Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Badai yang Dipanggil
Ruang kerja Alesha masih berantakan sejak serangan dua hari lalu. Vas pecah sudah diganti, tapi beberapa lubang peluru di jendela masih belum diperbaiki—mungkin sengaja, sebagai pengingat.
Aditya berdiri di depan meja mahoni itu, tubuhnya masih bau asap dan bensin. Di sampingnya, Maya berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung. Dan di depannya, Alesha duduk dengan kedua tangan bertautan di atas meja.
"Jadi," suara Alesha datar—terlalu datar, seperti permukaan danau sebelum badai. "Kau memutuskan untuk meledakkan basement gedungku."
"Secara teknis, yang meledak adalah kaleng bensin yang dilempar oleh saya. Tapi ledakan utamanya berasal dari tumpukan bahan kimia yang seharusnya tidak disimpan di basement, melainkan di gudang luar. Itu pelanggaran SOP keamanan yang mungkin perlu dievaluasi."
Maya terbatuk kecil. Alesha menyipitkan mata.
"Kau meledakkan. Basement. Gedungku," ulangnya, kali ini lebih pelan dan lebih berbahaya.
Aditya menegakkan punggung. "Nyonya, saya bisa menjelaskan."
"Jelaskan."
"Di basement itu ada empat pencuri yang bukan pencuri biasa. Mereka kultivator—manusia dengan kemampuan di atas rata-rata. Salah satunya, Jaka Sembung, punya kekuatan fisik 52. Sebagai perbandingan, saya punya 8. Kalau saya tidak menggunakan benda di sekitar, kami berdua—saya dan Inspektur Dina—mungkin sudah tewas."
Alesha menatapnya beberapa detik.
"Kultivator."
"Ya."
"Seperti di novel-novel picisan itu?"
"Saya juga mengira itu fiksi. Tapi dua hari terakhir membuktikan sebaliknya."
Alesha menyandarkan punggung ke kursinya. Matanya menerawang ke jendela—ke lubang peluru yang masih menganga di kaca.
"Kakekku juga korban kultivator," bisiknya.
"Benar. Racunnya dibuat oleh kultivator level Alam Master. Itu artinya ada seseorang yang jauh lebih kuat dari Jaka Sembung di luar sana. Dan orang itu mungkin masih ingin keluarga Pradipa hancur."
Maya melangkah maju. "Nyonya, mungkin ini saatnya kita membentuk unit khusus. Saya punya kontak di Kopassus yang bisa—"
"Tidak," potong Alesha tegas. "Tidak ada tentara. Tidak ada polisi. Kalau musuh kita adalah orang-orang yang bisa menghilang, berjalan tanpa jejak, dan meracuni tanpa terdeteksi, pasukan biasa hanya akan menjadi umpan meriam."
Mata Alesha beralih ke Aditya.
"Kau yang bisa melihat mereka. Kau yang bisa membaca data mereka. Jadi kaulah senjata kita."
Aditya merasakan beban di pundaknya bertambah berat.
"Saya hanya punya beberapa hari pengalaman, Nyonya. Sistem saya masih level rendah. Saya bahkan tidak bisa menyembuhkan Kakek Wijaya sekarang—saya butuh 3000 Koin, dan sekarang baru punya 360."
"Lalu bagaimana kau bisa dapat lebih banyak?"
"Misi. Sistem memberi saya misi, dan setiap penyelesaian memberi hadiah." Aditya menatap panel misinya. "Salah satunya misi yang baru muncul setelah insiden basement: mengidentifikasi pengkhianat di kepolisian yang melindungi Klan Malam."
Alesha mengerutkan kening. "Kau bilang polisi?"
"Klan Malam beroperasi tanpa terdeteksi selama dua minggu. Mereka merampok tiga toko emas. Tidak ada patroli tambahan. Tidak ada penyelidikan serius. Bahkan Inspektur Dina dipersulit oleh atasannya sendiri. Seseorang di kepolisian sengaja membiarkan mereka."
"Atau melindungi mereka," Maya menambahkan, matanya berkilat.
Alesha bangkit dari kursinya. Ia berjalan ke jendela, menatap kota yang mulai padat oleh lalu lintas pagi.
"Paman Edwin berkongsi dengan Kartel Lotus. Kartel Lotus punya koneksi di mana-mana, termasuk kepolisian. Dan mereka mencoba membunuhku dua hari lalu."
"Koneksinya mungkin Kartel Lotus, tapi pelakunya beda," Aditya menyambung. "Klan Malam adalah pencuri kecil. Mereka hanya butuh emas untuk ritual. Tapi seseorang di kartel mungkin menggunakan mereka sebagai pengalih perhatian. Atau sebagai alat untuk melemahkan keamanan Pradipa Group."
"Sehingga serangan berikutnya lebih mudah," Maya menyelesaikan kalimat itu.
Hening.
Lalu Alesha berbalik, wajahnya kembali dingin dan penuh perhitungan.
"Aditya, mulai sekarang tugasmu bukan hanya asisten pribadi. Kau adalah investigator khusus keluarga Pradipa. Laporkan langsung padaku atau Maya. Jangan pada siapa pun selain kami berdua."
"Dimengerti."
"Maya, siapkan akses untuk Aditya ke semua data perusahaan. Rekaman CCTV, catatan keuangan, file personalia. Dia harus bisa melihat semuanya."
Maya mengangguk. "Akan saya urus hari ini."
"Dan yang terakhir," Alesha menatap Aditya lekat-lekat. "Kakekku harus bangun sebelum tiga bulan. Itu batas waktuku."
"Kenapa tiga bulan?"
"Karena tiga bulan lagi adalah Rapat Pemegang Saham Tahunan. Paman Edwin akan mencoba mengambil alih perusahaan. Dan tanpa kakek di pihakku, suaraku hanya 35%."
Aditya mengepalkan tinjunya. "Tiga bulan. Saya berjanji, Nyonya."
"Jangan panggil aku Nyonya lagi kalau cuma berdua. Terlalu kaku."
"Baik, Nyonya—eh, Bu Alesha."
Alesha nyaris tersenyum. Nyaris.
---
Malam harinya, Aditya duduk sendiri di atap kosnya. Langit kota terlalu terang untuk melihat bintang, tapi bulan sabit masih terlihat samar.
Panel sistem melayang di depannya.
Total Koin: 360.
Misi Aktif:
Bangkitkan Kakek Wijaya (Batas: 90 hari)
Identifikasi Pengkhianat di Kepolisian (Hadiah: 400 Koin, Skill Book: Silent Step)
Misi Harian (10 Koin/hari)
Level Kultivasi: 0.
Aditya menghela napas. Level 0. Itu berarti dia bahkan belum mencapai Alam Bela Diri. Hanya manusia biasa dengan sedikit peningkatan fisik.
Tapi Jaka Sembung level 5. Dan pelaku di balik racun kakek adalah level Alam Master—yang berarti level jauh lebih tinggi lagi.
"Jauh banget," gumamnya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar—ponsel baru pemberian Alesha, satu-satunya hadiah yang ia terima dengan enggan.
Pesan dari nomor tidak dikenal:
"Pratama. Besok pagi, Pasar Baru, depan Toko Sumber Wangi. Jam 07.00. Aku punya informasi soal atasan korup yang kau cari. —Dina."
Aditya tersenyum tipis.
Inspektur Dina. Wanita itu ternyata lebih cepat dari yang ia kira.
DING!
Notifikasi: Kapten Maya memberimu akses ke database keamanan Pradipa Group. Cek folder: "Insiden 2019-2023".
Aditya membuka folder itu. Puluhan file terpampang—insiden-insiden aneh di sekitar properti Pradipa Group. Perampokan gagal, kebakaran misterius, surat ancaman. Semuanya ditutup tanpa penyelesaian.
Tapi satu file menarik perhatiannya.
Insiden 17 Maret 2021: Pencurian di Villa Keluarga Pradipa, Puncak. Barang hilang: Liontin pusaka keluarga.
Aditya meneguk ludah.
Liontin pusaka.
Tangannya refleks menyentuh dadanya—liontin matahari yang masih hangat di balik kemeja.
Apakah liontin yang ia temukan di ruang rahasia itu... milik keluarga Pradipa?
Dan siapa yang mencurinya tiga tahun lalu?