NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Malam itu, ruang makan utama mansion Halstrom kembali dipenuhi cahaya keemasan yang jatuh lembut dari lampu kristal besar di langit-langit tinggi. Pantulan cahaya mengenai permukaan meja panjang berbahan kayu gelap yang mengilap, menciptakan suasana mewah yang selama bertahun-tahun selalu menjadi simbol kesempurnaan keluarga mereka. Piring porselen putih tertata rapi, gelas kristal berdiri sejajar tanpa cela, sementara lilin-lilin kecil menyala tenang di tengah meja bersama rangkaian bunga segar yang diganti setiap sore.

Di mata orang luar, semuanya terlihat sempurna. Rumah besar, keluarga terpandang, makan malam hangat yang tampak seperti potongan kehidupan ideal keluarga elite. Tidak ada yang akan menyangka bahwa di balik suasana tenang itu, sesuatu sedang retak perlahan. Sangat kecil di permukaan, namun cukup besar untuk mengubah arah segalanya.

Langkah Seraphina terdengar pelan ketika ia memasuki ruang makan. Gaun hitam sederhana yang dikenakannya jatuh rapi membingkai tubuhnya, elegan tanpa terlihat berlebihan. Rambutnya tersusun rapi ke belakang, sementara wajahnya tetap tenang seperti biasa, nyaris tanpa ekspresi yang mudah ditebak.

Namun saat matanya menangkap pemandangan meja makan itu, sesuatu melintas cepat di kepalanya.

Ingatan lama.

Terlalu jelas.

Terlalu hidup.

Malam yang hampir sama.

Lampu yang sama. Meja yang sama. Orang-orang yang duduk di kursi yang sama seperti sekarang. Dulu, ia memasuki ruangan ini dengan hati yang jauh lebih ringan, percaya bahwa semua yang ada di hadapannya adalah rumah. Tempat pulang. Tempat di mana dirinya dicintai tanpa syarat.

Ia masih ingat bagaimana dirinya tersenyum sambil menanyakan hari anak-anaknya, bagaimana ia memerhatikan apakah Darius sudah makan cukup, bagaimana dirinya berpikir bahwa menjaga keluarga berarti terus memberi tanpa batas.

Dan malam itu...

Malam yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya...

Ia juga duduk di meja ini.

Meminum sesuatu tanpa curiga.

Menelan racun tanpa tahu.

Sementara orang-orang yang ia percaya memilih diam.

Ingatan itu datang cepat, membuat dadanya terasa sesak sepersekian detik. Namun kali ini, rasa sakit itu tidak lagi memiliki kuasa sebesar dulu. Tidak ada lagi kepanikan. Tidak ada lagi rasa tidak percaya.

Karena sekarang...

Ia tahu siapa mereka sebenarnya.

Dan lebih penting lagi...

Ia tahu bagaimana permainan harus dijalankan.

Seraphina menarik kursinya perlahan lalu duduk di tempat biasa. Gerakannya tenang, nyaris terlalu tenang, sampai sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya. Pelayan langsung bergerak mendekat menuangkan air dan memastikan semuanya lengkap sebelum mundur beberapa langkah.

Di seberangnya, Darius sudah duduk lebih dulu. Jas gelap yang dikenakannya masih terlihat rapi meskipun baru pulang dari kantor beberapa waktu lalu. Ekspresinya tampak biasa saja di permukaan, bahkan cukup santai saat sesekali menyesap minuman. Namun beberapa kali matanya bergerak lebih lama ke arah Seraphina.

Mengamati.

Menilai.

Mencari sesuatu yang terasa hilang.

Beberapa minggu terakhir, perasaan tidak nyaman itu semakin sulit diabaikan. Ada terlalu banyak hal berubah dalam waktu singkat. Akses perusahaan mulai bergerak di luar kehendaknya. Jalur investasi terasa semakin sempit. Beberapa keputusan legal tiba-tiba tidak lagi melibatkannya secara penuh.

Dan semuanya...

Selalu berakhir pada satu nama.

Seraphina.

Di sisi kanan meja, Lysandra tampak jauh lebih diam dibanding biasanya. Wajah cantiknya masih terlihat sempurna dengan riasan tipis dan pakaian mahal yang selalu dipilih dengan hati-hati. Namun ekspresi kesal itu belum benar-benar hilang sejak pengeluaran pribadinya mulai dibatasi.

Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kartu tambahannya diturunkan. Beberapa akses premium mulai berhenti, dan transfer bulanan tidak lagi semudah sebelumnya. Hal kecil bagi sebagian orang, tapi bukan bagi seseorang seperti dirinya yang terbiasa mendapatkan apa pun tanpa harus memikirkan harga.

Sementara itu, Kael duduk tidak jauh dari sana dengan ekspresi tenang seperti biasa. Sulit ditebak, dingin, dan jauh lebih pendiam dibanding Lysandra. Namun sejak beberapa waktu terakhir, pengamatannya terhadap Seraphina menjadi semakin sering.

Ibunya berubah.

Dan perubahan itu terasa terlalu besar untuk dianggap kebetulan.

Pelayan mulai menyajikan makan malam satu per satu. Suara alat makan beradu pelan, aroma makanan hangat memenuhi udara, namun suasana di meja terasa berbeda. Tidak buruk. Tidak tegang secara terang-terangan.

Hanya...

Terlalu tenang.

Seperti ada sesuatu yang bergerak diam-diam di bawah permukaan.

Dulu, Seraphina selalu menjadi orang pertama yang menghidupkan suasana. Menanyakan aktivitas Lysandra, membahas pekerjaan Kael, atau sekadar memastikan Darius tidak terlalu lelah bekerja. Ia selalu berusaha membuat rumah terasa hangat, bahkan ketika dirinya sendiri sedang lelah.

Sekarang tidak lagi.

Ia tidak merasa harus menjaga kenyamanan semua orang setiap waktu.

“Besok aku ada acara charity,” ujar Lysandra akhirnya sambil memainkan ujung gelas di tangannya. Nada suaranya terdengar ringan, nyaris santai, meskipun jelas ada maksud tertentu di balik pembicaraan itu. “Skalanya lumayan besar. Banyak tamu penting juga.”

Seraphina tetap fokus memotong makanannya perlahan.

“Lalu?”

Lysandra tersenyum kecil. “Mungkin aku perlu tambahan dana sedikit.”

Sedikit.

Kata itu hampir terasa lucu.

Karena selama ini, sedikit menurut Lysandra selalu berarti angka besar yang nyaris tidak masuk akal. Acara sosial yang lebih mirip pesta eksklusif, hadiah sponsor mahal, dekorasi berlebihan, dan berbagai pengeluaran yang sebenarnya jauh melampaui kebutuhan.

Seraphina menyesap air pelan sebelum menjawab.

“Aku rasa anggaranmu masih cukup.”

Jawaban itu keluar sangat tenang.

Tidak dingin.

Tidak kasar.

Namun cukup membuat tangan Lysandra berhenti bergerak.

“Mama serius?” tanyanya sambil tertawa kecil, walau terdengar dipaksakan.

“Ya.”

“Aku cuma minta tambahan.”

“Kamu sudah dapat cukup banyak bulan ini.”

Nada suara Seraphina tetap stabil. Tidak meninggi sedikit pun, bahkan terdengar terlalu lembut untuk sebuah penolakan. Namun justru karena itu, tidak ada ruang untuk tawar-menawar.

Darius melirik cepat.

Kael ikut mengangkat pandangan.

Karena sekali lagi...

Ini terasa asing.

Lysandra mengembuskan napas pelan. “Mama akhir-akhir ini berubah banget.”

Seraphina meletakkan garpunya sebentar, lalu menatap putrinya tanpa tergesa.

“Apa karena aku mulai berhitung?”

Kalimat itu terdengar ringan, hampir seperti candaan halus. Namun suasana meja langsung berubah samar. Lysandra jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini, sementara Darius mulai mengamati lebih serius.

“Selama ini Mama gak pernah kayak gini,” lanjut Lysandra. “Kalau aku butuh sesuatu biasanya langsung dibantu.”

Tatapan Seraphina tetap tenang.

“Karena selama ini aku terlalu membiarkan.”

Jawaban itu membuat ruangan terasa sedikit lebih sunyi.

Kael berhenti makan.

Darius tidak langsung bicara.

Bahkan Lysandra tampak kehilangan kata-kata selama beberapa detik.

Karena kalimat seperti itu...

Tidak pernah keluar dari mulut Seraphina sebelumnya.

Beberapa menit berlalu dengan suasana yang terasa semakin sulit dibaca. Suara alat makan kembali terdengar pelan, namun tidak lagi senyaman biasanya. Darius akhirnya memutuskan membuka pembicaraan.

“Kamu akhir-akhir ini sering ke kantor pusat.”

Nada suaranya terdengar santai, hampir seperti obrolan biasa di meja makan. Namun Seraphina tahu pria itu terlalu berhati-hati untuk bertanya tanpa tujuan.

“Lumayan,” jawabnya singkat.

“Mulai tertarik lagi sama perusahaan?”

“Aku cuma memastikan semuanya berjalan baik.”

Jawaban aman.

Terlalu aman.

Sampai sulit dicari celah.

Darius tersenyum kecil sambil memutar gelas di tangannya.

“Bukannya selama ini kamu percaya padaku?”

Kalimat itu terdengar ringan. Hangat di permukaan. Seolah hanya suami yang sedikit tersinggung karena istrinya mulai ikut campur.

Namun Seraphina hampir ingin tersenyum.

Percaya.

Betapa aneh kata itu terdengar keluar dari pria yang pernah berdiri diam melihat hidupnya hancur.

Ia mengangkat pandangan perlahan.

“Orang berubah.”

Sederhana.

Pendek.

Namun cukup membuat hening singkat memenuhi meja.

Kael memperhatikan ibunya lebih lama dari biasanya. Lysandra ikut diam. Bahkan Darius tidak langsung menjawab.

Karena semakin lama...

Wanita di depannya terasa semakin sulit dipahami.

Dan itu mulai mengganggunya.

Sangat mengganggu.

Karena selama bertahun-tahun, Seraphina selalu mudah ditebak. Emosinya jelas. Perhatiannya berlebihan. Bahkan rasa takut kehilangan keluarga sering membuatnya terlalu mudah diarahkan.

Namun sekarang...

Semua terasa berbeda.

Makan malam berlanjut, tetapi ritmenya sudah berubah. Lysandra beberapa kali tampak ingin bicara lagi namun mengurungkan niat. Kael semakin banyak memperhatikan. Darius makin sering diam sambil mengamati.

Sedangkan Seraphina...

Tetap tenang.

Padahal di dalam dirinya, ada sesuatu yang terasa hampir memuaskan.

Bukan kebahagiaan.

Bukan kemenangan besar.

Hanya rasa dingin yang perlahan tumbuh.

Karena keseimbangan mulai bergeser.

Dulu...

Ia selalu berusaha menjaga semuanya tetap nyaman.

Sekarang...

Mereka yang mulai kehilangan pijakan.

Dan lucunya...

Belum ada satu pun yang benar-benar sadar bahwa kehancuran mereka sudah dimulai.

1
Ma Em
Seraphina semangat semoga kamu bisa mengendalikan lagi perusahaan yg duluan nya dikuasai Darius dan sekarang bisa beralih kembali pada kekuasaan Seraphina , biar para benalu yg selalu moroti uangmu itu sadar meskipun itu suami dan anak2 mu Seraphina .
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!