Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Menantu, Satu Pertarungan
Aku menghirup udara pagi dalam-dalam.
Rasanya… bebas.
Untuk pertama kalinya sejak aku menginjakkan kaki di rumah keluarga Devandra, aku bisa melangkah tanpa rasa diawasi. Kakiku menapaki halaman luas yang bahkan lebih besar dari taman kota di desaku dulu. Segala fasilitas ada di sini—kolam renang, taman bunga, gazebo, bahkan ruang hiburan yang lebih mirip pusat perbelanjaan,
Rumah ini… lebih seperti mall pribadi.
Dan anehnya, aku mulai terbiasa.
“Jadi ini yang kamu sebut bahagia dan kebebasan?”
Suara itu. Tajam. Sinis. Menggores telingaku tanpa ampun.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.
Selena.
Aku tersenyum tipis, masih menghadap ke depan. “Bahagia dan kebebasan menurut versi aku dan kamu berbeda?”
Langkah kaki mendekat. Pelan, tapi penuh tekanan. Aku bisa merasakan tatapannya menelanjangiku dari belakang.
“Kamu terlalu nyaman untuk seseorang yang statusnya… hanya numpang.”
Aku akhirnya berbalik.
Menatapnya.
Langsung ke matanya.
“Status?” ulangku pelan, tapi cukup untuk membuatnya mengernyit.
Aku melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Hingga kini jarak kami begitu dekat, cukup untuk melihat jelas kilatan tidak suka di matanya.
“Kita sama, Selena.”
Senyumku tipis, tapi tajam.
“Sama-sama menantu keluarga Devandra.”
Wajahnya berubah.
Sedikit.
Tapi cukup membuatku puas.
Aku bisa melihatnya sekarang—bukan lagi Selena yang selalu berdiri di atasku. Ada sesuatu di sana. Ketakutan. Kekhawatiran.
Dan aku tahu kenapa.
Karena untuk pertama kalinya… aku tidak diam.
“Kamu pikir dengan diberi sedikit kebebasan, kamu bisa naik posisi,ingatlah,,Zayn tidak pernah menganggap kamu istrinya?” desisnya.
Aku tertawa kecil. Pelan. Sengaja.
“Aku tidak perlu ‘diberi’ posisi,atau bahkan pengakuan” kataku. “Kalau memang itu milikku, cepat atau lambat… aku akan tetap mendapatkannya.”
Napasnya terlihat mulai tidak stabil.
Dan itu baru permulaan.
Aku menatapnya lebih dalam, membiarkan keheningan menekan di antara kami sebelum aku menambahkan—
“Oh ya…”
Aku sedikit memiringkan kepala.
“Tamparanmu waktu itu…”
Kulihat matanya langsung menegang.
“Aku belum lupa.”
Sunyi.
Udara terasa lebih dingin.
“Aku hanya sedang menunggu waktu yang tepat,” lanjutku pelan, hampir seperti bisikan, tapi cukup untuk membuatnya membeku di tempat.
“Untuk membalasnya.”
Selena menatapku tajam, tapi kali ini… tidak ada lagi keyakinan penuh seperti biasanya.
Dan aku?
Aku tersenyum.
Karena akhirnya…
Aku bukan lagi Aluna yang dulu yang hanya menangis meratapi nasib
Senyumku belum juga pudar saat aku melihat perubahan di wajah Selena.
Dan itu seperti menyulut sesuatu.
“Berani sekali kamu,” suaranya bergetar, tapi bukan karena takut—lebih ke arah amarah yang ditahan.
Aku diam.
Memberinya ruang.
Karena aku tahu… dia belum selesai.
“Jangan lupa siapa kamu sebelum masuk ke rumah ini,gadis kampung dan anak supir” suaranya meninggi, kini tak lagi peduli jika ada pelayan yang mungkin mendengar. “Perempuan dari desa, datang tanpa apa-apa, lalu tiba-tiba merasa setara denganku?”
Aku mengangkat alis.
“Tanpa apa-apa?” ulangku pelan.
Langkahku maju satu lagi. Kini aku benar-benar berdiri di hadapannya tanpa jarak.
“Kalau aku memang ‘tanpa apa-apa’…” aku menatap lurus ke matanya, “lalu kenapa kamu terlihat sangat takut?”
Deg.
Kalimat itu seperti menamparnya.
Aku bisa melihat jelas—wajahnya menegang, rahangnya mengeras.
“Takut?” dia tertawa sinis. “Aku takut padamu,mimpi?”
Tawa itu terdengar dipaksakan.
Aku tidak menjawab.
Hanya menatapnya… dalam.
Dan itu lebih menyakitkan daripada bantahan apa pun.
“Aku hanya sedang mengingatkan posisimu!” bentaknya. “Di rumah ini, aku yang lebih dulu ada! Aku yang lebih mengenal semuanya! Kamu tidak akan pernah bisa menggantikanku!”
Nada suaranya pecah di akhir kalimat.
Ah… jadi ini inti dari semuanya.
Bukan sekadar benci.
Tapi takut kehilangan.
Aku menyilangkan tangan di dada, santai. Terlalu santai untuk situasi seperti ini.
“Aku tidak pernah berniat menggantikan siapa pun,” kataku tenang.
Selena menyipitkan mata.
“Tapi kalau seseorang merasa tergantikan…” aku sedikit mendekat, memperkecil jarak yang sudah nyaris tidak ada, “mungkin itu karena dia sadar posisinya tidak sekuat yang dia kira.”
Plak!
Suara keras menggema.
Kepalaku sedikit terhempas ke samping.
Panas.
Perih.
Untuk sesaat… dunia seperti berhenti.
Tapi kali ini—
Aku tidak terdiam.
Perlahan, aku kembali menoleh. Menatapnya.
Langsung.
Tanpa gentar.
Selena terengah. Tangannya masih terangkat, napasnya memburu, matanya menyala penuh emosi.
“Mimpimu terlalu tinggi!” desisnya. “Aku akan pastikan kamu jatuh lebih dalam dari tempat asalmu!”
Aku mengusap sudut bibirku yang terasa perih.
Lalu…
Aku tersenyum.
Pelan.
Membuat ekspresinya berubah seketika.
“Kamu salah,satu hal, Selena,” kataku lirih.
Tanganku bergerak cepat.
Plak!
Kini giliran wajahnya yang terhempas ke samping.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
Bahkan angin pun terasa berhenti.
“Aku tidak bermimpi,” lanjutku, suaraku rendah tapi tajam. “Aku hanya… mengambil apa yang seharusnya tidak pernah kamu sentuh.”
Selena membeku.
Matanya melebar. Tidak percaya.
Mungkin ini pertama kalinya… ada yang berani membalasnya.
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Dan mulai sekarang,” aku menurunkan tanganku perlahan, “setiap kali kamu mencoba menjatuhkanku—”
Aku mendekat sedikit, cukup untuk membuatnya mundur setengah langkah.
“Aku akan pastikan kamu merasakan hal yang sama.”
Napasnya tercekat.
Dan untuk pertama kalinya…
Selena terlihat benar-benar goyah.
Tamparan itu masih terasa di telapak tanganku.
Dan untuk beberapa detik… dunia seolah berhenti.
Selena menatapku tidak percaya. Wajahnya memerah, matanya membesar, napasnya tercekat seperti baru saja kehilangan pijakan.
Aku belum sempat mengatakan apa pun—
“APA YANG TERJADI DI SINI?!”
Suara berat itu menggema.
Aku langsung menoleh.
Langkah tegas itu… aku mengenalnya.
Tuan Misra Devandra
Di belakangnya, Zayn berjalan cepat, wajahnya tegang. Dan beberapa detik kemudian, nyonya Alice menyusul—tatapannya langsung tertuju pada Selena.
“Selena!” seru Alice panik, langsung berlari menghampiri. “Ya Tuhan, wajahmu—siapa yang berani melakukan ini?!”
Selena tidak menjawab.
Dia hanya menunduk, bahunya bergetar.
Dan aku tahu… ini akan menjadi panggungnya.
“Aluna.”
Satu kata.
Dingin.
Aku menoleh ke arah Tuan Misra.
Tatapannya tajam menembusku. Bukan marah yang meledak-ledak—lebih berbahaya dari itu. Tenang… tapi menekan.
“Apa yang kamu lakukan?”
Sebelum aku sempat membuka mulut—
“Dia yang mulai duluan,Ayah,Aluna di beri kebebasan seperti berada di atas angin,dia tidak memiliki sopan santun!”
Suara Selena pecah, penuh luka yang dibuat-buat. Air matanya jatuh, sempurna seperti aktris terbaik.
Alice langsung memeluknya.
“Astaga… Aluna! Kamu berani sekali menyentuhnya?!” bentak Alice, matanya penuh kemarahan padaku. “Selena tidak pernah macam-macam denganmu, tapi kamu,memang kamu gadis kampung yang tidak tahu diri—!”ucapnya yang begitu nyaring di telingaku
Aku tersenyum tipis.
Tidak membela diri.
Belum.
Zayn berdiri di samping ayahnya, matanya bergantian melihat aku dan Selena. Ada keraguan di sana. Tapi dia diam.
Seperti biasa.
“Cukup.”
Satu kata dari Tuan Misra membuat semuanya membeku.
Alice menoleh cepat. “lihat keadaan Selena! Jelas-jelas dia yang disakiti,kamu benar benar konyol sudah membawa gadis urakan ke rumah ini,,”
“cukup Alice,Jangan membela menantu kesayanganmu.”
Suara itu rendah.
Tapi cukup untuk membuat Alice terdiam seketika.
Udara mendadak berubah.
Aku bisa melihat jelas—bahkan Selena pun kaget.
Untuk pertama kalinya… Tuan Misra tidak langsung berada di pihak mereka.
“Aku ingin dengar dari dua sisi,” lanjutnya tenang. “Bukan hanya dari satu orang yang pandai bermain air mata.”
Kalimat itu seperti tamparan kedua.
Selena menegang dalam pelukan Alice.
Aku menatap Tuan Misra.
Dan untuk pertama kalinya… aku merasa diberi ruang.
“Dia menamparku duluan tuan,” kataku akhirnya, suaraku datar. Tidak tinggi, tidak juga lemah. “Aku hanya membalas.”
Hening.
Zayn langsung menoleh ke arah Selena.
“Apa itu benar?” tanyanya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Selena menggeleng cepat. “Aku—aku hanya mendorongnya! Dia yang tiba-tiba menamparku,,,”
“Bohong.”
Aku memotong.
Tenang.
Tapi tegas.
Tatapan kami bertabrakan lagi.
“Kalau aku diam seperti biasanya, mungkin hari ini aku tetap jadi bahan hinaanmu,” lanjutku. “Tapi tidak lagi sekarang.”
Alice mendengus. “Kurang ajar! Kamu pikir kamu siapa berbicara seperti itu di rumah ini?!”
Aku menoleh pelan ke arahnya.
“Sama seperti Selena,” jawabku. “Menantu keluarga Devandra.”
“Cukup!”
Kali ini suara Tuan Misra lebih keras.
Semua langsung diam.
Dia melangkah mendekat. Perlahan. Tapi setiap langkahnya terasa berat.
Berhenti tepat di antara aku dan Selena.
Tatapannya bergantian.
Menghitung.
Menilai.
Lalu—
“Di rumah ini,” ucapnya pelan, “aku tidak peduli siapa yang lebih dulu datang.”
Jantungku berdegup lebih kencang.
“Yang aku pedulikan…” matanya berhenti padaku sejenak, lalu beralih ke Selena, “adalah siapa yang tahu batas.”
Sunyi.
Selena menggenggam erat baju Alice.
Aku bisa melihat… dia mulai goyah lagi.
“Tapi satu hal yang pasti,” lanjut Tuan Misra, “aku tidak suka keributan di rumahku.”
Dia berbalik.
“Zayn.”
“Iya, Ayah.”timpal zayn
“Awasi istrimu.”
Kalimat itu menggantung.
Ambigu.
Dan sengaja.
Zayn terdiam sejenak… sebelum akhirnya menjawab, “Yang mana, Ayah?”
Aku melihat sesuatu di mata Tuan Misra.
Senyum tipis.
Hampir tidak terlihat.
“Dua-duanya.”
Deg.
Udara kembali menegang.
Zayn mengangguk pelan, tapi aku bisa melihat jelas—situasi ini tidak lagi sesederhana dulu.
Tidak ada lagi satu pihak yang pasti menang.
Tidak ada lagi aku yang selalu kalah.
Dan saat aku menatap Selena sekali lagi—
Aku tahu.
Ini baru permulaan.