Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETIK DETIK YANG MENGHARUKAN DIHARI BAHAGIA ***
Langit cerah berawan putih matahari mulai menampakan senyum manisnya seakan alam ikut merestui penyatuan dua hati 5 kepalan dalam satu ikatan yang bernama rumah tangga. Dihalaman rumah Bailla sudah disulap menjadi tempat untuk acara izab kabul sekaligus resepsi sudah dihiasi bunga-bunga cantik kursi pengantin dan penghulu sudah tersedia, tamu undangan sudah mulai berdatangan, di meja prasmanan para pagar ayu yang cantik sudah sibuk menata meja dengan hidangan dan camilan untuk cuci mulut.
Dikamar Bailla sedang didandani dengan kebaya putih menggunakan sanggul bak ratu Keraton wajah Bailla sangat cantik hampir seperti wajah artis Natasha Wilona versi KW. Tidak heran jika Ara sering menyamakan ia seperti artis Korea.
Zeze asyik memotret setiap angel dari wajah Bailla sesekali ia Selfi dengan Bailla sungguh teman yang narsis.
Papi yang bersiap jadi wali, tangannya dingin kayak es. Sedangkan mami Mami sudah berdandan cantik duduk di kursi dekat papi sambil menggenggam tasbih, bibirnya komat-kamit. Pak RT sama satu staf KUA jadi saksi.
Pak Arya menggunakan Pakaian serba putih sesrasi dengan pakaian Bailla duduk didepan pak Bayu dengan ketegangan yang bisa terlihat jelas. Didalam hatinya ia merasa takut kalau salah dalam pembacaan ijab Kabul nanti. padahal ini kali kedua baginya. Sedangkan anak-anaknya duduk manis ditemani kerabat dari pak Arya.
tidak lama tepat pukul 09.00 wiba. acara akan segera dimulai.
Bailla duduk bersebelahan dengan pak Arya dengan anggun dan mempesona. membuat Ara yang tadi diam tiba-tiba berteriak. "Kak Bailla kakak cantik sekali seperti putri keraton ". Semua orang spontan melihat kearah Ara. Mungkin mereka heran mendengar calon anak tiri Bailla memangil Bailla kakak. Dengan sigap Arbil memberi kode ke Ara untuk diam.
Zeze di belakang, mode silent, tapi HP-nya standby — disuruh Mami buat rekam, “biar nanti anak-cucu bisa lihat”.
Bailla Di balik seledang putih yang menutupi kepalanya, sudah meras ategang napasnya pendek-pendek. Tangannya di atas paha, ngeremes tissu didepan meja sudah ada buku nikah kosong yang nanti jadi saksi hidupnya.
*Penghulu mulai.*
“Saudara Arya Prananta bin Almarhum Bima Prananta,” suara Pak Haji berat, “apakah saudara siap untuk menikahi Saudari Bailla Zahira binti Bayu Purnama ?”
Pak Arya natap Papi. Natap Bailla. Natap Arbil, Ara dan Aya.
“Siap, Pak Haji,” jawabnya. Serak. Bukan karena mic. Karena 3 tahun dia gak ngomong kata “siap” buat nikah lagi.
Papi duduk berhadapan sama Pak Arya. Tangan mereka berjabat. Tangan Papi gemeter. Tangan Pak Arya terasa dingin, tapi genggamannya pelan, kayak takut ngeremes harapan terakhir Papi.
Papi narik napas. Dadanya naik-turun. Ini bukan jual anak. Ini nyelametin anak. Tapi tetap aja sakit.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan anak kandung saya, Bailla Zahira, kepada engkau, Arya Wiguna, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan cincin perak dibayar tunai.”
Satu napas. Satu dunia diem. Kipas angin pun kayak berhenti ngik-ngik.
Pak Arya natap mata Papi. Bukan mata mertua. Mata bapak yang nitipin anak gadisnya ke duda anak tiga.
Terus dia jawab. Satu tarikan. Satu kalimat. Jelas. Tegas. Tapi basah:
“Saya terima nikahnya Bailla Zahira binti Bambang dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”*
*SAH.*
Pak Haji ketok meja. “Sah!”
Saksi: “Sah!”
Zeze: “Sah!” sambil nahan sesenggukan.
Dan di situlah pecah semua rasa suka cita mereka.
Begitu kalimat “sah” keluar, Papi lepas genggaman Pak Arya. Dia nunduk, nutup muka pakai telapak tangan. Bahunya guncang. Bukan nyesel. Lega. Bebannya 17 tahun, cicilan rumah, kuliah Bailla, masa depan anaknya... hari ini resmi dipindahin ke pundak laki-laki di depannya.
“Jaga anak saya, Arya,” bisiknya, gak kedengeran mic, tapi kedengeran Allah. “Dia satu-satunya perempuan saya.”
Pak Arya tunduk, nyium tangan Papi. Lama. Pas dia angkat kepala, air matanya netes ke taplak hijau. Dia noleh ke arah ketiga anaknya . Arbil lagi natap lantai, tapi tangannya ngepal.
Pak Arya narik Arbil, meluk. Di depan penghulu, di depan wali, di depan Tuhan. “Makasih ya, Nak. Udah bolehin Bapak ijab,” bisiknya ke kuping Arbil. “Bapak janji, nama Mama tetap di sini,” dia nunjuk dada.
Arbil gak jawab. Cuma meluk bapaknya balik. Erat. Untuk pertama kali setelah 3 tahun, dia meluk bapaknya tanpa disuruh.
Bailla dari tadi nunduk. Pas kata “sah”, air matanya langsung jatuh ke buku nikah. Ngebasahin kolom tanda tangan yang masih kosong.
Mami nyamperin, nyodorin tisu, terus bisik: “Mulai hari ini, kamu bukan anak Mami aja. Kamu istri orang, Nak. Kamu ibu orang. Tetap Kuat ya .”
Bailla angguk. Terus dia salaman sama Pak Arya. Sekarang suaminya.
Tangan Pak Arya salaman. Tapi jempolnya ngusap punggung tangan Bailla, sekali. Diam-diam. Kayak bilang: “Takut gak apa-apa. Ada Bapak.”
Sebelum doa, Arbil maju selangkah. Nyodorin sesuatu ke Pak Haji.
“Pak Haji,” suaranya terdengar berat, “boleh titip doa buat Mama saya?”
Pak Haji kaget. Terus senyum. Angguk.
Dan doa penutup hari itu jadi panjang. Bukan cuma “sakinah mawaddah warahmah” buat Arya-Bailla. Tapi juga “Al-Fatihah buat almarhumah Sarah binti...”
Satu ruangan nunduk. Pak Arya genggam tangan Bailla. Bailla genggam tangan Ara. Ara genggam tangan Arbil. Arbil genggam tangan Aya yang udah bangun, bingung, tapi ikut-ikutan nunduk.
Dihari itu tepat 10 November, rantai itu nyambung. Bukan karena darah. Karena ijab kabul yang satu kalimat, tapi nyelametin lima nyawa.
Hari ini, urusan agamanya cuma satu menerima takdir dengan ikhlas sambil memegang Buku nikah yang akan menjadi rantainya seumur hidup.
...****************...
...****************...
NOT : HALLO PEMBACA YANG BUDIMAN DAN PAKDIMAN HE HEHE. Makasih sudah membaca sampai BAB ini. Selanjutnya akan banyak cerita tentang keluarga kecil ini. Ada sedihnya, ada bahagianya, dan..........Akan ada kejutan yang bikin darah turun Naik. Nantikan ya kelanjutannya jangan lupa LIKE, KOMENT dan DiBestiin Ya .....🥰🥰🥰