NovelToon NovelToon
Bisikan Batu Nisan

Bisikan Batu Nisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:292
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki yang beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang terputus kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai. Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, dan memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Cahaya mentari dari pagi yang cerah menembus jendela restoran hotel tempat Laura dan tiga sahabatnya menginap. Mereka berempat duduk santai di meja pilihan, dekat dengan area prasmanan yang dipenuhi berbagai hidangan sarapan khas lokal dan internasional. Aroma nasi kuning, lontong, sosis bakar, dan aneka kue basah berpadu harmonis membangkitkan selera.

"Akhirnya sarapan juga. Aku sudah sangat lapar setelah tadi malam yang membuatku sedikit tidur," seru Roni sambil mengisi piringnya dengan nasi kuning dan kerupuk. Ariana sibuk memilih buah-buahan segar, sementara Amelia antre di bagian tumpukan roti dan susunan wadah selai. Laura sendiri sudah membawa piringnya yang berisi bubur ayam dengan taburan kacang, seledri, dan bawang goreng melimpah.

Mereka mulai menyantap hidangan masing-masing dengan obrolan ringan dan tawa, mencoba melupakan kemuraman yang semalam menghiasi. Suasana begitu akrab dan menyenangkan, seperti pagi-pagi liburan yang seharusnya. Laura menikmati setiap suapan bubur ayamnya yang hangat dan gurih. Namun, ketika sendoknya mencapai bagian bawah mangkuk, ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Teksturnya kenyal, sedikit lembek, dan bentuknya tidak biasa.

Laura menghentikan kunyahannya. Perasaan tidak nyaman langsung menyelimutinya. Ia mengangkat sendoknya tinggi-tinggi, dan seketika itu juga, ia merasakan darahnya berdesir dingin. Di antara bubur ayam yang kental, tergeletak seekor... cicak. Utuh, dengan kulit yang sudah sedikit pucat karena terendam, dan matanya yang kecil menatap kosong.

"Aaaaaaakh!" Laura refleks berteriak, melempar sendoknya hingga mengenai piring dan menimbulkan suara nyaring.

Ketiga sahabatnya sontak menoleh, terkejut mendengar teriakan Laura yang memecah keheningan restoran.

"Ada apa, Laura?" tanya Amelia, khawatir melihat wajah sahabatnya itu memucat dan matanya terbelalak.

Laura hanya bisa menunjuk mangkuk bubur ayamnya dengan tangan gemetar. Amelia, Ariana, dan Roni serentak mendekat. Begitu pandangan mereka jatuh pada "penemuan" di mangkuk Laura, ekspresi ceria di wajah mereka langsung lenyap digantikan oleh kengerian dan rasa jijik yang mendalam. Ariana spontan menutup mulutnya, menahan mual. Roni memundurkan tubuhnya, seolah mangkuk itu mengandung penyakit menular.

"Oh aku tidak percaya! Itu cicak?!" pekik Ariana, suaranya tertahan.

"Bagaimana bisa ada cicak di bubur?" timpal Roni, wajahnya berkerut jijik.

Laura merasa perutnya diaduk-aduk. Ia membayangkan sendoknya tadi mungkin saja sudah menyentuh, bahkan mengaduk-aduk hewan menjijikkan itu. Rasa mual yang luar biasa tak tertahankan lagi. Ia segera berlari menuju toilet.

Amelia, yang lebih tenang, segera memanggil salah satu pelayan. "Permisi, bisa panggilkan manajer Anda? Ada masalah serius dengan makanan kami!" ucap Amelia dengan nada tegas, sambil menunjuk mangkuk bubur Laura yang kini menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung lain.

Tak berapa lama, seorang manajer restoran bergegas menghampiri meja mereka dengan wajah cemas. Matanya melebar begitu melihat cicak yang jelas terlihat di mangkuk bubur. Ia langsung menundukkan kepala dalam-dalam.

"Ya ampun! Saya benar-benar minta maaf atas kejadian yang sangat tidak pantas ini," kata manajer itu dengan suara bergetar, wajahnya memerah karena malu. "Ini adalah kelalaian fatal dari pihak kami. Saya akan segera menyelidiki bagaimana ini bisa terjadi dan memastikan dapur kami bersih dari hal-hal seperti ini."

Manajer tersebut berulang kali meminta maaf, menawarkan untuk mengganti seluruh sarapan mereka, serta memberikan kompensasi penuh untuk penginapan mereka. Ia juga menjanjikan akan memberikan laporan investigasi internal mengenai insiden tersebut.

"Kami sangat-sangat menyesal. Tolong maafkan kelalaian kami," ucap manajer itu, dengan ekspresi tulus yang menunjukkan betapa ia merasa bersalah.

Meski permintaan maaf yang berkali-kali dilontarkan, Laura dan teman-temannya masih terguncang dan kehilangan nafsu makan sepenuhnya. Pengalaman sarapan pagi yang seharusnya menjadi momen indah di pagi pertama Banjarmasin itu justru berubah menjadi insiden menjijikkan yang akan sulit mereka lupakan.

Setelah insiden sarapan yang menjijikan, Laura dan kawan-kawan memutuskan untuk menghentikan aktivitas sarapan. Rasa mual dan jijik masih mendominasi, sehingga nafsu makan mereka sekali lagi benar-benar hilang. Roni, yang merasa paling tidak terganggu secara fisik, memilih untuk langsung beristirahat sebentar di kamarnya, sementara Laura, Amelia, dan Ariana memutuskan untuk berbelanja di supermarket hotel demi mengalihkan pikiran.

Menjelang tengah hari, Roni terbangun dari tidurnya yang tidak begitu pulas. Rasa lapar mulai melanda, dan ia berpikir untuk mencari makanan di luar hotel saja. Ia bangkit dari ranjang, meregangkan tubuh, lalu berjalan menuju meja dekat jendela untuk mengambil ponselnya. Saat itulah matanya menangkap gerakan samar di sudut ruangan, di bawah meja televisi.

Roni mengerutkan kening. Apa itu? Sebuah kain yang jatuh? Tidak, benda itu bergerak. Pelan, berliku-liku. Jantung Roni tiba-tiba berdegup kencang. Ia mencondongkan tubuh sedikit, berusaha melihat lebih jelas. Dan kemudian, ia melihatnya.

Seekor ular. Kecil, dengan pola sisik yang mencolok, dan kepalanya berbentuk segitiga yang khas. Lidahnya menjulur-julur cepat, mencoba mencium bau di sekitarnya. Otak Roni langsung memproses informasi yang didapatnya: kepala segitiga, pola sisik mencolok... itu ciri-ciri ular berbisa!

Keringat dingin langsung membanjiri pelipis Roni. Tubuhnya kaku, terpaku di tempat. Ia teringat akan peringatan tentang ular berbisa di daerah tropis. Rasa takut yang jauh lebih besar dari insiden cicak tadi langsung mencengkeramnya. Ia tidak bisa tinggal di kamar ini bersama ular itu!

Dengan gerakan hati-hati, Roni mundur beberapa langkah, menjaga jarak dari ular yang masih bergerak pelan. Pikirannya kalut. Ia harus keluar, tapi bagaimana? Ia melirik pintu kamar.

Satu langkah, dua langkah. Roni mencoba mencapai pintu. Namun, saat tangannya meraih kenop, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Pintu itu terkunci dari luar. Atau lebih tepatnya, ia tidak bisa membukanya. Mungkin ada masalah dengan kuncinya, atau ia salah menekan tombol lock ketika berlawanan masuk. Panik, Roni mencoba memutar kenop, menggoyangkannya, bahkan sedikit menggedor. Tapi pintu itu tetap kokoh.

Ular itu seolah merasakan kepanikan Roni. Gerakannya menjadi sedikit lebih cepat, seolah ingin bersembunyi di balik lemari. Roni tahu ia tidak punya banyak waktu. Ia segera mengambil ponselnya, tangannya gemetar, dan menelepon resepsionis.

"Halo... halo! Saya Roni, di kamar 305! Ada ular di kamar saya! Saya tidak bisa keluar, pintunya terkunci!" Roni bicara dengan cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik.

Resepsionis di ujung telepon terdengar sedikit bingung pada awalnya, tapi setelah Roni mengulang perkataannya, ia terdengar khawatir. "Baik, Tuan! Tetap tenang! Kami akan segera mengirim petugas dengan kunci cadangan dan tim penangkap hewan!"

Lima menit terasa seperti satu jam. Roni berdiri terpaku di tengah ruangan, matanya tidak pernah lepas dari ular yang kini bersembunyi sebagian di bawah lemari. Ia merasa setiap detik berlalu begitu lambat. Ia bahkan tidak berani berkedip.

Akhirnya, terdengar suara gedoran di pintu. "Tuan Roni? Ini kami dari hotel!"

Roni menghela napas lega, meskipun rasa takutnya belum sepenuhnya hilang. "Ya! Cepat! Masuk!" teriaknya.

Dalam hitungan detik, pintu terbuka. Dua orang petugas hotel masuk dengan cepat. Salah satunya adalah seorang pria berbadan tegap yang memegang tongkat panjang dengan penjepit di ujungnya, dan satu lagi adalah petugas keamanan.

"Di mana ularnya, Tuan?" tanya petugas penangkap ular dengan tenang, matanya menyapu seisi ruangan.

Roni menunjuk ke bawah lemari. "Di sana! Di bawah lemari itu!"

Petugas penangkap ular dengan sigap dan profesional mendekati lemari. Ia menggunakan tongkatnya untuk menggeser lemari sedikit, dan tak lama kemudian, ular itu terlihat kembali. Dengan gerakan cepat dan cekatan, petugas itu berhasil menjepit kepala ular tersebut dengan alat penjepit di tongkatnya. Ular itu sempat memberontak sebentar, mencoba melepaskan diri, tapi genggaman petugas terlalu kuat.

"Berhasil!" kata petugas itu dengan senyum kecil. Ia dengan hati-hati memasukkan ular berbisa itu ke dalam sebuah kotak khusus yang sudah disiapkan.

Roni hanya bisa menghela napas lega, tubuhnya lemas. Keringat masih menetes di dahinya.

"Kami sangat meminta maaf atas insiden ini, Tuan," ucap petugas keamanan. "Kami akan segera memeriksa seluruh kamar di lantai ini dan memastikan tidak ada lagi kejadian seperti ini."

Roni hanya bisa mengangguk. Ia merasa sangat bersyukur bisa selamat dari insiden ular berbisa itu.

Setelah serangkaian insiden tak terduga, dan langit yang telah menguning. Laura dan ketiga sahabatnya, sebagaimana yang telah mereka agendakan sebagai tujuan utama, memutuskan untuk menghabiskan sisa hari dengan mencoba menikmati keindahan Sungai Barito di waktu senja dan malam. Mereka telah memesan sebuah Van Volkswagen klasik yang akan menjemput mereka sore itu untuk segera diantar ke dermaga. Harapan mereka adalah, perjalanan kali ini akan mulus tanpa drama.

Di awal sore, sebuah Van Volkswagen berwarna krem yang tampak terawat berhenti di depan lobi hotel. Sosok pengemudi pria paruh baya, dengan seragam rapi dan topi, turun dari mobil dan tersenyum ramah.

"Selamat sore, semuanya, Saya Awi, pengemudi kalian hari ini. Tujuan kita Dermaga Sungai Barito, benar? Iyakan ayo lakasi." sapanya dengan bercampur logat Banjar yang kental dan senyum di wajahnya.

Laura dan ketiga sahabatnya mengangguk serempak, sedikit lega melihat sopir yang terlihat profesional dan ramah. Mereka pun masuk ke dalam Van, memilih tempat duduk di belakang. Van klasik itu terasa nyaman, dengan jok empuk dan jendela lebar yang memungkinkan mereka menikmati pemandangan kota.

Sepanjang perjalanan, Pak Awi memulai obrolan ringan, menceritakan sedikit tentang sejarah Banjarmasin dan keunikan budayanya. Ia sesekali melirik ke kaca spion, memastikan penumpangnya merasa nyaman. Obrolan itu awalnya berjalan lancar, meredakan ketegangan dari kejadian-kejadian sebelumnya.

Namun, saat Pak Awi bersemangat menceritakan tentang pasar terapung, ia sesekali menoleh ke belakang untuk menjelaskan. Di salah satu momen itu, tepat ketika cahaya matahari sore menembus jendela Van dan jatuh langsung ke wajah Pak Awi, Laura yang duduk di belakangnya, melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Di pipi kanan Pak Awi, tersembunyi sebagian oleh bayangan, terlihat sebuah area kulit yang sangat tidak biasa. Bukan sekadar bercak atau tahi lalat. Bentuknya menyerupai kumpulan lubang-lubang kecil yang bergerombol rapat, seperti struktur sarang lebah mini yang terbentuk di kulit. Warnanya sedikit lebih gelap dari kulit sekitarnya, dan teksturnya tampak kasar, berlubang-lubang aneh.

Laura mematung. Matanya terpaku pada pemandangan mengerikan itu. Ia berusaha berkedip, berpikir mungkin hanya ilusi optik atau kelelahan mata, tetapi tidak. Itu nyata. Sebuah formasi kulit yang menyerupai sarang lebah di pipi Pak Awi.

Amelia yang duduk di sebelahnya, menyadari perubahan ekspresi Laura. Ia mengikuti arah pandang Laura, dan seketika itu juga, matanya membulat. Bibirnya sedikit terbuka, menahan desahan kaget. Ia juga melihatnya.

Kemudian, Ariana dan Roni, yang duduk di barisan depan, juga ikut menyadari. Roni, yang tadinya asyik memotret pemandangan di luar, menoleh saat Amelia menyentuh lengannya. Begitu ia melihat pipi Pak Awi, senyum di wajahnya langsung luntur. Ariana bahkan sedikit merapat ke Roni, seolah ingin bersembunyi.

Keempatnya saling pandang, menyampaikan kengerian yang sama lewat tatapan mata. Penyakit kulit yang mirip sarang lebah itu terasa begitu menjijikkan dan mengerikan di mata mereka. Pikiran-pikiran aneh mulai muncul. Apakah itu menular? Apa itu sebenarnya? Mereka berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa jijik dan ngeri mereka di hadapan Pak Awi, tetapi suasana di dalam Van mendadak berubah tegang. Obrolan pun terhenti.

Pak Awi, yang mungkin tidak menyadari apa yang sedang terjadi di belakangnya, masih terus mengemudi dengan senyum di wajahnya, sesekali menunjuk ke arah suatu bangunan atau pemandangan menarik. Namun, di bangku penumpang, Laura dan kawan-kawan hanya bisa menatap lurus ke depan, berusaha mati-matian untuk tidak melirik ke pipi Pak Awi lagi, dan berharap perjalanan ini segera berakhir. Setiap detik yang menggelitik remang. Rasa mual yang sempat hilang kini kembali menghantui, bercampur dengan kengerian yang membuat bulu kuduk merinding. Perjalanan menuju dermaga yang seharusnya menyenangkan kini terasa seperti perjalanan menuju sesuatu yang tidak diketahui, penuh dengan rasa tidak nyaman dan sedikit trauma di jejak penglihatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!