NovelToon NovelToon
AKHIR DARI PENYESALAN

AKHIR DARI PENYESALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Rumah Tangga / Selingkuh
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.

"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.

Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.

Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.

Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.

Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH

Andra terlihat terkejut dan bahkan panik saat melihat

istrinya sudah duduk di atas ranjang dengan kedua mata yang terbuka lebar.

Pria itu masuk kemudian menutup pintu kamar rapat-rapat.

"Sejak kapan? Dari kapan kamu bangun? Udah lama, Sayang?"

Andra bertanya khawatir, jelas sekali pria itu takut kalau Kanaya mendengar semua ucapan Samira tentang dirinya.

Apalagi title 'cacat' yang disebut sang ibu untuknya.

"Barusan,..." Ucap Kanaya berbohong membuat Andra menghembuskan nafas lega.

"Oh, ya udah. Kamu mau mandi, kan? Aku siapin air hangat dulu buat kamu ya? Ini hari Minggu, pasti kamu mau berendam sebelum mandi. Tunggu di sini, aku siapin dulu semua."

"Hmm,..." Gumam Kanaya pelan.

Wanita itu tak membantah dan menolak dengan tujuan untuk membuat ibu mertuanya semakin murka.

Samira pasti emosi tidak kepalang kalau tau Andra menyiapkan air hangat untuknya berendam dan mandi, wanita paruh baya itu pasti tidak akan terima putranya disuruh-suruh apalagi oleh perempuan yang dia anggap sebagai menantu cacat dan tak berguna.

Wanita itu dengan sengaja turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar, melangkahkan kaki jenjangnya menuju dapur kemudian minum air dingin dari chiller.

"Mana Andra?" Samira bertanya ketus dan Kanaya

tersenyum menyeringai bahkan sebelum ia membuka mulut untuk menjawab.

"Mas Andra lagi siapin air hangat buat aku mandi dan berendam." Jawab Kanaya tegas.

Hatinya semakin puas saat melihat ekspresi wajah Samira dan Nisrin yang sesuai dengan dugaannya, marah dan kesal juga jengkel.

"Ngapain dia nyiapin air hangat buat kamu mandi, Kanaya?! Kamu bukan anak SD yang apa-apa harus disiapin!" Samira berucap sewot, air mukanya semakin garang.

Kanaya yang mendengarnya hanya mengangkat bahu acuh tak acuh seraya meletakan botol minum di tangannya ke atas meja dengan santai.

"Bukan aku yang minta, Mas Andra yang inisiatif sendiri. Mau gimana lagi? Kata Ibu istri harus selalu nurut sama suami, iya kan? Jadi ya aku nurut waktu disuruh diem dan tunggu selagi Mas Andra siapin air buat aku mandi."

Samira mengepalkan tangannya kuat-kuat, gemas karena Kanaya membalikkan semua kalimat yang pernah ia katakan kepadanya.

"Sayang....."

Suara lembut Andra yang baru saja keluar dari kamar mereka terdengar menengahi perseteruan pagi hari Kanaya dan Samira entah untuk yang ke berapa kalinya.

"Hmm?"

Meski merasa jijik dan muak pada Andra, Kanaya

Berpura-pura manis menjawab dengan suara lembut semata-mata hanya untuk membuat ibu mertuanya semakin marah.

"Air hangatnya udah selesai aku siapin,... Kalau mau mandi sama berendam gih cepet, keburu airnya dingin lagi. Aku juga udah masukin bath bomb sama susu yang biasa kamu pake."

Kanaya tersenyum menyeringai saat melihat raut wajah Nisrin yang terkejut bercampur cemburu.

Suaminya itu jelas tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini padanya, Andra juga tidak sedetail itu mengingat apa yang dirinya suka apalagi rangkaian dan rutinitas hariannya dalam merawat diri.

"Okey, makasih." Gumam Kanaya sambil berlalu kembali masuk ke dalam kamarnya.

"Liat itu, Andra! Kamu liat senyum liciknya itu?! Dia nggak sepolos dan selugu yang kamu kira! Dia pasti seneng banget bisa bikin kamu sama Ibu nggak akur. Emang kurang ajar!" Kanaya menulikan telinganya kembali saat mendengar suara Samira.

Ia bersiul dan bergumam merdu sambil masuk ke dalam kamar mandi, melepas setiap pakaiannya dan masuk ke dalam bathub yang sudah dipenuhi dengan busa harum.

Aroma mawar menyeruak memenuhi indera penciumannya, memberikan ia rasa tenang dan relaks setelah menghadapi iblis.

"Huuum,...."

Kanaya bergumam nyaman saat air hangat menenggelamkan hampir seluruh tubuhnya, memijat-mijat rasa pegal dan kaku.

"Coba aja kamu nggak mengkhianati aku, Mas."

Gumam Kanaya sambil mengumpulkan buih di tangan dan meniupkannya ke udara.

"Setelah rasa sakit hatiku karena kamu khianati, nggak sedikit pun aksi kamu ini bikin aku terkesan."

Lanjutnya lagi seolah Andra ada bersamanya di sana, berbicara secara langsung dari hati ke hati.

Hatinya yang sudah benar-benar mati rasa pada sang suami, tidak setitik pun effort yang diberikan Andra membuat dirinya luluh.

Sikap lembut pria itu bahkan sering kali membuat Kanaya risih.

Ia tak mau Andra terus menerus bersikap baik kepadanya, Kanaya ingin Andra semakin jahat sebagaimana Samira agar lebih mudah juga bagi Kanaya untuk membenci dan membalaskan dendamnya pada pria itu.

Kanaya tidak ingin dihantui rasa bersalah setelah menuntaskan dendamnya nanti, ia ingin Andra membencinya sebesar ia membenci pria itu.

Kanaya ingin Andra merasakan sakit dan sesak sebagaimana yang dirasakan oleh Kanaya saat mengetahui perselingkuhan pria itu dengan wanita lain.

"Konyol memang,..." Gumam Kanaya sambil tertawa pelan, kepalanya menggeleng perlahan seolah sedang menertawakan realita kehidupan pernikahannya.

****

Esmeralda:***

"Lapor, Miss. Live report, ini ikan buntal udah kecintaan banget. Aku udah tes ombak dengan singgung tipis-tipis tentang pernikahan, dia langsung makin bernafsu. Aku bilang kalau aku cuma mau jadi istri sah dan bukan istri simpanan yang disembunyi-sembunyiin, dia juga setuju. Dia sempet keliatan mikir sih, tapi kayanya udah cinta mati juga jadi akhirnya tetep ngeiyain." Kanaya membaca pesan itu dengan hati yang puas.

"Ya udah, kamu juga setuju aja buat nikah. Usahain dia bawa pulang dulu kamu ke rumahnya sebelum kalian nikah. Bikin dia ngenalin kamu ke keluarganya dengan bangga."

Kanaya mengirim tombol balas dengan penuh semangat, kedua matanya menatap nyalang ke arah pintu kamar yang tertutup dan tertawa licik bak villain.

"Siap-siap, nenek lampir. Giliran kamu sekarang. Kita liat, bisa nggak kamu jadi istri yang selama ini kamu bilang ideal."

Kanaya mengibaskan rambutnya yang panjang nan lebat, wanita itu kemudian mengambil salah satu tasnya dan keluar kamar dengan rasa percaya diri yang semakin meledak-ledak.

"Mau ke mana lagi kamu?! Jangan bilang kalau kamu mau nongkrong-nongkrong lagi sama temen kamu!"

Samira bertanya ketus.

"Oh, nggak kok. Aku nggak akan nongkrong atau main sama temen-temenku, aku cuma mau pergi ke klinik buat perawatan. Bye,..."

"Sayang, mau aku anter? Udah lama kita nggak pergi bareng, kan? Pergi sama aku aja ya. Sekalian jalan-jalan nanti pulangnya."

Kanaya ingin menolak keras karena sejujurnya ia sudah tak sudi berduaan dengan Andra, tapi demi melihat kecemburuan dan amarah di wajah kusut Samira juga Nisrin, Kanaya akhirnya mengiyakan meski sedikit ragu.

"Andra! Terus Nisrin gimana?! Mau kamu tinggalin gitu aja?!"

Samira berdiri cepat, ia jelas sedang berusaha untuk menghalangi putranya keluar bersama Kanaya.

"Nisrin bisa sama Ibu dulu sebentar, kan? Nggak apa-apa kan, Nis? Kemarin kita udah jalan-jalan berdua dan Kanaya sama sekali nggak marah atau menghalangi. Jadi sekarang giliran aku pergi sama Kanaya, aku harap kamu juga bisa sama-sama pengertiannya kaya Kanaya. Ya?"

Ucap Andra sambil menatap dalam istri keduanya yang duduk di atas soffa.

"Iya, Mas. Nggak apa-apa, aku sama Ibu aja."

"Tuh kan, Bu. Nisrin juga nggak keberatan. Tolong Ibu sama Nisrin dulu ya, aku pergi sama Kanaya."

Andra kembali menatap ke arahnya yang menonton percakapan mereka dengan sorot mata malas dan bosan.

"Ayo, Sayang." Andra hendak merangkul pinggangnya, tapi Kanaya yang tak sudi berjalan cepat hingga ia beberapa langkah ada di depan pria itu.

Seperti menghindari penyakit menular, Kanaya memastikan ia menjaga jarak aman dari suaminya.

1
Nuna_Pena
😁😁
Anonim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!