, di balik pintu rumahnya sendiri, Aris adalah monster yang berbeda bagi sang istri, Maya Safira.
Di rumah mewah yang mereka tempati, Maya harus hidup dalam 'kemiskinan' yang dipaksakan. Aris memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan tawanan. Setiap rupiah uang belanja dicatat, setiap struk harus dilaporkan. Sementara Aris royal pada orang lain, dia pelit setengah mati pada istri dan anaknya, Dafa. Maya bahkan harus memutar otak mencari uang seratus ribu untuk SPP anaknya yang menunggak, padahal di saat yang sama, Aris baru saja mentransfer

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**bab 10 Bayangan karma di pengadilan

🌸🌸🌸🌸

Cahaya matahari pagi memantul dingin dari kaca-kaca tinggi gedung Pengadilan Agama.

Udara di luar terasa hangat oleh hiruk-pikuk lalu lintas kota, tetapi di dalam koridor berlantai keramik putih itu, suasana terasa begitu sunyi, kaku, dan mencekam.

Aroma cairan pembersih lantai bercampur dengan ketegangan tipis yang menggantung di udara.

Maya duduk tenang di salah satu kursi kayu panjang yang terpaku di dinding koridor.

Ia memegang erat tali tas tangannya yang diletakkan di pangkuan.

Pagi ini, Maya mengenakan kemeja putih polos yang disetrika sangat rapi dan celana kain hitam yang sederhana—penampilan yang jauh dari kata mewah, namun dipancarkan dengan gestur tubuh yang tegak, bahu yang terangkat tegar, dan pandangan mata yang jernih tanpa ada getaran keraguan.

Di sampingnya, Pak Hendra—pengacara muda berdedikasi yang ia sewa dari hasil keringatnya sebagai seorang freelancer—sedang memeriksa kembali berkas-berkas tuntutan di dalam map merah tebal.

"Semua bukti transaksi bulanan, riwayat potongan nafkah yang tidak wajar, catatan medis Dafa, serta bukti penghasilan mandiri Ibu Maya sebagai freelancer sudah tersusun rapi," ujar Pak Hendra pelan seraya menoleh dan memberikan senyum menenangkan.

"Ibu Maya tidak perlu cemas atau gentar. Pihak kita memiliki posisi hukum yang sangat kuat, terutama terkait hak asuh anak dan bukti bahwa Ibu memiliki kemandirian finansial untuk menopang kehidupan Dafa."

Maya mengangguk pelan, menghela napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya tidak menuntut hal-hal yang bukan hak saya. Saya cuma ingin proses perceraian ini selesai secara adil, dan Dafa mendapatkan perlindungan hukum yang layak."

Langkah kaki yang terburu-buru dan bising dari ujung lorong mendadak memecah keheningan. Maya tidak perlu memutar kepalanya untuk tahu siapa yang datang.

Langkah-langkah sepatu yang berat dan tergesa-gesa itu sangat ia kenali.

Aris berjalan cepat menuju ke arahnya, didampingi oleh Ibu Ratna dan Siska. Penampilan Aris pagi ini sangat jauh dari citra pria klimis dan penuh percaya diri yang selama ini selalu ia pamerkan di perumahan tempat mereka tinggal.

Kemeja kerjanya tampak agak kusut di bagian lengan, dasinya dipasang agak miring, dan lingkaran hitam tebal membayang jelas di bawah matanya—tanda sahih dari malam-malam tanpa tidur sejak Maya angkat kaki dari rumah satu lantai mereka yang kini berantakan tak terurus.

"Maya!" panggil Aris, suaranya tertahan namun sarat akan ketegangan yang membuncah.

Aris berhenti tepat dua langkah di depan Maya. Sebelum Pak Hendra sempat berdiri dari kursinya untuk menghalangi, Aris sudah lebih dulu membungkukkan sedikit tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun pernikahan mereka, Aris menatap Maya dengan matanya yang memerah dan tatapan memohon yang belum pernah Maya lihat sebelumnya.

"May... tolong, kita bisa bicara baik-baik. Kita bisa cabut gugatan ini sekarang sebelum masuk ke dalam," bisik Aris setengah memohon, matanya menatap liar ke sekeliling koridor seolah takut ada rekannya yang melihat keberadaannya di tempat ini.

"Kita selesaikan semuanya di rumah secara kekeluargaan. Kamu tidak kasihan pada Dafa? Kamu tega melihat Dafa tumbuh dari keluarga yang hancur dan berpisah?"

Maya perlahan berdiri dari kursi kayunya. Ia merapikan ujung kemejanya, lalu menatap Aris lurus-lurus. Tidak ada lagi raut ketakutan, tidak ada lagi tatapan ibu rumah tangga penurut yang biasa menunduk saat dibentak.

"Dafa justru akan hancur kalau tumbuh di rumah itu, Mas," jawab Maya dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk dalam.

"Anak kita akan hancur kalau terus-menerus melihat ibunya direndahkan, dihitung setiap sen makanannya, dan diinjak-injak harga dirinya demi menguntungkan orang lain. Aku melakukan semua ini justru untuk menyelamatkan masa depan dan mental Dafa."

"Tapi saya ini suamimu, May! Saya yang mencari nafkah!" sergah Aris, suaranya mulai naik satu nada karena rasa gengsinya yang mulai terancam di depan umum. "Saya mengakui kalau saya ada salah, tapi saya bisa berubah! Tolong berikan saya kesempatan!"

Belum sempat Maya membalas, Ibu Ratna yang berdiri di belakang Aris langsung maju dengan wajah berang dan nada suara sengit. Wanita tua itu menunjuk Maya dengan kipas tangan yang dipegangnya.

"Sudah, Aris! Jangan mengemis-ngemis sama perempuan tidak tahu diri ini!" cecar Ibu Ratna tanpa peduli tempat.

"Kamu lihat kan, Ris? Dia ini sudah merasa sok kaya dan sok berkuasa cuma karena punya uang recehan dari hasil kerja freelance di laptop! Dia pikir gampang hidup sendiri di luar sana? Kita lihat saja berapa bulan uang tabungannya bertahan sebelum dia mengemis-ngemis minta kembali ke kamu!"

"Ibu! Diamlah!" bentak Aris tiba-tiba, menoleh kasar pada ibunya dengan mata terbelalak lebar.

Suara bentakan Aris menggema keras di sepanjang koridor persidangan. Ibu Ratna terperanjat, mulutnya terkunci seketika dan matanya membelalak kaget. Selama ini, Aris adalah anak laki-laki penurut yang tidak pernah sekalipun membentaknya atau berbicara dengan nada tinggi kepadanya.

"Ibu tidak tahu apa-apa!" lanjut Aris dengan napas memburu, seluruh rasa stres dan beban berat yang menghimpit dadanya seolah pecah seketika di tempat itu.

"Kantor tempatku bekerja baru saja mengeluarkan kebijakan efisiensi minggu lalu, Bu! Potongan gaji dan bonus bulanku turun drastis! Kalau Maya minta nafkah anak sesuai standar hukum dan aku harus menanggung biaya perkara persidangan ini, aku tidak punya uang lagi! Aku tidak akan sanggup menanggung hidup Ibu dan membayarkan cicilan motor Siska lagi!"

Kenyataan pahit yang terlempar ke udara itu menghantam ruang koridor pengadilan bagai sambaran petir di siang bolong. Suasana mendadak hening seketika.

Wajah Ibu Ratna yang tadinya memerah penuh amarah langsung berubah pucat pasi. Bibirnya bergetar, namun tak ada satu pun kata yang sanggup keluar dari tenggorokannya. Sementara itu, Siska yang biasanya berdiri dengan dagu terangkat tinggi mendadak melangkah mundur setengah langkah. Wajah adik ipar Maya itu dipenuhi kepanikan yang teramat sangat.

"M-mas Aris... Mas pasti bercanda, kan?" bisik Siska dengan suara yang gemetar ketakutan. "Terus... terus bagaimana dengan cicilan motorku yang jatuh tempo lusa, Mas? Kalau Mas tidak bayar, motorku bisa ditarik sama orang leasing!"

Aris tidak menjawab pertanyaan adiknya.

Pria itu menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar. Ia membelakangi keluarganya, lalu kembali menatap Maya dengan mata yang kini berkaca-kaca karena perpaduan rasa malu yang luar biasa, penyesalan mendalam, dan kebangkrutan finansial yang kini terpampang nyata di depan matanya.

Karma finansial yang selama ini ditumpukkan ke bahu Maya, kini berbalik menghantam Aris dan keluarga besarnya tanpa ampun.

“Panggilan untuk perkara nomor 142/Pdt.G/2026/PA, atas nama Maya binti Rahmad melawan Aris bin Herman, silakan memasuki Ruang Sidang Utama.”

Suara petugas pengadilan dari pengeras suara di dinding memecah ketegangan tragis di antara mereka.

Pak Hendra merapikan kancing jasnya, lalu mengangguk mantap ke arah Maya. "Mari masuk, Ibu Maya. Ruang persidangan sudah dibuka oleh Majelis Hakim."

Maya menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan keberanian. Ia merapikan kemeja putihnya, lalu melangkah dengan tenang mendahului Aris menuju pintu kayu tebal ruang sidang.

Maya tidak lagi menoleh ke belakang—tidak untuk Aris yang berdiri terpaku menatap punggungnya dengan penuh penyesalan, dan tidak pula untuk ibu mertua serta adik iparnya yang kini mulai panik meratapi nasib finansial mereka sendiri.

Di balik pintu kayu tebal itu, Maya siap menghadapi babak persidangan resmi, menjemput kebebasannya, dan menyambut masa depan baru yang kini sepenuhnya berada di dalam genggamannya sendiri.

🌸🌸🌸

Makasih yg sudah ngingetin author yaa🫰

Hampir aja alurnya berantakan ♥️♥️♥️

1
Thewie
keren thor. kanjut karya baru ya
Thewie
gak akan kembali ke mantan ya Thor. mantan itu di buang ke t4 yg seharusnya wkwkkw
Thewie: haha iya banget Thor. patah tumbuh hilang berganti🤣🤣.. cari yg baru
total 2 replies
Thewie
semangat maya
Thewie
keren thor💪
Thewie
keren Maya.. lelaki sperti itu hempaskan ... mati kau arisss.. matiii lah kau
AwandaMw: ka🤣🤣🤣
total 1 replies
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍👍👍
JasmineA
menjahit? bukan nya dia jadi head content writer ya thor? Raka yg ngasih kerja ke dia?
AwandaMw: tq kaaaa....aku baru konek😭😭
total 1 replies
JasmineA
Bintang siapa? anak nya Dafa bukan?
JasmineA
Rika apa siska?
Marifatul Marifatul
lnjttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!